Kemoceng yang dipegang Bu Riza terjatuh ke lantai. Anak laki-laki yang berdiri di depannya sangat asing. Namun, penampilan yang sederhana dengan kaos abu-abu kebesaran dan celana olah raga hitam membuatnya terpaku. Satu lagi, wajahnya mirip teman lama Bu Riza.


“Selamat sore, Tante. Saya Rifan Aryaz, teman sekolah Eriz.”


Bu Riza melebarkan senyum. “Anak Aryaz?” tanyanya dan tidak menunggu jawaban langsung memeluk Rifan. “Kamu mirip sekali dengan ayahmu.”


Rifan tersenyum canggung, menatap sekeliling takut ada yang memergokinya dan mengira ia sudah menggoda emak-emak. Setelah yakin tidak ada saksi mata, ia kembali menatap Bu Riza. “Eriznya ada di rumah, Tante?”


Bu Riza menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus menatap Rifan dengan pandangan berbinar. “Sudah lama saya tidak bertemu ayahmu. Bagaimana kabar ibumu? Sehat?”


Rifan menahan napas ketika berusaha agar tetap tersenyum. “Sehat. Tapi… Eriznya ada, Tante?”


“Eriz?”


“Iya, Eriz, Tante.” Rifan berharap tidak salah rumah. Gelagat Tante di depannya dinilai berbahaya.


“Eriz ada di kamar. Kamu masuk duduk dulu, saya buatkan teh. Kita ngobrol di dal…”


Rifan cepat-cepat menyela, “Oh nggak usah repot, Tante. Saya mau ke suatu tempat, ada urusan penting. Jadi, harus ketemu Eriz sekarang.”


Bu Riza sedikit kecewa, tapi kemudian mengangguk paham. Beliau menyuruh Rifan menunggu dan masuk memanggil Eriz.


Dua menit kemudian seorang cewek muncul dengan rambut acak-acakan. Rifan terdiam mengamati penampilan Eriz sampai cewek itu berdehem.


“Hati-hati sama mata lu,” tegur Eriz.


Rifan berdecak-decak. “Separah apa sih patah hati lu sampai kacau begini?”


Eriz mengelus dadanya untuk meredakan kesal yang meluap-luap di sana. Seharusnya cowok itu tidak membahas patah hati di awal percakapan mereka.


“Ada perlu apa lu ke sini?” tanya Eriz dengan nada malas.


“Belajar.” Rifan menjawab mantap.


“Rumah gue bukan tempat les.”


Rifan menghela napas. “Belajar pakai sepeda.”


Eriz menatap cowok itu sejenak sebelum bertanya, “Gue nggak bilang mau ngajari lu pakai sepeda sore ini.”


“Karena lu nggak pernah bilang, makanya gue buat inisiatif sendiri dan datang ke sini,” balas Rifan percaya diri. “Lu mau ngajarin gue, kan?”


Eriz mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ingin rasanya ia melempar Rifan ke laut saat ini juga.


“Kalau lu nolak, paling tidak gantikan uang taxi gue ke sini.” Rifan memberi pilihan setelah dilihatnya Eriz sulit mengiyakan permintaannya.
“Enak aja. Gue masih numpang hidup sama mama, nggak punya banyak uang.” Eriz melirik jam di dinding. “Kita belajar selama dua jam.”


“Oh. Oke.”
“Sepeda lu mana?”
Rifan menjawab cepat, “Nggak ada. Gue nggak bisa naik sepeda, makanya gue nggak pernah punya sepeda, Riz.”
“Ya ampun, Rifannnn,” jerit Eriz sambil meremas rambut atasnya dengan tangan kiri. Lalu tangan kanannya menunjuk Rifan tegas, “Terus kita belajarnya pakai apa? Lu mau gue menerangkan tanpa praktek?”
“Lu kira gue secerdas Ginov yang langsung bisa hanya dengan mendengar penjelasan naik sepeda?” Rifan balas bertanya.
Mendengar nama Ginov disebut, pipi Eriz menggembung, menahan luapan amarahnya. Dari beberapa hari yang lalu, Rifan selalu mengungkit mantan dan sekarang lancing menyebut nama cowok itu. Eriz kira sudah cukup ia memberi toleransi.
Namun, ketika ia hendak marah-marah, Rifan cepat-cepat melanjutkan kalimatnya, “Kalau lu tersinggung hanya karena gue bahas Ginov, berarti lu belum move on dari dia.”
Move on?
Eriz menarik napas dan menenangkan diri. Tatapan matanya yang tajam masih tertuju ke Rifan. “Gue nggak kenal siapa Ginov, maka dari itu gue minta lu nggak bahas dia.”
***
Sekhan mengambil jalan yang tidak biasa sepulang dari latihan sepak bola. Keputusannya itu membuat Ginov, sang pemilik motor yang sah, mengomel sepanjang jalan.
“Gue bilang apa, biar gue yang bawa motor supaya kita cepat sampai rumah.” Ginov berdecak-decak sampai Sekhan bingung harus belok ke kiri atau kanan. Akhirnya ia pun berhenti di pertigaan.
“Kenapa berhenti?” tanya Ginov setelah helmnya membentur helm Sekhan.
“Gue jadi nggak bisa mikir gara-gara dengar ocehan lu, tahu.”
“Oi. Lu mikirnya pas kita ujian saja. Jangan sekarang.”
Sekhan jadi sebal dan menoleh ke belakang. “Kita ke kanan atau kiri? Gue jadi lupa jalan setelah dengar lu ngomong.”
“Kalau kanan, kita ke Kafe langganan lu. Tapi kalau ke kiri, kita pul…”
“Fix. Kita ke kiri,” potong Sekhan dan buru-buru menjalankan motor ke arah kiri.
Ginov sedang melihat-lihat toko besar di pinggir jalan saat motornya berhenti mendadak. Ia tidak akan percaya kalau Sekhan beralasan motor itu kehabisan bensin sebab Ginov sudah mengisi tangkinya penuh. Kecuali… Sekhan yang meminum bensin itu, bisa jadi motornya memang kehabisan bahan bakar.
Pikiran negatif Ginov buyar ketika Sekhan mencetuskan satu ide yang cukup buruk.
“Kita mampir di sana dulu, Yo.”
“Di mana?”
Sekhan menunjuk lapangan bola kecil yang berdampingan dengan sekolah dasar. Ginov mengernyit. Terdapat dua manusia tidak tahu diri di sana, saling menyalahkan sambil berteriak-teriak.
“Nggak usah! Malas gue lihat mereka,” jawab Ginov. Cukup latihan sepak bola saja yang membuatnya lelah.
“Mereka? Lu benci juga sama Eriz?” Sekhan turun dari motor dan menatap curiga ke Ginov yang masih enggan turun.
“Bukan itu. Ah, ngapain sih kita ngurus mereka?” Ginov benar-benar tidak ingin bertemu Eriz. Bukan hanya canggung, tapi ada perasaan aneh dalam dirinya ketika melihat raut wajah cewek itu terhadapnya.
“Kita nyapa mereka dulu. Semenit doang. Lu bukan cewek yang mesti pulang cepat. Santai, Yo. Santaaaai.”
Ginov mengembuskan napas keras. Dengan terpaksa ia mengekor di belakang Sekhan.
“Riz!” panggil Sekhan begitu sampai di salah satu sudut lapangan. 
Eriz dan Rifan menoleh dan sama-sama mengangkat tangan ke arah Sekhan. Namun, ketika melihat siapa yang berdiri di belakang cowok itu, keduanya lantas bertukar pandang.
“Mantan lu, tuh,” bisik Rifan. Eriz langsung mendorong wajahnya agar menjauh.
“Ada peningkatan, nggak Riz?” tanya Sekhan begitu sampai di dekat Eriz dan Rifan.
“Dia nggak ditakdirkan naik sepeda,” jawab Eriz lalu mengembuskan napas dengan raut wajah lelah.
“Sembarangan.” Rifan membaringkan sepedanya di atas rumput lalu mengambil posisi di samping Eriz. Tanpa peringatan, ia merangkul cewek itu.
Eriz menoleh, berharap Rifan mengerti tatapannya dan segera berhenti bersikap sok akrab. Tapi sial, sepertinya Rifan menikmati sandiwaranya. Apalagi ketika melihat Ginov sudah menampakkan wajah tegang. Rifan puas.
Sekhan tersenyum canggung. Mereka dekat banget kayaknya.
“Kalian habis latihan sepak bola?” tanya Rifan.
“Iya nih. Kami ada pertandingan minggu depan dengan SMA Aryatama. Bosen gue kalah melulu.”
Rifan mengangguk-angguk sambil mengeratkan rangkulannya. Membuat Eriz geram dan melayangkan cubitan ke pinggang cowok itu secara diam-diam.
Karena kesakitan, Rifan melepas rangkulan dan mengambil tangan Eriz yang tadi mencubitnya. “Gue juga bosan nggak bisa naik sepeda, makanya minta diajari sama Eriz, ketua baru Club Sesat,” ucapnya sambil tersenyum ke Eriz lalu ke Sekhan dan Ginov.
“Terlalu sibuk dengan club bikin waktu belajar berkurang, loh. Hati-hati, entar nilai pelajaran di sekolah menurun,” celetuk Ginov. 
Eriz melirik sinis. “Terlalu rajin belajar bisa bikin gila juga, loh. Sudah banyak korbannya.”
Sekhan menggaruk belakang leher. Bingung dengan interaksi Eriz dan Ginov yang sepertinya tidak baik. Tapi kenapa? Dua orang itu tidak tidak pernah terlibat masalah apapun selama ini.
“Kalian mau nonton kami latihan?” tanya Rifan. Mengusir Sekhan dan Ginov dengan cara halus.
“Kalian harusnya pulang untuk istirahat. Ini sudah sore banget, loh.” Eriz malah mengusir tanpa memikirkan kalimatnya yang kasar. 
“Oh, iya. Kami pergi kalau itu.” Sekhan menyenggol Ginov yang terpaku di tempat. Cowok itu langsung berbalik pergi ke motornya dengan langkah lebar. Sekhan tertinggal jauh di belakang.
***
Benar saja. Bertemu Eriz berdampak yang buruk untuk Ginov. Malamnya, ia tidak bisa tenang belajar dan malah mondar-mandir dalam kamar. Ia tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di antara Eriz dan Rifan. Sedekat apa mereka?
Ginov tidak suka keakraban mereka tadi sore.
Menyadari ketidaksukaan itu, Ginov berhenti. Ia menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Dengan posisi telentang, ia memejamkan mata. Lalu kenangan itu terputar dalam kepalanya. Momen menyenangkan saat ia dan Eriz menghabiskan waktu di lapangan. Ginov melihat dirinya tersenyum sedangkan Eriz berlari sambil tertawa.
Sekarang, ia bukan lagi tokoh dalam kenangan itu, tapi penonton. Ginov kemudian membuka mata, mendapati langit kamar. Sesaat ia berpikir, apa gue salah?
Setelah putus, untuk pertama kalinya ia merenungi keputusannya meninggalkan Eriz.
“Kak Teeeo.”
Ginov langsung menarik napas dan bangun. Dari cara Gina memanggilnya, pasti adik kesayangannya itu punya niat tersembunyi. Ginov berdiri membuka pintu.
“Kakak nggak sibuk, kan?” tanya Gina ketika pintu kamar terbuka.
Ginov menggeleng. “Kenapa lu?”
Gina nyengir maksimal lalu menyodorkan buku tugas. “Bantu Gina ngerjain soal matematika. Mau yaaaaa?” Matanya mengerjap-ngerjap penuh harap.
“Gue nggak suka matematika. Kerja sendiri aja.” Ginov lalu berniat menutup pintu tapi teriakan Gina menggema.
“Kak Ginov nggak mau ngajarin Gina matematika, Maaaa.”
Ginov berdesis sambil melotot. Terlambat, keluhan telah disuarakan. Ginan menjulurkan lidah. “Siapa suruh pelit.”
“Ginov tidak boleh begadang nonton bola kalau tidak mau mengajari adiknya. Dengar, tidak?!”
Seruan Bu Vera langsung disambut Ginov dengan helaan napas panjang. Pertandingan sepak bola disiarkan ulang pada pagi hari, Ginov tidak rugi kalau dilarang nonton malamnya. Tapi… kontrol uang jajannya ada di tangan sang mama, mustahil Ginov membantah perintah beliau jika sudah menyangkut uang.
“Iya, Ma.” Ginov kemudian menyahut meski tanpa semangat.
“Iyyes.” Ginan melonjak gembira lalu menerobos ke kamar Ginov. Sementara sang pemilik masih menunduk lesu di dekat pintu.
“Uang jajanmu juga akan mama potong kalau tidak mau!” tambah Bu Vera, mungkin tidak mendengar ucapan Ginov barusan.
Tuh kannnn.
Ginov mendesah frustrasi setelah mendengar ancaman kedua yang telah diprediksinya detik lalu. Ia terpaksa berseru, “Iyaaa mamaku sayanggg.”

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

482 376 8
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 815 14
Anne

Anne's Tansy

By murphy

655 408 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

618 475 7
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

631 464 9