Zaidan bergumam sambil berusaha keras menghentikan pendarahan akibat luka tusuk diperutnya. Memejamkan kedua matanya dan menangis tanpa suara. “Hazel. Maaf karena telah menyakiti perasaanmu. Sekarang aku ingin kamu ada disini.”

“Ya. Aku sudah mencintaimu. Maaf, karena terlambat menyadarinya.”

Zaidan mengangkat kepalanya tepat setelah mendengar suara perempuan yang sangat dirindukannya. Dia mendengar sangat jelas suara Hazel diruangan itu, dibangunan bawah tanah gedung tinggi di Bali.

Hazel menoleh ke arah sumber suara dan terkejut bukan main. Zaidan dari masa depan ada didepannya, begitu juga dengan Zaidan dari masa lalu, yang kini baru saja melepaskan tautan bibirnya diatas bibir Hazel. “Za-Zaidan?”

“A-apa yang––”

Satu suara familiar kembali terdengar. Semua orang menolehkan kepala mereka kompak. Menatap terkejut kearah sumber suara. Suara yang sama persis dengan suara Hazel. Ya. Dia adalah Hazel dari masa depan. Akhirnya mereka berkumpul dan bertemu tatap dalam satu kesempatan.

Zaidan tersenyum bahagia.“Something happened while you were gone.”

Empat karakter utama telah hadir dalam satu frame. Zaidan, Zaidan, Hazel, dan Hazel. Mereka adalah orang yang sama, tapi berasal dari masa yang berbeda. Berada dalam ruangan yang pernah mereka singgahi pada tahun 2004 dulu. Seperti yang Zaidan katakan sebelumnya; jika Hazel tak bisa meminta novel itu kembali menariknya ke masa depan, Zaidan dari masa depan-lah yang bisa melakukan itu semua.

“Hazel, Natasha, sebaiknya kalian menjauhi TKP. Karena tempat ini­­—” Oza tercekat dengan mata terbelalak.

Dari sekian banyaknya kasus kriminal yang ditangani Oza selama ini, kasus inilah yang berhasil membuat Oza bergidig ketakutan. Bagimana tidak, seluruh ruangan ini dipenuhi dengan bercak darah yang berceceran dimana-mana. Tak hanya itu, kedua matanya juga sukses melihat keajaiban dunia dengan melihat dua pasang manusia yang sama persis—Zaidan dan Hazel.

“Zaidan …” Hazel berlutut didepan Zaidan. Melepaskan genggaman pria yang sama dari masa lalu. “Kita harus segera membawamu ke rumah sakit. Ini—”

 “A-apa yang sebenarnya terjadi …” Hazel dari masa depan terbelalak bukan main, terkejut dengan pemandangan didepannya. “Siapa kau? Ke-kenapa wajahmu—”

“Aku adalah dirimu dari masa lalu,” jawab Hazel dengan sisa keberaniannya. “Dan aku datang untuk memperbaiki masa depan.”

Perempuan itu menggeleng tak terima, kemudian berbalik dan berlari keluar. Wajahnya terlihat pucat pasi, dengan keringat yang menetes diantara pelipis hingga leher jenjangnya. “Ini pasti mimpi. Ya, aku sedang bermimpi. Semua … semuanya tak masuk akal. Kenapa aku ada disini? Terakhir kali aku tertidur diruang meeting kantor. Apa yang––”

Awalnya Hazel tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi pada hidupnya, tapi beberapa detik kemudian dia mulai mengerti dengan semuanya. Langkahnya terhenti setelah merasakan sakit cukup hebat dikepalanya. Beberapa memori baru mulai berdatangan dan menempel diotaknya. Hazel baru saja mengingat beberapa memori atau kenangan yang terjadi setelah ia tertidur diruang meeting INDOnews. Termasuk beberapa fakta yang berubah dikehidupannya dimasa lalu, tentang sebuah buku fiksi dan juga time traveller.

“O—wow!” Aroof berseringai dan langsung menarik Hazel. Mengukung tubuh ramping itu dan melipat kedua tangannya ke belakang. Kembali berseringai seraya menodongkan pistol tepat disamping kepala Hazel. “Aku dapat senjata Zaidan.”

“Lepaskan putriku!” bentak Oza lantang.

“Ow, dia putrimu? Cantik juga.”

Dan tak lama kemudian Zaidan datang dengan orang yang setia menuntun tubuhnya. “You can hurt me and kill me. But please, don’t touch her!

Pria tua itu kembali tersenyum, menunjukan barisan gigi putihnya. “Bersujud dan memohonlah.” Perintahnya dengan pergerakan bola matanya, meminta Zaidan berlutut tepat didepannya. “Masih ingat kenangan waktu kecilmu dulu, Zaidan? Aku membunuh binatang peliharaanmu tepat didepan matamu. Kala itu kau menangis dan memohon agar aku menyelamatkan nyawanya, bahkan bibir kecilmu itu meminta untuk menukarnya dengan nyawamu. Sekarang, lakukan!”

Semua orang terkejut saat melihat tubuh Zaidan melemas dan jatuh bertumpu dilantai. Dia menunduk, menyembunyikan air matanya dari semua orang. Ditaruhnya sepasang tangan yang bergetar tepat diatas kedua pahanya. “Apakah membuat kedua putranya saling membunuh adalah tugas seorang ayah?” Zaidan mengangkat kepalanya dan menatap mata Aroof dengan bibir bergetar.

“Tugas seorang ayah adalah membuat putranya kuat. Dan apa yang aku lakukan selama ini pada kalian tak lain untuk mendidik kalian untuk menjadi pria kuat.”

“Tidak.” Zaidan menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Kau salah tentang itu. Kami rapuh, tidak kuat seperti yang kau bayangkan. Kau gagal. Sekali lagi, kau gagal akan satu hal. Kami merindukanmu. Aku dan Abriana merindukanmu sebagai sosok ayah seperti halnya anak-anak lain diluar sana.”

Zaidan tersenyum miris. Menyeka air matanya dan kembali menatap Aroof dengan tatapan intens. “Harus berapa lapis topeng yang aku kenakan? Aku ingin keluar dan melihat dunia, tanpa mengenakan topeng yang terus melekat diwajahku. Aku … aku menginginkan hidupku.”

DORRR! DORRR!

Dua peluru berhasil menembus bahu dan paha Zaidan. Pria itu tumbang dengan tubuh lemas bermandikan darah segar. Dia tidak mati, Aroof tidak menembak diarena vital putranya. Pria tua itu hanya menggeretaknya. Aroof benar-benar psikopat, dia memiliki gangguan kejiwaan yang amat sangat parah. Tak ada yang bisa menyembuhkannya, kecuali dirinya sendiri.

“Kau bukan putraku!” teriak Aroof sebelum kembali menembak putranya. “Aku tak punya putra pembangkang sepertimu.”

“Sedari awal memang begitu. Aku bukan putramu.” Jawab Zaidan dari masa lalu. Membantu membangunkan Zaidan dari masa depan, dan menyerahkannya pada orang-orang dibelakangnya. “Memangnya siapa yang berharap kau menjadi ayahku, ayah kami?”

“Kau … siapa kau?” Aroof ketakutan saat melihat lelaki yang memiliki wajah yang sama persis dengan putranya, Zaidan.

“Aku Zaidan dari masa lalu. Aku bocah kecil yang meninggalkan beberapa luka sayat diwajah dan juga lehermu. Aku yang dulu pernah tertipu karena wajahmu yang terlihat sama dengan wajah ayahku, Adam.”

Kim Samuell menjatuhkan kamera videonya, berlari kearah Zaidan dan memeluk sahabatnya erat. Meminta orang lain dibelakangnya untuk segera membawa Zaidan ke rumah sakit. Walau saat itu pandangan matanya masih berpusat pada perseteruan Aroof dan pria yang memiliki paras sama persis dengan Zaidan, Samuell masih terus membopong tubuh sahabatnya itu keluar dari gedung untuk mencari pertolongan.

Zaidan menggeram. Merebut pistol ditangan Oza dan berjalan cepat kearah Aroof sambil menodongkan pistol ke wajah sang psikopat. “You can kill the monster but me. I’m a monster. You can’t kill me!

Zaidan menembakkan satu pelurunya tepat dikaki kanan Aroof. “You can’t kill me!

DORRR! DORRR!

Semua mata kembali terbelalak setelah melihat Zaidan menembak kaki kiri dan tangan kanan Aoof, membuat pistol dalam genggamannya jatuh begitu saja. Kini Zaidan tersenyum, kemudian menarik Hazel dari kukungan Aroof. Mendorong tubuh kekasihnya sampai ke pelukan Oza Guswara. “Yes, I’m your monster.”

“Zaidan. Cukup!” teriak semua orang.

Aroof tumbang. Duduk berlutut dengan wajah memerah. “K-kau—”

Zaidan ikut berlutut didepan Aroof. Memandangi wajah pria itu dengan penuh kebencian. “Apa? Mau membunuhku? Belum puas dengan nyawa ayahku, ibuku, dan seluruh keluargaku di Kanada, huh?!”

Pria tua itu berhasil menusuk perut Zaidan dengan sisa tenaganya. “Kau harus mati, agar masa depan ini berubah.”

“Tangkap bajingan itu!” Oza berteriak. Meminta anak buahnya untuk segera memborgol dan mengamankan TKP. Tapi lagi-lagi sepertinya langkah mereka kalah cepat dari Zaidan. Sebelum polisi menyeret Aroof, pria itu lebih dulu mencekal bahu sang ayah dan meremasnya kuat.

Hilang sudah kesabaran seorang Zaidan Abriana. Dia berhasil merebut pisau ditangan kiri Aroof. Menusuk dan mendorongnya tepat dibagian perut Aroof.“Give it to me.” Wajahnya berubah memucat dengan geraman yang berasal dari gesekan rahang dan gesekan giginya.

“Oke, ayah. Sekarang. Berikan itu padaku.” Akhirnya Zaidan menuruti permintaan Aroof untuk memanggilnya ayah.

Tapi ada satu hal yang terlihat janggal, tepatnya terlihat menyeramkan dimata Aroof dan semua orang yang melihatnya disana. Zaidan. Pria itu menahan kepala Aroof agar terus memandang wajahnya, sedangkan tangan kanannya masih bekerja dengan pisau didalam perut pria yang baru saja dipanggilnya—ayah.

“Oke. Bernafaslah. Fikirkan baik-baik tentang permintaan terakhirmu—memintaku untuk menjadi monster yang sesungguhnya.” Pria itu menggeram sambil memutar gagang pisau dan merobek isi perut Aroof.

“Arghhh!” Aroof berteriak dan menggeram dengan darah yang mulai mengalir dari perutnya. Menetes dan membanjiri lantai dibawah kakinya. “Kau monster!”

“Kau … kau tahu bagaimana manusia bisa sempurna?” tanya Zaidan ditengah pekerjaannya. “Melalui rasa sakit.” Dia kembali berseringai dan terus memainkan pisau didalam perut Aroof.

“Selama ini kau menganggap dirimu sebagai monster yang sesungguhnya. Dan kau ingin menjadikan aku sebagai replika dirimu. Kau sendiri yang memintaku untuk membunuhmu. Jadi, kenapa sekarang kau terlihat kesakitan? Bukankah ini terlihat menyenangkan, Ayah?”

Aroof terdiam dengan sepasang bibir bergetar.

“Sekarang berikan itu padaku. Buat aku jadi replikamu, membunuhmu, dan membunuh semua orang yang kau cintai, termasuk diriku. Aku akan menyelesaikan semuanya sekarang juga. So, give it to me!

“A-apa yang kau ma-maksud?” tanya Aroof terbata.

“Berikan aku kesakitanmu, karena itu akan menjadikan diriku lebih kuat. Seperti ini.” Zaidan mendorong lebih dalam tusukannya, memutar dan mencabik isi perut Aroof. “Apakah cukup menyakitkan? Sekarang tatap mataku. Berikan rasa sakitmu padaku. Aku akan menikmatinya, karena itu cukup memberiku kekuatan untuk terus melihatmu menderita.”

“Membunuhmu dengan peluru pistol hanya bisa mempermudah kematianmu. Dan itu tak seperti harapanku.” Zaidan terkekeh sambil meremas  rahang Aroof cukup kuat. “Aku ingin melihat kesakitan yang cukup dahsyat, perlahan, dan menyakitkan. Setidaknya itu cukup setimpal dengan kesakitan ayah, Abriana, ibuku, dan juga keluargaku.”

Dengan secepat kilat Oza menarik Zaidan dan menjauhkannya dari Aroof. “Kau tak bisa membunuhnya.”

“Aku bisa!” tekan Zaidan.

Sementara orang-orang disekitar memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa Aroof. Sedangkan kedua pria ini masih berdebat tentang boleh dan tidak bolehnya membunuh seseorang yang bersalah. Zaidan memang pintar, tapi dalam kondisi penuh emosi seperti ini membuatnya lupa diri dan juga hilang kendali.

“Meskipun hasilnya sudah jelas, siapa yang korban dan siapa pelaku kejahatannya, kita tidak boleh begitu. Kau dan aku—kita semua tidak bisa begitu. Bukan karena kita terlahir kuat. Meskipun takut dan gentar, sesakit dan sehancur apapun diri kita, kita harus terus menahan dan menahannya terus. Kita harus terus menahannya terus sampai kita tahu kalau itu tidak boleh, tetap tidak boleh.”

“Tapi dia sudah membunuh orang-orang yang aku sayang.” Zaidan menatap mata Oza sendu.

Oza tersenyum. “Jika benar kau berasal dari masa lalu, maka cepat kembalilah. Masa depan bisa berubah jika kau cepat menangkap Aroof ditahun sekarang kau tinggal sebelum dia banyak berulah dan membunuh ibumu.”

“Apa yang dikatakan ayahku itu benar,” kata Hazel. “Tak perduli siapa Aroof, kau tidak boleh membunuhnya. Jika kau berakhir dipenjara karena membunuh seseorang, maka keadaan akan semakin rumit. Jika kita kembali ke masa 2020 maka kita masih punya kesempatan untuk merubah masa depan, terutama memenjarakan Aroof.”

Zaidan membuang nafasnya kasar. “Baiklah. Tapi aku harus memastikan keadaan diriku dirumah sakit––ahh maksudku dia yang sedang berbaring dirumah sakit sekarang.”

Hazel dan Oza menyetujui permintaan Zaidan. Kedua orang dari masa lalu itu lekas pergi meninggalkan tempat dimana Aroof menyekap Zaidan dan Lidya. Dengan langkah tergesa-gesa mereka berlari keluar gedung untuk menemui diri mereka sendiri dirumah sakit. Membiarkan Oza dan timnya menjaga TKP diruangan bawah tanah gedung utama Queen Louie milik Aroof.

“Hazel, jika dia mati, maka aku tak bisa melakukan perjalanan waktu lebih dari tahun 2022.” Zaidan bergumam sambil menatap pintu ruang operasi rumah sakit.

Hazel tak habis fikir dengan pola fikir Zaidan yang hanya memikirkan perjalanan waktu. “Kenapa kau hanya berfikir tentang perjalanan waktu, Zaidan? Apakah itu menyenangkan bagimu?”

Zaidan diam dan menunduk.

“Tidak bisakah kita jalani saja kehidupan yang ada seperti orang lain? Mari gunakan sisa waktu kita untuk melakukan apa yang membuat kita bahagia tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi dimasa depan. Jalani semuanya tanpa harus pergi kemasa depan hanya untuk mengetahui apa yang seharusnya tidak kita ketahui. Tidak bisakah kita seperti itu? Bukankah kejutan hidup lebih menyenangkan?”

Zaidan memejamkan matanya dan mengangguk. “Baiklah, mari hidup dengan normal seperti orang lain.”

Beberapa saat setelah itu, Hazel dari masa depan mendatangi mereka dan mengajak keduanya memasuki ruang rawat Zaidan setelah operasi berhasil dilakukan. Tak ada orang lain disana, selain dua pasangan manusia yang memiliki wajah yang sama, Zaidan dan Hazel, demi menjaga privasi mereka. Tak mungkin membiarkan orang lain terkejut melihat dua pasang manusia memiliki wajah sama persis. Meski bisa berdalih sebagai saudara kembar, tapi berbohong hanya akan memperumit keadaan. Adapun Zaidan memiliki saudara kembar itu Abriana, perempuan, dan sudah meninggal.

“Ba-bagaimana keadaannya?” tanya Hazel gugup. Darahnya berdesir nyeri melihat tubuh Zaidan yang dipenuhi bekas luka operasi. Dia hampir terlihat seperti mummy, karena sebagian besar tubuhnya terbalut kain kasa.

“Kalian tidak bisa kembali sebelum melihatnya benar-benar bangun?” tanya Hazel pada sepasang manusia dengan tangan saling bertautan. “Kamu takut tahun ini adalah tahun terakhir kamu hidup? Karena itu kamu mengirimku kemasa depan untuk memastikan semuanya?” menatap Zaidan dengan mata berkaca-kaca.

“Bu-bukan seperti itu.”

“Lalu apa?!” bentak Hazel kasar.

Hazel dari masa lalu melepaskan tautannya dan mencoba berbicara pada wanita didepannya. “Kamu sudah mendapatkkan semua memorinya, kan? Masa depan sudah berubah karena kita sudah merubahnya. Kamu ingat perjanjian kita dengan Zaidan untuk bertemu 18 tahun kemudian?”

Wanita itu melirik Zaidan sekias dan mengangguk.

“Kita memang bertemu 18 tahun kemudian, tahun 2022, itulah kenapa buku itu membawaku ke tahun 2022. Tapi perjanjian dikalahkan oleh takdir, karena pada kenyataannya pertemuan kita adalah diperpustakaan Depok. Dengan Zaidan yang hidup pada masa aku hidup, itulah takdir kita. Zaidan yang hidup ditahun 2022 adalah Zaidan milik Hazel yang hidup pada masa itu.”

“Zaidan memang pantas mengkhawatirkan nasibnya setelah tidak bisa menjelajah waktu selama setahun, dia takut tahun ini adalah tahun terakhirnya. Tapi disisi lain dia ingin memperbaiki keadaan, karena Zaidan dari masa depan mengirim pesan kalau kami harus memperbaiki semuanya. Dia menyesal telah mengucapkan perpisahan sebelum waktunya. Dia menyesal telah memintaku untuk merubah masa lalu agar kami tidak bersatu dan saling menyakiti.”

Hazel terdiam mendengar perkataan dirinya sendiri dari masa lalu.

“Ka-kalian bisa kembali,” ucap seseorang memecah keheningan.

“Zaidan? Kamu sudah sadar?” tanya mereka semua saat melihat Zaidan membuka mata.

Zaidan mengangguk dan kembali berbicara. “Kalian sudah mencapai ending kisah. Jika sudah menyelesaikan cerita novel itu, maka masa depan bisa berubah. Kalian bisa menjalani kehidupan baru jika sudah menyelesaikan ending-nya.”

Ending?” tanya Hazel tidak mengerti.

“Dulu aku pernah melakukannya. Tapi kala itu sayangnya ditutup dengan sad ending, aku tidak bisa menyelamatkan ayah dan Abriana dari kematian. Setelah mencapai ending, novel itu kembali kosong seperti semula. Kali ini berbeda, aku memang belum ditakdirkan untuk mati, jadi kalian bisa menentukan ending yang kalian inginkan.”

Zaidan dari masa lalu meraih tangan Hazel dan meremasnya lembut. “Mari selesaikan ending cerita ini. Setelah itu mari hidup seperti yang sudah digariskan.”

“Lalu bagaimana dengan kehidupan disini?” tanya Hazel sedikit ragu.

“Semuanya akan terhapus dan kembali berjalan sesuai takdir yang telah kita lewati dimasa lalu. Kita memang tidak bisa merubah masa lalu demi mendapatkan masa depan yang kita inginkan, tapi kita bisa merubah masa kini untuk mendapatkan masa depan yang lebih cerah. Maka dari itu kalian harus kembali ke tahun 2020, dengan begitu semuanya akan berubah sesuai takdir.”

“Baiklah.”

“Mari berpegangan tangan.” Zaidan menarik tangan ketiga orang diruangan itu. “Pejamkan mata dan kembalikan keadaan seperti semula.”

Mereka saling bergenggaman tangan dengan mata terpejam dan bibir bergumam mengucap permintaan. “Aku ingin kembali ke tempat dimana seharusnya aku hidup.”

 

~~~@~~~

Niagara, 2020

Saat ini Hazel dan Zaidan tengah berada ditempat wisata air terjun Niagara. Niagara sendiri adalah air terjun besar di sungai Niagara yang berada di garis perbatasan internasional antara negara bagian Amerika Serikat New York dengan provinsi Kanada Ontario. Tempat ini menjadi pilihan pertama yang Zaidan pilih sekembalinya mereka dari masa depan, 2022.

“Zaidan.” Hazel bergumam sambil terus menatap keindahan air terjun didepannya.

Zaidan menoleh dan menatap samping wajah Hazel. “Ya?”

“Kamu pasti punya alasan kenapa membawaku kemari?”

Pria itu mengangguk dan tersenyum lembut. “Tempat ini adalah tempat pertama yang terlintas dipikiranku ketika teringat akan dirimu.”

“Kenapa begitu?”

“Ini adalah air terjun terpanjang dan terindah yang pernah aku lihat selama ini. Saat pertama kali kemari aku langsung teringat akan dirimu. Pelangi yang membentang indah itu mengingatkan akan perasaan cinta yang aku miliki untukmu. Penuh warna dan teka-teki. Aku ingin kamu melihat apa yang aku lihat, terutama keindahannya. Aku ingin kemu merasakan apa yang aku rasakan, terutama kebahagiaannya. Aku ingin selalu bersamamu bagaimanapun keadaannya. Setelah membuka berlapis topeng dan mencintai diri sendiri, aku mulai merasakan aroma kehidupan yang sesungguhnya.”

“Hazel.”

“Ya?”

“Aku ingin menunjukan kamu masa depan,” katanya. Sembari membopong Hazel untuk melihat pemandangan disana dengan sebuah teropong besar.

Hazel melihat Zaidan membuka novel The Eternal Love itu kembali. Membuatnya mencebik kecewa, menunjukan ketidaksukaannya akan hal itu. “Time traveller? Again? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak melakukannya lagi?”

Zaidan menggeleng dan kembali memposisikan teropong itu didepan Hazel. Menulis sesuatu dilembar terakhir buku dengan senyum merekah indah. “Aku kemari untuk melakukan ending kisah The Eternal Love. Seperti yang pernah kita diskusikan sebelumnya tentang happy ending atau sad ending. Dan ending yang aku inginkan adalah menunjukan masa depan yang sesungguhnya padamu disini.” Kemudian menunjukan sebuah cincin tepat didepan lensa teropong yang sedang Hazel gunakan. “Will you marry me?

Cincin berwarna perak itu mengkilap dimata Hazel. Fokus teropongnya tepat pada cincin indah itu. Cincin itu berhasil menjadi titik fokus lensa teropong sampai menghasilkan sinar yang luar biasa indahnya. Hazel bahkan melupakan niatnya untuk mengintip lebih detail air terjuan Niagara didepan sana. Dan Zaidan sudah menunjukan ending kisah yang ia inginkan dan berharap Hazel menyetujuinya pula.

Hazel melepaskan teropong itu dari wajahnya dan menghadap Zaidan. “Kau mendapatkan cincin dari buku itu?”

Hazel mengira kalau Zaidan benar-benar mendapatkan cincin dari hasil gambar tangannya pada lembar terakhir novel. Disana juga Zaidan menulis beberapa penggal kalimat sebagai persembahan penutup cerita. Diakhiri dengan sebuah lamaran di Niagara dengan cincin yang ia dapat langsung dari hasil gambar novelnya. Dan diujung halaman terdapat satu kata paling berarti yaitu “END”.

 “Ini hanya simbolis, jika tidak suka, aku akan menggantinya dengan cincin sungguhan. Jawabanmu akan menentukan masa depan kita. Jika kamu––”

Yes,” potong Hazel. “Yes, I will.

Pria itu tersenyum senang saat Hazel menjulurkan tangannya untuk menerima cincin cantik itu. Wanita itu bahkan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia melompat kedalam pelukan Zaidan dengan sebuah cincin yang kini telah melingkar indah dijari manisnya. Dan kebahagiaan itu semakin terlihat meriah ketika telinganya mendengar suara riuh tepuk tangan dan siulan dari berbagai sudut tempat. Para pengunjung memberinya selamat dengan berbagai bahasa sesuai dari mana mereka berasal. Sedangkan Hazel dan Zaidan hanya bisa mengangguk seraya mengucapkan banyak terima kasih pada mereka yang telah menyaksikan, mendoakan, bahkan ikut mengabadikan momen langka itu dengan kamera ponsel dan kamera profesional.

“Menurutmu apakah ini jenis happy ending yang cukup baik?”

“Tentu. Dan tidak hanya ending The Eternal Love, melainkan juga untuk permulaan dari kisah baru kita.”

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

687 509 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

845 534 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

576 450 14
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

456 351 4