“Monyet jelek!”


Eriz tersengal-sengal memasuki kantin sambil mengulang gerutuan yang sama. Di hari pertamanya ke sekolah setelah absen, ia mendapati Ginov mengobrol asyik dengan Jean di kelas. Seperti mendapat petunjuk, Eriz terdorong mengambil jalan ke kantin yang melewati kelas Ginov.

 

Dalam hati pun ia penasaran bagaimana kelanjutan hidup cowok itu setelah mengusir seorang Eriz dari hatinya. Bahagiakah? Galaukah?


Seringnya, kenyataan ditakdirkan untuk diabaikan. Harusnya Eriz tak usah tahu kenyataan itu. Sebab ia malah tambah sakit hati melihat Ginov baik-baik saja sementara dirinya berjuang keras untuk bangkit.


Saat menuju kursi kosong yang cukup untuk empat orang, langkah Eriz terhenti. Lamunannya buyar. Seseorang berlari dari arah lain, mendahuluinya menempati kursi yang ia incar.


Eriz melirik sekitar. Tak ada kursi lain yang selapang kursi tadi. Dengan berat hati, Eriz mendekat lalu duduk agak ujung.


“Mau pesan apa?” bisik cowok itu tepat ke telinganya sehingga Eriz tersentak kaget dan spontan menoleh. Suaranya sedikit familiar.


Cowok itu menarik ujung bibir sedikit lalu bertanya, “Mie pangsit? Bakso? Nasi goreng? Nasi campur? Teh? Kopi? Atau pohon patah hati?”


Eriz bengong. Hilang kontrol pada ekspresinya.
Rifan menyilangkan tangan di depan dada. “Gue nggak dijual.”


“Heeeeeh?” Mata Eriz membulat. “Gue nggak bilang apa-apa.”


“Mata lu mewakili mulut lu.” Rifan menuduh seenaknya.


Kening Eriz berkerut-kerut. Dan ketika ia mendapat pencerahan atas kalimat-kalimat aneh cowok itu, ia kemudian berdesis.

 

Candaan seperti itu kenapa menyebalkan banget, ya? batinnya.


“Dah baikan sekarang?” tanya Rifan setelah beberapa detik sebelumnya nyaris membuat Eriz memaki dalam hati.


“Memangnya gue kenapa?” Eriz pura-pura tidak paham.


Rifan mengembuskan napas dengan tenang. “Gue nggak mau buang waktu jawab pertanyaan yang jawabannya sudah lu tahu. Jadi… mau pesan apa?”


“Bakso dan lakban.”


“Oke.” Rifan mengangkat tangan kanan ke arah pelayan. “Mbak, nasi goreng satu, bakso satu. Lakb…”


“Lakban?” tanyanya ke Eriz dengan suara tertahan dan kening berkerut.


Eriz menyeringai kecil. “Buat mulut lu.”


***


“Ini untuk walimu.” Pak Yogas mendorong sebuah amplop ke hadapan Sekhan. Itu adalah amplop ke tiga bulan ini dan amplop ke dua belas selama cowok itu terdaftar di SMA Karya.

“Rekormu mengalahkan Yuka Effelin, tapi sayang kemampuan akademismu kalah jauh darinya.”


Sekhan tercengang. Berekspresi lebai adalah ciri khasnya ketika berhadapan dengan guru-guru. Ia percaya, kebiasaannya itu bisa mengurangi hukumannya.


“Kak Yuka juga suka tidur di kelas, Pak?” tanyanya.


Yuka Effelin adalah seniornya yang duduk di kelas XII IPA 1, kelas unggulan SMA Karya. Ia baru saja mendapat tawaran beasiswa dari salah satu universitas negeri. Pak Yogas, sering sekali mengungkit masa lalu Yuka ketika masih kelas sebelas.


 “Lebih parah dari kamu, dia ketiduran saat ujian berlangsung,” jawab Pak Yogas sambil mencari pulpennya di dalam tas. “Di mana sih pulpen itu?”


“Berarti ini tanda kalau saya akan mengikuti jalan hidupnya, Pak.” Sekhan mendadak mengkhayal.

 

Yuka Efelin adalah siswa dari kelas unggulan XII IPA 1. Mendengar jejak langkah kakak kelasnya itu sebelumnya yang juga tukang tidur, memberi Sekhan angan-angan semu. Sama-sama tukang tidur, mungkinkah mereka juga sama dalam kinerja otak?


Pak Yogas terbahak lalu menatap geli ke Sekhan. “Yuka itu sudah jadi siswa teladan sejak SD, sementara kamu sudah jadi siswa apa saat itu?” Ia berdecak-decak.


Sekhan manyun. “Siswa kreatif,” gumamnya asal.


“Ginov juara satu umum, kenapa masuk dua puluh besar di kelas saja kamu tidak bisa? Kalian bersahabat, kan?”


Sekhan mengerjap. “Maksud Bapak saya harusnya nyontek pekerjaan Ginov biar dapat nilai tinggi?”


Pak Yogas menggeleng pasrah. Untunglah siswa seperti Sekhan cuma ada satu di sekolah.
“Maksud Bapak, kamu sekali-kali belajar bersamanya. Contohnya ketika kamu tidak mengerti satu rumus matematika, kamu tanya Ginov dan minta dijelaskan.”


“Masalahnya, saya tidak mengerti banyak rumus, Pak. Bukan satu saja.”


“Yaaa, minta Ginov menjelaskan semuanya, Sekhannnn. Huft.” Pak Yogas jadi emosi.


“Iya, Pak. Nanti saya coba saran Bapak.”


“Sudah, kamu kembali ke kelas!” Pak Yogas mengibaskan tangan ke depan Sekhan sampai cowok itu berdiri. “Kenapa ketika dibutuhkan, pulpen itu hilang?” Matanya menyapu isi laci, tapi pulpen kesayangannya belum ketemu.


“Pak…”
“Apa lagi?” Pak Yogas terfokus ke lacinya.
“Pulpen Bapak di saku baju.”
Pak Yogas lantas mendongak, bertukar pandang dengan Sekhan selama tiga detik lalu tersenyum tipis. “Terima kasih informasi telatnya, Sekhan. Kamu bisa pergi. Ah, dan jangan lupa suruh Erizia Sagita ke sini.”
“Baik, Pak.” Sekhan berbalik sambil memandangi amplop di tangannya dengan perasaan gelisah. Orang tuanya sudah meninggal dunia, dan kini ia tinggal dengan neneknya yang sering sakit-sakitan. Sekhan tidak tega membebani neneknya lagi karena minggu lalu sang nenek baru keluar dari rumah sakit.
Sekhan berhenti ketika sebuah ide melintas dalam benaknya. Ia menjentikkan jari lalu berkata, “Mamanya Ginov.”
Apa gunanya ia bertetangga dengan Ginov kalau tidak bisa minta tolong ke sahabatnya itu? Dan lagi, selama ini Sekhan juga sering membantu Ginov. Mungkin ini saatnya Ginov balas budi dengan meminjamkan mamanya.
Sekhan tersenyum senang sembari mempercepat langkah ke kelas Eriz. Mengingat cewek itu, membuatnya penasaran dengan masalah yang ditimbulkannya sampai dipanggil menghadap Pak Yogas.
“Kayaknya dia bukan cewek tukang tidur,” gumam Sekhan. “Matanya saja penuh lingkaran hitam. Kantung mata yang mengerikan.”
Sekhan masuk ke kelas XI IPS 5, kelas yang diberi julukan sebagai pembuangan. Kebanyakan penghuninya adalah teman Sekhan di SMP. Ia sempat menyapa beberapa orang saat menuju meja Eriz yang berada di belakang. 
“Erizia Sagita?” tanya Sekhan ke seorang cewek yang duduk serong mengisi teka-teki silang bersama teman sebangkunya. Cewek itu mengernyit ke arah Sekhan tanpa suara.
“Erizia Sagita, benar?” ulang Sekhan.
Eriz berdesis lalu mengangkat buku TTSnya. “Kepala lu minta dipukul supaya sembuh dari amnesia?” ancamnya. Mereka satu SMP, Sekhan benar-benar perlu digampar jika lupa pada Eriz.
Sekhan terkekeh. “Pak Yogas minta lu ke kantornya.”
“Oh?!” Yerin, cewek di samping Eriz tampak kaget. Sedangkan yang bersangkutan hanya mendesah lesu.
“Pasti gara-gara gue nggak masuk selama dua minggu,” ucap Eriz. Yerin menepuk pundaknya pelan-pelan.
“Jelasin yang sebenarnya ke Pak Yogas, Riz. Dia pasti bisa ngerti masalah lu.”
Eriz menatap Yerin dengan pandangan sayang. “Lu memang sahabat terbaik gue.”
Sekhan berdehem lalu berkata, “Kalau boleh tahu…”
“Nggak boleh,” potong Eriz lalu menyerahkan TTS ke Yerin. “Jangan diisi kalau lu nggak yakin jawabannya benar.”
Yerin senyam-senyum memeluk TTS tadi kemudian merogoh saku dan memperlihatkan sebatang pensil. “Tenang, gue pakai ini, kok. Sana cepat, nanti Pak Yogas pergi.”
“Bagus dong kalau dia pergi,” balas Eriz tersenyum kecil.
“Udahhhh. Sana buruan.” Yerin mendorong Eriz sampai cewek itu beranjak dari sekitarnya.
Sekhan yang masih di sana, mengalihkan pandangan ke Yerin. “Yerin, sebenarnya kenapa Eriz nggak masuk sekolah selama dua minggu?”
Yerin membuka halaman TTS yang tadi dikerjakan Eriz. “Berani bayar berapa?”
“Maksud lu?”
Yerin mendongak sambil tersenyum lebar. “Enggak. Lupain. Mending lu cabut dari sini deh. Anak IPA nggak cocok di kelas ini, bikin sumpek.”
Sekhan berdesis panjang lalu tiba-tiba menempati kursi Eriz. Meja sedikit goyang karena Sekhan bergerak rusuh. “Kalau begini, makin sumpek, nggak?”
“Sekhannnn!” teriak Yerin. Kata yang dituliskannya keluar dari kotak TTS.
***
Benar kata Yerin, Pak Yogas mungkin sudah pergi andai ia tidak cepat-cepat menemuinya. Sampai di sana, Pak Yogas baru saja memasang tas ranselnya.
“Bapak mau pergi?” tanya Eriz, basa-basi.
Pak Yogas melepas ranselnya dan duduk. “Cuma mencoba tas. Itu hadiah anak saya yang kuliah di luar negeri.”
“Ohhh.” Eriz manggut-manggut. Padahal ia berharap Pak Yogas benar-benar punya rencana pergi, jadi interogasinya bisa batal atau diundur ke hari lain.
“Anak saya yang bungsu memang sangat perhatian. Selalu tahu yang saya butuhkan.” Pak Yogas melirik tasnya dengan senyum merekah.
“Oh.” Lagi-lagi Eriz bereaksi sama. Lagipula ia tidak kenal sama sekali dengan anak Pak Yogas yang kuliah di luar negeri itu. Ia kemudian duduk lalu bertanya, “Sekhan bilang Bapak mau ketemu saya.”
“Ya. Bapak dapat laporan dari wali kelasmu, katanya dua minggu sebelumnya kamu tidak masuk sekolah. Kamu ada masalah dengan teman kelasmu? Atau dengan guru yang mengajar?”
Eriz memaksakan senyum dan menggeleng.
“Ah.” Pak Yogas teringat masa lalu yang berkaitan dengan Yuka Efelin, murid kesayangannya. “Kamu kerja paruh waktu?”
Eriz mengerutkan dahi, menatap Pak Yogas lama tanpa berkedip.
“Bukan karena itu?”
Dengan wajah bingung, Eriz menggeleng.
Pak Yogas menarik napas dan mengaitkan kedua tangannya di atas meja. “Kamu ada masalah apa? Bapak akan bantu… seandainya itu diperlukan.”
Eriz menunduk. “Orang tua saya baru saja bercerai, Pak. Selama dua minggu itu, saya sedang memperbaiki hati dan mental saya. Berusaha menerima kenyataan. Kalau pun saya ke sekolah, materi yang dijelaskan oleh guru tidak akan menetap dalam ingatan saya.”
“Bapak sudah dengar dari anak-anak lain mengenai kondisi keluargamu. Bapak turut prihatin, tapi sekolah itu penting untuk masa dep…”
“Saya juga berpikir mungkin sebaiknya saya berhenti sekolah saja, Pak. Begitu banyak cobaan sampai rasanya tidak ada yang berarti lagi.”
Eriz terpaksa melebih-lebihkan keadaannya demi terbebas dari tugas.
Pak Yogas menegak, terkejut dengan penuturan Eriz. “Jangan! Jangan berpikir sejauh itu. Bapak mengerti penderitaan kamu. Jadi anak broken home memang tidak menyenangkan, tapi jangan sekali-kali berpikir untuk berhenti sekolah. Semua masalah ada solusinya.”
“Semoga begitu, Pak,” ucap Eriz sendu lalu menunduk lebih dalam untuk menyembunyikan senyum.
Pak Yogas menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya pelan. Ia merobek kertas kecil dari bukunya dan menulis sesuatu.
“Ini untuk menebus ketidakhadiranmu. Satu makalah biologi dari bab 1 sampai…”
“Pak, saya dari kelas IPS,” sela Eriz cepat. Bisa gila kalau dia benar-benar disuruh membuat makalah Biologi.
“Oh iya. Bapak sampai lupa.” Pak Yogas mencoret tulisannya dan membuat daftar materi baru.
Begitu melihat tugas yang harus dibuat Eriz jadi makalah, senyumnya meluncur cepat. “Besok, saya akan kumpul tugas ini, Pak.”
“Bapak nyaris lupa lagi. Makalahnya ditulis tangan.”
“Saya kumpul tiga hari lagi, Pak.” Eriz segera meralat sambil cemberut. “Saya pamit ke kelas kalau tidak ada lagi yang ingin Bapak sampaikan.”
“Silakan.”
Eriz keluar dari ruangan Pak Yogas dengan wajah putus asa. Susah payah ia menjelaskan permasalahan dalam keluarganya, tetap saja dapat tugas berat. Di zaman canggih sekarang, dia harus membuat makalah yang ditulis tangan. Berat banget, batinnya.
“Riz.”
Bak magic, panggilan itu membuat Eriz berhenti mendadak. Ia menoleh ke samping. Tampak Ginov berjalan cepat ke arahnya.
“Gue mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong aja,” balas Eriz, berusaha menyembunyikan debaran benci dalam dadanya. Di waktu yang sama, ia penasaran apa rahasia Ginov sehingga bisa bersikap biasa. Ia terlihat seperti makhluk suci yang tidak pernah berbuat salah.
“Emmm. Ini tentang hubungan kita yang dulu. Kalau bisa, gue minta tetap dirahasiakan selamanya,” ucap Ginov.
“Hubungan yang mana, ya?” Eriz bertanya dengan wajah bingung. Ia memutar bola matanya lalu berkata, “Maaf, gue nggak ngerti lu ngomong apa. Kita nggak punya hubungan apapun sejak dulu.”
Ginov menatap Eriz dengan kerutan berlapis-lapis di jidat. Baru sekarang ia mengalami kejadian luar biasa di mana seorang cewek mendadak amnesia setelah diputuskan.
Eriz menatap jalan di depannya sambil mengembuskan napas. “Gue bahkan nggak kenal lu siapa?” gumamnya lalu melangkah.
“Apa?” Ginov mengerjap dengan wajah bingung lalu detik selanjutnya berdesis panjang. Ditatapnya punggung Eriz yang sudah lumayan jauh dengan ekspresi sebal. “Nggak usah sok tegar!” teriaknya. “Gue yakin lu masih berharap balikan sama gue.”
“Mau dengar cerita cinta menyedihkan?”
Ginov melompat ke samping lalu memegang dadanya. Takut jantungnya kenapa-kenapa usai mendengar suara Talia.
“Sejak kapan sih lu berdiri di situ?” tanya Ginov, kesal sekali dengan Temi.
“Nggak penting dibahas,” ucap Talia lalu menatap Ginov dari ujung kaki ke kepala sambil lidahnya berdecak-decak meremehkan.
Menyadari perlakuan cewek itu, sontak saja Ginov menggeram kesal. Habis bertemu mantan yang sombongnya selangit, sekarang ia mesti berurusan dengan cewek super aneh. Ini pasti hari sialnya, Ginov berpendapat.
“Apa sih?” tanya Ginov, keki ditatap terus.
“Mau dengar cerita cinta menyedihkan?” Talia mengulang pertanyaannya.
“Eng…”
“Ada seorang cowok tampan dengan takdir hidup yang bagus. Suatu hari, ia memutuskan pacarnya karena tertarik pada cewek lain…” Talia menatap Ginov lurus-lurus sambil menggantung ceritanya.
Ginov membuang napas lewat mulut. “Lalu?”
“Tamat,” balas Talia dengan ekspresi lugu.
“Bagian menyedihkannya di mana? Itu cerita paling absurb yang pernah gue dengar,” ucap Ginov lalu tertawa masam.
“Cerita ini ada season duanya, loh. Sayang, belum diterbitkan. Kalau mau tahu bagian menyedihkannya, lu harus menunggu dengan sabar.” Talia menjelaskan dengan tenang.
“Daripada dianggap cerita, lebih cocok disebut omong kosong.”
Talia manggut-manggut dengan gaya santai. “Omong kosong yang sangat nyata.”

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

846 606 10
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

551 404 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

499 300 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

355 282 10
Kubikel

Kubikel

By rickqman

995 727 11
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

316 241 4