Jakarta, 12 Maret 2004

Hari Penculikan

Keadaan yang semula kacau, kini semakin kacau setelah Mahendra mendengar kabar penculikan cucunya, Zaidan. Saat itu semua orang tengah disibukan dengan pencarian dua orang manusia yang menjatuhkan diri kedalam laut. Sang ibu, Lidya, berhasil diselamatkan Tim Sar setelah menemukan tubuhnya didalam laut. Sedangkan putrinya, Abriana, ditemukan tak bernyawa keesokan harinya. Dan hilangnya Zaidan cukup membuat geger orang-orang yang ada disana, khususnya gadis cantik yang melihat langsung kepergian Zaidan bersama beberapa pria misterius.

Gadis kecil bergaun putih, sandal flat, dan beani putih yang terlihat cukup familiar. Kaki kecil itu berjalan menyusuri lorong dengan cahaya remang, menyentuh dinding tua dan berdebu. Sesekali gadis itu bersembunyi dibalik tembok saat mendengar suara jejak kaki yang mendekat kearahnya. Hazel melihat dua orang pria bertubuh tinggi besar menyeret seorang laki-laki dengan wajah berlumuran darah. Usianya kira-kira sekitar 12 tahun.

“Kenapa mereka menyeretnya seperti itu?” gumam Hazel setelah orang-orang itu membawa anak muda yang mirip sandera atau tawanan itu keluar gedung.

 “Katanya, bos hanya menginginkan anak laki-laki itu hidup depresi dan ketakutan. Dia tak ingin melihat satu senyum pun diwajah bocah itu. Jadi, mungkin itulah alasan kenapa bos menyuruh kita menyiksa bocah itu tanpa harus membuatnya mati.” Ucap pria berkaus hitam sebelum berlalu dan menghilang ditelan gelapnya lorong banguan tua.

Apakah bocah yang mereka maksud adalah laki-laki bermata hazel? Malaikatku?” Hazel bertanya-tanya dalam hati.

Hazel berjalan mengendap-endap kearah pintu. Mengulurkan tangannya untuk memutar dan membuka kenop pintu. Menjulurkan kepalanya untuk melihat keadaan ruangan. Dan tak lama berselang, tubuh kecil itu bergegas masuk setelah melihat seseorang yang dicarinya tengah terduduk diatas lantai dengan wajah babak belur. Gadis itu berdiri tepat diantara kedua kaki remaja pria berusia 12 tahun, menyentuh kepalanya seraya berbisik, “Apakah kamu baik-baik saja?”

Laki-laki itu tersadar dan langsung mengangkat wajahnya. “Hei, kenapa kemari?”

 “Aku datang untuk menjemputmu,” jawabnya polos.

Laki-laki itu menggeleng dan menunjuk kearah lututnya yang lebam. “Aku tidak bisa pergi denganmu, bagaimana aku bisa pergi dengan keadaan seperti ini?”

“T-tapi—”

“Kenapa pintunya terbuka, hah?!” teriak seseorang dibalik pintu ruangan.

BLAM!!!

Ruangan menjadi gelap seketika. Sepertinya laki-laki itu baru saja mematikan lampu ruangan dengan sengaja. Hazel tersentak saat seseorang menyentuh bahunya, menarik beanie dikepalanya, dan sedikit menurunkannya sampai menutupi mata. Tak hanya itu, Hazel juga merasakan tubuhnya diseret kearah kanan, kemudian terhempas. Seseorang mendorongnya memasuki sebuah kotak besar yang mirip seperti lemari berukuran besar.

Laki-laki itu berbisik. “Pejamkan matamu, tutup telinga, dan juga mulutmu. Tunggu sebentar, aku akan membawamu keluar dari sini secepatnya.”

TAPPP!

Ruangan kembali terang.

Namun rasanya percuma saja bagi Hazel, karena dimatanya, seluruh ruangan ini masih terlihat gelap. Dia masih mempertahankan beanie hat itu menutupi matanya seperti perintah laki-laki tadi. Gadis kecil itu mengikuti intruksi bisikan pria yang dipanggilnya malaikat; memejamkan matanya, menutup sepasang telinga dengan kedua tangannya, dan juga mengunci rapat mulutnya.

Hazel mendengarnya, seseorang menyiksa laki-laki yang dipanggilnya malaikat. Dan tak lama kemudian telinganya mendengar suara anak laki-laki berteriak, meringis, dan mengaduh kesakitan. Dia juga mendengar dengan jelas suara dentuman yang berasal dari benturan tubuh manusia dengan dinding ruangan. Entah siapa yang melempar dan tubuh siapa yang dilempar, Hazel hanya bisa menelan salivanya sendiri guna membungkam rasa cemas yang semakin membuncah

“Tolong matikan musiknya,” gumam Hazel sambil terus berusaha menutup telinganya.

Hazel meringis mendengar sebuah lagu klasik diputar yang diiringi suara tangisan, ringisan, dan teriakan kesakitan. Hazel menggigit bibirnya kuat, kakinya bergetar saat mendengar suara tawa orang dewasa didepannya. Jantungnya berdebar kencang, dadanya terasa sesak karena tangis yang tak tersampaikan. Mereka terdengar seperti monster, sosok yang sama sekali tak pantas disebut manusia. Bagaimana bisa mereka menyiksa anak kecil tak berdosa, membuat semua itu layaknya lelucon jenaka, menjadikan tangis mereka layaknya lagu pengiring tawa.

Hazel menggeram dan langsung membuka tutup matanya. “Aku tak bisa menahannya lagi!”

Hazel mengingkari janjinya. Dia kembali melepas beanie hat dan mengabaikan perintah sang malaikat tanpa nama tadi. Sebelumnya Hazel juga mengingkari janji untuk tidak membuka penutup matanya saat di pantai tadi. Gadis sekecil dirinya mungkin belum mengerti arti dari sebuah janji atau mungkin karena tak tahan melihat seseorang disiksa seperti ini. Hingga kini air mata Hazel menetes dengan sendirinya, dia menangis diantara himpitan baju, menonton secara live adegan kekerasan lewat celah lemari didepan matanya.

Dipojok kiri, Hazel melihat remaja pria yang tengah berlutut sambil menunduk, wajahnya terlihat kusam, dan juga berkeringat. Dengan pakaian lusuh seadanya, terdapat beberapa lubang, dan sobekan kecil. Dia menangis terisak saat orang dewasa didekatnya membentak, bahkan tak segan memukulnya dengan tongkat golf. “Jangan sakiti aku,” pintanya terisak pilu.

“Aku tak menyakitimu, aku sedang mendidikmu. Siapapun keturunanku, dia wajib hidup sesuai aturan dariku, termasuk kau!” teriak seorang pria yang menutupi wajahnya dengan tudung jubah hitam.

“Mo-monster!” geram Hazel sambil menatap pria yang biasa dipanggil Big Boss.

Big Boss terkejut, seketika merubah posisinya menghadap Hazel. “Bunuh bocah kecil itu!” teriaknya nyaring.

Pandangan Hazel memudar setelah merasakan sebuah cairan memasuki pembuluh darahnya. Seseorang baru saja menyuntikkan obat bius padanya, membuat tubuhnya melemas dan ambruk seketika. Namun satu lagi perasaan familiar yang dirasakan Hazel, sepasang tangan menangkap tubuhnya yang jatuh, memeluk dan membawanya kedalam dekapan. Sosok itu adalah satu-satunya orang yang memperdulikannya disana. Laki-laki yang disebutnya malaikat adalah orang yang memeluk tubuhnya dan melindunginya dari tendangan kaki para monster.

Hazel belum sepenuhnya pingsan, dia masih bisa merasakan tubuhnya terhentak-hentak saat tiga orang preman itu menendang punggung anak laki-laki dibelakangnya. Semakin lama pandangan matanya terasa semakin buram, kelopak matanya semakin terasa berat. Samar-samar Hazel mendengar ringisan sepasang bibir tepat ditelinganya, sedangkan sepasang tangan itu masih setia memeluknya erat. Entah apa yang difikirkan laki-laki itu, Hazel sendiri tidak tahu alasan tersembunyi yang membuat sang malaikat mengorbankan tubuhnya demi dirinya.

Hazel merasakan kantuk yang teramat dalam, hingga pada akhirnya dia tertidur dibawah tubuh malaikatnya. “Ma-malaikat, bolehkah aku tahu namamu?”

 

 

~~~@~~~

 

Bali, 19 Maret 2004

Seminggu kemudian

Hazel kecil terduduk dipojok ruangan seraya memeluk kakinya, menggigil kedinginan dengan sepasang bibir pucat dan bergetar. Kedua bola matanya bergerak mengitari sebuah ruangan yang semakin lama terasa semakin dingin dan menusuk hingga membekukan tulang rusuknya. Disana ia melihat seroang remaja bule memandanginya dari seberang, tersenyum seraya memeluk kedua lututnya. Hingga beberapa menit kemudian laki-laki itu bangkit dan berjalan ketempat Hazel, duduk dan ikut bergabung bersamanya.

“Kemari!” pinta laki-laki itu seraya membuka kedua lengannya.

Hazel sempat salah faham. Pada awalnya dia mengira laki-laki itu akan melepaskan jacket tebal ditubuhnya. Namun nyatanya, dia hanya meminta Hazel mendekat dan memasukkan kedua lengannya. Bergabung dengan lengan miliknya dalam satu jacket, kemudian menarik retsletingnya sampai dada. Beruntungnya jacket milik remaja yang dipanggilnya malaikat ini terbilang besar, sehingga serasa cukup untuk dipakai bersama tubuh Hazel yang mungil.

“Terimakasih,” gumam Hazel.

Terasa jauh lebih baik sekarang. Setidaknya mereka tidak menggigil kedinginan seperti sebelumnya. Bahkan kini Hazel memejamkan matanya saat laki-laki itu melingkarkan lengan mereka didepan perut Hazel. Sang malaikat itu memeluk Hazel dari belakang. Meniup puncak kepala Hazel untuk memberikan udara hangat. Menggosok telapak tangan mereka agar tidak cepat membeku karena gas uap yang semakin memenuhi ruangan.

Laki-laki itu terdiam, mengingat kembali memori saat dia bisa bertemu gadis ini seminggu yang lalu. Gadis yang mengaku bernama Hazel ini nekat menemui dirinya untuk membawanya pulang. Namun malang nasib menimpa mereka, pria yang dipanggil Big Boss itu mengurung kedua bocah itu diruangan pendingin. Dimana disana terdapat beberapa pipa besar yang terbuat dari besi dan membuka semua saluran pipa yang mengakibatkan kebocoran gas diruangan bawah tanah tersebut.

“Apakah kita akan mati disini?” tanya Hazel dengan bibir gemetar.

Laki-laki itu menggeleng. “Kita tidak akan mati disini. Tenang saja, aku akan membawamu keluar,” katanya seraya bangkit dari posisinya semula.

Dan benar saja. Tak lama kemudian, mereka menemukan jalan keluar dari ruangan mematikan tersebut. Meski terbilang ekstrim, tapi setidaknya, keduanya bisa lolos dari gas yang bisa membekukan tubuh mereka disini. Remaja bertubuh jangkung itu menuntun Hazel menaiki kursi, membuka benda berbentuk kotak yang biasa terdapat disetiap ruangan diatas atap. Terlihat seperti ventilasi udara, namun yang ini terbuat begitu rapat dengan penutup beban berat.

Hazel meringis saat dirasa tubuhnya mecair setelah sekian lama membeku didalam ruangan yang bahkan sendirinya tidak tahu ruangan apa itu. Laki-laki bermata cokelat hazel itu meminta Hazel untuk memperhatikan langkahnya, dia hanya takut kalau seseorang dibawah sana bisa mendengar suara yang mereka buat dilorong ventilasi. “Mereka ada tepat dibawah kita, jadi perhatikan langkahmu.”

“Hei, kamu belum memberi tahu namamu.” Seru Hazel setelah berhasil turun disebuah lorong gelap. Namun, laki-laki itu hanya menoleh sekilas dan kembali mengabaikannya. Memilih berjalan menelusuri lorong sambil menggenggam tangan kanan Hazel dan menuntun gadis itu menyusuri lorong gelap.

Meski terlihat dingin dan acuh, tapi ada laki-laki itu terlihat lebih memperdulikan Hazel daripada dirinya sendiri. Hazel bisa menangis karena satu pukulan, namun sosok itu sama sekali tak menangis dari pertama kali mereka bertemu. Dia seperti memiliki kekuatan super yang membuat tubuhnya tak bisa merasakan rasa sakit. Dia adalah super hero pertama yang Hazel lihat sejauh ini. Yang sukes melewati berhari-hari dengan siksaan mental dan fisik tanpa menangis.

“Tangkap mereka!” teriak seseorang dari arah belakang.

Hazel terkejut, dia berlari mengikuti langkah lelaki tampan didepannya. Ini adalah kali pertamanya berlari dalam ruangan gelap, rasanya benar-benar seperti dalam mimpi dan negeri dongeng. Terasa melayang dan tanpa beban. Dia bisa berlari cepat menyeimbangi kecepatan sosok yang sampai saat ini masih setia menggenggam tangannya. Berlari dan terus berlari sampai keduanya tersenyum saat melihat sesuatu yang bersinar. Hazel menghentikan langkahnya, membuat tautan tangannya dan tangan sang malaikat terlepas begitu saja.

“Siapa namamu?” tanya Hazel dengan nafas tersenggal. Menghentikan langkahnya sesampainya mereka ditengah dijalan raya dengan pencahayaan yang cukup minim.

Sosok itu menghentikkan langkahnya, kemudian menoleh. “Zaidan Putera Mahendra.”

Ciittt!

Brakkk!

Sebuah truk besar baru saja menghantam tubuh mungil Hazel dengan kekuatan penuh. Membuat tubuh Hazel terpental jauh dan berakhir dengan membentur trotoar diseberang jalan. Zaidan terbelalak dan langsung berlari mengejar Hazel, tak memperdulikan sang supir truk yang baru saja melarikan diri dengan wajah ketakutan. Kedua tangannya bergetar saat merasakan cairan berwarna merah berhasil membasahi kulitnya. Bibirnya memucat, air mata mulai membendung membentuk awan hitam yang siap menurunkan hujan deras.

 

Tubuh Hazel menegang, seolah ada sesuatu yang membuat otot tubuhnya tak berfungsi. Jika ini hanya mimpi, bisa jadi dalam dunia nyata tubuhnya tengah mengalami kejang. Bahkan Hazel bisa merasakan sesak yang amat dahsyat menyelimuti dadanya. Darahnya berdesir tak menentu, kepalanya berdenyut keras seakan ada sesuatu yang tengah menggerogoti kepalanya saat ini. Pandangannya tiba-tiba kabur, sesuatu yang mengerikan sukses membuat Hazel menjerit histeris.

 “Te-terimakasih sudah memelukku malam itu,” gumamnya dengan nafas tersenggal.

Tangan Hazel bergerak mengambil pecahan beling dari lampu depan truk yang membentur tubuhnya tadi. Dengan bibir bergetar, Hazel menggores telapak tangan kanannya dengan pecahan beling dengan ujungnya yang runcing. Membuat darah segar mengalir dari telapak tangan hingga bagian siku. Mata sayunya menatap wajah Zaidan cukup dalam, seperti seseorang yang tengah memohon.

Hazel menyerahkan pecahan beling itu pada Zaidan. “Dan jika sesuatu terjadi padaku nanti, temui dan ingatkan aku bahwa kita pernah memiliki kenangan yang sama. Mari membuat perjanjian untuk kembali bertemu 18 tahun lagi.”

Dengan sedikit ragu Zaidan melakukan apa yang dikatakan Hazel. Menggores dan melukai telapak tangannya sendiri dan menjabat tanan Hazel untuk menyatukan darah mereka berdua. Tak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka selama beberapa saat, hingga tak lama kemudian Zaidan melepaskan genggman tangan mereka dan bertanya, “Jika takdir mempertemukan kita lebih awal dari perjanjian?”

Gadis itu tersenyum dan memejamkan matanya. “Takdir bisa mematahkan segalanya, termasuk perjanjian.”

 “Hazel?!” Zaidan panik. “Bertahanlah, aku akan mencari pertolongan.”

Dia mencoba untuk berdiri dengan sepasang lutut lemas, mengitari sekeliling sambil berteriak meminta pertolongan. Sayangnya malam itu jalanan terlihat sepi, tak ada seorang pun yang datang memberi pertolongan. Dan lagi-lagi dunia tak memihak mereka. Hingga beberapa saat setelah itu, Zaidan menaruh tubuh Hazel dipunggungnya, kemudian berlari menapaki trotoar dengan bertelanjang kaki. Dia tak bisa berhenti menangis walau Hazel terus berbisik meminta Zaidan untuk tidak menangisinya.

“Kamu menangis untukku?” tanya Hazel dengan suara parau.

Zaidan kembali terisak sambil mempercepat langkah kakinya. “Ti-tidak.”

Hazel tersenyum dengan bibir memucat. Jemarinya yang bergetar perlahan bergerak ke wajah Zaidan dan mengusapkan ibu jarinya dipelupuk mata hingga pipi. Sisa tenaganya dia gunakan untuk menghapus air mata Zaidan.“Jangan menangis, Zaidan.”

Lelaki itu terdiam dan memejamkan matanya sejenak sebelum kembali berbicara. “Kamu tidak boleh mati!” geram Zaidan saat melihat sebuah rumah sakit dari kejauhan.

Hazel tersenyum disela ringisannya. “Kita akan bertemu lagi.”

Mata Hazel perlahan tertutup dengan tangan kanan melambai, meminta Zaidan untuk tidak melepasnya pergi. Namun yang dilakukan Zaidan hanyalah mematung, memandangi kepergian Hazel yang saat itu sudah memasuki rumah sakit. Air matanya telah mengering, Zaidan baru saja menyunggingkan senyum palsunya, seolah tengah berusaha tegar saat melepas kepergian Hazel memasuki ruang UGD. Sedangkan Hazel sendiri hanya bisa menahan nafas setelah merasakan sesuatu yang aneh mulai menyerang kepalanya.

“Kenapa aku menyebabkan rasa sakit pada banyak orang?” gumam Zaidan pilu sambil memandangi  Hazel yang perlahan hilang dari pandangannya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 757 13
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

276 221 3
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

432 320 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

712 526 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

687 509 8