“Zaidan, aku belum pernah pergi ke pantai dan pameran foto. Lalu darimana kau mendapatkan foto-foto itu?”

“Dari masa depan,” jawab Zaidan jujur.

“M-maksudmu?”

“Lihat ini!” Zaidan memutar beberapa koleksi video didepan Hazel.

Video-video itu adalah video berisi Zaidan sendiri. Dimulai saat dia masih berstatus mahasiswa. Video itu diambil disebuah perpustakaan kampus di Depok, Zaidan melakukannya setelah ruangan itu terlihat cukup hening dan sepi. Dia benar-benar tampan. Visual Zaidan versi mahasiswa terlihat fresh dan cute dalam video itu. Dibawahnya terdapat keterangan tahun 2011.

 “Hai, ini aku Zaidan. Disini masih tahun 2011 dan umur kita masih 19 tahun.  Apakah dimasa depan sana Hazel masih terlihat seperti Abriana? Aku rasa … perasaan sebagai saudara itu hanya tameng untuk membatasi perasaan kita. Sejatinya perasaan ini semakin tumbuh seiring berjalannya waktu. Selama tiga tahun, sejak kejadian yang menimpa Hazel kala itu, aku masih terus menjadi seorang pecundang. Mengambil foto dirinya diam-diam dan terus menyesal karena telah menyukainya sejak pandangan pertama.”

“Sebelum kamu, aku lebih dulu pergi ke masa depan hanya untuk melihat masa depan kita.” Zaidan berdiri didepan Hazel. Menyerahkan buku besar yang berisi lukisan-lukisan dari tangannya. Cover-nya terlihat mrip seperti buku yang pernah ditunjukan Zaidan dirooftop INDOnews, masa depan, tapi isinya jelas terlihat berbeda.

Hazel tersenyum getir sambil mengusap gambar hasil tangan Zaidan.

Cerita The Eternal Love dimulai dari tangis seorang gadis kecil bernama Hazel Star. Halaman pertama terlukis seorang remaja laki-laki memandangi punggung gadis kecil yang dikelilingi cahaya seperti bintang. Dibawah rinai hujan mereka berpelukan. Jaket, beanie putih, dan rinai hujan menjadi saksi pertemuan pertama Zaidan dan Hazel ditahun 2004.

Halaman demi halaman sukses membuat air mata Hazel jatuh tepat diatas gambar terakhir. Ini bukan akhir yang diinginkannya, bukan juga sebuah ending cerita yang diharapkan semua orang. Gambar terakhir yang Zaidan buat adalah adegan dimana dia menutup mata Hazel dengan beanie putih dibawah rinai hujan di Bandung. Adegan yang sama dengan cerita dihalaman pertama, bedanya kali ini keduanya melakukan salam perpisahan dengan ciuman dan tangis, sambil diam-diam memasangkan kembali kalung milik Abriana dileher Hazel.

 “Ti-tidak!” geram Hazel. Merasa tak terima dengan cerita sad ending yang dibuat Zaidan tentang kisah cinta mereka. Namun, tak lama kemudian Hazel memejamkan matanya sekilas setelah merasa lega dengan tulisan ‘To Be Continue’ pada bagian bawah kanan gambar. Dia benar-benar bahagia saat tahu Zaidan tak mengakhiri kisah mereka begitu saja. Kini Hazel berharap penuh Zaidan akan melukiskan kelanjutan kisah cinta merekan dengan bermodal beberapa lembar putih tersisa dibelakangnya.

“Aku tahu kalau diriku dimasa depan memintamu untuk pergi. Aku juga tahu kalau diriku dimasa depan menitipkan pesan agar aku berhenti mengejarmu. Dua tahun lagi aku akan merasakan yang namanya hidup dalam keterpurukan. Dan disaat itu pula aku mengatakan sebuah penyesalan, kalau kita tak seharusnya bertemu dan jatuh cinta.”

Hazel menundukan kepalanya. “Apakah mencintaiku adalah kesalahan yang akan kau sesali dimasa depan?”

Pria itu tersenyum tipis kemudian menggeleng. “Ini adalah rekaman yang aku ambil dari masa depan, 2022, setelah kepergianmu.”

Dengan nafas tersenggal Hazel memutar video dimasa depan, 2022. Saat itu Zaidan terlihat kacau, keadaannya benar-benar berantakan dan juga menyedihkan. Bahunya bergetar dengan punggungnya yang bersandar dikursi kemudi. Ada begitu banyak bercak darah diwajah, leher, dan kemejanya. Kedua matanya terlihat sembap karena air mata yang tak bisa berhenti mengalir.

Ini aku, Zaidan dari tahun 2022. Sekarang aku sudah berani membuka topeng didepan Hazel. Kami saling mencintai dan sudah berkencan. Kau benar, aku mencintai Hazel tanpa akhir. Tapi aku baru saja membuat kesalahan paling fatal dengan meninggalkan dia, mengatakan bahwa seharusnya kami tidak bertemu dan tidak saling mencinta. Seharusnya aku bahagia dan berterima kasih karena Hazel bersedia berjuang bersamaku. Untuk diriku dimasa lalu; aku minta maaf, karena tidak melakukan apa yang kalian harapkan. Tapi untuk diriku dimasa depan; aku ingin kau melanjutkan kisah ini dengan akhir bahagia seperti yang kita harapkan. She made me complete. If I had to go back to the past and make my choise again. I choose Hazel. Because I love her.”

“Aku menemukan video itu dimobil, di tahun 2022. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku setelah itu.”

Hazel membulatkan matanya. “A-apa?”           

“Saat itu adalah terakhir kalinya aku menjelajah waktu. Aku pergi ke tahun 2022, menemukan rekaman video ini dari ponselku dan kembali ke tahun 2019. Sudah kucoba beberapa kali untuk kembali ke masa depan, tapi tetap tak bisa. Aku penasaran tentang masa depanku, maka dari itu aku mengirimkan novel itu padamu, kemudian mengirimmu ke masa depan. Aku fikir masa depan bisa berubah, sehingga aku tak perlu memintamu untuk pergi meninggalkanku.”

 “Zaidan––”

“Zel. Apakah aku melepasmu karena kematian?” tanya Zaidan memotong kalimat Hazel.

“Apa maksudmu?”

Zaidan mengacak rambutnya kesal. “Aku penasaran dengan apa yang terjadi setelah itu. Apakah karena kematian yang membuatku tak bisa mengunjungi diriku dimasa depan?”

“Jangan berbicara omong kosong dengan wajah serius!” bentak Hazel dengan dada sesak. Tak kuasa membayangkan kematian pria yang dicintainya.

Pria itu memejamkan matanya seraya memijit pelipisnya yang pening. “Aku serius. Apakah mungkin sesuatu terjadi padaku dan kemudian aku mati. Bisa masuk akal jika aku tak bisa pergi ke masa dimana aku sudah tiada didunia ini.”

“Kamu tidak mati. Kita akan baik-baik saja.” Kata-kata Hazel terdengar lebih lembut dari sebelumnya. “Mari mencoba untuk pergi ke masa depan dan melihat apa yang terjadi. Jika masih belum bisa juga––tak ada salahnya menjalani hidup normal seperti orang lain.”

“A.L adalah singkatan dari Adam love Lidya. Aku menggunakan nama kedua orang tuaku sebagai penyemangat hidup. Beberapa tahun terakhir aku tak lagi menemukanmu, karena kesibukanku dan juga study-mu. Aku memang menulis beberapa buku, tapi untuk The Eternal Love bukanlah buku sungguhan.”

Hazel membulatkan matanya. “Apa maksudmu?”

 “Setelah kematian ayahku, aku menemukan buku beserta pena tinta emas itu disebuah tempat di Toronto, Kanada. Aku masih kecil dan belum tahu banyak tentang hal seperti itu. Saat aku mencoba menulis sesuatu disana, tulisan itu menjadi kenyataan. Hingga pada akhirnya aku menulis tentang time traveller dimana tokoh utamanya adalah diriku sendiri.”

“B-bagaimana bisa?”

Zaidan menyunggingkan bibirnya, tersenyum miris akan dirinya sendiri. “Sudah berkali-kali aku mencoba merubah masa depan, berusaha untuk mencegah kematian ayahku dan juga kematian Abriana. Selama beberapa pekan aku bolak-balik masa lalu dan masa depan, hanya untuk memperbaiki takdir dan menyusunnya sesuai keinginanku. Tapi aku salah. Meski ada beberapa masa depan yang bisa berubah, tapi tidak untuk kematian.”

Pria itu melangkahkan kakinya mendekati tubuh mungil Hazel. Berdiri menempatkan dagunya dipuncak kepala sang wanita, memejamkan matanya, kemudian tersenyum. Meraih tangan Hazel dan mengusap buku-buku jarinya lembut. “Aku selalu memikirkanmu sejak hari itu.”

Zaidan menurunkan wajahnya, sedikit membungkuk untuk menatap mata Hazel lebih dalam. “Harus berapa lama lagi aku menunggu jawaban dari bibir manismu. Bahkan setelah aku pergi ke masa depan pun, kamu masih belum menyatakan cinta secara gamblang padaku.” Mendekatkan wajahnya dan memandangi sepasang bibir ceri milik Hazel intens. Memejamkan kedua matanya dan mengembuskan nafasnya disana. “Apakah kamu sudah mencintaiku, Hazel Star?”

~~~@~~~

Masa Depan, 2022

Unknow Place

Aroof berdecak kesal. Melepaskan cekalan tangannya dirambut Lidya kasar sampai membuat benturan hebat pada dinding dibelakangnya. “Walaupun darahnya mengalir dalam daraku, tapi aku tak pernah sekalipun menganggap Mahendra sebagai ayahku. Dia––si tua bangka itu sudah membuang aku dan ibuku.”

“Aku mengerti kesakitanmu.” Lidya berangsur bangkit dengan tetesan darah dipelipis juga tengkuknya. “Tapi tak sepantasnya kau membuat Zaidan jadi sepertimu. Aku tahu selama ini kau diam-diam mendatangi dia dan mengajarkan hal-hal menyeramkan padanya.”

Pria itu bangkit dan menyisir rambutnya kebelakang. “Jangan menasehatiku jika apa yang kau lakukan tak ada bedanya denganku. Dia seperti itu karenamu juga. Aku membunuh Adam, tapi kau memperlakukannya seperti pembunuh. Kau yang membunuh Abriana, tapi kau mengurung dan menyiksanya seperti penjara kematian.”

Aroof berseringai. Bahagia bukan main saat melihat Zaidan tersadar dan membuka matanya. “Zaidan. Semua orang sudah punya takdir masing-masing sejak lahir. Dan kau lahir untuk mengorbankan diri dan menjadi replika diriku. Jika melawannya, kau akan mati.”

Kini giliran sang putra yang berseringai. Melirik sekilas kondisi sang ibu yang menyedihkan dan kembali memusatkan pandangannya kearah Aroof. Menyeret kaki kanannya yang terluka dan memiringkan kepalanya. “Tapi sayangnya akulah pemilik tubuh ini. Hanya aku yang berhak mengendalikan driku sendiri. Kau? Kau bukan siapa-siapa.”

“Kau jangan lupa kalau darahku mengalir dalam dirimu.” Kecam Aroof seraya menodongkan pistol tepat didepan wajah Zaidan. “Kau putraku. Tubuhmu adalah hasil karyaku.”

“Kalau begitu kau bisa ambil ragaku. Langkah pertama adalah menarik pelatuk itu disini ...” Zaidan menunjuk kepalanya, “atau disini,” menunjuk letak jantungnya.

“Kenapa? Kau fikir aku bakal memohon untuk kau selamatkan seperti orang-orang yang kau renggut nyawanya?” Zaidan memutar bola matanya. “Ayah. Ayah. Tolong ampui aku. Jangan bunuh aku.” Zaidan meledek Aroof dengan merubah suaranya. Berpura-pura memohon dan meminta kehidupan pada monster didepannya. “Kau mau aku memohon seperti itu, hah?!”

“Bajingan ini! Kau mau aku membunuhmu dengan cara apa, hah?” Aroof balik berteriak diwajah Zaidan dengan wajah dan leher memerah. “Memangnya apa salahnya membunuh orang tak berguna? Adam hanyalah salah satu manusia yang tak berguna. Dia memang saudaraku. Tapi setelah dia mengambil satu-satunya yang aku miliki, Lidya, dia jadi manusia tak berguna.”

“Brengsek!” kecam Zaidan dengan kedua tangan mengepal kuat.

“Kau jelas mengingat wajah bahagiaku saat mendengar Adam memohon padaku; tolong jangan bunuh aku, jangan sakiti putraku. Oh ya. Sebenarnya saat itu aku cukup terkejut dengan keberanianmu. Melihatmu menangis meraung sambil mencabik wajahku dengan pisau yang aku gunakan untuk membunuh Adam. Kau benar-benar monster kecil ternyata.”

Zaidan berseringai. “Kau salah, aku bukan monster sepertimu. Alasanku berusaha keras melukaimu karena rasa kesal. Apakah kau pernah berkali melihat sebuah kematian yang sama secara berulang-ulang?”

Aroof mengerutkan keningnya bingung.

“Aku melihatmu membunuh ayahku berkali-kali. Aku pergi ke masa lalu, hanya untuk menghindari tragedi pembunuhan itu. Bahkan aku sudah melihat akhir dari sebuah tragedi kali ini. Apakah kau ingin tahu siapa yang akan menang? Kau atau aku?”

“Tentu saja aku!” teriak Aroof. Mendorong bahu Zaidan dan memojokannya didinding. Mengukung tubuh jangkung itu sambil menodongkan pistol ditangan kanannya.

Aroof menarik napas dan membuangnya perlahan. “Mahendra si tua bangka itu selalu menyusahkanku. Bahkan untuk memasuki mansion-nya saja aku tak bisa. Padahal sedari awal aku ingin membawamu dari sana, tentunya setelah membunuhnya.”

“Dia ayahmu!” geram Zaidan dengan bibir bergetar. Zaidan baru saja mengalami pendarahan hebat. Peluru kecil itu berhasil mengoyak isi perutnya. Merobek daging dan sedikit organ didalam sana. “Kau––”

Aroof tersenyum. “Aku juga ayahmu, sayang.” Mengusap puncak kepala Zaidan lembut. Memainkan rambut hitam itu penuh kasih sayang. “Jadi tunjukan rasa baktimu padaku. Ayo panggil aku ayah, a-yah.”

“Kau bukan ayahku. Kau hanya seorang pembunuh!”

Tak ada jeda untuk mengambil nafas. Zaidan langsung melayangkan tinju diwajah Aroof, mengabaikan pendarahan akibat luka tembak diperutnya. Keduanya berkelahi seakan tak ada hari esok. Saling melayangkan pukulan, tendangan, dan juga tusukan pisau yang dilakukan Aroof. “Kalau begitu aku harus menyingkirkan kelemahanmu.” Aroof bergumam kemudian melirik Lidya.

DORRR!

Terdengar suara bising tembakan memenuhi seluruh ruangan. Efek gema berhasil memekakkan seluruh telinga siapapun yang mendengarnya. Aroof melakukannya. Satu peluru berhasil melesat dari pistolnya, sukses merenggut nyawa orang yang sangat dicintainya. “Mo-Mommy!” teriak Zaidan saat melihat tubuh Lidya ambruk dengan luka tembah tepat dikeningnya.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

468 378 6
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

711 537 8
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 833 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

456 351 4
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9