“Apakah hari itu merupakan hari terburukmu?” tanya Hazel gugup. Bermaksud menanyakan kejadian yang menimpa mereka 18 tahun lalu.

Pertanyaan Hazel berhasil mengalihkan perhatian Zaidan. Kini pria itu merubah ekspresinya, tak lagi berlaga seperti patung tanpa nyawa yang hanya dipenuhi sejuta karisma. Zaidan berani menatap Hazel dengan tatapan begitu dalam dengan sedikit cahaya dimatanya, Berdiri tepat didepan gedung club, tempat dimana orang lain keluar-masuk untuk bersenang-senang.

“Yang aku tahu kebenaran paling menyedihkan adalah ketika tidak semua orang akan mencapai sesuatu yang dia inginkan. Sebagian dari kita mungkin hanya akan menemukan kehidupan kecil yang membentuk kebahagiaan. Jika hari itu adalah hari terburuk kita, mari buat kesempatan untuk berbahagia dikemudian hari.”

Hazel memandanginya dari samping sambil membantu Zaidan mengenakan kaos hitam polos yang baru saja diambilnya dari jok belakang. Dia bahkan tak bertanya akan kemana mereka pergi setelah ini, karena jalan yang ditempuh Zaidan bukanlah jalur biasa mereka pulang menuju apartmen. Dia hanya bisa pasrah saat Zaidan memarkirkan mobilnya didepan sebuah restoran makanan siap saji. Tak berkomentar setelah pria iku kembali dengan dua buah hotdog dan dua cup cola, dua sajian yang tak disukai Hazel.

“Haha. This is so funny.” Kekeh Zaidan setelah menikmati satu gigitan hot dog.

“Kenapa?” tanya Hazel heran.

Zaidan menoleh dengan senyum tipisnya. “Aku bahkan tak perduli dengan makanan yang kamu benci,” ujarnya dengan diakhiri senyum kecut.

“Aku tidak membencinya, hanya belum terbiasa.” Mencoba mengobati rasa bersalah Zaidan karena telah memesan makanan dan minuman yang tak disukai Hazel.

“Sama halnya dengan aku yang sudah membiasakanmu dengan perlakuan manis. Kamu takkan percaya terhadap orang yang berlaku kasar dengan wujud diriku, bukan seperti yang kamu kenal. Aku sendiri bahkan tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi, aku kehilangan arah.”

Hazel memejamkan matanya sebentar, mencoba menyembunyikan rasa sesak dalam dadanya saat mendengar Zaidan berkata buruk tentang dirinya sendiri. “Kamu hanya membelaku dari orang-orang menjijikan seperti mereka. Perlakuanmu barusan hanyalah sebagian dari bentuk perlindungan laki-laki pada kekasihnya.”

“Tapi dia bisa mati!” bentak Zaidan tak terkontrol, “Aku … aku tak boleh membunuh siapapun, itulah permintaan terakhir Abriana.”

Hazel menggelengkan kepalanya. “Dia tidak mati,” katanya lembut. Membelai kedua pipi Zaidan, mencoba menenangkan kekasihnya. “Apakah sesakit itu?” tanya Hazel, sabil mengusap dada Zaidan yang bergerak naik-turun cepat, dia ketakutan.

Dan Zaidan mengangguk sambil tersenyum miris. “Apalagi melihatmu merasakan kesakitanku.” Memutar tubuhnya menghadap Hazel. “Menurutmu, bagaimana aku bisa sampai disini? Kenapa hidupku menjadi seperti ini? Apakah aku bisa keluar dari tempat ini dan berakhir ditempat yang lebih baik?”

Hazel membisu.

Kini dia mengerti, tidak semua orang bisa bersikap tegar sesuai ekspektasi. Begitu juga dengan Zaidan, sehebat dan sebaik apapun dia, manusia biasa sepertinya tetap tak luput dari kekurangan. Jika Zaidan saja yang memiliki hati dan kesabaran ekstra, bisa merasakan trauma, apa jadinya jika Hazel kembali mendapatkan memori hari itu, dia pasti akan lebih kacau dari Zaidan. Mungkin Zaidan benar, dia hanya tidak ingin melihat Hazel menderita, apalagi harus merasakan sakit dan trauma seperti yang ia alami selama ini.

 “Aku tidak bisa membaca hatimu dan juga tak bisa menjawab semua pertanyaanmu. Tapi percayalah akan satu hal, aku akan tetap jadi orang pertama yang memeluk dan menghapus air matamu. Didunia lain, mungkin aku diciptakan seperti mobil dan kamu jadi garasinya. Karena kemanapun aku pergi, aku akan selalu kembali padamu. Zaidan …” ucap Hazel dengan suara berat, “Kita punya cinta yang orang lain tak punya.”

Zaidan mengangguk dengan senyum tipisnya. Membelai kepala Hazel, membiarkan gadis itu memejamkan matanya untuk memulai perjalanan yang baru. Zaidan tak pernah mengatakan tujuan perjalanan mereka malam ini, termasuk keputusan yang sudah difikirkannya matang-matang untuk masa depannya dengan Hazel. Seperti yang dikatakannya beberapa saat lalu, tentang kesempatan untuk hidup bahagia dikemudian hari, dia akan mewujudkannya.

Hidup tidak ada yang sempurna, semua akan selalu ada perjuangan. Kamu hanya harus memilih, dengan siapa kamu ingin berjuang.” Satu kalimat paling membekas dari sang kakek, Mahendra, yang membuat Zaidan tetap memilih Hazel untuk menutup kisah hidupnya.

Aku memilihmu karena aku mencintaimu, bukan hanya membutuhkanmu,” bisik Zaidan dalam hati. Kembali menggendong Hazel yang tengah tertidur pulas memasuki sebuah rumah sederhana dengan halaman yang sangat cantik.

Seorang pria paruh baya berlari keluar rumah untuk menyambut kedatangan Zaidan dan Hazel. “Dia tidur?” tanya Oza, ayah kandung Hazel

Zaidan mengangguk hormat. Kembali melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Oza memasuki rumah. Berjalan menaiki tangga saat Adipati mempersilakannya untuk membawa Hazel ke kamarnya. Wanita itu benar-benar terlelap, dia bahkan tak terusik ketika tubuhnya sedikit terguncang saat Zaidan menaiki tangga kayu menuju kamar Hazel. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung memang cukup melelahkan, apalagi Hazel sempat mengalami syok saat di club tadi.

“Ada yang ingin saya bicarakan dengan om dan tante.” Kata Zaidan setelah berhasil membaringkan Hazel diatas tempat tidurnya.

Oza dan Iriana mengangguk, mempersilakan Zaidan duduk diruang tamu.

Suasana menjadi tegang. Oza dan Iriana mulai curiga dengan keadaan Zaidan yang tidak bisa dibilang baik-baik saja. Kondisinya terlihat sedikit kacau. Pria jangkung itu duduk menghadap Oza dengan menyatukan kedua tangannya. Kepalanya menunduk, menatap ujung kakinya yang terus bergetar, seperti seseorang yang tengah menyembunyikan rasa cemas yang amat berlebihan. Ini bukan seperti Zaidan yang mereka kenal. Biasanya Zaidan tidak pernah gugup saat berhadapan dengan siapapun.

“Saya kemari untuk mengembalikan Hazel pada kalian. Sebelumnya, terimakasih sudah mempercayakan saya untuk menjaga Hazel. Mungkin besok pagi, setelah Hazel bangun, dia akan sedikit syok karena tidak tahu bahwa saya membawanya pulang ke Bandung. Dan mohon maaf sebelumnya, karena saya, Hazel selalu terluka.”

Oza mengusap wajahnya frustasi. Kalimat yang sejak dulu tak ingin didengarnya kini terlontar dari bibir Zaidan begitu saja. Oza menyukai Zaidan, sejak awal dia sudah sangat setuju saat Zaidan datang menemuinya dan memperkenalkan diri sebagai kekasih Hazel.

“Maksudmu … kalian putus?” tanya Iriana tak percaya.

Zaidan mengangkat wajahnya, memandangi wajah Oza dan Iriana bergantian. Pria itu terlihat berkali-kali mengambil nafas untuk berbicara lebih tenang dan santai seperti biasanya. Namun kedua kakinya masih belum bisa diam dan terus bergetar, seperti seseorang yang terkena serangan panik. “Ya,” jawabnya singkat. Kembali meremas jemarinya sendiri, menunduk dan menatap dinginnya lantai.

“Apakah Hazel setuju dengan keputusan ini?” tanya Oza dengan suara berat.

Zaidan menggeleng. “Hazel tidak tahu jika hubungan kami akan berakhir seperti ini.”

Oza dan Iriana kompak menunduk, saling menggenggam tangan untuk menguatkan diri. Mereka tak pernah menduga Zaidan akan mengambil keputusan seperti ini, apalagi keduanya sudah mempercayakan pria itu atas kebahagiaan putri mereka. Khususnya Iriana yang baru beberapa bulan lalu mencurahkan isi hatiya pada Zaidan, mengatakan bahwa dia ingin melihat Hazel bahagia. Iriana paham, sesakit apa hati Hazel selama ini karena dirinya. Namun seberapa banyak Iriana memita maaf, Hazel tak pernah membuka peluang maaf untuk ibu kandungnya sendiri.

Mereka tahu kejadian-kejadian apa saja yang sudah menimpa Hazel setahun belakangan ini. Meski Zaidan selalu ada disamping Hazel, tapi pria itu tak ingin membahayakan Hazel lebih parah lagi. Apalagi sekarang dia sudah tahu siapa dalang dibalik kekacauan ini, termasuk orang-orang yang berniat untuk membunuh Hazel.

 “Apakah itu kalimat perpisahan yang buruk? Apa ada jenis lain? Jenis perpisahan yang jauh lebih menyedihkan misalnya?” terdengar deretan pertanyaan demi pertanyaan dari bibir wanita yang baru saja menuruni anak tangga dengan wajah berlinang air mata.

“Hazel!” seru mereka kompak. Terkejut dengan kehadiran Hazel yang tiba-tiba.

Since meeting you. I actually began wishing for ... more time. I want more time with you,” kata Hazel sambil melangkahkan kakinya yang bergetar, memeluk Zaidan dari belakang.

Oza dan Iriana kompak berdiri, memilih pergi untuk memberi ruang pribadi pada Hazel dan juga Zaidan.

“Kita perlu berbicara,” kata Zaidan sambil meraih tangan Hazel dan membawanya ke halaman rumah.

“Tak ada yang perlu dibicarakan lagi!” tekan Hazel dengan nada kesal.

Zaidan menggigit bibir bawah seraya meremas rambutnya frustasi. “Semua yang aku cinta telah pergi, mereka mati karena aku cintai. Dan aku tak ingin kamu mengalami hal yang sama dengan orang-orang yang aku cinta sebelumnya. Asal kamu tahu, alasanku memakai berlapis topeng tak lain untuk menutupi diriku yang sebenarnya, agar mereka tak mengenaliku dan tak melakukan hal yang sama padamu. Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin memilih untuk tidak bertemu denganmu.”

Hazel terkejut dan langsung meneteskan air matanya. “Zaidan—”

“Jangan menangisiku. Karena air matamu membebaniku,” pinta Zaidan.

“Be-beban?” tanya Hazel tak percaya.

Zaidan memberanikan diri meraih tangan Hazel dan menggenggamnya lembut. “Jangan bergantung padaku. Kamu harus kuat dan percaya diri. Tidak bisakah kamu begitu sehingga aku tidak terlalu khawatir?”

Hazel terisak. “A-aku—”

“Aku ingin memberimu kesempatan. Apapun takdirmu, maupun masa depanmu, aku ingin memberimu kesempatan untuk bahagia. Aku tak ingin mengacaukan hidupmu, jadi berhentilah mencintaiku.” Zaidan kembali meminta untuk yang kesekian kalinya.

Kedua tangan Hazel bergetar, menghempaskan tangan Zaidan dalam satu hentakkan. “Aku akan hidup seperti yang kuinginkanjadi pergilah kalau kau tidak menyukainya. Begitu maksudmu? Kenapa tidak berkata seperti; mari mencoba saling memahami dan  lewati semua ini bersama-sama. Kenapa tidak seperti itu?”

Zaidan menunduk dan menggelengkan kepalanya pelan. “Sebab aku tidak yakin itu akan berhasil.” Pria itu kembali mengangkat dagunya lalu tersenyum kecut. “Aku fikir ... mencintaimu adalah kesalahan. Jadi, mari ambil jalan masing-masing dan temukan kebahagiaan masing-masing.”

“T-tapi—” gumam Hazel gugup.

“Aku ingin kamu kembali ke kehidupanmu!” pinta Zaidan. Menatap manik mata Hazel, mencoba mengalirkan rasa cinta dari sorot matanya.

“Tidak! hiks.” Kali ini Hazel tak mampu lagi menahan tangisnya. Mencekal kedua tangan Zaidan kuat, menangis meraung seakan tak ada hari esok. “Aku ingin hidup denganmu, menjadi tua bersamamu, menggenggam tangan keriputmu, dan mengatakan aku semakin mencintaimu,” tutur Hazel. Kembali menggenggam tangan Zaidan dan membasahi dengan air matanya. “I wanted to be happy for onceBut—”

“Kelak kita akan bertemu lagi, itu akan menjadi hari terindah,” ujar Zaidan sambil mengambil sesuatu dari saku sweater Hazel. Sebuah beanie hat putih yang sempat ia selipkan disana saat Hazel tertidur.

Be-beanie?” tanya Hazel gugup.

Beanie hat putih milik Zaidan yang sempat ia kenakan dikepala Hazel 18 tahun yang lalu. Benda kecil yang berhasil menjadi saksi jatuhnya kedua hati dalam satu lubang yang sama. Sebuah kain yang sukses menjadi bukti tentang adanya cinta abadi, tak pernah luntur, tak pernah gugur, dan akan selalu tumbuh subur. Dan kali ini mereka mengulangnya lagi. Zaidan baru saja menaruh kedua tangannya diatas kepala Hazel dan mengenakan beanie hat itu diatasnya.

“Aku ingin kamu bahagia lebih lama lagi. Setidaknya dikehidupan sana kamu masih punya kesempatan untuk merubah takdir.” Gumam Zaidan bertepatan dengan turunnya air hujan.

Hal yang sama terjadi kembali. Bedanya kali ini mereka memilih untuk tak berteduh. Zaidan masih menahan kedua tangannya dikepala Hazel, menarik ujung beanie hat itu secara perlahan sampai menutupi kedua mata wanitanya. Mendekatkan wajah dan memiringkan rahangnya. Sepasang mata cokelat hazel-nya terpejam, mengembuskan nafas hangatnya tepat didepan wajah Hazel. Kembali menangis tanpa sepengetahuan Hazel. Dan berbisik untuk yang terakhir kalinya. “You always be My Hazel I'm the only man who has eternal love. And my eternal love ... is you.”

Keduanya menangis bersama dibawah rinai hujan. Hazel spontan melingkarkan kedua tangan disekeliling leher Zaidan, sedangkan Zaidan lebih dulu menahan tengkuk Hazel dengan satu tangannya. Ini memang bukan ciuman pertama, bisa dibilang ini adalah ciuman terindah disepanjang hidup mereka. Tanpa seorang pun tahu apakah ciuman ini akan menjadi kenangan terakhir mereka atau tidak. Namun yang pasti, keduanya saat ini melakukannya sangat bersungguh-sungguh. Tak perduli akan mata lain yang  memandang, tak perduli pada langit yang menangisi mereka, juga tak perduli dengan dinginnya air hujan, dan gelapnya angkasa malam.

Keduanya tak bisa berhenti menangis, tak perduli dengan bibir yang terus bertautan. Mereka tetap melakukannya seakan tak ada hari esok, seolah tengah mengukir kenangan untuk yang terakhir kalinya. Dan ini adalah kenangan terindah yang tak bisa mereka lupakan sampai kapanpun. Sekalipun keduanya harus mengalami amnesia, untuk malam ini, tetap akan membekas. Dan kehangatan ini membawa mereka kembali pada memori yang telah berlalu. Tentang pertemuan diperpustakaan Depok, kejutan manis diroofop INDOnews, Hazel Star, dansa dimansion Bali, dan pertemuan pertama 18 tahun lalu.

Rasa ini ....

Kehangatan ini ....

Air mata ini ....

Dan ciuman ini ... akankah jadi kenangan terakhir mereka?

“Zaidan,” gumam Hazel setelah Zaidan melepaskan tautan bibir mereka.

Hazel tak bisa berhenti menangis apalagi setelah tahu bahwa diam-diam Zaidan kembali memasangkan kalung milik Abriana dilehernya. Sekarang Hazel tahu, Zaidan bukan menganggapnya Abriana, dia hanya ingin Hazel menjadi kebahagiaannya seperti Abriana dulu. Dia tak ingin kehilangan Hazel. Dia ingin Hazel hidup lebih lama lagi. Dia ingin Hazel menemukan kebahagiaannya sendiri, tersenyum, dan tertawa tanpa dirinya.

Dia ingin Hazel menjadi Abriana, wanita kuat yang selalu menguatkannya, selalu menjadi penerang untuk orang lain, dan memiliki cinta yang sangat besar untuk dirinya sendiri. Dia tak ingin Hazel tidup seperti Zaidan, pria yang terus menderita sepanjang hidupnya, pria yang tak pernah diharapkan kehadirannya, dan pria yang tak mencintai dirinya sendiri.

Zaidan berbisik tepat didepan wajah Hazel sambil mengusap bibir Hazel dengan ibu jarinya.”Tolong katakan pada diriku dimasa lalu; Berhentilah menjaga bintang yang sudah bersinar, Hazel Star. Jangan pernah menemuinya apalagi sampai mengencaninya. Sejak awal, mencintai Hazel adalah sebuah kesalahan.”

“T-tapi––”

“Sekarang aku melepasmu. Pergilah dan jangan pernah kembali. Jangan pernah mencintaiku, dengan begitu masa depan kita akan berubah. Dan karena itu pula, hari ini takkan pernah terulang lagi,” tutur Zaidan dengan senyum pilu. Memandangi tubuh Hazel yang perlahan berubah menjadi cahaya terang seperti bintang, menghilang, dan terbang ke angkasa malam.

“Hazel, cerita kita sudah usai. Tugasmu sekarang hanya melupakanku.” 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

277 222 3
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

688 510 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

459 352 4
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9