Hazel dan Zaidan kompak membuka kedua mata mereka bersamaan. Air mata jatuh bercucuran diwajah Hazel tanpa dia sadari. Telapak tangan yang sedari tadi terus mencengkeram tangan Zaidan itu bergetar hebat, sampai kuku-kuku jemarinya menancap dan meremas kulit putih Zaidan. Jika saja saat ini dia tidak sedang duduk diatas jok mobil, sudah pasti Hazel ambruk karena rasa takut, lelah, dan sakit yang amat dalam.

Zaidan seolah menghipnotisnya. Membawa Hazel kesebuah gerbang pembatas antara realita dan ilusi. Apa yang dilihat dan dirasakannya tadi terasa benar-benar nyata. Hazel melihat dirinya sendiri dimasa lalu, tepatnya Hazel kecil yang diculik selama seminggu bersama remaja laki-laki bernama Zaidan Putra Mahendra. Apa yang dikatakan Zaidan didunia fiksi memang bukan rekayasa atau omong kosong belaka. Selama ini dia telah kehilangan memori karena kecelakaan yang menimpanya ditahun 2004.

Hazel mengingat semuanya. Apa yang ditunjukan Zaidan barusan merupakan kejadian nyata yang pernah dialaminya dulu. Dan semua itu terdengar masuk akal. Adipati mengadopsi Hazel setelah membayar biaya rumah sakitnya di Bali pada tahun 2004. Saat itu, tak ada seorang pun yang tahu kalau Hazel merupakan korban tabrak lari. Dan tak ada satu orang pun yang tahu fakta bahwa dialah salah satu korban penculikan yang sempat gempar di Bali pada tahun 2004 dulu.

Perempuan itu membalikkan telapak tangan Zaidan dan mengusap permukaannya. Menyamakan dengan telapak tangan kanannya sendiri yang memiliki bekas luka yang sama ditangan kanan. “Apakah takdir sudah mengalahkan perjanjian kita?”

Pria itu mengangguk. “Ya, tapi salah satu dari kita telah melanggar perjanjian.”

“Siapa?” tanya Hazel penasaran. “Bukankah takdir telah mengalahkannya? Kita baru saja bertemu. Dan ini tahun 2019. Masih ada sisa tiga tahun mencapai angka 18 sesuai perjanjian.”

“Kau akan tahu nanti. Sekarang lihat ini!” Zaidan menunjukan tulisan dibab baru novel.

Setelah melihat beberapa lembar novel kosong itu sudah terisi bab baru, Zaidan langsung menutup dan menyimpannya. Hazel bahkan melihat huruf demi huruf itu bermunculan dengan sendirinya. Dimana isinya menceritakan tentang kejadian yang menimpa mereka ditahun 2004. Jika orang lain yang melihatnya, sudah pasti mereka akan melempar novel itu jauh-jauh karena terkejut dan ketakutan.

 

~~~@~~~
 

Walau Zaidan versi 2019 ini masih terbilang kaku dan dingin, tapi Hazel masih bisa merasakan perhatian juga kasih sayang dari seorang Zaidan. Terbukti saat mereka berjalan memasuki mall, Zaidan tanpa ragu menautkan jemarinya disela jemari Hazel. Dan yang lebih menjadi pusat perhatian adalah sikap protektif Zaidan yang siaga menjaga Hazel saat berada ditangga jalan atau eskalator.

Orang-orang terpukau saat tubuh tinggi Zaidan berdiri didepan tubuh Hazel yang lebih pendek darinya. Tangan kanan dia gunakan untuk menggenggam tangan Hazel, sedangkan tangan kiri ia lingkarkan disekeliling tubuh sang wanita untuk melindunginya dari orang-orang asing. Tapi, ada satu hal yang membuatnya berbeda dari Zaidan didunia fiksi, Zaidan yang kini bersama Hazel sangat jarang memandang wajahnya secara langsung. Berbeda dengan Zaidan dunia fiksi yang tak bosan memandangi wajah Hazel dan tersenyum dengan penuh bangga.

“Jangan memandangiku terus!” gerutu Zaidan dengan pandangan mata kearah lain. “Aku malu.”

Sedangkan Hazel sedari tadi merasa geli akan tingkah Zaidan yang over protective dengan terus menerus menggenggam tangan dan melindungi tubuhnya, tapi tak pernah sekalipun berani untuk memandang wajahnya. “Kau malu karena aku pandangi, tapi tidak malu saat semua mata memandangimu?”

Zaidan tersadar dan langsung mengitari keadaan sekeliling dengan mata indahnya. “Aku tak perduli dengan mereka.”

Hari itu mereka habiskan dengan bermain dan berbelanja. Zaidan tak segan meminjamkan credit card pada Hazel. Walau pada awalnya Hazel terus menolak, namun akhirnya dia terpaksa menerima karena saat itu dia lupa membawa dompet. Mereka juga banyak berbincang layaknya teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama. Mulai dari perbedaan sistem kerja di Golden Time tempat Hazel bekerja dengan INDOnews tempat Zaidan bernaung, juga perbedaan keadaan tahun 2019 dengan tahun 2022 atau dunia fiksi.

Hazel tersenyum sambil memandangi paper bag berisi satu set pakaian dalam wanita bermerek Victoria Secret. Namun senyum itu tak bertahan lama, beberapa detik kemudian tubuhnya menegang dan menjatuhkan paper bag itu ke lantai. Otaknya kembali berputar pada kejadian-kejaidan yang pernah ia alami didunia fiksi, termasuk tragedi pakaian dalam yang dijadikan lelucon oleh Zaidan. “A-apakah ini hanya kebetulan?”

Perempuan itu berlari ketempat diimana Zaidan berada dan merebut novel fiksi itu dari tangannya. “Be-berikan novel itu padaku!”

“Hei, ada apa dengan wajahmu?” tanya Zaidan bingung saat melihat wajah pucat Hazel.

“Ada yang salah antara diriku atau novel ini,” jawab Hazel sambil sibuk mencari sebuah halaman tentang kejadian yang ia alami di mansion Wijaya atau orang tua angkat Zaidan. “Aku pernah memakai pakaian dalam ini didunia fiksi. Dia bilang kalau aku membeli barang itu dengan credit card miliknya di departmen store.”

“Hazel, kau masih belum mengerti juga?” tanya Zaidan heran. “Kau benar-benar belum mengerti dengan semua yang telah terjadi pada hidupmu?”

“Dia––” tenggorokan Hazel tercekat saat melihat halaman kosong novel itu kembali terisi dengan tulisan tinta emas. “Di-dia masih menungguku disana?”

Bab baru mulai tertulis dengan sendirinya hingga beberapa paragraf. Dan beberapa kalimat yang Hazel baca menunjukan kalau posisi Zaidan kini masih berada diatas tebing pantai di Bali. Dia masih belum pergi. Zaidan baru saja menyesali tindakan dan mencabut kata-katanya. Kini dia memandang langit malam sambil mohon dan meminta agar mendapatkan Hazel kembali dalam pelukannya. Dia merindukan Hazel dan tak bisa hidup tanpa Hazel meskti hanya beberapa saat saja. Bibir pucat itu meminta dengan penuh harap. “Aku meminta kau kembali, Hazel Star.”

Hazel terbelalak saat novel itu jatuh begitu saja diatas lantai karena tak ada lagi yang menggenggamnya. Tangan Hazel baru saja melemas dan menghilang sedikit demi sedikit, hingga separuh bagian tubuhnya tak lagi terlihat. Dan semua itu terjadi tepat setelah Zaidan meminta dirinya kembali kedunia fiksi. Seperti magic, Hazel menghilang dihadapan Zaidan dan beberapa pasang mata yang ada disana. “Za-Zaidan. Apa yang–––”

 

~~~@~~~

Bali, 2022

Meski sudah belasan tahun berlalu, tapi Hazel masih mengingat jelas tempat dimana Lidya melakukan percobaan bunuh diri bersama putrinya, Abriana. Disini. Ditempat inilah kaki Hazel pernah berpijak dulu. Dan jika apa yang dikatakan tentang apa yang dilihatnya itu bukan mimpi, berarti sesuatu yang besar telah terjadi tanpa sepengetahuan Hazel.

 “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Zaidan saat melihat Hazel menunduk dengan bibir berkomat-kamit seolah tengah mengucapkan mantra. Sedangkan perempuan itu masih tak bergeming, mengabaikan kehadiran Zaidan disana.

“Hei, kenapa diam?” tanya Zaidan lagi. Kali ini sedikit menaikan intonasinya. Merasa kesal karena terus diabaikan kekasihnya––ralat––perempuan yang mirip dengan kekasihnya. “Hazel, kau––”

“Diam!” bentak Hazel kasar. “Aku sedang berkonsentrasi untuk kembali ke duniaku.”

“Duniamu?” Zaidan menyunggingkan senyum kecutnya. “Ini duniamu. Keduanya sama, antara dunia yang kau tempati dengan dunia yang kau tinggal disana. Bedanya hanya waktu disini berlalu begitu cepat.”

“Aku tidak mengerti. Maksudmu––”

“Kau seorang time traveller!” potong Zaidan kesal. “Kau dengan Hazel kekasihku itu sama. Bedanya kau datang dari masa lalu, artinya saat itu kita masih belum berkencan. Pantas saja akhir-akhir ini kau terlihat canggung.”

Time traveller?” Hazel mengerutkan keningnya bingung. “Lalu pada akhirnya kita––”

Zaidan mengangguk. “Pada akhirnya kau akan kembali bertemu dengan momen-momen yang pernah kau lewati sebelumnya. Kita akan berkencan dan aku akan membuka satu persatu topengku.”

Sebenarnya dia sedikit tidak rela jika harus meninggalkan Zaidan begitu saja. Setelah sekian lama hidup dengan alur kehidupan yang membosankan, kini akhirnya Tuhan memberinya kesempatan untuk berbahagia bersama orang yang dia kagumi. Disisi lain, Hazel merasa khawatir dan tak tega pada Zaidan. Dia baru saja memasuki dunia pria itu, artinya Zaidan memang mempercayainya. Jika Hazel harus mengecewakan Zaidan, sama artinya dia dengan wanita kejam yang tega menyakiti perasaan anak laki-laki yang pernah berjuang bersamanya dulu.

Zaidan memohon dengan sangat. Meminta gadis itu untuk bertahan dan menemaninya sampai akhir cerita. “Dan sekarang kamu sudah menjadi bagian dari cerita ini. Tidak bisakah kamu bertahan disini bersamaku? Setidaknya untuk menyelesaikan cerita sampai bab akhir.”

Hazel tidak menjawabnya. Tidak untuk saat ini. Dia butuh waktu untuk berfikir karena sekalipun memilih untuk kembali ke kehidupannya, saat ini Hazel belum bisa kembali. Portal waktu belum bisa terbuka untuknya. Entah kenapa, karena biasanya Hazel bisa kembali kapanpun dia mau. Entah karena Hazel menghabiskan waktunya disini terlalu banyak, sampai-menyelesaikan cerita beberapa bab novel hingga saat ini atau memang ada sesuatu yang harus Hazel selesaikan sebelum kembali.

Keputusan ada ditangan Hazel. Pergi atau bertahan adalah pilihan tersulit dalam hidupnya. Jika dia memutuskan untuk pergi dan menggantungkan alur cerita novel itu begitu saja, Hazel Star mungkin bisa kembali, karena posisinya disini hanya sementara. Setidaknya setelah kepergiannya nanti, Hazel Star akan kembali menemani Zaidan sampai akhir kisah hidupnya. Seperti yang Zaidan bilang; kalau Hazel Star adalah diri Hazel dimasa depan. Mereka sama, bedanya Hazel belum memiliki memori tiga tahun terakhir.

“Seperti apa yang kamu bilang kalau diriku di tahun 2019 belum mencintaimu. Sebenarnya aku tak ingin benar-benar jatuh cinta padamu, tapi mengingat kalau ini adalah perjalanan waktu, itu artinya pada akhirnya aku akan mencintaimu seperti takdir seharusnya. Situasi ini akan terasa canggung. Lalu apa yang akan kita lakukan nanti?”

Zaidan mendekat kearah Hazel, mengecup punggung tangan gadis itu, dan tersenyum penuh arti. “Aku akan membuatmu jatuh cinta lebih cepat dari seharusnya.”

 

~~~@~~~

Jakarta, 15 Desember 2022

Sepulangnya mereka dari Bali, Hazel dan Zaidan sepakat untuk memutus hubungan yang semula terjalin. Memutus hubungan disini tak lain tidak melanjutkan kisah kasih antara pasangan kekasih pada umumnya. Walau status mereka tak lagi sebagai pasangan kekasih, Zaidan tak merasa keberatan asalkan Hazel masih terus berada disisinya. Dia tahu Hazel yang ada bersamanya sekarang bukanlah Hazel yang mencintainya sepenuh hati, tapi dia percaya kalau saat ini Hazel sudah menyimpan perasaan untuknya.

 “File yang gue kirim kemarin udah dipublish?” tanya Zaidan pada seseorang diseberang telefon.

“Udah. Gue sebagai editor baru lo, merasa amat sangat bangga nama gue tercantum dideretan orang-orang hebat. Yaa ... walaupun cuman sebagai editor, bukan jurnalis yang mendapatkan informasi seperti lo, tapi gue cukup bangga sama diri sendiri,” ungkap Natasha.

“Oke. Selamat bergabung di tim gue. Dan selamat bertemu dikantor.” Zaidan menutup panggilannya.

Pria tampan bertubuh tinggi itu memilih berlari ke jalan raya untuk mendapatkan kendaraan umum seperti busway.  Dan sekarang Zaidan sengaja mempublikasikan wajahnya dengan mengenakan setelan olahraga berwarna gelap dari ujung kepala sampai ujung kaki, masih terlihat tampan seperti biasanya. Bahkan beberapa orang menilai ketampanan Zaidan Abriana bertambah karena sisi sexy yang dimilikinya pagi ini.

Wajah dan lehernya terlihat mengkilap karena keringat. Kedua telingnya sengaja ditutupi earphone berwarna hitam. Tak satu orang pun yang tahu lagu apa yang tengah didengarkan Zaidan pagi ini. Pria itu sama sekali tak berniat berbagi music dengan orang-orang disekelilingnya. Dan Zaidan juga terlihat beda dari hari-hari sebelumnya, pria itu baru saja mengganti model rambutnya jadi semakin terlihat tipis dan sexy. Model rambut seperti ini selalu menjadi kesukaan Hazel, mungkin Zaidan memakai metode ini untuk membuat Hazel jatuh cinta padanya.

Setelah keluar dari busway, Zaidan kembali berlari menuju gedung kantor tempat ia bekerja. Wajah tampan itu sesekali mengangguk pada beberapa security yang menyapanya disepanjang jalan menuju lobi kantor. Dan seperti tebakan banyak orang, Zaidan menjadi bahan cuci mata untuk para pegawai wanita dipagi hari. Beberapa dari mereka ada yang meneriaki Zaidan, melambaikan tangan, melakukan flying kiss, dan juga menunjukkan blank face yang sangat mengelikan.

Hazel melirik Zaidan dengan kening berkerut dan kembali fokus pada ponsel genggamnya. Tidak hanya Hazel yang menganggap Zaidan aneh. Semua orang didalam lift memandang Zaidan dengan kening berkerut. Bukan hanya karena penampilannya yang tidak biasa, dia juga lebih bersikap ramah pada semua orang, sangat berbeda dengan kepribadian Prince Frozen yang melekat pada dirinya selama ini. Hal luar biasa yang semua orang baru dengar sejauh ini.

 “It's the first time in his life that he did it.” Natasha melirik beberapa orang yang dia rasa tengah menguping pembicaraannya bersama Hazel. “And you ignore it.”

Really?” bisik Hazel pura-pura terkejut. Kemudian dia tersenyum kecut seraya memutar bola matanya malas. “I’don’t care. We are not couple anymore.

Sementara itu Zaidan hanya bisa tersenyum tipis, pura-pura tidak mendengar celotehan yang terjadi antara Hazel dan Natasha. Dan sekali lagi, saat mereka keluar dilantai yang sama, tak lupa Zaidan berpamitan pada orang-orang disana. Tubuh tingginya bergegas pergi ke ruangannya untuk mengganti pakaian olahraga dengan setelan jas yang sudah ia siapkan disana. Karena semua orang tahu kalau shooting akan dimulai sebentar lagi. Zaidan dan Hazel akan dipasangkan untuk siaran berita pagi ini.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 884 15
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

586 453 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

459 352 4
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

278 223 3
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 838 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

713 526 9