Jakarta, 19 Maret 2020  17:20:03

Bougenville Hospital

Keadaan masih sama, Natasha dan Adipati masih belum mengingat keberadaan Hazel. Dunia sudah menghapus jejak Hazel seolah-olah perempuan itu memang tak pernah ada dikehidupan ini. Semua itu terjadi bertepatan dengan perkataan Hazel untuk tinggal dan menetap dimasa depan, tahun 2022. Dan setahun sudah berlalu, masa lalu sudah beranjak menjadi masa depan, tapi tidak ada satu orangpun yang tahu kalau Hazel pernah hidup diantara mereka.

“Natasha, saya punya permintaan.” Adipati bangkit dari ranjangnya, meminta Natasha untuk mendekat. “Saya ingin pulang. Ingin istirahat dikamar kosong itu sampai seseorang yang kita tunggu itu kembali.”

“T-tapi––” Natasha bergerak gusar.

“Om tak ingin pergi meninggalkannya sepertii ini. Bukankah kamu juga berharap demikian? Kita ingin melihat seseorang itu kembali sebelum saya meninggal. Seseorang yang sangat kita cintai tapi kita lupakan.”

Natasha mengangguk pasrah.

Selama setahun ini, Adipati dan Natasha berusaha keras untuk mengingat dan mendapatkan bukti kalau seseorang telah menghilang. Tapi semuanya percuma, karena semua orang telah melupakan Hazel. Bahkan setelah Natasha mencari informasi dari data sekolah dan universitas mereka, nama dan jejak kehidupan Hazel tak juga ditemukan. Hampir gila rasanya saat merasakan sakitnya kehilangan seseorang yang mereka lupakan. Adapun satu-satunya orang yang mengingat Hazel hanyalah pemuda tampan bernama Zaidan Abriana. Namun hal yang sama terjadi padanya, Zaidan tak bisa menemukan jejak kehidupan Hazel didunianya, yang tersisa hanyalah memori dan ingatan tentang masa lalu mereka saja.

Seperti harapannya, Adipati kembali ke rumahnya dengan bantuan kursi roda yang didorong Natasha. Keduanya terdiam diambang pintu kamar Hazel, memandangi ruangan kosong tak berpenghuni. Kali ini Adipati tak kuasa menahan air matanya. Rasa sesak didadanya tak mampu lagi ia bendung. Dia merasa kehilangan, begitu hampa dan teramat sakit.

“Zel. Om memanggilnya ‘Zel’ kala itu,” tutur Adipati dengan wajah pucat.

“Zel?” Natasha mengherutkan keningnya. “Apakah mungkin namanya Hazel Star?” tanyanya. Teringat kembali akan nama tokoh novel yang ditemukannya dikamar itu.

Natasha kembali berfikir. “Apakah mungkin––”

“Ya!” potong Adipati. Memejamkan matanya untuk berfokus, mencoba mengingat kembali memori yang telah hilang. “Bali. Om dulu pernah tinggal di Bali dan pindah ke Jakarta karena sebuah alasan.”

Perempuan itu bergegas membuka kembali novel yang pernah dibacanya. “Novel-nya sudah berubah. Banyak bab baru bermunculan dan––”

“Apa maksudmu?”

Natasha memelankan suaranya. “Di novel ini diceritakan kalau gadis bernama Hazel Star masuk kedalam dunia lain. Dipertengahan bab terungkap kalau Hazel ternyata melakukan perjalanan ke masa depan. Dia seorang time traveller.”

“Apakah novel itu sudah lengkap?” tanya Adipati penasaran.

Perempuan itu menggeleng. “Ada beberapa lembar kosong tersisa, sepertinya beberapa bab terakhir belum terselesaikan. Tapi tunggu …” nafas Natasha tercekat setelah membaca bab baru yang baru saja muncul dengan sendirinya. “Zaidan meminta Hazel untuk kembali. Dia melepas Hazel ke kehidupan awalnya, masa lalu.”

“Itu berarti …” Natasha dan Adipati berbalik dan memandangi ruangan kosong itu dengan mata berbinar. “Hazel akan kembali.”

Semua telah kembali. Perlahan ruangan itu telah kembali ke semula dengan awalan dinding yang seketika terlihat cerah. Sinar matahari berhasil memasuki ruangan lewat celah gorden yang sedikit terbuka. Beberapa poster, lukisan, dan bingkai foto telah kembali menghias dinding. Kasur dengan sprei, bantal, dan selimut berwarna merah muda. Berbagai jenis boneka dan figur bermunculan diatas lemari. Meja kecil dipenuhi berbagai alat makeup, beserta cermin yang memantulkan pantulan tubuh Natasha dan Adipati.

“I­­––ini kamar putriku, Hazel.” Adipati terisak setelah mengingat kembali apa yang telah ia lupakan selama setahun lamanya.

Sedangkan dilain tempat, disebuah departmen store di Jakarta, seorang wanita menangis meraung ditengah keramian. Beberapa orang yang menyaksikan kejadian itu secara langsung hanya bisa terdiam mematung. Bagaimana tidak, seperti magic, tiba-tiba saja seseorang jatuh berlutu ditengah departmen store tanpa tahu dimana dia berasal sebelumnya.

“Aku tak melihat dia sebelumnya, kenapa tiba-tiba dia ada disana?” bisik seorang pengunjung dengan bibir kelu.

Dan tak lama kemudian kejadian diluar nalar itu seketika viral. Rekaman cctv yang menunjukan kehadiran seorang perempuan yang diketahui bernama Hazel Star seketika tersebar didunia maya. Bagaimana tidak, Hazel muncul dalam sekejap didepan sebuah butik. Dalam video itu juga kondisi Hazel tidak bisa dibilang baik-baik saja. Pakaian ditubuhnya terlihat berantakan, wajah kacau, dan raungan tangis seorang wanita frustasi.

“Pak, bukankah tahun lalu seseorang pernah meminta kita untuk segera menghubunginya jika melihat seorang wanita muncul tiba-tiba didepan butik?” tanya seorang staf pada sang manager.

Beruntung sang manager masig menyimpan kartu nama Zaidan, sehingga detik itu juga dia langsung menelfon Zaidan sesuai janjinya tahun lalu. “Selamat malam, dengan Pak Zaidan Abriana? Oh iya, seperti yang saya janjikan tahun lalu kalau ada seorang wanita yang muncul tiba-tiba didepan butik––apa? Bapak dalam perjalanan kemari? Oh sudah melihat video viral itu Oke. Wanita itu sedang ditangani tim medis karena pingsan.”

Tidak hanya Zaidan, Natasha yang saat itu menonton video viral didepartmen store, langsung melesat ke tempat kejadian untuk menemui sahabatnya tersebut. Adipati tidak turut serta karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan lagi. Dia hanya meminta Natasha untuk membawa Hazel pulang kembali ke rumahnya.

“Hazel, maafkan aku karena sudah mengucapkan kalimat kutukan itu.” Zaidan mengusap wajahnya frustasi. Memukul stir mobil dengan amarah dan ketakutan yang menggebu.

Tak pernah disangka kalau waktu berlalu begitu cepat. Bahkan Zaidan tak percaya kalau Hazel baru kembali setelah satu tahun lamanya. Mungkin ucapan Hazel yang mengatakan akan menetap dimasa depan telah menutup pintu perjalanan waktunya. Menetap dimasa depan artinya sama saja dengan meninggalkan masa lalu. Jika dimasa lalu tak ada kehidupan seorang Hazel, maka dimasa depan hidupnya akan berlalu tanpa arah atau bisa jadi ikut terhapus juga. Karena mau bagaimanapun Hazel harus menghabiskan waktunya dimasa lalu sebelum pergi ke masa depan.

 

~~~@~~~

Jakarta, 20 Maret 2020

Café Rose, Jakarta

Kini Hazel tengah dalam perjalanan menuju sebuah café di pinggiran kota Jakarta. Adipati berniat untuk mempertemukan Hazel dengan kedua orang tua kandungnya, sebagai bentuk permintaan terakhir Adipati pada putrinya. Walau Hazel sebenarnya sudah tahu kalau orang tua kandungnya—Oza dan Iriana sekarang tinggal di Bandung, tapi Hazel belum sempat bertegur sapa atau berbicara secara langsung.

Dan sesampainya di café Rose, Hazel terdiam sambil melihat keadaan café yang begitu sepi, tidak seperti biasanya. Iriana duduk dengan tenang sambil memandangi kedatangan Hazel. Wanita itu bangkit dan mempersilakan Hazel menduduki kursi yang sudah disiapkan sejak tadi, tanpa senyuman atau sepatah kata sekalipun. Keduanya terdiam membisu selama beberapa menit, sampai seorang waiters datang membawa nampan berisi dua mangkuk ice cream cokelat dan vanilla.

“Aku makan,” ujar Hazel. Menarik mangkuk berisi ice cream cokelat.

Diam-diam Iriana tersenyum sambil memandangi Hazel yang tak berhenti memasukkan sendok kecil kedalam mulutnya. Iriana juga terlihat memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan senyum dan tawa yang tak mampu lagi ia tahan. Sedangkan Hazel hanya bisa memajukan bibirnya saat menyadari sang ibu tengah menertawakan gaya makan dirinya yang masih kekanakan. Bagaimana tidak, untuk yang pertama kalinya seorang ibu kandung memperhatikan gaya makan putrinya sendiri. Iriana tak bisa menahan senyumnya saat melihat adanya bekas cokelat disekeliling mulut Hazel, bahkan beberapa dari mereka ada yang jatuh dan menetes pada blouse bagian atasnya.

Pancake pesanan anda, selamat menikmati,” ujar seorang pelayan. Menyajikan sepiring pancake dengan toping yang sangat menarik.

“Untukmu,” kata Iriana. Mendorong piring berisi tumpukkan pancake itu mendekat ke arah Hazel.

Hazel terdiam sambil memandangi wajah sang ibu. Ekspresinya menggambarkan adanya keraguan saat melihat satu senyuman simpul tercipta diwajah Iriana. Entah apa motif dibalik kebaikan Iriana kali ini, yang pasti Hazel sedikit merasa canggung dengan perubahan sikap sang ibu terhadapnya setelah sekian lama.

Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, Hazel memang sudah menanti datangnya hari ini. Seperti yang dikatakan Zaidan minggu lalu, tentang sikap Hazel yang selalu menentang kata hatinya. Dia ingin berbaikan, tapi egonya lebih dulu mendominasi otak untuk menolak segala permintaan maaf Iriana.

 “Aku sudah selesai makan. Bicaralah!” ujar Hazel. Mengambil tissue dan menyeka sisa makanan disekeliling bibirnya. Duduk bersandar dibahu kursi, bersedekap dengan melipat kedua lengannya didepan dada. Siapapun tahu, sikap seperti ini terbilang angkuh, apalagi Hazel melakukannya didepan sang ibu. Namun seperti itulah Hazel, egonya lebih mendominasi dibanding kata hatinya sendiri.

“Tak ada yang ingin ibu bicarakan.” Kata Iriana sambil memainkan ice cream vanilla dengan sedok kecilnya.

Hazel menyunggingkan senyum kecutnya. “Lalu kenapa ibu mengajak aku makan?”

“Tubuhmu kurus, kamu kehilangan banyak berat badan,” jawab Iriana pelan. Masih menatap mangkuk berisi ice cream didepannya, hanya mengaduk-aduknya, tanpa berniat untuk memakannya sedikitpun. Seperti ada beban berat yang menimpa tengkuknya, Iriana terlihat kesulitan  mengangkat wajah untuk menatap Hazel didepannya.

Hazel benar-benar tak percaya dengan keadaan ini, bahkan sekarang dia melihat seorang pria dengan tubuh tinggi besar berjalan kearah mejanya. Dia adalah Oza Guswara, orang yang sempat ia temui dimasa depan. Dan kini pria itu memberanikan diri menduduki kursi kosong disamping Iriana, tepat didepan Hazel. Tak hanya itu, bahkan Oza yang sedari bayi tak pernah dijumpainya itu, membawakan buket bunga yang terlihat sangat cantik. Memang bukan mawar putih, tapi apapun warnanya, Hazel masih belum siap menerima apapun yang diberikan Oza untuknya.

“Dia ayahmu,” tutur Iriana tanpa basa-basi.

 “Apa yang kamu dengar dari mulut orang-orang itu tidak benar, begitu juga dengan pengakuan media yang memberitakan tentang semua ini. Ini murni kesalahan kami, terlalu bodoh karena telah mengambil keputusan sepihak tanpa memikirkan kamu.”

Oza Guswara mengangguk seolah setuju dengan perkataan Iriana sebelumnya. “Kamu hadir bukan karena kesalahan. Jauh sebelum Iriana mengandungmu, ayah sudah menikahinya secara agama.”

“A-ayah?” tanya Hazel tak percaya, “Kau memintaku untuk memanggilmu ayah?”

Oza mengembuskan nafasnya berat. “Kamu boleh memanggilku sesukamu, sampai kamu siap untuk memanggilku ayah.”

“Kala itu ayah menjatuhkan talak pada ibumu tanpa tahu bahwa saat itu kamu sudah ada diantara kami. Pernikahan kami tidak direstui dan ayah terpaksa menerima dijodohkan dengan wanita lain. Maaf ...” Oza menunduk sambil meremas jarinya, “maafkan ayah.”

“Terimaksih atas luka yang kalian berikan padaku selama ini!” kecam Hazel seraya bangkit dari duduknya.

“Kami tahu, bahwa apa yang telah kami lakukan merupakan kesalahan dan dosa besar. Tapi mau bagaimanapun kami tetaplah orang tua kandungmu.” Ujar Oza Guswara dengan nada sedikit merendah dan lembut.

“Jangan sebut dirimu ayah, aku tak pernah memiliki ayah lain selain ayah Adipati. Dengar! Apa yang kalian lakukan padaku selama ini lebih buruk dari perlakuan orang tua tiri. Bahkan ayah angkatku memperlakukan aku dengan sangat baik, seakan-akan aku adalah mutiara yang paling berharga dimuka bumi. Lalu dimana kalian saat Adipati mengambil peran orang tua kandung selama ini?!” bentak Hazel dengan nada tinggi.

Dan tiba-tiba saja Adipati datang dan berjalan mendekat kearah Hazel. “Ikut ayah, ada yang ingin ayah sampaikan padamu.”

Hazel patuh dan langsung bangkit, mengikuti sang ayah yang pergi membawanya kesebuah ruangan. Dia juga melihat sang ayah menggenggam kuat buket bunga sampai beberapa tangkainya patah. Sepertinya Adipati kesal dengan apa yang diutarakan Hazel pada orang tua kandungnya barusan. Adipati tahu benar kepribadian Hazel, perempuan keras kepala itu memang tak pernah terlihat akur dengan ibunya. Dan Adipati juga sudah terlalu sering meminta Hazel untuk menghormati orang tua kandungnya, terlebih bagimanapun sikap mereka terhadapnya.

 “Jangan berbicara kasar pada mereka!”

“T-tapi—”

“Alasan kenapa ibumu menderita saat mengandungmu itu bukan hanya karena Oza Guswara. Kamu hidup dalam kandungan ibumu hanya selama tujuh bulan, ibumu terlalu stress sampai harus mengalami pendarahan beberapa kali. Meski begitu, Iriana masih terus mempertahankan kamu walau dokter meminta ibumu untuk menggugurkan kamu. Media sudah tak lagi berpihak pada ibumu, semua orang sudah telanjur jatuh dengan perangkap yang mereka buat sendiri. Perlu kamu tahu, selama beberapa bulan ibumu mengandung, dia selalu menyiksa dirinya, bukan menyiksamu. Semua itu ia lakukan saat keluarganya mengirimkan ibumu ke rumah sakit jiwa, dia benar-benar diperlakukan seperti orang gila.”

“Malam itu Iriana datang dan meminta ayah untuk merawatmu. Dia meminta agar ayah memperlakukan kamu seperti anak kandung.” Adipati meraih bahu Hazel dan berkata. “Ingat semua nasihat yang sudah ayah berikan padamu. Jadi orang baik itu bukan pilihan, tapi kewajiban.”

Hazel menoleh kearah kiri, mengintip raut wajah Iriana dan Oza yang bergelimang air mata dibalik kaca ruangan yang memisahkan mereka. Ada rasa sesak karena rindu yang tak pernah tersampaikan. Ada perasaan sesal saat melihat orang-orang menangis karenanya, rasa sesal karena telah memelihara ego yang sudah mengalahkan perasaannya. Tidak semua perasaan itu benar adanya dan tidak semua ego itu harus dituruti pencapaiannya.

Adipati tersenyum sambil mengusap lembut belakang kepala Hazel. “Putri ayah yang cantik, bersedia memaafkan mereka?”

Hazel mengangkat wajahnya dan mengangguk.

Good Girl!” puji Adipati. Membelai dan mencubit pelan kedua pipi Hazel gemas.

Hazel dan Adipati berjalan keluar untuk menemui orang-orang yang sudah menunggunya sejak tadi. Dan sesampainya disana Hazel langsung memeluk Iriana dan juga Oza bergantian, berkali-kali meminta maaf sambil terus menangis. Begitu juga dengan Iriana dan Oza, mereka sama-sama menangis bahagia melihat Adipati berhasil mendapatkan hati Hazel. Mereka sudah berhutang banyak pada Adipati selama ini, pria itu sudah membesarkan Hazel dengan sangat baik. Meski Hazel dikenal memiliki kepribadian yang keras, namun Adipati selalu sukses menaklukan hati anak gadisnya.

Hazel menuruti permintaan Zaidan. Merubah masa sekarang bisa menentukan takdir dimasa depan. Jika sebelumnya hubungan Hazel dengan kedua orang tuanya tak pernah akur, kini Hazel memberanikan diri untuk menjadi dewasa dan menerima semua kenyataan. Memaafkan orang-orang terkasih agar masa depan mengerikan itu tidak terjadi padanya.

Lalu apakah dia harus melupakan Zaidan agar masa depannya berubah?

Jika dia bisa merubah masa depan, lalu bagaimana dengan kematian?

“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Adipati tumbang setelah mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.

Semua orang berlari kearah Adipati dan mengerubunginya. Orang-orang menjerit histeris, kecuali satu orang, Hazel. Dia adalah satu-satunya orang yang sudah mempersiapkan mental jika harus kehilangan Adipati. Hazel tidak berlari kearah Adipati bukan berarti dia tidak perduli padanya, justru Hazel membeku karena debaran jantungnya seakan terhenti saat itu juga. Walau sudah memperkirakan segalanya, tapi Hazel masih belum siap jika harus dihadapkan dengan kematian seseorang yang sangat dia sayangi.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

576 450 14
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 756 13
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

276 221 3
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 877 15
Anne

Anne's Tansy

By murphy

845 534 9