Masa lalu, bagi Eriz sudah tidak bisa lagi diberi ruang. Semalaman, ia diteror oleh pesan beruntun dari Ginov yang isinya permintaan maaf semua. Entah itu modus atau tulus, Eriz tetap tidak peduli dan tidak ingin dirinya dipusingkan oleh ulah cowok itu.

Namun, Eriz tetap kepikiran satu pertanyaan.

Kenapa Ginov mendadak berubah?

Seingat Eriz, teve kering dari pemberitaan prediksi kiamat, jadi mustahil Ginov baik padanya sebagai persiapan menghadapi akhir zaman.

Eriz memilih bungkam dan mempercepat langkahnya ketika bertemu Ginov di sekolah. Ia harus menghindar sebelum telinganya penuh dengan permintaan maaf.

“Riz, lihat gue pakai apa sekarang?” tanya Ginov sambil berusaha mengimbangi kecepatan jalan Eriz.

“Enggak tahu. Lu nggak pakai apa-apa kali. Polos kayak orang gila.” Eriz memeluk erat tiga buku paketnya sambil meneruskan langkah. Tasnya terlalu mungil menampung seluruh peralatan sekolah.

Ginov tersenyum masam. Sabarrrrr. Ini cuma akting. Ini cuma Ak-ting.

“Lihat dulu dong.” Ginov menyenggol lengan Eriz. “Gue pakai tas yang lu kasih. Sebenarnya dari kemarin gue mau pakai tas ini, tapi takut lu marah.”

“Bodo amattttt.” Eriz menutup kuping kiri yang dekat dengan Ginov.

“Gue minta maaf ya, Riz. Waktu itu, gue nggak mikir dengan baik jadi salah ambil keputusan.”

Eriz memacu langkahnya tanpa bicara sepatah kata lagi.

“Erizia, lu dengar gue, nggak?!” teriak Ginov. Mulai kehabisan stok sabar.

Eriz menarik napas lalu berlari. Tubuh rampingnya memudahkan ia lolos dari siswa yang berkumpul di koridor.

Tapi otak cerdas Ginov bekerja lebih baik. Eriz yang mengira dirinya sudah bebas ketika sampai di kelas ujung, malah bertemu Ginov lagi.
“Lu kalau mau kabur, mikir dulu. Ambil jalan yang mudah, biar cepat sampai tujuan.” Ginov memberi nasihat dengan napas ngos-ngosan. Ia baru saja berlari agar bisa menghadang Eriz tepat waktu.
Eriz menghela napas lalu berjalan pelan. Terserah kalau Ginov mau mengikutinya sampai ke kelas. Terserahhhh.
“Riz, ngomong dong. Gue minta maaf.” Ginov buka suara di samping Eriz. 
Dikira ngasih maaf segampang ngupil? batin Eriz.
“Riz!”
Brak
Eriz menjatuhkan bukunya karena kaget. Saat mengambil buku itu, Ginov mendahuluinya. Perhatian kecil itu membuat Eriz panas luar dalam. Bukankah ini Ginov yang dikenalnya dulu?
Tidak salah lagi. Duluuu sekali, Ginov selalu membantunya tanpa diminta. Tapi itu sebelum Jean muncul dan semuanya berubah jadi mimpi buruk.
“Biar gue yang bawa, pasti berat.”
“Bisa nggak sih lu singkirin tangan lu dari barang-barang gue?!” Eriz refleks berteriak. Sambil merampas bukunya dari Ginov, ia menatap nyalang.
“Gue cuma mau bantu lu,” ucap Ginov dengan suara tercekat.
“Tapi gue nggak butuh dibantu. Gue bisa bawa semua ini. Sendirian!”
“Elu kenapa sih?”
Eriz membuang napas ke samping lalu menatap Ginov dengan pandangan benci. “Elu yang kenapa? Tiba-tiba berubah baik dan sok peduli.”
“Gue sudah tahu yang sebenarnya soal Jean. Ia nggak cinta sama gue, Riz. Dan sekarang, gue menyesal karena lebih memilih dia waktu itu.”
“Hah?” Eriz hanya bisa tertawa masam. Penjelasan Ginov tidak berpengaruh apa-apa. “Terus kenapa kalau lu sudah tahu kebusukan Jean? Gue nggak peduli.”
“Gue mau kita balikan.”
Eriz membeku detik itu juga. Mungkin otak Ginov tertinggal di rumahnya, jadi bicara sembarangan. Eriz melirik cowok itu pelan-pelan. Ia yakin Ginov punya tujuan lain terhadapnya.
“Eriz…” Ginov penasaran jawaban cewek itu. Tapi menurut firasatnya… hm, lagi-lagi tentang firasat. Ginov yakin diterima kembali.
“Lu kira gue mau makan makanan yang gue tahu telah diberi racun?” Eriz mengambil perumpamaan lalu buru-buru melangkah.
Ginov berdecak, menghela napas lalu berteriak seenaknya, “Racunnya sudah kadaluarsa, jadi nggak ngefek lagi!”
“Eriz!”
“Eriziaaaa!”
***
“Buku gue mana?”
Eriz berdesis lalu menoleh ke samping. Baru juga ia duduk di kursinya, Yerin sudah bahas buku.
“Sabarrrr.” Eriz merogoh tas. Buku Yerin dibanting ke atas meja. “Ambil tuh buku jelek lu.”
Yerin menjulurkan lidah lalu menyimpan bukunya ke dalam tas lalu mengeluarkan dua bungkus permen rasa kopi. Yang satu ia sodorkan ke Eriz, tapi ditolak dengan gelengan kepala.
Sambil membuka bungkusan permen, Yerin berkata, “Entar temani gue ke…”
“Pagi, Erizia Sagita!”
Sapaan Ginov tertuju pada Eriz, tapi yang mendengar nyaris seluruh orang di kantin. Itu sapaan atau teriakan sih?
“Lu mau apa dari gue Ginov?” Perubahan Ginov yang sangat jauh dari kemarin sudah menghabiskan separuh tenaga Eriz. Ia butuh istirahat menghadapi mantannya.
“Kita bicara pelan-pelan. Gue tahu lu masih marah atau mungkin benci setengah mati sama gue, tapi manusia nggak ada yang sempurna…”
Eriz mengambil headset dalam saku. Sebelum menyumbat telinganya, Ginov sudah merebut benda itu.
“Gue balikin kalau gue selesai ngomong,” ucap Ginov cepat karena Eriz menatapnya seolah ia parasit yang wajib dimusnahkan secepat mungkin.
Menyadari suasana kelas yang mendadak hening, Ginov mengedarkan pandangan sambil pamer senyum. “Nggak usah peduliin kami. Maaf sudah mengganggu.”
Meski begitu, sebagian terlihat berat hati mengalihkan perhatian darinya. 
“Lu mau ngomong apa lagi? Jujur, ya. Gue malas banget bahas masa lalu apalagi yang berkaitan sama lu,” ucap Eriz lalu mengangkat tangan ke depan. “Balikin headset gue.”
Ginov menggeleng mantap. Mungkin ia harus keras kepala seperti Eriz agar ditanggapi dengan baik.
“Ginov Razkan. Ibu janji akan membelikanmu headset yang lebih bagus dari punya Eriz kalau dapat rangking satu lagi. Jadi kembalikan saja headset Eriz.”
Anak-anak lain tertawa mendengar Bu Arze nimbrung. Beliau lalu berjalan ke kursi guru dan duduk menunggu reaksi Ginov.
Eriz tersenyum miring. Kembali ia meminta headsetnya dengan mendorong-dorong tangannya ke hadapan Ginov.
Sialnya. Ginov lagi berada dalam kebodohannya. Ia memasukkan headset Eriz ke saku.
Bahkan Bu Arze shock dan spontan berdiri melihat keputusan tidak terduga dari salah satu siswa andalannya.
Ginov berbalik. Tersenyum sambil membungkukkan pada Bu Arze lalu berlari pergi.
“Erizia, nanti Ibu yang urus Ginov, kamu jangan khawatir. Headsetmu pasti kembali.” Bu Arze berkata seperti itu setelah melihat Eriz yang terpaku ke arah pintu.
Eriz mendesah pelan. “Iya, Bu.”
Headsetnya hilang juga tidak masalah. Eriz cuma kaget melihat Ginov berani membantah perintah guru.
***
“Adiknya Ginov?” Azka menatap cewek bermata bulat menggemaskan di depannya dengan tatapan heran. Ia baru menerima formulir pendaftaran cewek itu yang ditulis sangat rapi.
Gina mengangguk antusias sampai ikat rambutnya melorot. “Benar, Kak. Ginov Razkan, juara satu umum dari kelas XI IPA 1.”
Azka tersenyum canggung. Kakak dan adik sama sombongnya.
“Lu serius mau gabung di Club Sesat? Kegiatan kami banyak dilakukan di luar ruangan, sanggup?”
Gina mengangguk sekali tapi lebih mantap dari sebelumnya. “Ke gunung juga gue sanggup, Kak.”
“Baguslah. Nanti gue kabari kalau Ketuanya sudah lihat formulir lu.”
“Bukannya Kakak yang jadi Ketua?” Ginan dengar dari temannya kalau ketua Club Sesat bernama Azka. Makanya, ia datang ke kelas cowok itu dan menyerahkan langsung formulirnya. Sekalian tebar pesona, siapa tahu dengan ketemu, ia langsung diterima. Ginan bukan menyombongkan kecantikannya, tapi katanya, wajah imutnya tidak bisa disaingi.
Azka menggeleng lalu menggerakkan dagu ke arah pintu. Ginan menoleh ke sana.
“Dia ketuanya sekarang,” ucap Azka, membuat bulu kuduk Ginan berdiri.
Eriz menatap Ginan dengan muka datar sambil mendekat. Ia bingung melihat adik mantannya ada di kelas Azka. Pikirannya yang akhir-akhir ini sulit dikontrol, membuat kesimpulan aneh. Apa dia mau nembak Kak Azka?
“Kebetulan lu datang.” Azka menepuk bahu Eriz tapi si empunya bergeser cepat sehingga tangan cowok itu jatuh sia-sia.
“Memang ada apa?” tanya Eriz, fokus ke Ginan yang terpaksa senyum maksimal guna meningkatkan potensi ia diterima.
Azka mengangkat tangannya lagi dan meremas kuat bahu Eriz. Tangan yang satu menyerahkan formulir. “Gina mau gabung Club Sesat. Lu terima atau enggak?”
“Ohhh.” Eriz membaca formulir Ginan sepintas lalu melipatnya jadi empat bagian. Saat memasukkan formulir itu ke saku seragamnya, ia menjawab dengan hati-hati, “Lu masuk ke Club Sesat tahun depan saja, yaaa.”
Senyum Ginan luntur tak bersisa. Tidak bisa berkata-kata. Itu tadi kalimat penolakan? Tanyanya dalam hati.
Azka menatap Eriz tidak mengerti. “Kenapa harus tahun depan?”
“Karena tahun depan gue bukan ketua Club Sesat lagi.”
***
“Eriz, tunggu.” Azka mengikuti Eriz ke dalam kantin. Pembicaraan mereka mengenai Ginan belum menemui titik temu. Eriz keukeh menolak Gina tanpa alasan. Azka sontak menebak ini ada hubungannya dengan Ginov.
“Siapa suruh lu mundur dan ngorbanin gue jadi Ketua Club Sesat.” Eriz duduk, mengangkat tangan kanan ke arah Bu Kantin. “Mbak, nasi goreng pedas satu porsi.”
“Dua porsi, Mbak,” teriak Azka. Meralat pesanan Eriz segera. Ia duduk di samping Eriz. “Eriz, lu nggak kasihan sama Gina? Tadi muka langsung pucat saat lu nolak dia.”
“Gue nggak merhatiin mukanya. Maaf,” ucap Eriz.
Azka menggeleng lelah. “Keputusan lu nggak bisa diterima. Terserah lu mau setuju atau enggak. Gina akan gabung ke Club Sesat.”
“Okeee.” Eriz manggut-manggut dengan tatapan menantan. “Saat lu terima Gina bergabung, saat itu juga gue keluar dari Club Sesat.”
Azka menenangkan diri dengan menarik napas panjang. “Ini pasti karena Ginov.”
“Ya.” Eriz tidak membantah karena Azka tahu segalanya. Sewaktu Eros masih hidup, Eriz pernah cerita kalau ia pacaran dengan Ginov. Dan tentu saja Eros membaginya ke Azka.
“Lu belum bisa maafin Ginov, berarti lu masih sediain tempat khusus untuknya di hati lu. Itu bukan Eriz yang gue kenal.”
Eriz menunduk, mengusap-usap meja dengan jari telunjuk. “Jangan ikut campur deh. Kak Azka bukan siapa-siapanya Eriz.”
Tubuh Azka menegang mendengar kalimat terakhir dari mulut Eriz. Bukan siapa-siapa?
Pletak.
Eriz mendongak cepat, menyentuh jidatnya yang sedikit sakit.
Azka berdiri, bertolak pinggang di hadapan Eriz. “Eros sudah meninggal. Otomatis gue jadi kakak lu gantiin dia. Gue nggak mau dengar lu ngatain gue bukan siapa-siapa lagi,” ucapnya tegas lalu menuju kasir. 
Azka meminta pesanannya dibungkus. Setelah membayar, ia mendekati Eriz lagi. “Gue sudah bayar makanan lu. Sampai jumpa,” ucapnya lalu pergi.
“Gu-gue bisa bayar sendiri,” gumam Eriz, melongo di kursinya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

846 606 10
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

541 419 5
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 980 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

310 243 4
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

159 133 1
Anne

Anne's Tansy

By murphy

499 300 6