Ginov mengacak rambutnya lalu membenturkan jidat ke tepi meja. Ia menunduk selama hampir dua menit. Setelah itu, ia mengangkat kepala dan menatap masam headset di depannya.
“Harusnya… gue ngembaliin benda ini saat Bu Arze nyuruh gue,” ucapnya lesu lalu menggeram kesal. Ia telah menghancurkan kepercayaan salah satu guru, dan itu tidak mencerminkan siswa teladan. Berat kepala Ginov memikirkan penilaian Bu Arze setelah kejadian di kelas Eriz. Ia tidak biasa punya masalah di sekolah, jadi paniknya agak berlebih dibanding siswa lain.
“Wah, headset baru?” Sekhan mengeluarkan ponsel untuk mencoba menghubungkannya dengan headset di meja, tapi Ginov buru-buru menyembunyikan headset itu ke dalam saku.
“Sebentar doang, satu lagu, habis itu gue balikin,” ucap Sekhan sambil membuka telapak tangan.
Ginov menggeleng keras. “Ini punya Eriz.”
“Eriz?!”
Ginov menutup telinga. Lupa kalau Sekhan selalu heboh setiap mendengar nama Eriz.
“Erizia Sagita?!” ulang Sekhan, masih membelalak.
“Siapa lagi? Lu kira Erizia nenek moyang lu?” Ginov berkata cepat. Entah benar atau tidak yang dikatakannya soal nenek moyang, tapi Sekhan langsung diam. Syukurlah.
Sadya masuk ke kelas sambil tersenyum aneh. Ia berhenti di depan Ginov, menjadikan aura di sekitar Ginov ikutan aneh.
“Lu nggak cocok senyum kayak sekarang, Sad. Bikin merinding,” celetuk Sekhan lalu mengusap lengannya. Bulu kuduknya tidak berdiri, ia hanya iseng menggoda Sadya, patner bertengkarnya.
“Yeee daripada senyum lu yang bikin mata pedih,” balas Sadya jahat. Ia sampai mengusap kedua matanya untuk menyempurnakan kata-katanya.
“Senyum kalian berdua nggak ada yang sebagus senyum Eriz.” Ginov bergumam pelan. Lalu sedetik kemudian, ia menoleh ke Sadya dan Sekhan yang terdiam dengan muka melongo. “Apa?”
Sekhan yang setengah tidak percaya dengan telinganya, berdehem berkali-kali sambil meraba tenggorokannya.
“Emmm, sebenarnya maksud gue itu…” Ginov sudah berupaya mencari pembelaan diri, tapi tidak berhasil. Malah, ia tidak tahu mau bilang apa untuk menghilangkan kecurigaan dua orang di sekitarnya.
“Lupain soal senyum. Ginov, Bu Arze minta lu ke ruangannya sekarang,” ucap Sadya lalu pergi ke kursinya dengan wajah kesal. Cewek itu mudah sekali berganti suasana hati, ucap Sekhan dalam hati.
“Kayaknya lu dapat nilai A plus, jadi Bu Arze mau ngasih hadiah,” ucap Sekhan sok tahu sekali.
“Bukan hadiah, tapi hukuman.” Ginov membenarkan.
“Hukuman karena lu selalu berhasil menyelesaikan soal latihan darinya?” Sekhan ketawa-ketiwi. Dalam benaknya, Ginov selalu jadi siswa terbaik yang disayangi guru-guru.
Ginov tertawa hambar ketika menjawab Sekhan, “Jangan mengada-ada. Gue nggak sehebat itu. Soal latihan kemarin, gue salah lima nomor.”
Sekhan tercengang. “Lima nomor?” tanyanya tidak percaya. “Gue aja yang benar sepuluh sudah senang banget.”
Soal latihan itu ada dua puluh lima nomor dan harus selesai dalam waktu satu jam. Ginov salah lima nomor, itu jelas hebat menurut Sekhan.
Ginov mendesah. Kali ini pujian Sekhan tidak membuatnya besar kepala karena masalah lain sudah menunggunya. Ia menunduk, membenturkan kepala ke tepi meja sekali lagi lalu berdiri. Setelah menarik napas panjang, ia melangkah penuh percaya diri.
“Kalau hadiahnya buku, sebagian buat gue, yaaa!” teriak Sekhan sebelum Ginov mencapai pintu, tapi tidak ditanggapi.
***
Setengah jam, Ginov di ruangan Bu Arze. Terima kasih atas prestasi gemilangnya di sekolah. Berkat itu, Bu Arza tidak memberinya hukuman karena merebut headset yang bukan miliknya. Malah, Ginov dinasihati dengan penuh kasih sayang, ditanya apa masalahnya, dan apa yang mendorongnya hingga nekat mengambil headset Eriz.
“Hanya iseng, Bu.” Ginov terus menggunakan alasan itu. Musatahil ia membagi cerita masa lalunya bersama Eriz ke Bu Arze. Bisa-bisa guru itu muntah karena Ginov pasti bercerita dengan cara menempatkan dirinya sebagai pihak yang benar.
Selesai bertemu Bu Arza, Ginov berpapasan dengan Talia yang hendak mengantar tugas makalah teman kelasnya. Ginov baru tahu, selain jadi ketua Club Renang, ternyata cewek itu menjabat sebagai ketua kelas juga.
“Lu nggak capek megang dua jabatan?” tanya Ginov.
Talia tersenyum tanpa kerutan di sudut matanya. Hanya bibirnya yang tertarik ke samping. “Lu nggak capek ngejar-ngejar Eriz?”
Ginov menahan napas sambil membuang pandang ke samping. Ia janji lain waktu mereka bertemu, Ginov akan menganggapnya patung berjalan. Belum apa-apa, ia sudah sakit hati.
“Mau dengar cerita menyedihkan lagi?”
Ginov menoleh dengan kening berlipat-lipat ke atas. Beda dengan sebelumnya, kali ini Ginov tidak punya ekspektasi tinggi untuk cerita yang akan dibahas Talia. Paling panjangnya dua baris.
“Cerita tentang apa?” tanya Ginov kemudian.
Taliat memutar matanya sambil berpikir. Saat kembali menatap Ginov, ia tersenyum. Senyum yang benar-benar senyum. “Kapan-kapan gue certain ke lu. Sekarang, gue lagi sibuk. Bye.”
Talia melangkah ke dalam kantor guru sementara Ginov gondok setengah mati dengan ulahnya.
“Cewek anehhhh,” umpat Ginov lalu berbalik. Ia terkejut ketika matanya bertubrukan dengan mata Pak Yogas. “Siang, Pak,” sapanya sambil menunduk.
“Siang,” balas Pak Yogas. Beliau melangkah tenang dan tiba-tiba berhenti di dekat Ginov. “Kadang yang aneh lebih menarik dibanding yang cantik.”
Ginov baru akan bertanya maksud ucapan itu, Pak Yogas keburu masuk ke dalam kantor.
***
Rifan menarik rambut Eriz dari belakang lalu berpindah ke depan saat cewek itu menoleh.
“Siapa sih?” Eriz merapikan rambutnya lalu memutar kepala ke depan lagi. Langkahnya spontan terhenti melihat Rifan.
“Kaget, ya?”
“Bisa nggak lu pakai cara normal kalau menyapa gue?” Eriz bersedekap sambil berjalan lambat.
Rifan berjalan mundur. “Sayangnya nggak bisa. Gue mau lu ingat gue sebagai pribadi yang unik.”
“Lu sudah unik sejak dulu. Emmm, tepatnya saat ketemu di kedai. Yang pas lu jadi pelay…”
Mulut Eriz langsung dibekap. “Gue ingat. Jangan bahas itu. Nanti nggak ada yang milih gue kalau tahu kejadian itu.”
Eriz mengangkat jempol baru dibebaskan. “Itukan bukan hal yang memalukan.”
“Pokoknya nggak usah diungkit.” Rifan berpindah ke samping Eriz. Ia mengantar cewek itu ke tepi jalan menunggu jemputannya.
“Lainkali lu nggak usah nyusahin mama lu. Nebeng gue aja.” Rifan berucap sambil melirik jam. “Gimana kalau seandainya lu udah nunggu, tapi mama lu tiba-tiba ada urusan lain?”
“Iyaaaa bawel. Lagian kalau itu terjadi, kan gue bisa nelpon elu.” Eriz menyunggingkan senyum tipis sambil membenturkan lengannya ke lengan Rifan.
“Nggak selamanya nomor gue bisa dihubungi, Riz.”
“Oh ya?” Eriz melihat Rifan di sudut matanya. “Sering dinonaktifin?”
Rifan menggeleng sambil tersenyum miring. “Saat bareng cewek gue, gue nggak mungkin dong jawab telepon lu. Gue nggak mau dicurigai.”
Raut wajah Eriz sedikit berubah. “Oh. Lu punya pacar? Kok lu nggak pernah bilang sih? Coba gue tahu sejak awal, gue nggak akan…” Eriz bergeser ke samping. “Dekat-dekat sama lu kayak tadi.”
Rifan menghentikan jalannya lalu bertolak pinggang. “Cewek gue nggak di sekolah ini. Santai saja, Riz.”
Eriz menggeleng mantap. Ketika Rifan hendak mendekat, ia mengangkat tangan. “Sebaiknya kita jaga jarak mulai sekarang.”
“Gue nggak dengar lu bilang apaaaa,” ucap Rifan sambil berjalan cepat ke arah Eriz.
Menyadari bahwa Rifan tidak peduli kata-katanya, Eriz berlari ke dalam kawasan sekolah. Mereka berputar-putar lama di sana sampai ditegur satpam. Pagar akan gembok karena seluruh siswa sudah pulang.
***
Eriz tiba di rumah dengan wajah masam. Ia berjalan terseok-seok ke dalam kamar. Bahkan ia menutup pintu dengan dorongan kaki. Melihat kasur empuk di depannya tersedia, Eriz menjatuhkan tas ke lantai lalu melompat ke ranjang. Dalam posisi tertelungkup, matanya terpejam.
Saat bareng cewek gue, gue nggak mungkin dong jawab telepon lu.
“Rifan punya pacar,” gumamnya lalu meringis. Bodoh sekali. Kenapa ia tidak menyadari itu? Selain wajahnya yang cukup menjual, Rifan adalah cowok dengan kepribadian menyenangkan. Mustahil jika cowok seperti dia menjomblo.
Eriz menarik diri dari kasur lalu berjalan ke depan cermin. “Siapa gue berharap dia ngelirik gue? Cantik, enggak. Pintar, enggak juga. Dia nggak mungkin di dekat gue selama ini kalau bukan karena butuh suara dalam pemilihan Ketua OSIS.”
Di depan cermin, Eriz bebas mengeluarkan prasangka yang muncul di kepalanya. “Sama dengan yang dilakukan Ginov. Baik ke gue demi mencapai tujuannya.”
“Eriz, kakak lu datang!” panggil Bu Riza.
Tak lama setelah itu, terdengar ketukan di pintu kamarnya. “Kakak lu datang. Cepat keluar.”
Eriz menghela napas dengan wajah lelah. “Suruh pulang saja, Ma,” balasnya sedikit keras.
“Kamu yang suruh pulang. Mama mau masak.”
Terpaksa Eriz keluar dan berjalan ke teras rumah masih dengan seragam sekolah. Tamu yang dimaksud mamanya…tidak salah lagi. Dia adalah Azka.
Satu-satunya cowok yang Bu Riza anggap kakaknya Eriz.
“Tumben banget ke sini?”
“Tumben?” Azka sangat tersinggung dengan kata-kata Eriz. Makanya, ia segera meluruskan, “Dulu, hampir tiap sore gue ke sini. Dan lu bilang tumben? Hah.”
“Itu kan dulu.” Eriz mengibaskan tangan lalu bertanya, “Kak Azka ada perlu apa sama Eriz?”
“Tuhhh.” Azka menggerakkan dagunya ke tumpukan buku di atas kursi. Karena tidak ada meja di teras, Azka menaruhnya di kursi yang cuma ada satu di sana.
Pandangan Eriz berpindah dari Azka ke buku-buku itu lalu kembali lagi ke Azka. Tak mau dibuat bingung lama-lama, ia bertanya, “Gue nggak pernah bilang butuh buku bekas.”
“Gue ke sini mau bantu lu belajar matematika. Besok, lu ada ulangan harian, kan?”
“Yaaa.” Kedua alis Eriz terangkat tinggi. “Tapi…serius Kak Azka datang ke sini buat itu doang? Dan… darimana Kak Azka tahu kalau gue ada ulangan harian matematika besok?”
Azka menggaruk hidung mancungnya. “Gue minta tolong ke guru matematika lu supaya ngasih tahu gue setiap ada ulangan di kelas lu. Jadi, gue bisa bantu lu belajar sehari sebelumnya.”
Eriz melongo setelah mendengar alasan kedatangan Azka di rumahnya. Eros yang kakak kandungnya, tidak seperhatian ini dengan urusan sekolahnya.
“Nggak usah bengong. Ambil buku dan pulpen. Soal latihan di buku-buku ini harus selesai dikerjakan sebelum azan magrib.” Azka langsung memberi perintah. “Ah, jangan lupa bawa karpet dan bantal.”
Eriz yang sudah melangkah, berbalik. “Bantal buat apa?”
“Tidur. Gue tidur, lu yang belajar,” jawab Azka enteng sekali. Eriz sampai menganga mendengar jawabannya.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

900 641 12
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 616 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 8
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

548 409 6
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

341 260 5
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

427 336 7