Sepasang bahu sempit Hazel turun. Wajahnya tertunduk dengan rasa sesak didada yang semakin membuncah. Beruntungnya saat ini tak ada orang yang menggunakan lift selain dirinya, dengan begitu Hazel bisa bebas melakukan apapun didalamnya. Dan benar saja, setelah pintu lift tertutup, Hazel langsung menyandarkan punggungnya didinding, menitikkan air mata yang sudah seharian ini ia tahan didepan semua rekan kerjanya.

TING!

Hazel terkejut saat melihat sosok pria dengan tubuh tinggi besar berdiri tepat didepan lift. “Abriana––ahh, Zaidan.” Hazel tersenyum kikuk.

 “Temani aku minum kopi.” Pinta Zaidan tanpa malu atau rasa canggung sedikitpun.

“Tapi—”

Bukan Zaidan namanya jika tidak keras kepala. Dia akan bertindak seperti yang ia inginkan, tak peduli persetujuan dari Hazel atau orang lain. Dan sekarang, tanpa rasa malu atau gugup sekalipun, Zaidan berani menggenggam tangan Hazel. Berjalan cepat ke seberang jalan untuk mampir ke coffe shop favorite mereka. Tak peduli dengan pandangan random orang-orang terhadapnya, tak perduli dengan Hazel yang sedari tadi terus memandangi punggungnya dari arah belakang.

“Aku sedang diet,” celetuk Hazel saat melihat Zaidan memanggil waiters.

“Aku hanya minta kamu temani aku minum kopi, bukan mentraktirmu minum kopi,” ujarnya sedikit ketus.

Hazel memutar bola matanya malas. “Ya, ya. Baiklah.”

Keduanya kembali terdiam. Sejatinya coffe shop itu memang ramai, sama sekali tidak sunyi seperti yang dua orang ini rasakan. Tak ada pembicaraan, tak ada kata basa-basi, atau kalimat candaan yang sering mereka lontarkan setiap harinya. Bahkan, Zaidan sama sekali tak melirik Hazel yang tengah terdiam didepannya, memandangi sang pria yang tengah asik menikmati Latte Macchiato, minuman kesukaan Hazel.

“Tumben. Latte Macchiato.” Menunjuk cangkir kopi dengan ekor matanya.

“Gula darahku turun,” jawab Zaidan. Kembali menatap cangkir putih ditangan kanannya.

Kening Hazel menyerit. “Bukankah baru kemarin kamu bilang gula darahmu tinggi?”

Zaidan tersenyum simpul, meletakkan cangkirnya, dan bersandar dibahu kursi. Menatap wajah Hazel dengan tatapan intens. “Hari ini turun, karena tak ada senyum darimu.”

“Aku bukan Hazel Star kekasihmu. Kamu harus ingat kalau wanita dihadapanmu ini adalah Hazel dari masa lalu. Aku sama sekali tak memiliki kenangan bersamamu tiga tahun belakangan ini.”

“Kalu begitu ayo kita resmikan hubungan kita sekarang. Hari ini kita jadian dan kembali menjadi pasangan kekasih,” tutur Zaidan dengan penuh rasa percaya diri.

 “Kau selalu bertindak semaumu.” Dia mencebik tak habis fikir. “Jika kamu ingin dicintai, kenapa tak membiarkanku pergi? Karena setelah aku pergi dan menghancurkan novel itu, Hazel Star-mu akan kembali dan kalian bisa melanjutkan hidup dengan scenario yang kalian buat sendiri.”

Zaidan mendesah frustasi. “Sudah aku bilang kalau dia adalah kamu, dan kamu adalah dia. Kalian sama, kisah akhirnya akan tetap sama. Aku hanya perlu membuatmu jatuh cinta dan kita akan hidup bahagia bersama.”

“Dunia ini tidak hanya dipenuhi oleh wanita yang ingin menaiki kuda putihmu. Aku bukan Cinderella-mu dan aku tak sudi menerima belas kasih cintamu. Kamu—”

 “Aku cinta kamu,” potong Zaidan, “Seburuk apapun pemikiranmu tentangku, aku tetap mau kamu. Seberapa benci kamu padaku, aku tetap cinta kamu. Itulah faktanya, Hazel.”

 “Lalu bagaimana dengan kalung itu?” tanya Hazel tentang kalung milik Abriana yang diberikan Zaidan padanya saat dipesawat. “Bukankah itulah caramu memanfaatkanku. Kamu hanya ingin menyenangkan hati ibumu dengan membawaku kesana sebagai hadiah untuknya dan memintaku berakting seolah aku ini benar-benar Abriana.”

Zaidan mengembuskan napasnya berat. “Bawa aku dalam jalanmu, perkenalkan aku pada duniamu, bagi separuh lukamu, dan kembalilah bersamaku. Bukankah kalimat itu yang kamu katakan saat dipesawat, Hazel?”

“I-iya, tapi—”

“Aku sudah membawamu dalam duniaku, kamu juga menginginkannya, tapi kenapa kamu bertindak seolah aku memaksa dan menculikmu?”

Hazel terdiam saat Zaidan meraih tangannya dan membawanya keluar dari coffe shop.

Hazel, say you trust me!” pinta Zaidan tegas.

Hazel memejamkan matanya sejenak kemudian menggeleng. “I can’t.” Menggigit bibir bawahnya, mejauhkan diri dari jangkauan Zaidan, berbalik, dan berjalan cepat meninggalkan sang pria yang sangat dikaguminya selama ini.

 “Jangan egois, Hazel!” teriak Zaidan. “Sedari dulu kamu menaruh harapan besar bahwa aku adalah malaikat tanpa nama yang kamu cari selama ini. Dan sekarang aku mengakuinya. Lalu, lihat apa yang kamu lakukan sekarang! Kamu pergi dari duniaku, mengingkari janjimu!”

Hazel menghentikkan langkah kakinya, memejamkan matanya seraya menggigit bibir bawahnya. “I got hurt one time, pretty badly,” katanya dengan suara yang tertahan. “Aku cinta kamu, tapi sakit ini—”

Zaidan melipat bibirnya kedalam, menyisir rambut kebelakang dengan rasa frustrasi.  “Zel—”

“Aku bersyukur ketika takdir mempertemukan kita. Kamu datang membawa sejuta kasih sayang, dimana kasih sayang yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan dari orang lain, aku dapatkan darimu. Kamu selalu ada untukku, menolongku, dan menghiburku. Jika mengingat kembali tentang lukisan itu—aku semakin yakin kalau kisah itu memang menceritakan tentang kita. Sekarang aku sadar, ada begitu banyak hal yang belum kamu ceritakan padaku, tentang topeng-topengmu yang lainnya.”

Zaidan mendesah berat, menundukan kepala seraya meremas jemarinya frustrasi. “Don’t get mad,” ujarnya dengan suara pelan.

 “I am mad!”  geram Hazel, “Kamu menutupi fakta ini setelah sekian lama kita bersama, bahkan sampai dimana aku berani memutuskan untuk memilih Zaidan Abriana daripada malaikat yang baru aku tahu bahwa Zaidan Putra Mahendra adalah namanya.”

Zaidan terdiam, memilih memalingkan wajahnya kearah lain.

“Kamu itu seperti agar-agar. Beku jika didinginkan, cair ketika dipanaskan.” Kata Hazel setelah berhasil mendudukan bokongnya dibangku taman. “Zaidan, haruskah aku memanasimu dengan kesakitan, agar kamu cair dan melunak terhadap dirimu sendiri?”

Hazel mendesah frustrasi. “Do you love me?”

Pria itu mengangguk pelan. “Yes, I love you so bad.”

Hazel menggeser duduknya, melihat wajah Zaidan yang terus menunduk. Entah perasaan apa lagi yang muncul dihati Hazel sekarang, intinya, sesuatu didalam sana terasa sakit saat melihat Zaidan dengan ekspresi seperti ini. Hingga tak lama kemudian, Hazel memilih turun dari bangku itu, berlutut diatas tanah, dan menggenggam tangan Zaidan. “Lihat aku!”

Zaidan menunduk. “I  think … I live in a wrong world.” Zaidan menggigit bibir bawahnya kuat. “Terkadang aku berpikir tentang suatu alasan yang Tuhan miliki saat menghadirkan aku dalam dunia ini. Karena dulu aku sangat sering menyalahkan takdir atas kekacauan yang terjadi dalam kehidupanku.”

“Aku memang sempat melihatmu sebagai Abriana, karena saat itu aku sangat ingin melindungimu dan menghapus air matamu. Tapi ada satu rasa lagi yang kamu tidak tahu, Hazel. Aku juga melihat sosok diriku dalam dirimu. Rasa sakit saat melihatmu sakit, lelah saat melihatmu lelah, dan hancur saat melihatmu hancur. Tapi saat melihatmu menangis … aku tak bisa menangis.”

“Kenapa?” tanya Hazel.

“Abriana memintaku untuk tidak menangis saat tak ada dirinya,” jawabnya pilu. “Aku harus jadi pria kuat. Dan tugasku adalah menghapus air mata orang-orang tersayang, bukan membuat mereka menghapus air mataku. Aku tak ingin terlihat lemah, aku ingin menjadi tameng untuk melindungimu.”

 “Apakah sesakit itu?” tanya Hazel lembut.

Zaidan mengangguk. “Jika kamu berpikir aku tersiksa dengan rasa bersalah, kamu benar. Sungguh, aku menyesal telah melibatkan kamu dalam luka itu. Selama ini aku terus mencarimu, bukan hanya untuk memastikan keadaanmu baik-baik saja, tapi aku juga ingin memastikan apakah perasaanku terhadapmu masih sama seperti dulu atau tidak. Kamu memang mengingatkanku pada Abriana, tapi bukan berarti perasaan yang aku miliki hanya sebatas perasaan anak laki-laki pada saudara perempuannya. Mustahil itu terjadi, Hazel.”

“Tidak ada satupun takdir yang sempurna. Tangis bukanlah kelemahan, tapi titik penyembuhan dari luka yang akan mengering,” ujar Hazel.

Zaidan menunduk sambil meremas jemarinya sendiri.

“Kita harus punya alasan untuk mencintai diri sendiri,” kata Hazel. “Cintai dirimu sendiri sebelum kamu mencintai orang lain. Luapkan semua beban didadamu. Usir semua racun dihatimu. Lepaskan semuanya, jangan biarkan inang dalam jiwamu semakin tumbuh dan mengambil alih hidupmu.”

Zaidan menatap mata Hazel begitu dalam. Mencoba terus tersenyum walau air mukanya sudah berubah. Dia masih terbungkam walau nyatanya bibir itu tengah berusaha keras menahan getaran. Matanya masih terus bertahan dengan sinarnya, meskipun faktanya ada sesuatu yang membendung disana. Hidung, telinga, dan matanya perlahan memerah. Dadanya bergerak naik turun, dia tengah menahan sesuatu yang sebentar lagi akan meluap dan meledak.

“Hazel,” gumam Zaidan seraya melipat bibirnya kedalam, “Apakah kamu melihatku?” tanyanya dengan suara berat, seperti suara seseorang yang tengah menahan tangis.

Hazel mengangguk.  “Kenapa?”

“Karena ibuku tak melihatku.” jawabnya berterus terang.

Zaidan membuka mulutnya. Setetes air mata berhasil jatuh, mengalir sampai dagu, dan mendarat tepat dipunggung tangan Hazel yang saat itu tengah menggenggam kuat tangan Zaidan. “Kenapa aku dibenci? Kenapa orang yang sangat aku cintai justru balik membenciku?”

Satu ….

Dua ….

Tiga ....

Tetes demi tetes air mata meluruh begitu saja, membasahi wajah tampan seorang Zaidan Abriana. Pria itu seperti tak merasakannya, dia tak sadar bahwa saat ini air matanya telah jatuh beriringan dengan jatuhnya air mata Hazel. Zaidan tak mampu lagi menyembunyikan tangis yang sempat ia janjikan dulu, janji untuk tidak menangis saat tak ada Abriana disisinya.

“Aku tidak membunuh ayahku. Kenapa ibuku hanya peduli akan kesedihannya? Kenapa dia tak memikirkan kesedihanku?” lanjut Zaidan lagi. Membiarkan air matanya jatuh sebanyak mungkin. Membuang beban berat dalam hidupnya dalam satu tangisan, didepan satu-satunya orang yang dia percaya untuk melihat air matanya secara langsung.

“Aku juga anaknya, putra kesayangannya,” tutup Zaidan sebelum disambut pelukan hangat Hazel. Kini dia tak lagi menangis sendirian, Hazel ikut menangis bersamanya, dalam pelukannya.

“Jangan pergi!” pinta Zaidan. Menenggelamkan wajahnya disela ceruk leher sang kekasih. Memeluk tubuh wanitanya erat, membelai rambut panjang itu sangat lembut.

Dia terlihat ketakutan, takut seseorang yang dicintainya akan pergi dan membencinya lagi. Zaidan adalah salah satu pria kesepian, sedari dulu dia selalu kesepian. Dia benar-benar takut sang kekasih akan pergi meninggalkannya, seperti halnya sang ayah dan Abriana. Dia juga takut Hazel ikut membencinya, seperti yang dilakukan sang ibu padanya. “Aku tak membunuh siapapun. Aku tak melukai apalagi membunuh Ayahku sendiri!” ujar Zaidan. Berusaha meyakinkan Hazel bahwa pengakuannya adalah kebenaran yang nyata.

Hazel tersenyum, membalas pelukan kekasihnya erat. Menepuk punggung kekar itu pelan, mengusap, dan membelai, guna menyalurkan kasih sayangnya. “Aku percaya priaku,” katanya dengan suara lebut, “Kamu tidak membunuh siapapun.”

Mengetahui fakta bahwa Zaidan pernah menganggapnya Abriana adalah luka baru untuknya. Namun, baru saja Zaidan mengakui kalau dia bukan melihatnya sebagai Abriana, melainkan ketakukan akan kehilangan Hazel seperti dirinya kehilangan Abriana dulu. Mungkin itulah salah satu alasan Zaidan teramat protektif terhadapnya, bahkan Zaidan tak pernah sekalipun perhitungan terhadap sesuatu. Zaidan bilang bahwa raganya, raga Hazel juga. Hartanya adalah harta Hazel juga. Dan satu yang paling penting, kebahagiaan Hazel adalah kebahagiaannya juga.

Namun prinsip Zaidan membuat Hazel terlihat begitu lemah. Dia tak ingin terlalu bergantung pada siapapun termasuk kekasihnya. Apalagi Zaidan hanya ingin berbagi kebahagiaannya dan menelan sendiri penyakitnya. Pria itu hampir tidak pernah berbagi duka dan kesedihan padanya, sekalipun Hazel meminta Zaidan untuk mencurahkan isi hatinya. Disaat merasa lelah, sakit, dan kecewa, Zaidan tetap akan tersenyum dan memberi pelukan hangat pada kekasihnya.

Dan dibalik semua itu, sebenarnya Hazel tahu bahwa Zaidan hanya berpura-pura mencari alibi. Saat tiba-tiba Zaidan meminta perempuan itu untuk menidurkannya sampai terlelap, disitulah batas lelah seorang Zaidan Abriana. Saat tiba-tiba Zaidan menggunakan waktunya untuk berendam didalam bathup atau kolam renang, itulah caranya melepaskan stress, mencoba merasakan apa yang pernah dialami sang kakak dulu. Dan disaat tiba-tiba Zaidan memeluk kekasihnya dengan alibi rindu, disitulah batas kesedihan seorang pria tanpa emosi.

“Aku bersedia jika kamu ingin menghukumku. Tapi tolong, jangan pergi dari sisiku, apalagi harus membenciku seperti yang orang lain lakukan.”

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

687 509 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

276 221 3
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 833 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

846 535 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

432 320 6
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9