Tiga hari Eros terbaring di ICU dan tak sekali pun ia membuka matanya. Eriz menghabiskan tiga harinya juga bersama Bu Riza, mamanya di sana.

Dokter mengatakan kalau kecil kemungkinan Eros selamat sebab benturan di kepalanya sangat parah.


Setiap hari, Azka datang membawa makanan untuk Eriz dan mamanya. Ia adalah orang yang paling merasa bersalah karena Eros kecelakaan saat menuju ke rumahnya. Tak ada hentinya ia menyesali diri, andai ia tidak meminta Eros datang, mungkin sahabatnya itu tidak akan seperti sekarang.


Pak Roan, suami Bu Riza hanya sekali datang menjenguk, sekadar melihat wajah Eros selama lima menit lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.


Gue pengen banget lihat keluarga kita berkumpul kayak dulu.


Itu yang dikatakan Eros pada Eriz sehari sebelum kecelakaan.


Meski hanya berlangsung lima menit, keinginan itu sudah terwujud. Sayang, Eros tidak dapat menyaksikannya.


Eriz sempat mengejar Pak Roan ke parkiran, meminta agar beliau tinggal lebih lama, tapi upaya itu sia-sia. Sesosok wanita cantik bertubuh ramping turun dari mobil dan menghampiri mereka. Saat melihat sang ayah tersenyum ke arahnya, Eriz akhirnya menyadari satu kenyataan pahit.


Kesempatan menyelamatkan keluarganya telah tertutup rapat. Eriz kembali ke depan ICU dan disambut isak tangis mamanya.


Rupanya tak lama setelah Pak Roan pergi, Eros dipanggil Yang Maha Kuasa.


Keluarga Eris sudah renggang sejak lama. Kata orang, tinggal menunggu waktunya untuk hancur.


Pak Roan berselingkuh dengan rekan kerjanya. Dua bulan pertama isu itu terdengar, Pak Roan masih menyangkal. Namun, setelah bukti foto dikirimkan seseorang ke rumah dan seluruh keluarga tahu, Pak Roan akhirnya mengaku.
Mengaku dan tidak merasa bersalah.


Jika bukan karena larangan dan permohonan Eros, Bu Riza pasti mengajukan surat cerai saat ia tahu kebusukan suaminya.


Sambil memeluk mamanya yang menangis, Eriz menelan ludah setiap kali air matanya ingin tumpah. Ia tidak akan bersedih. Ia harusnya marah. Marah karena kakaknya meninggalkannya secepat ini.


“Ma…Eriz ingin mama bercerai dengan papa.”
Tidak ada tanggapan selain tangis yang menjadi-jadi dari Bu Riza.


Eriz menarik napas panjang berkali-kali. Kelopak matanya penuh air mata yang ditahan mati-matian.

Di sisa-sisa ketegarannya, Eriz berkata lagi, “Kak Eros sudah pergi. Nggak ada lagi yang bisa nahan-nahan mama untuk cerai. Eriz ikhlas…”


Kalimat Eriz terpotong oleh tangisnya yang tidak bisa lagi dibendung.


***
Eros dimakamkan setelah duhur. Minggu berikutnya, Bu Riza mengurus perceraiannya. Eriz diungsikan ke rumah tantenya sambil menunggu hasil pengadilan. Kondisinya belum stabil. Eriz lebih sering melamun dan menangis diam-diam dalam kamar.


“Eriz, tante boleh masuk?”


Eriz mengusap matanya dengan selimut lalu menjawab, “Masuk aja, Tante.”


Tante Ruwi tersenyum hangat lalu duduk di samping Eriz. Ia mengambil tangan Eriz dan meletakkan sepucuk kertas. “Tante mau minta tolong. Boleh?”


Eriz mengerjap-ngerjap lalu mengangguk. “Boleh.”


“Ini alamat kedai kopi teman Tante. Hari ini adalah peresmiannya, tapi Tante harus ke suatu tempat. Tolong kamu gantikan Tante ke sana. Mau, kan?”


Jujur, Eriz malas keluar rumah sekarang. Ia menghela napas sambil membaca alamat yang tertera di kertas. “Tante, sebenarnya…”


“Tolong Tante yaaaa?” pinta Tante Ruwi lengkap dengan wajah memohon. Sungguh tidak sesuai dengan umurnya yang sudah lebih tiga puluh tahun.


Dengan berat hati, Eriz akhirnya mengangguk.
“Nah.” Tante Ruwi menarik Eriz berdiri dan mendorongnya ke depan lemari. “Ganti bajumu karena acaranya dimulai setengah jam lagi.”


“Sekarang?!” Eriz terbelalak.


“Iya, sekarang. Cepat, ya.” Tante Ruwi lalu keluar dan menutup pintu kamar.


Eriz memandangi wajahnya lalu mendesah. Bahkan ketika melihat dirinya di cermin, ia teringat kakaknya dan dadanya kembali disesaki kesedihan.


“Eriz, jangan lama dandannya!” teriak Tante Ruwi.


“Iya Tante,” jawab Eriz lunglai, lebih mirip bicara pada dirinya sendiri. Mamanya dan tante Ruwi ternyata punya kesamaan. Doyan teriak.


***
Kedai yang didatangi Eriz jauh dari bayangannya. Kedai itu lebih kecil dan sepi. Tempat parkirnya juga kecil. Karena penuh, Eriz terpaksa menunggu pelanggan lain pulang baru bisa memarkir motornya.


Belum apa-apa, Eriz sudah malas berlama-lama di kedai itu.


Di dalam kedai, terlihat pengunjung yang rata-rata masih muda. Di sudut ruangan, siswa berseragam SMA berkumpul sambil cekikikan.


“Selamat datang,” sapa pelayan yang juga berseragam SMA.


Eriz menoleh dan terkejut.


Rifan menunjuk wajah Eriz. “Erza?”


Wajah Eriz seketika kusut. “E, R, I, Z,” ejanya lalu bertanya balik. “Lu Rifan yang di kelas sepuluh dua, kan?”


Rifan manggut-manggut kemudian bertanya penuh semangat. “Dan lu yang di kelas pembuangan?”


Di SMA Karya, kelas unggulan dan kelas pembuangan alias kelas sepuluh tujuh memang bertetangga. Wajar jika siswanya saling kenal dengan baik.


Eriz seketika mendongkol. “Gue akan berterima kasih kalau lu nyebut kelas gue dengan angka saja. Kelas pembuangan adalah sebutan yang bikin gue merasa seperti sampah sekolah.”


“Bukannya memang sampah, ya? Tiap semester hanya bisa mencapai angka tujuh puluh. Dan setiap ulangan harian di kelas, enggak ada yang bisa lolos dari remedi,” jelas Rifan dengan wajah santai.


Eriz mencubit lengannya karena jengkel.


“Aduhhhh,” jerit Rifan lalu mengambil sedikit jarak. “Dan siswanya sering pakai kekerasan,” tambahnya.


“Mana bos lu?” tanya Eriz, semakin kesal. “Gue mau bilang supaya lu dipecat.”


Seketika Rifan tersenyum manis. Kedua tangannya melipat di perut. Ia menunduk sambil berkata pelan, “Selamat datang di Kedai Patah Hati. Mari, saya antar ke kursi anda.”


“Cih.” Kekesalan Eriz langsung hilang melihat gaya aneh Rifan sebagai pelayan kedai. Ia mengekor di belakangnya menuju kursi di sisi kiri yang semuanya bersebelahan dengan jendela.


Kedai itu punya jendela lebih dari tiga puluh. Taman di samping kanan dan lapangan basket di samping kirinya.


Eriz mengintip keluar jendela setelah duduk. Banyak kakak-kakak cakep bermain basket di lapangan.


“Mau pesan apa?” tanya Rifan. Hampir saja Eriz lupa kehadiran cowok itu.


Eriz memperbaiki posisi duduknya agak ke depan. Kedua tangan terjalin di atas meja, lalu ia mendongak. “Hati baru.”


Ia butuh hati baru untuk menggantikan hatinya yang dipatahkan Ginov dan dibuat hancur oleh takdir keluarganya.


Rifan terdiam dengan satu alis terangkat.


Eriz tersenyum lebar sampai matanya menyipit seperti sebuah garis. “Gue baru diputusin, kakak gue baru meninggal dan orang tua gue akan cerai. Lu punya saran menu untuk orang yang kondisinya mengenaskan seperti gue?”


Rifan menatap Eriz dengan wajah santai tanpa berkomentar. Eriz sejujurnya lebih nyaman dengan perlakuan itu. Ia lelah diperlakukan seperti orang paling menyedihkan di dunia ini. Orang di sekelilingnya selalu mengasihaninya dan itu hanya membuat Eriz makin terpuruk.


Orang seperti Rifanlah yang dibutuhkan Eriz, yang melihatnya tanpa rasa kasihan. Eriz lebih nyaman dengan tatapannya.


Namun saat Rifan bersuara, Eriz segera menyesali pemikiran tadi.


“Ngenes banget ya hidup lu.”


“APA?” Eriz mendelik secepat mungkin ke arahnya.


“Mengenaskan,” ulang Rifan entang lalu menarik napas dan mengembuskannya.


“Mulut lu…” Eriz tidak menyelesaikan ucapannya dan malah menggeram sambil mengangkat kepalan tangan.


“Becanda,” ucap Rifan, tapi raut wajahnya tidak demikian. “Kedai ini punya ritual khusus untuk cewek mengenaskan kayak lu. Tuh di pojok sana ada pohon jelek yang dinamakan pohon patah hati.”


Eriz menahan amarahnya setelah disebut sebagai cewek menyedihkan. Pohon patah hati yang dibicarakan Rifan menarik rasa penasarannya. Ia menoleh ke arah sana dan mengernyit.


“Cuma pohon palsu. Terus ritualnya apa?” tanyanya.


“Kita ke sana deh. Gue baru bisa jelasin kalau lu sudah lihat lebih dekat pohon itu.”


Tas selempang Eriz ditaruh ke atas meja untuk menandai jika ada pelanggan yang ke sana. Rifan yang menyarankan itu karena menurutnya lokasi tempat duduk itu yang paling banyak disukai pelanggan.


“Lu sudah lama kerja di sini?” tanya Eriz, mencoba berbasa-basi sedikit.


“Lu sudah lama putus dari pacar lu?” Rifan bertanya balik. Eriz berdesis setengah jengkel sambil mengambil ancang-ancang memukul kepalanya dari belakang.


“Ini dia pohon patah hatinya.” Rifan menoleh ke belakang sementara tangan kanannya mengarah ke pohon yang ia maksud.


Eriz berpindah ke sampingnya lalu mulai memandangi pohon itu dari atas ke bawah berkali-kali. Pohon patah hati itu cuma pohon hiasan yang tingginya 155 cm. delapan senti lebih tinggi dari Eriz. Daunnya terbuat dari kertas tempel dan ranting yang ditempelinya dilapisi kertas minyak. Sesuai ucapan Rifan, pohon itu memang kelihatan jelek.


“Jelek banget.” Rifan kembali mencela dengan raut wajah jijik.

Ia berdecak lalu menjelaskan, “Pohon ini dibuat sebagai wadah menumpahkan kesedihan, kekecewaan atau amarah pada seseorang. Katanya perasaan seseorang langsung lega, bebannya seolah jadi ringan setelah menuliskannya di daun-daun aneh ini.”


Eriz memindahkan matanya ke arah Rifan. Entah kenapa ia tidak bisa percaya ucapannya.


“Itu yang dibilang Bos gue.” Rifan menambahkan sambil mengangkat bahu.


“Buat apa ditulis kalau cuma bikin lega? Gue maunya orang yang nyakitin gue itu dibalas,” ucap Eriz, memandang enteng pohon di depannya.


Rifan menarik napas, mengembuskannya sangat pelan lalu berkata dengan lembut, “Baiklah. Karena lu lumayan cantik, gue kasih bonus. Tulis apa keinginan lu untuk orang yang udah nyakitin elu dan gue sendiri yang akan buat itu terwujud.”


Eriz melirik Rifan. “Memangnya lu siapa? Tuhan?”


“Kalau nggak mau, silakan kembali ke kursi anda. Waktu gue terbuang sia-si…”


Kalimat Rifan terhenti karena Eriz menarik pulpen di saku seragam sekolahnya.


“Pinjam ya,” ucap Eriz lalu menulis di daun paling atas. Ia harus berjinjit untuk mencapainya. Dua menit ia menuliskan keinginannya dengan serius.


Rifan mengintip diam-diam, tapi tidak dapat membaca jelas apa yang ditulis Eriz.


“Selesai.” Eriz menarik diri dan menoleh ke Rifan sambil mengulurkan pulpen. “Makasih.”


Rifan membuka telapak tangannya ke atas ketika menerima pulpennya kembali.

“Santai saja,” ucapnya lalu tersenyum miring.


Eriz mengerjap cepat. Ia curiga ada niat buruk di balik senyum Rifan. Tak ingin kena sial, Eriz berdehem keras lalu berbalik. Sebelum melangkah, Rifan mengatakan sesuatu yang memaksanya untuk berhenti.


“Kalau gue berhasil bikin satu keinginan lu terwujud, lu mau jadi pacar gue?” Rifan berkata dengan nada sendu. Ucapan itu seperti datang dari hatinya yang tulus.


Eriz menghadapnya dengan gerakan pelan. Melihat ekspresi Rifan yang tidak sedang bercanda, Eriz semakin bingung. 


“Lu nggak sedang sakit, kan?” tanya Eriz dengan hati-hati. Takut menyinggung perasaan Rifan. Sebab cowok itu benar-benar mirip orang gila.

Orang normal mustahil mengatakan itu pada seorang cewek yang tidak dikenalnya dengan baik.


Rifan tertawa. “Bercanda,” akunya lalu berjalan mendahului Eriz.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

alsaeida
2018-08-21 20:22:49

Gaya bahasanya aku suka banget. Enak banget dibaca ????
Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

341 260 5
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

427 336 7
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

591 434 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

548 409 6
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

900 641 12