Jakarta, 2022

NiceDay Club

Hazel dan Samuell baru saja sampai halaman parkir sebuah club malam bernama NiceDay Club. Keduanya berlari melewati pintu masuk setelah melewati berbagai pemeriksaan sebelum berhasil lolos. Sepertinya club ini dibuat khusus untuk orang-orang dari kalangan atas. Terlihat jelas dengan para pengunjung yang keluar-masuk dengan pakaian yang sangat mahal. Beberapa dari mereka berwajah familiar, bisa jadi mereka adalah member atau pelanggan tetap dari kalangan selebritis, atau kalangan atas yang sering muncul di televisi.

 “Tempat seperti ini ada di Jakarta?” tanya Hazel saat melihat isi bangunan yang terlihat begitu elegan.

Samuell berdecak kagum sambil memutar pandanganya kesekeliling club. Didepan mereka terdapat bangunan dengan tiga lantai. Lantai utama dijadikan pusat lantai dansa yang sangat luas, menghadap langsung ke panggung live music dan DJ. Dilantai dua terdapat banyak kursi yang disusun tepat disamping pagar pembatas, dijadikan akses untuk melihat keseruan dilantai utama. Sedangkan dilantai tiga terlihat lebih sepi, hanya ada beberapa orang yang keluar-masuk ruangan VIP.

Samuell menuntun Hazel berjalan menembus lautan manusia dilantai dansa menuju meja bartender paling depan. Dan sesampainya disana, Samuell langsung memesan segelas wine, sedangkan Hazel tidak, karena wanita itu sudah jelas anti dengan segala minuman beralkohol. Jangankan minuman beralkohol, minum soda saja sudah membuat perutnya merasa tidak nyaman.

Bersulang!” teriak beberapa orang dilantai dua. Mengacungkan gelas berisi wine dan menenguknya habis. Semua orang bersorak tepat setelah salah seorang pria muda dari lantai atas, melemparkan puluhan lembar uang berwarna merah ke lantai dansa. Terkekeh sambil memandangi orang-orang yang tengah berebut uang dibawah sana, tak perduli dengan keberadaan dua wanita sexy yang sedari tadi terus bergelantungan dilengannya.

“Zel, gue ke toilet dulu.” Samuell pamit setelah meneguk habis wine ditangan kanannya.

Hazel mengangguk dan kembali memusatkan pandangannya ke lantai dansa. “Dasar konyol.” Cibirnya saat melihat dua orang perempuan saling jambak karena memperebutkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.

Cocktail?” tawar seorang pria dari arah samping.

Hazel menggeleng.

“Yakin menolak?” Kembali menyodorkan cocktail ditangan kanannya.

 “Rey, cewek cupu kayak dia cuman suka minum es teh manis.” Celetuk seseorang tak jauh dari posisi Hazel duduk sekarang.

 “Rey?” tanya Hazel setelah menoleh dan melihat wajah pria yang menawarinya cocktail sebelumnya, “Dimas?” tanyanya lagi setelah melihat sosok pria yang baru saja datang dan memanggilnya dengan sebutan cewek cupu.

Hazel melipat bibirnya kedalam, mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.

Rey dan Dimas adalah teman sekolah dasar Hazel sewaktu tinggal di Bali. Mereka juga bertetangga, Rey dan Dimas juga sengaja menjadikannya bahan bullying dimanapun mereka berada. Masih teringat jelas bagaimana ritual yang biasa Rey dan Dimas lakukan pada jam istirahat. Dimana Hazel digiring melewati koridor kelas dan berakhir di toilet perempuan. Dimas menendang semua bilik toilet dan meminta siswi yang ada disana untuk meninggalkan toilet segera.

Setelah itu, Rey yang dibantu oleh teman perempuannya, Clara, yang langsung mendorong Hazel, kemudian menguncinya didalam bilik toilet. Mereka juga menceborkan air got dan melemparinya dengan tumpukan sampah. Ritual tak berperikemanusiaan itu selalu mereka lakukan dan Hazel adalah budak yang selalu menjadi sasaran empuk mereka semua.

“Tunggu dulu!” tahan Rey. Mengangkat tangannya dan memiringkan wajahnya seraya menatap wajah Hazel lebih dekat. Menarik dagu Hazel dan mengusap rahangnya lembut. “Kayaknya ada yang beda, iya gak sih?”

Dimas mengerutkan keningnya. “Makin cantik, kan?” Dimas memainkan gelas berisi wine ditangannya. “Cuman kurang sexy aja sih, coba buka dua kancing atas blouse-nya, pasti kelihatan sexy.”

“Brengsek!” pekik Hazel marah saat Dimas menyentuh kancing atas blouse-nya.

Hazel menggeram dan langsung menangkis tangan Dimas yang hendak membuka kancing teratas blouse Hazel. Tangan Dimas berhasil ia hempaskan, namun sepertinya usahanya sia-sia, karena kini Rey berhasil menarik pinggang Hazel dan merapatkan tubuh mereka. Diputarnya bahu kecil itu menghadap lantai dansa dan ditempatkan dagu lancipnya diatas bahu sempit Hazel. Melingkarkan kedua lengan kekarnya disekeliling perut Hazel dari arah belakang. Kedua matanya terpejam, hidungnya bergerak mengendus bahu dan leher Hazel sensual. Sepertinya dia mulai tergila-gila dengan aroma tubuh teman lamanya ini.

“Hey, Rey. Jalang baru?” tanya wanita yang baru saja menempati kursi kosong disamping Dimas. Dan wanita bergaun sexy dan terbuka itu bernama Clara, teman sekolah yang suka membully Hazel bersama Rey dan juga Dimas.  “Bentar deh.” Clara mendekat, mengangkat dagu Hazel yang sedari tadi terus menunduk. “Hazel? Oh my god!” dia terbelalak setelah mengetahui identitas perempuan dalam pelukan Rey.

 “Hey baby, wanna play with me?” tanya Rey dengan suara beratnya.

Rey tersenyum sambil memasang seringai gilanya, rasanya dia telah menjilat ludahnya sendiri kali ini. Jika dulu Rey bersumpah tidak akan tertarik dengan Hazel karena penampilannya yang cupu, namun kali ini dia benar-benar terpesona, setelah bertahun-tahun melewati perkembangan fisik dan visual Hazel. Rey bahkan bersikeras memeluk tubuh ramping Hazel, meski perempuan itu terus meronta. Sepertinya, Rey benar-benar jatuh dalam pelukan Hazel dimalam pertama setelah perpisahan selama belasan tahun lamanya.

One night stand?” tawar Rey.

Hazel membulatkan matanya. Refleks menyikut dagu Rey dengan keras, berbarengan dengan tendangan kaki diarena selangkangan pria yang terus mencoba untuk menyentuhnya. Tubuh Rey terhuyung dan berakhir membentur meja bartender, meringis, juga mengaduh kesakitan sambil menutupi arena privasinya. Sedangkan beberapa orang dilantai dansa mulai mengalihkan perhatiannya pada Hazel dan Rey. Beberapa dari mereka kompak bertepuk tangan, dan ada juga yang bersiul sebagai tanda dukungannya pada Hazel.

“Dasar jalang!” teriak Clara seraya menumpahkan segelas wine ditangannya kewajah Hazel.

“Brengsek kalian semua!” teriak Hazel sambil mengepalkan kedua tangannya.

 “Diem! Lo gak pantas dan gak punya hak protes disini.” Geram Clara sambil meraih segelas penuh beer dari meja dan menumpahkannya dikepala Hazel. Sukses membasahi puncak kepala, wajah, dan blouse bagian atasnya.

Byurrr ….

Semua terpampang nyata. Banyak mata memusatkan pandangannya pada bagian dada Hazel. Sialnya saat ini Hazel tengah mengenakan atasan berupa blouse putih yang cukup tipis, sehingga saat  wine dan beer itu tumpah diatas pakaiannya, sesuatu didalam sana akan jelas menerawang. Semua orang terkejut dengan pemandangan yang secara tak sengaja disuguhkan oleh Hazel. Dan kini terlihat jelas kain kecil berwarna merah terang yang kontras dikulit putihnya, sampai bagian perutnya pun ikut terekspos cukup jelas.

Rey bangkit, berseringai sembari memandangi blouse Hazel yang basah kuyup. Jelas pemandangan inilah yang selalu ditunggunya sejak tadi, dimana dia sangat ingin melihat ceruk leher dan tulang selangka milik Hazel dengan jelas. Dan kini pria itu mulai bereaksi, bersiap untuk menerkam Hazel saat itu juga, tak perduli akan fakta berada dimana kakinya berpijak. Tak lama kemudian Rey mendorong tubuh Hazel dan memojokkan tubuh rampingnya ke dinding. Menarik tali pada bagian depan blouse, mencekal, dan menarik kain putih itu saling berlawanan.

Sreeet … Sreeet

 “Tidak!” teriak Hazel saat merasakan sesuatu yang terlihat mengerikan.

Semua kancing blouse itu terlepas dan jatuh berhamburan diatas lantai. Membuat suara dentingan keras dilantai. Hazel diam mematung sambil memandangi tubuhnya sendiri yang terlihat menyedihkan. Tidak hanya kancingnya yang terlepas, beberapa bagian kain juga terlihat koyak. “Bajingan!”

Plakkk!

Brugh!

Tamparan keras tangan Rey berhasil membuat tubuh kecil Hazel terjatuh dan bertumpu diatas lantai. Semua gadis yang ada disana berteriak histeris, termasuk Clara, yang sebenarnya tidak percaya dengan apa yang dilakukan Rey. Semua orang meringis saat melihat darah menetes dari ujung bibir Hazel. Hazel bergerak mundur dan bersandar didinding. Kedua tangannya bergetar, menggenggam erat kedua ujung blouse yang masih menempel ditubuhnya. Karena jujur saja, Hazel terlihat begitu syok dengan perlakuan kasar Rey kali ini.

Samuell refleks menghentikkan langkahnya saat melihat Hazel duduk terpojok dengan keadaan kacau. Namun, tak lama kemudian semua perhatian teralih pada suara langkah kaki yang berlari cepat dari lantai dansa menuju bagian samping kanan meja bartender. Seorang pria bertubuh tinggi tegap berlari sambil melemparkan kaca mata hitam dan juga topi diatas kepalanya. Sosok itu tak lain adalah Zaidan Abriana. Dia langsung pergi ke club setelah Natasha memberitahukan bahwa Samuell dan Hazel pergi ke club NiceDay untuk menemui seorang narasumber.

Bukkk!

Satu tendangan keras yang berasal dari kaki panjang Zaidan sukses mendarat dipunggung Rey dari arah belakang. Membuat tubuh laki-laki brengsek itu terhemas dan membentur tembok dibelakangnya. Zaidan murka. Dia langsung berlari kearah dimana Rey tersungkur. Semua mata terbelalak saat melihat Zaidan mencekal kerah kemeja Rey dan menyeret tubuh kurus itu diatas lantai dengan satu tangan. Tak ada kata ampun dan tak ada waktu untuk beristirahat, Zaidan langsung mendaratkan kepalan tangannya diwajah juga perut Rey tanpa henti.

“Ini balasan atas perlakuan lo terhadap Hazel selama ini, bajingan!” teriak Zaidan, sambil menarik dan merobek kemeja Rey. Bahkan Zaidan juga menempar wajah Rey untuk mengakhiri aksi brutalnya. Melakukan apa yang pria itu lakukan pada Hazel sebelumnya.

Hazel syok.

Ini adalah kali pertama ia melihat Zaidan bertindak kasar dan brutal ditempat umum. Jika sebelumnya Zaidan menutup mata Hazel saat hendak melakukan kekerasan, seperti yang ia lakukan pada sang penguntit sebelumnya, maka kali ini Zaidan hanya bisa bertindak sesuai naluri, tak memikirkan dampak yang akan terjadi nantinya. Ini bukan Zaidan yang semua orang kenal, dia bukanlah sosok Zaidan sang reporter idola. Dia bukan malaikat, sosoknya lebih terlihat seperti monster.

Aku disini sekarang,” bisik Zaidan dalam hati.

Zaidan berjalan kearah Hazel, kemudian berlutut menggunakan kaki kanan sebagai tumpuan. Menaruh satu tangan dipunggung Hazel, sedangkan tangan lainnya ditempatkan disekeliling paha bawahnya, siap menggendong tubuh ramping itu dengan sisa tenaganya. “Ikut aku!” katanya sambil membawa tubuh bergetar Hazel kesuatu tempat, toilet perempuan.

Semua penghuni toilet berteriak saat Zaidan menendang keras daun pintu. Pria itu masuk tanpa aba-aba. Membanting pintu cukup keras, membuat beberapa wanita berlarian keluar ruangan. Beberapa dari mereka ada yang memilih bersembunyi disuatu tempat sambil mengintip kearah Zaidan dan Hazel.  Sisanya masih terdiam mematung, merasa terpukau saat melihat ada pria tampan yang berani menerobos masuk toilet perempuan. Namun, disisi lain ada juga yang merasa heran dengan penampilan Hazel saat ini, mereka mengira bahwa pria itu akan memperkosa Hazel.

“Keluar atau aku keluarkan bola mata kalian dari tempatnya!” bentak Zaidan kasar.

Dan tak lama kemudian semua penghuni toilet berlari keluar dengan sangat tergesa. Bahkan beberapa dari mereka ada yang terjatuh, dan kembali bangkit dengan tubuh gemetar. Zaidan menggeram dan bergegas mengunci pintu. Membawa tubuh sang kekasih kedepan wastafel, kemudian meloloskan blouse ditubuh Hazel dengan sekali hentakan. Sedangkan wanita itu hanya bisa mematung, menyaksikan nasib pakaiannya yang koyak dan dilempar begitu saja kedalam tempat sampah oleh Zaidan.

 “A-apa yang akan kamu lakukan?” tanya Hazel gugup saat melihat Zaidan membuka semua kancing kemeja ditubuhnya sendiri.

Zaidan menatap Hazel dengan tatapan asing, sorot mata yang sama sekali tak dikenali Hazel sebelumnya. “Melakukan apa yang seharusnya aku lakukan,” ujarnya dengan suara berat.

Glup!

Hazel menelan salivanya kuat.

Jujur saja, Hazel sempat berfikir bahwa Zaidan akan memperkosanya saat itu juga. Jika dilihat dari gelagat dan sikap brutalnya, dirasa Zaidan memang tengah kehilangan kontrol. Terlihat seperti seorang pria yang tengah ditutupi oleh nafsu iblis, matanya benar-benar dipenuhi kabut kegelapan. Tapi semua itu tidaklah benar, tebakannya kali ternyata salah besar. Karena setelah berhasil meloloskan kemejanya, Zaidan langsung mengenakan kain itu ditubuh Hazel dan mengancingi seluruh kancingnya hingga tertutup rapih.

Its you?” bisik Hazel dalam hati. Memandangi manik mata Zaidan tanpa berkedip.

Keduanya berdiri mematung menghadap cermin, melihat bayangan tubuh masing-masing dengan tatapan sendu. Jantung Hazel berdebar saat melihat apa yang dilakukan Zaidan saat ini dari pantulan kaca wastafel. Sikap hangat seperti ini yang selalu ditunjukan Zaidan disetiap kesempatan, termasuk merawat sang kekasih yang tengah terluka. Jika Hazel akan meringis saat melihat darah, tapi tidak dengan Zaidan. Pria itu terus memandangi setiap memar dan darah yang menetes dari bibir Hazel.

Lutut Hazel lemas saat melihat kondisi wajahnya dicermin. Penuh luka dan memar.

Zaidan melihatnya dan langsung menutup mata Hazel dengan telapak tangan, kemudian meninju cermin wastafel sepenuh tenaga hingga hancur.

PRANG!!!

“Selama ini aku tidak pernah tertarik dengan kehidupan orang lain. Tapi hari itu … melihatmu menangis membuatku peduli akan dirimu dan dunia.” Zaidan mengusap darah dipelipis Hazel. “Aku marah saat melihat ibumu meninggalkanmu disana seorang diri. Aku memperhatikan bibirmu terus tersenyum walau kau sendiri tahu ibumu tak lagi peduli akan dirimu.”

“Za-Zaidan.” Hazel menangis sambil memandangi air matanya sendiri lewat pantulan cermin.

 “Kamu bisa jalan?” tanya Zaida

Hazel terdiam sambil terus menatap wajah pria didepannya.

Seakan tak ingin mengulang pertanyaannya, Zaidan langsung menggendong tubuh Hazel ala bridal style. Berjalan keluar toilet, melewati kerumunan orang-orang yang memandangi mereka dengan tatapan random. Mungkin saja ada dari mereka yang ketakutan karena emosi Zaidan yang meledak-ledak, atau mungkin juga beberapa dari mereka berfikir bahwa Zaidan  sudah melakukan pelecehan pada Hazel didalam toilet. Dan Zaidan sama sekali tak perduli dengan pemikiran orang-orang terhadapnya. Emosi dan kontrolnya lepas begitu saja saat melihat seseorang menyakiti wanita yang sangat dicintai dan dihormatinya selama ini.

“Woah!” seru semua gadis dengan mulut terbuka, takjub dengan apa yang mereka lihat.

Pemandangan seperti ini biasanya hanya terjadi difilm-film romantis saja. Bagaimana tidak, saat ini Zaidan tengah menggendong Hazel sambil bertelanjang dada. Pria itu baru saja memberikan kemeja hitamnya untuk menutupi tubuh Hazel dari tatapan lapar mata pria disana, sampai-sampai tak perduli dengan tatapan lapar para wanita terhadapnya.

Semua mata wanita terbelalak dengan mulut terbuka lebar, meleleh dengan suguhan otot perut dan otot bisep milik Zaidan. Tidak hanya tampan, kali ini Zaidan terlihat begitu sexy dengan kulit tubuh yang mengkilap karena keringat. Pinggangnya terlihat sangat kekar, ditambah dengan lilitan gesper dicelana jeans hitamnya.

Sama halnya dengan semua gadis didalam club, Hazel pun tak mampu mengalihkan tatapannya dari wajah tampan Zaidan. Degup jantungnya terasa semakin memburu, sampai-sampai tak mampu merasakan degup jantung Zaidan yang menempel dengan dadanya. Begitu mempesona saat wajah dan lehernya mengkilap karena tetesan keringat. Begitu berkarisma saat Zaidan merubah ekspresi wajahnya menjadi lebih dingin dan arogan, menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan keadaan sekitar.

“Kenapa kamu tidak membiarkan orang lain melihat sisi terbaik dalam dirimu?” tanya Hazel dengan bibir sedikit bergetar.

“Karena ketika orang melihat yang baik, mereka akan terus berharap baik. Dan aku tak ingin hidup sesuai harapan siapapun,” jawab Zaidan tanpa melihat wajah Hazel. Masih memandang jauh ke depan, seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri, atau mungkin tengah berbicara dengan sisi lain dalam dirinya.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 881 15
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

688 510 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

577 450 14
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

433 321 6
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

712 537 8