Hampir satu jam lamanya Hazel dan Mahendra duduk dibangku taman yang menghadap langsung ke air mancur. Beberapa kali Mahendra menepuk pelan punggung Hazel, membantu menenangkan perasaan perempuan itu. Cukup lama Hazel menangis saat Mahendra meceritakan masa lalu cucunya, Zaidan. Kisah dimana bocah laki-laki yang harus menyaksikan kematian sang ayah didepan matanya, ditambah harus pulang untuk menyampaikan kabar kematian sang ayah pada ibunya. Hingga sampai waktu dimana jiwanya hilang bersama tangis, pergi meninggalkannya tanpa membawa kembali luka yang telah tertoreh.

“Jadi, selama ini Zaidan melihatku sebagai—”

“Abriana,” potong Mahendra, tepat saat melihat Hazel memandangi foto dalam liontin milik Abriana. “Dulu, Zaidan pernah cerita kalau dia sudah menemukan senyumnya kembali. Kehadiranmu mengingatkan Zaidan pada saudara perempuannya, Abriana.”

Sesuatu menetes dari pelupuk mata Hazel, dia menangis tanpa suara. “Tapi itu semua hanya mimpi. Aku tak pernah mengalaminya secara langsung, tak mungkin—”

“Kamu tidak tidur, itu bukan mimpi.” Ujar seseorang dari arah belakang.

Dia Zaidan Abriana. Datang dengan sejuta rasa dan ekspresi diwajah tampannya. Menghampiri sang kekasih diiringi langkah cepat, dengan gambaran rasa yang sangat sulit untuk diartikan. Tersenyum dengan penuh luka dan air mata, kemudian menarik pinggang Hazel, membawa tubuh ramping itu kedalam pelukannya. “Aku tidak peduli sebesar apa rasa kecewamu padaku sekarang. Tapi satu pintaku, tetaplah disisiku, Hazel.”

“J-jadi, apa yang kamu lakukan untukku dan apa yang kamu berikan padaku selama ini––itu semua karena Abriana?” tanya Hazel tak percaya. “Tapi aku bukan saudara perempuanmu. Aku bukan Abriana.”

“Hazel––”

 “Kamu tak mencintaiku,” gumam Hazel dengan nada suara menurun. Mendorong dada Zaidan dan menatapnya dengan pilu. “Kamu tak melihatku sebagai Hazel.”

““Malaikat tanpa nama yang memelukku saat menangis dulu itu kamu, kan?” Hazel tersenyum miris. “Telapak tangan yang aku basahi dengan air mata itu milikmu.”

“Hazel, aku—”

Perempuan itu mengangguk cepat sambil melepaskan tubuhnya dari kukungan sang kekasih. “Itu adalah hari pertemuan pertama kita. Dimana untuk yang pertama kalinya juga kamu melihat sisi Abriana dalam diriku. Kamu mengasihiku, melindungi, dan menjagaku. Karena apa? Semua itu kamu lakukan karena rasa bersalah atas kematian saudara perempuanmu.”

Rasa bimbang kembali Hazel rasakan, karena hanya satu yang harus ia pilih: antara balas memeluk sang kekasih yang sedang berduka atau lari darinya karena rasa kecewa. Hazel sakit hati atas  fakta yang baru ia ketahui, tentang kehadiran Abriana dalam dirinya dimata Zaidan. Namun, satu sisi dia jelas bersedih dan ikut berduka atas luka yang dimiliki pria itu.

Apakah aku harus tetap bermain dalam kisah ini dan menyelesaikannya sampai bab akhir?” gumam hati Hazel. Merasa bimbang dengan keadaan yang tengah dihadapinya. “Atau menyudahi semuanya dan kembali ke kehidupanku?”

 

~~~@~~~

 

Hazel hanya bisa pasrah saat Zaidan membawanya kesuatu tempat di Bali. Dia berniat menyudahi semuanya setelah mendapatkan penjelasan dari mulut Zaidan, setelah itu dia akan pergi dari dunia Zaidan dan kembali ke dunia yang seharusnya. Meninggalkan tempat yang tak seharusnya dia tempati. Berhenti berpura-pura menjadi Hazel Star, juga berhenti berpura-pura mencintai Zaidan. Dia harus menyudahi semuanya sebelum keadaan menjadi semakin rumit dan sebelum perasaannya pada Zaidan semakin tumbuh.

Zaidan berkata dengan pandangan terpusat jauh ke depan. “Ini adalah tempat pertama kalinya kita bertemu. Dan apa yang kamu anggap mimpi buruk itu sebenarnya ingatan lama yang mungkin saja perlahan kembali.”.

 “Ingatan lama?” tanya Hazel bingung.

Zaidan mengangguk. “Kamu sempat mengalami amnesia. Alasan kenapa selama ini aku selalu bungkam tentang masa laluku, tak lain karena kenangan hari itu.”

Hazel mendudukan bokongnya pada salah satu batu besar diatas tebing. Memandang deburan ombak yang menghantam bebatuan dibawah tebing. Ekspresi wajahnya seketika berubah datar saat mengingat kembali potongan mimpi buruk yang merupakan bagian dari memorinya yang telah hilang. Tentang seorang ibu yang menjatuhkan diri bersama putrinya, dimana dua orang itu merupakan ibu dan saudara perempuan Zaidan.

 “Zaidan, semua ini hanyalah ilusi.” Hazel menggeleng tak percaya. Bergerak menjauhi Zaidan dengan kaki bergetar. Cairan merah mengalir membasahi area hidung dan bibirnya. “Bagaimana aku bisa mempercayai sosok yang tak nyata. Kamu itu tidak nyata. Kamu hanyalah sebuah ilusi.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu sudah membuka topengmu. Sekarang giliranku membuka topeng. Sebenarnya …” Hazel memejamkan matanya sejenak, “sebenarnya dunia ini tidak nyata. Aku memasuki sebuah cerita novel dengan tokoh utama bernama Zaidan Abriana. Disini tahun 2022, sedangkan diduniaku masih tahun 2019. Walaupun semua ini terasa nyata bagiku, tapi sebenarnya ini hanya dunia fiksi.”

“Hazel—”

“Jangan mendekat!” pinta Hazel dengan bibir bergetar.

Zaidan terkekeh. Merasa terhibur dengan ucapan Hazel barusan. “Kenapa berbicara omong kosong dengan wajah serius?”

“Aku serius!” teriak Hazel. “Katakan aku gila, tapi semua yang kamu lihat dan rasakan ini tidaklah nyata. Kamu hanyalah karakter buatan manusia. Kisah hidupmu dalam kendali sang penulis novel. Kamu—”

“Bagaimana jika semua itu terbalik? Apa yang kamu lihat dan rasakan itu tidaklah nyata. Bagaimana jika karakter utama dicerita ini bukanlah aku? Bagaimana jika  semua yang terjadi ini memang menuntun pada kisahmu sendiri?” Zaidan menyunggingkan ujung bibirnya. Tersenyum kecut seolah tengah mentertawakan sesuatu.

“Zaidan—”

“Apakah kamu sudah melihat diriku yang lain?” tanya Zaidan dengan wajah serius.

Hazel menautkan kedua alisnya. Merasa bingung dengan pertanyaan yang dilayangkan Zaidan padanya. “Apa maksudmu?”

“Jika kamu berasal dari tahun 2019. Apakah kamu sudah bertemu dengan diriku ditahun itu? Diriku dimasa lalu.”

DEG!

Jantung Hazel berdetak cepat setelah mendengar pertanyaan Zaidan tentang diri mereka ditahun 2019. Otaknya bekerja keras memikirkan cara untuk memecahkan beberapa teori yang mulai bermunculan. Antara nyata dan tidak. Hazel ingin segera menyelesaikannya dan kembali ke dunianya. “Kapan dan dimana kita bertemu untuk yang kedua kalinya?” tanya Hazel untuk memancing kejujuran Zaidan.

Zaidan memandangi wajah Hazel dengan sedikit memikirngkan kepalanya. “Pada tahun 2019 di perpustakaan, Depok. Oh aku tahu sekarang …” Zaidan menjauhkan wajahnya dari wajah Hazel, “jika kamu berasal dari masa lalu, itu artinya saat ini kamu belum mencintaiku. Apakah aku salah?”

Seakan tersambar petir, tubuh Hazel menegang mendengar ucapan spontan Zaidan barusan. “Bu-bukan seperti—”

“Sebenarnya siapa diantara kita yang berbicara omong kosong?’ potong Zaidan dengan nada frustasi.

“Ti-tidak. Aku tidak sedang berbicara omong kosong. Aku benar mendapatkan novel itu dan setelah itu … semua ini terjadi.” Hazel terdiam sejenak untuk mengambil nafas. “Maaf. Sejak awal aku sudah membohongimu dan berpura-pura menjadi perempuan yang kamu cintai, Hazel Star. Se-sebenarnya bukan niatku untuk melakukan hal gila itu, hanya saja keadaan yang memaksaku ikut bermain dalam kisahmu. Aku––”

“Kau bukan wanita yang aku cintai atau aku bukan pria yang kau cintai?” Zaidan kembali menyerang Hazel dengan pertanyaan yang lagi-lagi menohok perasaannya. “Jika kamu memang tak mencintaiku, lalu kenapa harus marah saat tahu cerita tentang Abriana? Kamu cemburu? Atau takut jikalau aku tak mencintaimu dengan tulus dan hanya melihatmu sebagai bayangan Abriana?”

Petir kembali menggema, namun hanya terjadi dalam dada Hazel saja. Apa yang dikatakan Zaidan barusan memang tak sepenuhnya salah. Hazel memang sempat merasa cemburu dan sakit hati saat tahu kalau Zaidan sempat menganggapnya Abriana. Walau itu semua tidak ditunjukan untuk dirinya, Hazel tetap merasakannya.

“Aku mungkin tidak mencintaimu, lebih tepatnya belum mencintaimu. Perasaan yang aku miliki untukmu belum sejauh itu,” jawab Hazel dengan hati-hati. “Tidak––ah, maksudku ... aku tidak bisa mengartikan perasaan ini dengan cinta begitu saja.”

Zaidan mengangguk. “Aku mengerti. Lalu apa rencanamu sekarang? Meninggalkan dunia yang kau anggap tidak nyata dan kembali pada duniamu? Meninggalkan aku sendirian?”

“Zaidan––”

“Zel!” tegas Zaidan memotong ucapan Hazel. “Setidaknya kembalikan Hazel-ku sebelum kau pergi!”

Sampailah sudah dititik terakhir, buntu, dan tak terencana. Hazel memang datang kesini untuk memastikan kalau kehidupan yang dialaminya ini memang nyata terjadi. Dia sedang tidak tidur atau bermimpi. Sejak awal memang begitu, dia ingin tahu lebih mengenai Zaidan Abriana. Tapi sampai kini, Hazel masih belum mendapatkan ending atau penyesalan seperti apa yang dia inginkan.

“Maaf.” Hazel menunduk. “Aku tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan Hazel-mu. Aku ... aku sudah menghancurkan kisahmu. Dari awal, seharusnya aku tidak masuk kedalam duniamu, tidak bermain dalam alur kehidupanmu.”

“Kalau begitu enyahlah kau dari hadapanku!” teriak Zaidan geram.

Perempuan itu meneteskan air matanya mendengar bentakan keras dari mulut Zaidan. “Zaidan, aku––” Matanya memandangan tidak fokus, sampai-sampai dia melihat wajah Zaidan berubah menjadi sebuah karakter kartun atau komik. Hazel juga merasakan sedikit demi sedikit tubuhnya berubah menjadi kepulan asap hingga lenyap tepat didepan Zaidan. “Aku akan kembali.” Hazel memandangi telapak tangannya yang perlahan menghilang

 

~~~@~~~

            Perpustakaan Depok, 2019

Cahaya matahari kini menari membelai kulit wajah seorang pria bernama Zaidan Abriana. Perasaan hangat dan nyaman mulai ia rasakan saat sedikit cahaya itu mengintip lewat celah jendela dan rak buku perpustakaan. Namun, sesekali ia menyerit saat mtahari bergerak semakin tinggi dan masuk lebih berani menembus kaca gedung. Rasa hangat perlahan berubah menjadi panas membakar kulit, memaksa Zaidan untuk bergeser tanpa membuka matanya sama sekali.

“Mas, ngapain tidur disini?” bisik seseorang yang saat itu tengah mengepel lantai gedung perpustakaan. “Apa semalaman tidur disini? Karena pintu baru saja saya buka.”

Merasa terkejut saat sesuatu yang basah menyentuh telapak tangannya, Zaidan langsung mengerjapkan mata dan menyerit. Bibirnya bergumam seraya merentangkan kedua tangannya. “Emm, apakah sudah pagi?”

Cleaning service wanita itu mengangguk dengan bibir terkatup. Perasaan kesal yang tadinya menggunung seketika mencair begitu saja setelah melihat ketampanan Zaidan, terutama sorot matanya yang memikat.“I-iya.”

Zaidan bangkit berlutut dengan kedua tangan menggenggam sebuan novel bertuliskan “The Eternal Love” dengan tinta warna emas. Semalam dadanya bergemuruh setelah melihat novel itu tergeletak tak bertuah dilantai diantara rak-rak buku yang menjulang tinggi. Hazel, sang pemilik novel itu pergi meninggalkannya begitu saja.

Perempuan itu memilih pergi ke dalam dunia fiksi demi menuntut sebuah penjelasan. Tak pernah sekalipun berfikir kalau Zaidan yang ada didunianya saat ini juga bisa menjawab semua pertanyaan dibenaknya. Hazel mengira kalau Zaidan yang ada diperpustakaan sana adalah orang yang berbeda dengan Zaidan yang hidup bersamanya ditahun 2022.

Dia pun bergumam sambil berjalan keluar perpustakaan. Ada begitu banyak pertanyaan yang mendominasi otaknya sejak pertemuannya bersama Hazel kemarin sore. “Setelah Hazel tahu faktanya, apakah dia akan memilih untuk tinggal atau kembali ke kehidupan yang seharusnya? Apakah dia tahu kalau saat ini dia tengah menjelajahi waktu? Sudahkah dia menyadari kalau dirinya seorang time traveller?”

“Zaidan,” panggil Hazel. Tubuhnya berlari mengejar sosok Zaidan yang hendak memasuki mobilnya.

“Ya?” pria itu tersenyum bahagia setelah melihat Hazel telah kembali ke tahun 2019. “Ada apa?”

“Tahun berapa sekarang?” tanya balik Hazel.

“2019.”

Wanita itu menunduk lesu. “Aku telah mengecewakannya.”

“Dia?” satu alis Zaidan terangkat. “Dia siapa?”

“Dirimu––oh tidak. Maksudku seseorang yang mirip seperti dirimu, membingungkan, tapi––” Hazel mengintip wajah Zaidan dari balik bulu mata lentiknya. “Tapi itu dirimu.”

“Hazel, jika ada yang ingin kamu tanyakan padaku, maka tanyakanlah.”

Tanpa basa-basi Hazel menerobos masuk mobil Zaidan dan duduk dikursi penumpang samping kemudi. “Ada seseorang yang mengirim sebuah buku misterius kerumahku. Buku yang mirip seperti novel fiksi itu telah membawa ragaku masuk kedalamnya. Mungkin ini terdengar seperti omong kosong semata, tapi kenyataannya aku benar-benar pergi ke dalam novel itu dan memerankan seorang tokoh fiksi bernama Hazel Star, nama yang sama persis dengan namaku. Dan tokoh prianya bernama Zaidan Abriana, dimana sosok itu terlihat sama persis dengan dirimu.”

Pria itu tersenyum tipis memperhatikan Hazel yang terus berceloteh disampingnya. “Lalu?”

“Dia bilang kalau novel itu bukan menuntunku pada kisahnya, tapi pada kisahku atau kisah kami berdua. Sejujurnya belakangan ini aku sering bermimpi buruk tentang dua orang yang bunuh diri dan seorang remaja laki-laki tampan yang melindungiku. Dan didunia novel itu aku menjumpai mereka bertiga yang dimana faktanya mereka adalah keluarga. Remaja laki-laki itu ternyata dia, Zaidan Abriana, karakter novel yang memiliki wajah seperti dirimu.”

“Aku––” Hazel meremas jemarinya gelisah. “Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan disana. Sehingga saat ia mengatakan bahwa aku pernah amnesia, aku pun percaya begitu saja. Potongan mimpi buruk itu nyata adanya, aku pun merasa demikian. Tapi masalahnya aku belum bisa mengingat secara desain memori apa saja yang telah aku lupakan.”

Zaidan menghentikan mobilnya setelah sampai disebuah gedung departmen store besar dijakarta. “Apa kamu ingin mengingatnya?”

Hazel mengangguk.

Zaidan memutar tubuhnya menghadap Hazel. “Tapi, bukannya dia akan marah? Bukannya selama ini dia terus menyumbunyikan fakta masa lalu demi melindungi dirimu?”

“Darimana kau tahu?”

“Aku sudah membaca separuh isi novel ini.” Zaidan menunjukan novel The Eternal Love pada Hazel. “Masih banyak sisa kertas kosong yang tersisa, itu artinya perjalananmu belum selesai.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus kembali kesana atau melupakan cerita konyol itu begitu saja? Tapi, mau bagaimanapun aku ingin tahu tentang masa laluku. Bisakah kau membantuku?”

Zaidan mengangguk. Dibukanya laci dashboard dan mengambil sebuah pena bertinta emas. “Ini adalah tinta emas dimana seharusnya kamu menulis cerita yang kamu inginkan diatas kertas ini.”

Zaidan membuka halangan kosong pertama didepan Hazel. “Aku pernah mengalami apa yang sedang kau alami saat ini.”

“A-apa?!”

Zaidan mengangguk dan tersenyum simpul. “Sekarang aku akan menuliskan sebuah cerita dimasa lalu dan membawamu kesana. Aku akan membawa jiwamu pergi ketahun 2004. Tahun dimana kita bertemu dan terluka. Genggam tanganku!” Hazel menggenggam lengan Zaidan yang tengah menorehkan tinta emas dan menulis beberapa kata diatasnya. “Sekarang pejamkan matamu!”

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

713 538 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

459 352 4
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 838 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

580 452 14
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

713 526 9