Waktu istirahat dipergunakan Eriz untuk menggambar. Gara-gara buru-buru ke sekolah, ia lupa membawa tugas gambarnya. Daripada pulang ke rumah, mending ia membuat yang sama. Tugas itu dikumpul sebelum pulang, jadi banyak waktu menyelesaikannya.


Dua menit Eriz menaruh seluruh perhatiannya pada gambar yang ia coba buat. Sampai kedatangan seseorang tidak dihiaraukannya karena terlalu fokus.


“Gue saranin lu nggak usah dekat-dekat sama Rifan,” ucap Ginov dengan nada bicara yang kaku, nyaris ketus. Ia tidak mau repot berbicara lemah lembut karena hubungan mereka bukan cuma retak, tapi hancur berantakan.


Bayangkan, Ginov sudah memutuskan Eriz karena Jean. Cewek mana yang bisa bersikap baik setelah diperlakukan sejahat itu? 


Kalaupun ada, pasti bukan Eriz orangnya.
Eriz tersenyum memandangi hasil gambarnya. Kalimat Ginov dianggapnya halusinasi. Ia menyimpan gambar tadi ke laci lalu berdiri.


Melihat gelagat Eriz yang abai terhadapnya, Ginov menangkap lengan cewek itu dan memaksanya duduk lagi. “Rifan punya niat buruk sama lu. Gue hanya ingin lu tahu dan berhenti dekat sama dia.”


Eriz mendongak dan tersenyum. “Lu siapa sih?”


Geram, Ginov memukul meja. Eriz tersentak dan memukul meja juga. “Siapa lu sampai berani mukul meja gue?” tanyanya.


“Gue-mantan-lu.” Ginov menjawab tegas.


“Dasar orang aneh,” umpat Eriz, memalingkan wajah.


“A-anehh?”


“He eh, aneh. Seenaknya ngaku-ngaku sebagai mantan gue. Gue bahkan nggak kenal sama lu.”


Ginov terbahak. Melirik pergelangan tangan Eriz lalu tiba-tiba mengangkatnya. “Lu pura-pura nggak kenal sama gue, tapi tetap memakai barang pemberian gue. Lebih gila siapa coba?”
Sial. 
Eriz merutuki dirinya. Kenapa sampai lupa melepas gelang dari Ginov padahal ia sudah berjanji akan menjadikan cowok itu pusat dendamnya.


“Atau jangan-jangan lu masih cinta sama gue? Makanya nggak tega melepas benda itu.”
Ucapan Ginov barusan mendorong Eriz untuk segera mengambil keputusan. Ia berdiri, melepas paksa gelangnya. “Benda ini.” Eriz mengangkat gelang ke wajah Ginov lalu melemparnya ke depan. “Hanya sampah.”
Yerin yang kebetulan baru datang, berhenti mendadak lalu memutar badan dan pergi secepat mungkin.
“Baguslah kalau lu anggap itu sampah. Gue lega dengarnya!” tekan Ginov.
“Ya udah. Untuk apa lagi lu di sini?” Eriz refleks bertolak pinggang. “Lu yang minta gue sembunyiin hubungan kita yang dulu, terus lu malah datang ke sini, sok ngasih saran, lu maunya apa sih?”
“Apa salahnya ngasih saran ke mantan?!” teriak Ginov.
“Banyak, sampai gue nggak bisa sebut satu-satu,” desis Eriz.
Ginov menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya lewat mulut sekaligus.
“Pergi,” ucap Eriz pelan. Emosinya sudah stabil.
“Gue memang mau pergi, kok.” Ginov mendesah lalu menggerutu tidak jelas. Susah sekali berdamai dengan mantan. Padahal tujuan awal Ginov mendatangi Eriz adalah berbaikan dengannya.
“Ergggghhh. Terserahhhh.” Ginov tidak ingin peduli lagi. Biarkan saja Eriz dimanfaatkan oleh Rifan.
Demi menghilangkan Eriz dari kepalanya, Ginov berbelok ke kelas XI IPS 4, kelas pacarnya. Sudah lama ia tidak bertemu Jean. Mungkin bertemu cewek itu bisa menghilangkan kekesalannya.
Namun, belum juga melangkah ke dalam kelas, Ginov sudah mendengar kenyataan pahit.
“Haha. Ginov memang pintar, tapi bego soal cewek. Gampang banget nipu dia, sumpah. Gue cuma modal nangis, dia udah luluh.”
“Katanya dia punya cewek waktu itu. Kok bisa sih dia milih lu?”
“Gue gituuu. Ceweknya kalah cantik dari gue.”
“Serius? Namanya siapa?”
“Namanya…”
Obrolan seru tiga cewek itu terhenti begitu Ginov menampakkan diri setelah membanting pintu. Jean yang memimpin obrolan terhenyak. Dengan muka pucat, ia menelan ludah susah payah. “Ha-hai sayang,” sapanya gugup.
“Hai jalang,” balas Ginov. Tersenyum manis, tapi tampak menakutkan bagi Jean dan dua temannya.
***
“Apa gue bilang. Jean itu ular, serigala berbulu domba, musuh dalam selimut dan…” Sekhan memutar otak. Hm, apa lagi ya?
“Cewek jadi-jadian.” Ginov menambahkan dengan muka lesu. Kantin yang biasanya terasa sesak, jadi lapang. Hanya tiga meja yang terisi.
“Iya, itu.” Sekhan menatap kagum sahabatnya. “Ternyata selama ini lu selalu mendengar gue dengan baik. Lu ingat apa yang gue bilang. Makasih, Ginov.”
Ginov terbahak sekali. “Gue punya kemampuan mengingat sesuatu dengan baik.”
Sekhan beringsut lebih dekat. “Kalau memang benar begitu, baik. Gue harap lu selalu ingat kata-kata gue kali ini.” Ia berdehem, mendekatkan mulutnya. “Mumpung lu sudah putus dari Jean, sebaiknya buruan dekati Eriz. Gue lihat Rifan semakin dekat sama dia. Kalau mereka sampai jadian, impian lu jadi Ketua OSIS nggak akan terwujud.”
Ginov mendorong Sekhan lalu menatapnya dengan kening berkerut. “Gue ini juara satu umum. Sedangkan Eriz cuma siswi dari kelas IPS. IPS 5. Nggak mungkin anak-anak lain lebih ngikut ke dia dibanding gue yang jelas-jelas punya prestasi. Lu ngaco, serius.”
“Andai ucapan lu itu benar, yang jadi Ketua OSIS dulu pasti Kak Yuka, bukan Kak Adit. Yuka juara satu umum  dan Kak Adit hanya pengurus OSIS biasa yang kebetulan nggak pernah bikin masalah.”
“Tapi Kak Yuka sering tidur di kelas dan membol…”
“No no no.” Sekhan menyela sambil mengangkat jari telunjuk. “Kak Yuka buat masalah setelah pemilihan.”
“Penjelasan lu terlalu jauh. Kita ambil yang dekat-dekat aja. Misalnya fakta bahwa sebenarnya kak Yuka nggak mencalonkan diri dalam pemilihan Ketua OSIS waktu itu.”
“Argh,” geram Sekhan. Capek-capek ia berpendapat, rupanya Ginov sudah menang dari awal. Ini gara-gara kak Yuka, pikirnya kemudian. Mencari pelampiasan karena jengkel. Kenapa juga cewek pintar itu tidak ikut pemilihan?
“Gue nggak butuh Eriz buat menang,” ucap Ginov yakin.
Sekhan membuang pandangan ke samping. “Pemilihan Ketua OSIS tahun ini sangat unik. Ada empat calon. Dua calon harus disingkirkan lebih dulu untuk menjadikannya lebih menarik.”
Ginov memutar kepala Sekhan ke arahnya. “Disingkirkan bagaimana? Dipaksa mundur?”
“Akan diadakan pemungutan suara tahap awal. Tapi… secara tiba-tiba.”
“Siapa yang bilang?” Ginov punya firasat buruk dengan peraturan baru itu.
Sekhan menyambar tisu, menyumpal telinganya lalu menjawab, “Gue yang bilang. Dan perlu lu tahu, gue juga yang mengajukan peraturan itu dalam rapat pengurus OSIS kemarin.”
“Sekhannnn. Lu beneran bikin gue mar…”
Ginov menghentikan omelannya dan memandang ke cewek yang berdiri di belakang Sekhan. Ada Talia dengan aura-aura keanehannya. Pantas saja Ginov merasa aneh sejak tadi.
Talia tersenyum di satu sudut bibirnya lalu menunduk ke samping kiri kepala Sekhan. Ia menarik penyumpat telinga cowok itu. “Hei.”
Sekhan sedikit tersentak, tapi buru-buru menutupi keterkejutannya. “He-hei,” balasnya sambil menoleh ke samping, Talia duduk di dekatnya.
Ginov menatap Sekhan dengan alis terangkat, meminta penjelasan kenapa cewek aneh itu bergabung sama mereka.
“Sadya belum cerita ke lu?” tanya Sekhan.
Ginov menggeleng cepat.
“Talia akan ikut di tim sukses lu.”
Seketika kepala Ginov mengarah ke Talia. “Lu?”
Talia tersenyum samar-samar. “Harusnya lu gembira, bukannya kaget. Meski nggak sebesar Club Sesat, jumlah anggota Club renang cukup berpengaruh dalam pemilihan ketua OSIS.”
“Gue mau dengar alasan lu mau bantu gue. “ Ginov harus berhati-hati menerima bantuan karena bisa saja itu berbalik menjatuhkannya. Ia wajib mengetahui alasan Talia agar lebih yakin dengannya.
“Rifan nggak pantas jadi ketua OSIS,” ucap Talia.
“Lu diterima.” Ginov langsung puas. Ternyata bukan cuma dirinya yang bermusuhan dengan Rifan.
***
Terburu-buru Ginov turun dari motor dan berlari ke dalam rumah. Helmnya masih terpasang dan baru dilepas ketika sampai di depan kamar. Ginan yang baru keluar dari toilet, berhenti sejenak memandangi sang kakak.
“Ada apa sih?” tanya Ginan sambil mengikuti Ginov ke dalam kamarnya.
Ginov mondar-mandir sebanyak lima kali sebelum duduk di pinggiran ranjang. Tatapannya lurus ke depan dan seketika ia ingat sesuatu. Tas.
Matanya berkeliling ke setiap sudut kamar, tapi benda itu tidak terlihat. Ginov mengelus bibir bawahnya sambil berpikir keras. Gina yang menyaksikan itu, terheran-heran.
“Kak Ginov kenapa?” tanyanya.
Ginov menoleh tanpa bersuara. Lama sekali. Kemudian mengerjap pelan. “Lu tahu di mana tas biru gue?”
Gina menerawang sejenak lalu mengedikkan bahu. “Bukannya Kak Ginov nggak punya tas warna biru?”
“Ada. Yang ransel. Lu pernah pinjam sekali pas ke toko buku.”
Bingung, Gina menggaruk kepala. Tidak merasa pernah memakai tas biru punya kakaknya. “Yang mana sih?”
Ginov mendesah jengkel. “Itu loh, yang… yang…”
“Yang, yang, tas yang manaaa? Ginan nggak ngerti nih.” Gina ketularan jengkel karena penjelasan Ginov yang sangat membingungkan.
Helaan napas Ginov semakin berat. Ia mengusap kepalanya lalu berkata lirih, “Yang dari Eriz ….”
“Ooooooooh. Yang ituuuuu.” Gina baru paham. “Bilang dong dari tadi. Tas yang itu berwarna abu-abu, Kak. Bukan biru.”
“Biru.” Ginov yakin warna tas itu biru.
Ega menggeleng. “Abu-abu.”
Ginov berdecak. “Itu biru Egaaaa. Lu katarak, ya? Masa’ bedain warna aja nggak bisa.”
Kesal, Ginan memukul dinding. “Oke. Kita ke gudang. Lihat siapa yang matanya sehat dan siapa yang katarak.”
“Okeee.” Ginov bangkit. Sangat percaya diri karena tas itu miliknya. Pastilah ia yang paling tahu warnanya.
Mereka menuju gudang dengan semangat berkobar. Siapa yang kalah, dia yang akan jadi bulan-bulan di rumah selama berhari-hari, plus dilaporkan ke sang mama. Ginov bahkan sudah menyiapkan nada alias yelyel untuk mengejek Ega.
Tas yang dicari Ginov tertumpuk buku di gudang. Perlu sepuluh menit untuk bisa menemukannya. Apalagi dengan debu yang mengganggu pernapasan, pencarian itu benar-benar sulit.
Harapan Ginov pupus seketika saat Ginan mengangkat dan membawa tas itu ke hadapannya. Birunya hilang.
Ega tersenyum mengerjek. “Nahhh. Besok, Kak Ginov harus dibawa ke dokter mata. Abu-abu dibilang biru. Cih. Katarak lu, Kak. Ka-ta-rak!”
“Ah, bodo amat.” Ginov mengambil tas itu dan membersihkan debunya dengan tangan. Tanpa memperdulikan ejekan Ega, ia kembali ke kamar. 
Syukurlah tas itu masih ada. Ginov lega, satu bukti ia pernah pacaran dengan Eriz sudah di tangan. Satu bukti yang sejujurnya tidak begitu ampuh meluluhkan hati Eriz. Ginov mendesah, seketika pesimis dengan rencananya.
“Gimana caranya gue minta maaf sama Eriz?” Ginov mengacak rambutnya. Ia tidak menyangka hari ini benar-benar datang, hari di mana ia menjilat ludahnya sendiri.
“Demi jadi Ketua OSIS,” gumam Ginov, mulai kelihatan stres. “Gue cuma harus berakting menyesal di hadapan Eriz dan dia akan maafin gue. Yah, seperti itu sudah cukup.”

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

382 296 4
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

618 475 7
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

492 385 14
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 816 14
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

5K+ 1K+ 9