Sebelum pulang, Eriz mengikuti rapat Club Sesat. Eits, jangan berpikiran buruk dulu. Sesat adalah singkatan dari SEpeda SAnTai. Rapat itu membahas calon ketua baru.

Ketua sebelumnya buru-buru melepas jabatan karena sudah kelas dua belas, banyak les dalam dan luar sekolah yang diikutinya. Tidak ada waktu mengurus Club Sesat.

Seluruh anggota Club Sesat sepakat memilih Eriz sebagai ketua karena ia yang paling banyak waktu luangnya. Selain ke sekolah, Eriz tidak punya kegiatan lain. Paling hanya di rumah seharian.

Selain itu, Eriz menang balap sepeda semester lalu, jadi anggota lain memberinya hadiah jabatan. Baik sekali, bukan?

“Gue nggak mau jadi ketua. Nggak sanggup mikul beban,” protes Eriz sembari menepuk dua kali bahu kirinya. Baru saja ia masuk sekolah lagi, sudah disodori dengan jabatan yang memberatkan hidupnya.

Azka berhenti menuliskan nama Eriz sampai selesai lalu berbalik. Sambil bersedekap di depan papan tulis, ia bertanya, “Hanya karena itu?”

Jabatan ketua sebelumnya dipegang oleh Azka, sahabat baik Eros. Eriz tahu alasan sebenarnya cowok itu memaksanya jadi ketua. Pasti karena merasa bersalah atas kematian Eros.

“Orang tua gue baru saja bercerai. Masa’ kalian nggak kasihan sama gue?” Eriz bertanya sambil membuat ekspresi sedih.

“Justru karena kami kasihan sama lu, lu dikasih jabatan sebagai ketua,” ucap Azka.

“Apa hubungannya kasihan dan jabatan?” Eriz tertawa sumbang.

“Dengan lu jadi ketua, sibuk dengan Club Sesat, lu bisa lupa dengan permasalah keluarga lu. Sebaliknya kalau lu terus-terusan jadi siswa biasa yang nggak punya kegiatan tambahan, lu pasti melamun, mengingat perceraian orang tua lu, kematian kakak lu, dan pada akhirnya lu stres.” Azka menjelaskan panjang-panjang sedangkan yang lain manggut-manggut. “Lu mau stres beneran, Riz?”

“Tapi gue nggak cocok, Kak.” Eriz masih berusaha menghindar.

“Terus, kalau bukan lu, siapa yang jadi ketua?”

Eriz mengedarkan pandangan. Semua yang ada di sana pun buang muka sambil pura-pura sibuk mengerjakan sesuatu.


“Bagas saja,” ucap Eriz. “Dia yang paling tegas di sini. Cocok jadi pemimpin.”


“Kalau lu bisa gantiin gue jaga toko, gue mau-mau saja jadi ketua.” Bagas memberi alasan.

Pulang dari sekolah, ia kerja paruh waktu di toko bahan bangunan. Kondisi ekonomi keluarganya agak memprihatinkan. Ayahnya sudah meninggal dan sang ibu hanya tukang jahit di pasar. Makan tiga kali sehari saja sudah syukur.


“Gimana kalau Temi?” Eriz mengganti sasaran ke cewek yang asyik ketawa-ketiwi dengan orang di sampingnya.

Cewek itu sontak terdiam dan melotot pada Eriz.


Azka mendesah, menggaruk ujung alisnya lalu berkata, “Dia baru seminggu gabung di Club Sesat. Belum lancar naik sepeda, Riz. Apa kata junior yang mau gabung kalau lihat kemampuan bersepeda ketuanya semenyedihkan itu.”


“Weh, gue nggak menyedihkan, tahuuuu.” Temi membela diri. “Hanya butuh waktu lebih banyak untuk mengimbangi kemampuan kalian. Lihat saja, gue pasti bisa ikut balap sepeda semester depan.”


“Iya. Iya. Memang lebih baik mimpi daripada enggak sama sekali,” gumam Azka. Kenal betul bagaimana Temi. Cewek itu hanya hebat dalam bicara, tapi tidak pernah membuktikan ucapannya.


Temi cemberut maksimal sambil membanting tubuh ke sandaran kursi. Berbicara sama Azka adalah pantangan utama dalam hidupnya.


“Jadi gimana, Riz?” tanya Azka sambil mengetuk-ngetukkan kepala spidol ke papan tulis.


Dengan wajah lesu, Eriz menjawab, “Yaaa.”
Anggota lain bertepuk tangan dan segera memperlihatkan senyum lega.


“Kalau gue jadi ketua, berarti gue berhak memutuskan siapa saja yang boleh gabung ke club ini, kan?”


Sorakan terhenti. Semua memandang Eriz dengan tatapan curiga.


Azka tampak berpikir keras. Ia juga mencium rencana jahat dalam pertanyaan Eriz.


“Enggak?” tanya Eriz.


Belum ada jawaban.


Eriz berdecak. “Kalau gitu gue nggak mau.”


"Iya, iya, iya.” Azka langsung mengiyakan. “Pokoknya lu berhak ambil keputusan apapun selama keputusan itu nggak merugikan club.”


“Oke.” Eriz tersenyum tipis. Tiba-tiba saja tercetus satu ide dalam kepalanya.


“Maaf, telat.” Seorang cowok muncul di ambang pintu.


Eriz menoleh dan segera mengernyit bingung. Buat apa Rifan datang ke pertemuan anggota Club Sesat?


“Rifan,” panggil Eriz.


Rifan mencari-cari keberadaan Eriz dan ketika menemukannya di baris belakang, ia mengangkat sebelah tangan untuk menyapanya. “Hei, Riz.”


“Ini tempat perkumpulan Club Sesat bukan orang sesat.”


Rifan mengedikkan bahu lalu berjalan ke samping Azka. Untuk membalas ucapan Eriz, ia memberi kode pada seniornya itu.


“Rifan adalah anggota baru Club Sesat, Riz,” ucap Azka.


Eriz tertawa. “Dia nggak bisa naik sepeda, Kak Azka yang terhormat.”


“Jangan lupakan gue, Ketua.” Temi nimbrung.


“Lu hanya nggak mahir, tapi sebenarnya sudah bisa naik sepeda. Sedangkan Rifan… “Eriz melirik yang bersangkutan. “Dia sama sekali nggak bisa.”


Azka mengangguk paham. “Makanya… lu harus ajarin dia sampai bisa.”


“Kok gue lagi sih? Anggota Club Sesat bukan gue doang, Kak.”


“Tugas pertama lu sebagai ketua.” Azka tersenyum penuh harap.


Eriz memutar mata lalu teringat sesuatu yang bisa membantunya. “Ah, tadi lu bilang gue boleh ambil keputusan dalam penerimaan anggota baru. Sekarang, gue menolak Rifan bergabung.”


“Kenapa?” Rifan bertanya ke arah Eriz. “Gue ini pekerja keras, rajin beribadah dan sayang orang tua.”


Temi tersenyum kagum. “Tipe gue banget,” gumamnya.


Yang lain berseru, “Hoax.”


Azka menggeleng pelan ke arah Eriz. “Andai lu jadi ketua dari kemarin, permintaan lu bisa dikabulkan. Soalnya… Rifan daftar jadi anggota itu kemarin, Riz.”
“Ergh,” geram Eriz.


***
“Eriz, awas ular!”


Dalam sekejap, Eriz masuk ke mode siaga satu. Kepalanya hampir patah gara-gara berputar ke kiri dan kanan mencari ular yang dimaksud Rifan. Dan lihat posisi tangannya sekarang, mengepal kuat seperti petinju.


Rifan menutup mulutnya guna menahan tawa kemudian mendekat. Begitu sampai di samping Eriz, ia mencolek bahu cewek itu. “Gue nggak bilang ularnya di dekat lu.”


Pernapasan Eriz kembali longgar. Eriz menghirup udara sebanyak yang ia bisa lalu mengembuskannya lewat mulut ke arah wajah Rifan.


“Buset, bau banget.” Rifan menjepit hidung dengan tangan kiri dan tangan kanan dikibas-kibaskan di depan wajah.


“Rasain!” Eriz mengelus dadanya yang masih naik turun dengan ritme yang lebih cepat dari normalnya. “Lu kalau mau ngasih kejutan yang kreatif dong. Ngasih cokelat dua kardus kek, ngasih cincin berlian kek, bukan teriak-teriak bahas ular.”


Rifan mengambil ujung rambut Eriz dan membawanya ke depan. Mau tak mau Eriz harus merapikannya lagi karena matanya tertutup.


“Rifan, rambut gue jadi kusut,” omel Eriz sambil mengusap rambutnya ke belakang berkali-kali.

“Rambut gue ini mahal loh, biaya perawatannya di salon lebih banyak dari uang jajan lu.”


“Lu rawat rambut di salong mana pun, tetap aja mantan lu nggak balik,” ucap Rifan.


Eriz mengibaskan rambutnya ke wajah Rifan dengan gaya seanggun mungkin. Rifan hanya bisa menutup mata, tapi tanpa sadar menghirup aromanya.


“Harum, nggak?” tanya Eriz. Topik berganti dengan sangat alami.
“Harum banget.”
Eriz tersenyum bangga. Ia mengelus rambutnya lalu mencium aromanya dalam-dalam. “Ehm, kayak habis dipakaiin parfum. Ya kan?”
“Kayak ditampar angin yang lewat selokan,” ucap Rifan kejam.
Mood Eriz langsung jatuh ke dasar laut. Ditatapnya Rifan dengan muka gerah. Untuk menghentikan kekesalannya, Eriz mengganti topik lagi.
“Tiba-tiba masuk Club Sesat, lu nggak waras?” Eriz berjalan di sisi kiri Rifan. Cowok itu menoleh sebentar lalu tersenyum penuh arti. Eriz melanjutkan, “Bukannya lu mau mencalonkan diri jadi ketua OSIS?”
“Gue jawab yang mana dulu nih?” Rifan melambatkan langkah.
Eriz spontan ikut melambat agar bisa mengobrol dengan nyaman. “Yang pertama nggak usah dijawab karena gue sudah tahu jawabannya. Lu nggak waras.”
“Iya. Gue memang mau mencalonkan diri jadi ketua OSIS.” Rifan langsung menjawab pertanyaan kedua Eriz.
Eriz mengerem langkah, tapi Rifan tidak demikian sehingga ia terpaksa menahan lengan cowok itu.
“Hem?” Alis Rifan terangkat.
“Harusnya lu daftar jadi pengurus OSIS daripada jadi anggota Club Sesat.”
Rifan menatap kedua mata Eriz seperti sedang mencari sesuatu yang tersembunyi di sana. Dalam dan tajam. “Kayak yang dilakukan mantan lu? Untuk mendekati jabatan ketua osis, ia harus jadi pengurus osis dulu.”
“Memangnya lu tahu siapa mantan gue?” tanya Eriz.
“Ginov Raskan, tertulis jelas di daun pohon patah hati.”
Eriz berdesis seketika. “Pohon jelek itu…”
Sekarang, ia menyesal menulis di daun pohon patah hati. Rifan pasti membaca semua kekesalan yang ditulisnya di sana.
“Maaf, gue bukan dia, jadi rencana gue pastinya berbeda dari rencananya.” Rifan lalu mengernyit seraya mengelus bibir bawahnya dengan jari telunjuk. “Lu tahu dari mana gue berniat mencalonkan diri jadi ketua OSIS?”
Eriz mendongak angkuh. “Lu nggak tahu kalau gue bisa baca pikiran orang lain?”
“Oh ya?” Rifan hendak terbahak tapi ditahannya.
Eriz mengangguk lalu menunjuk Rifan tepat di depan hidungnya. “Dan lu adalah orang yang mudah dibaca. Lu transparan.”
“Hebat,” ucap Rifan lalu berjalan lebih dulu. Tapi kemudian ia berhenti dan menoleh ke belakang. “Lu pasti akrab banget sama Yerin sampai rahasia gue diceritakannya juga sama lu.”
Eriz terkekeh. Yerin adalah sepupu Rifan. Dan cewek itu adalah orang yang memberitahu Eriz kalau Rifan hendak mencalonkan diri jadi ketua OSIS.
***
“Hot news!”
Dari dalam rumah, Sekhan muncul dengan semangat empat lima. Ia lari ke arah Ginov yang menunggu di dekat motor maticnya. Cowok itu kelihatan rapi dan keren dengan baju latihan sepak bola. Beda dengan Sekhan yang tampak biasa-biasa saja meski pakaian mereka sama.
“Lu berhasil dapat nilai A?” tanya Ginov sambil berbinar-binar. Sekhan dan nilai A ibarat dua kutub yang berlawanan. Sulit bahkan mustahil menyatu.
Kesal, Sekhan menendang lutut Ginov hingga cowok itu meringis. “Jangan sombong karena lu jadi langganan nilai A. Gini-gini gue striker terhebat sekolah kita.”
“Hebat apanya? Club sepak bola kita nggak pernah menang gara-gara lu yang jadi striker.” Ginov bicara nyolot.
“Nih anak…” Sekhan berdesis lalu mengibaskan tangan. “Mau dengar hot news tadi, nggak?”
“Enggak ah. Paling beritanya receh.”
“Gue lihat Rifan datang ke pertemuan Club Sesat.”
“Mungkin say hello sama Kak Azka. Mereka memang sahabatan sejak dulu.”
“Dia masuk Club Sesat dan itu sudah gue pastikan ke seseorang.” Sekhan ketawa-ketiwi sambil membayangkan masa lalu. “Tuh anak nggak bisa naik sepeda, apa coba yang dia rencanakan dengan Club Sesat?”
“Dia pasti mau belajar naik sepeda,” jawab Ginov ringan.
“Menurut gue bukan karena tujuan itu saja. Tahu enggak…”
“Enggak tahu,” potong Ginov. Malas membicarakan Rifan lama-lama.
Sekhan berdecak lalu meneruskan, “Yang ngajarin dia naik sepeda adalah Eriz. Heran gue, kenapa harus Eriz, ya? Pasti si Rifan mau pdkt sama tuh cewek.”
 Ginov mendengus kasar. “Terserah mereka, ngapain kita ikut campur? Gue ke sini itu mau jemput lu ke tempat latihan sepak bola, bukan mau ngerumpi.”
“Tapi coba deh lu pikir, gimana seandainya Rifan dan Eriz jadian? Berpengaruh sama jumlah suara dalam pemilihan ketua OSIS nanti atau enggak?”
“Tentu saja enggak ada pengaruhnya. Memangnya Eriz punya kekuasaan apa di sekolah?” Ginov tertawa meremehkan. Mantannya tidak lebih dari siswi dari kelas IPS, berpenampilan biasa-biasa saja, tidak punya prestasi dan… kenapa dulu ia suka sama dia?
Ginov lalu menggeleng keras untuk mengenyahkan Eriz dari kepalanya. Lagipula ia sudah lupa alasannya pacaran dengan Eriz. Mungkinkah ia khilaf saat itu?
“Hem, lu ketinggalan berita lagi rupanya. Eriz menggantikan Kak Azka jadi ketua Club Sesat.”
Ginov yang semula ingin buru-buru berangkat, terdiam memandangi Sekhan.
“Andai Rifan memang punya niat terselubung, gue harus bilang dia lebih cerdas dari lu.” Sekhan lanjut menganalisa.
Ginov menghujamkan tatapan tajamnya. Berani sekali Sekhan mengatakan Rifan lebih cerdas darinya, yang juara satu umum jelas-jelas adalah Ginov seorang.
Sekhan yang peka langsung terkekeh. “Gue bilang dia cerdas karena dia punya rencana bagus untuk menaikkan jumlah pemilihnya. Club Sesat adalah Club yang punya anggota terbanyak di sekolah. Anggotanya juga nggak sembarangan. Rata-rata yang gabung di sana adalah siswa yang punya reputasi baik di sekolah.”
“Enggak mungkin Eriz yang jadi ketua,” ucap Ginov.
Eriz jadi ketua dari Club dengan anggota terbesar di sekolah adalah mimpi buruk yang enggan dipercayainya.
Sekhan berdecak lalu merebut kunci motor di tangan Ginov. “Biar gue yang bawa motor.”
“Tumben mau.” Ginov naik setelah Sekhan menghidupkan mesin motor.
Sekhan menoleh sambil menyeringai kecil. “Gue khawatir lu nggak konsetrasi bawa motor karena kepikiran Rifan.”
“Dia bukan apa-apa buat gue, Sekhannn. Guru-guru bahkan sudah memilih gue sebagai ketua OSIS,” ucap Ginov sambil tersenyum lebar. Bangga sekali jadi murid kesayangan di sekolah. Selain itu, sebenarnya ia lebih terganggu dengan kabar dari Eriz. Mustahil rasanya cewek itu jadi ketua Club terbesar di sekolah.
“Percaya diri bagus, tapi jangan berlebihan. Ingat, Ginov, guru-guru nggak punya hak untuk milih Ketua OSIS.”
Senyum Ginov tambah lebar. “Oh nggak apa-apa. Dengan wajah seindah ini…” Ia menunjuk wajahnya. “Gue bisa bikin cewek-cewek di sekolah milih gue. Populasi kaum hawa dua kali lebih banyak dari kaum adam. Ingat, Do?”
“Sok cakep banget sih lu.”
Ginov berdehem. “Gue memang cakep, kok. Rifan kalah jauh.”
“Iya, iya. Lu memang cakep, tapi tetap saja Kak Azka juara utama dalam hal ketampanan.” Sekhan menarik gas sambil menahan sakit di bahunya karena dipukul Ginov. Motor melaju dalam kecepatan lima puluh per kilometer. 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

598 448 7
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

373 282 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

655 408 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

618 475 7
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 816 14
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11