Jakarta, 2019

Hazel menyunggingkan senyumnya saat mengingat kembali momen konyol dirinya bersama Zaidan barusan. Kepribadian jahil dan konyol Zaidan baru diketahuinya setelah masuk dan terlibat langsung menjadi tokoh utama didalam novel itu. Dan saat ini dia tengah berada didalam taxi, sepertinya dia kembali ke dunia nyata tepat setelah menutup pintu kamar Zaidan.

Keningnya seketika mengerut saat mendengar keributan diluar mobil. “Ranselku?” sibuk mencari keberadaan ransel dan novelnya. Sampai memaksakan diri keluar dari taxi setelah melihat seorang pria tua tengah menenteng ranselnya bersama beberapa polisi disekitarnya.

“Pak, boleh minta ransel saya kembali?” tanya Hazel lembut.

Semua orang yang ada disana spontan menoleh dan terkejut bersamaan. Hazel tidak faham dengan situasi yang tengah terjadi sekarang. Dia hanya melihat sang supir taxi memandangnya dengan wajah pucat pasi. Begitu juga dengan wajah beberapa polisi dengan tatapan menyelidik. “Ma-maaf. Apakah ada sesuatu yang telah terjadi?” tanya Hazel dengan penuh tanda tanya.

“Bapak Supratman baru saja melapor bahwa anda menghilang dalam perjalanan. Bapak, sepertinya bapak sudah salah faham. Penumpang bapak baru saja keluar dari taxi,” ujar sang polisi.

Supir taxi itu menggelengkap kepalanya cepat. “Saya yakin kalau sebelumnya mobil saya kosong tak berpenumpang?”

Polisi itu tersenyum ramah. “Bapak menghentikan kendaraan ditempat tak seharusnya. Tidak perlu membuat alasan konyol dengan alasan kehilangan penumpang secara tiba-tiba seperti itu.”

Hazel menggaruk tengkuknya bingung. Sepertinya dugaannya selama ini memang benar. Dia menghilang dan masuk kedalam cerita novel. Tubuhnya menghilang begitu saja, membuat sang supir taxi ketakutan dan tak sengaja melanggar peraturan lalu lintas. Dan sekarang Hazel merasa tak tega pada supir taxi yang diintrogasi polisi. Semua kekacauan ini murni karena kesalahannya. Sedangkan siapapun tak bisa menjelaskan dan menyelesaikan dengan jujur apa yang sebenarnya telah terjadi.

“A-apa?!” alis Hazel menukik tajam setelah membuka kembali novel yang berhasil didapatkannya kembali dari supir taxi. Dia terkejut saat melihat kejadian pagi tadi, kini terjadi lagi padanya. Apa yang dialaminya ditahun 2022 bersama Zaidan benar-benar tertera sama persis dalam bab 2 novel.

“Astaga!” Hazel kembali terkejut setelah menyadari penampilannya kali ini.

Tubuhnya tak lagi terbalut sweater dan celana jeans panjang. Kali ini penampilannya berubah menjadi sexy dan menantang. Hanya dengan celana super pendek yang tenggelam didalam kaos kebesaran warna putih. Jangan lupakan dengan tubuhnya yang basah kuyup, beserta handuk kecil warna putih yang menggantung dibahunya. “Sial!”

 

~~~@~~~

 

Jakarta, 2022

Hazel mengerutkan keningnya dan memutar tubuhnya untuk melihat tempat dimana dia berpijak sekarang. “Ka-kantor?” memejamkan matanya dan mendesah panjang. “Padahal baru saja pulang. Kenapa harus kembali kesini lagi?”

“Astaga Hazel!” teriak Natasha, sahabat Hazel. “Ngapaian pake baju beginian ke kantor?”

Natasha memutar bola matanya. “Zaidan bilang tadi subuh lo pergi dari rumahnya tanpa izin. Lo ini kenapa sih? Dan Zaidan juga bilang kalau lo belum jelasin alasan kenapa pergi tanpa pamit dari mobil Zaidan.”

Hazel hanya mampu membungkam mulutnya saat melihat Natasha, sahabat yang dimilikinya didunia nyata, kini berada tepat didepan matanya didunia yang berbeda. Sejak awal dia mengira kalau hanya dia satu-satunya orang yang tertarik kedalam novel, tapi ternyata dia salah. Dan sekarang Hazel mulai penasaran dengan semua kekonyolan ini. Dia berharap apa yang telah terjadi padanya takkan menjadi akhir yang sia-sia.

 

“ Selamat sore pemirsa. INDOnews petang kembali menemani anda dengan berita-berita terbaru, terhangat, dan teraktual. Bersama saya Zaidan Abriana dan Ananda Dita, pada Senin, 22 Oktober 2022. Berita utama hari ini kami sampaikan dari Satuan Narkoba Polres Metro Jaya Jakarta Barat bersama BNN yang berhasil menggagalkan peredaran narkoba jenis sabu dengan berat 50 kilogram dan 350 butir heroin. Penangkapan dilakukan di Merak, Banten, dengan tujuan Palembang-Jakarta. Polisi juga mengamankan 5 orang tersangka, 2 unit mobil, 3 buah smartphone, 7 kartu ATM, serta uang tunai senilai Rp. 5 juta. Sedangkan salah satu tersangka dengan inisial FS, dinyatakan positif menggunakan narkoba.”

 

Hazel menutup mulutnya setelah melihat Zaidan Abriana membawakan berita secara live ditelevisi. Layar besar dilobi gedung seketika ramai dan menjadi pusat perhatian orang-orang disana. Selain karena wajah tampan Zaidan, pria itu juga terkenal karena kepiawaiannya dalam bekerja. “Za-Zaidan?”

“Ya. Cowok lo,” bisik Natasha. Yang kemudian dengan secepat kilat menarik Hazel memasuki toilet perempuan. Meminta Hazel untuk mengganti pakaian. “Ini pesanan kopi Zaidan dan ini kopi buat lo. Tolong kasih ke Zaidan ya, gue sibuk.”

Hazel mengangguk. “Thanks.”

Hazel termenung, memandangi layar monitor besar dilobi gedung kantornya, INDOnews. Bibirnya tersenyum, kedua tangannya sibuk menggenggam dua gelas kopi berbeda varian. Ditangan kanan, Hazel menggenggam erat kopi Double Espresso, pesanan Zaidan, sedangkan ditangan kirinya  terdapat satu gelas kopi Latte Macchiato, miliknya.

Hazel tersenyum saat mendengar beberapa orang didalam lift memuji kekasihnya, Zaidan.

“Dia selalu jadi top trending pencarian dimedia setiap harinya. Berkat dia yang tidak hanya tampan parasnya, rating siaran kita selalu naik setiap penayangan. Otaknya cukup brilliant untuk reporter televisi swasta.”

Ya, saat ini Hazel sudah didalam lift menuju lantai 3 dimana Zaidan berada. Dia juga tahu bahwa yang dibicarakan teman kerja sekantornya itu tak lain adalah kekasihnya sendiri, Zaidan Abriana. Dan apa yang mereka bicarakan adalah fakta yang tak bisa disembunyikan. Zaidan selalu menjadi trending dimedia sosial dan top pencarian populer di Google.

Parasnya yang rupawan, tutur katanya yang lembut dan bijaksana, sukses menghipnotis para penonton berita INDOnews. Dan Zaidan juga sering ditugaskan untuk menghadiri acara seminar dibeberapa kampus di Indonesia. Selain mahir berbicara didepan televisi, Zaidan juga sama hebatnya saat bekerja dilapangan. Dia adalah reporter pertama yang bisa bergerak cepat dengan segala upaya dikerahkannya untuk mendapatkan berita aktual. Namanya sudah sering terlihat di koran atau televisi, dimana Zaidan Abriana sukses mengungkap kasus-kasus besar di Indonesia, mengalahkan departmen berita besar lain di Jakarta dan sekitarnya.

Hazel hanya bisa berjalan menunduk sambil melipat bibirnya kedalam. Mau tak mau dia harus mengekori lima orang staf wanita yang berjalan beriringan didepannya. Andai tidak melewati lorong dengan lebar 2 meter, sudah pasti Hazel akan melewati mereka begitu saja pada jalan lain. Sepertinya tujuan mereka sama, yaitu lantai siaran Live berita INDOnews.

Dan disinilah Hazel sekarang, digedung lantai 3, studio siaran berita INDOnews. Berdiri didepan para crew yang sedang meliput Zaidan bersama rekannya, Dita. Saat ini Zaidan tengah bersiaran dengan rekannya yang sangat cantik, mereka memanggilnya Barbie Dita. Beberapa kali Zaidan tersenyum saat pria itu menoleh keara Hazel, tepatnya saat kamera off atau sedang break.

 “Oke, cut!” teriak sang sutradara.

Semua orang bertepuk tangan setelah semua kamera dimatikan dan siaran langsung berakhir. Saling bersalaman dan memberi ucapan selamat satu sama lain.

Hazel melambaikan tangannya sambil menggoyangkan pergelangan tangannya. Menunjukan satu cup Double Espresso kearah Zaidan. Namun, perlahan Hazel menurunkan kembali tangannya saat melihat Dita berjinjit dan membisikan sesuatu ke telinga Zaidan. Jantungnya bergemuruh, dia merasakan getaran yang biasa disebut cemburu. Lihat saja, Dita makin berani melingkarkan tangannya dilengan Zaidan. Bahkan sesekali kedua sejoli itu tertawa, Dita bahkan berani memukul manja dada Zaidan. Beberapa kamera mengambil foto mereka secara bersamaan dari sudut yang berbeda. Beberapa orang berlarian untuk membawa sepasang pembaca berita itu ke ruang makeup.

 “Hai, Hazel!” sapa Kim Samuell dengan seragam biru dongkernya. “Gue fikir lo gak masuk hari ini. Setelah pagi tadi lo absen dari jadwal briefing, yang akhirnya posisi lo diganti oleh Dita.”

Hazel mengembuskan nafasnya. “Ya, sesuatu yang mendesak telah terjadi.”

“Dan sesuatu yang besar akan terjadi.” Ledek Samuell dengan cengiran jahilnya.

Hazel tersenyum kecut. “Mau tidak mau harus terima semburan kepala divisi dan antek-anteknya. Oh, ya ...” Hazel melirik papan nama pria didepannya, takut salah menyebut nama pria asing didepannya. Walau sebenarnya dia sudah melihat sedikit ilustrasi karakter Kim Samuell dibab awal novel. “Sam, lo habis dari tugas lapangan?”

Samuell mengangguk dan menunjukan camera video ditangannya. “Ya. Menghadiri konferensi pers kasus penyeludupan narkoba.”

Sepertinya dia baru saja sampai dari tugas lapangan. Terbukti dengan kondisinya yang sedikit berantakan. Kulit yang kian menggelap mengingat warna kulit aslinya yang dulu berwarna putih, karena Kim memang kelahiran negeri ginseng, Korea. Dua kancing atas bajunya terbuka, keringat sedikit membasahi bagian ketiak dan punggungnya. Dan jangan lupakan dengan kamera video ditangan kanannya.

“Oh, gitu. Emm—” Hazel menggaruk tengkuknya bingung. “Gue balik ke ruangan dulu. Daah ….”

Wanita itu berjalan cepat melewati bilik-bilik yang membatasi setiap meja kerja karyawan. Hazel juga masih setia menekuk wajahnya kesal. Hari ini adalah hari paling kacau dari hari-hari biasanya. Didunia nyata, Hazel bekerja sebagai staf distatiun berita Golden Time. Impian terbesarnya memang menjadi presenter berita utama disebuah stasiun berita besar seperti Golden Time atau INDOnews. Dan ketika dia diberikan kesempatan untuk membawakan berita meskipun itu didunia yang berbeda, Hazel malah merusak kesempatan itu dengan pergi ke dunia nyata.

PLUK!

Latte Macchiato itu tumpah dan jatuh beberapa inci dari kaki Hazel. Tangannya refleks melepaskan genggaman gelas saat melihat sesuatu yang cukup mengejutkan. Dengan keadaan lutut yang masih bergetar, Hazel memberanikan diri melangkah kearah pojok, dimana meja kerjanya berada. Meninggalkan tumpahan kopi dilantai begitu saja.

“Ta-tanganku.” Tangan Hazel bergetar hebat. Sebagian tangan dari ujung jari sampai  pergelangan tangannya tak terlihat atau menghilang. Itulah kenapa dua cup kopi itu terjatuh begitu saja. “A-apa yang terjadi denganku?”

 “Hazel!” panggil Zaidan tak jauh dari tempat Hazel berada.

Hazel terkejut dan langsung menyembunyikan tangannya kebelakang tubuhnya. Dia menoleh kemudian tersenyum simpul. “I-iya.”

“Kamu terlihat aneh akhir-akhir ini. Kamu pergi tanpa izin sebanyak dua kali. Bukan bermaksud mengekang. Aku hanya khawatir karena kepergianmu pagi tadi. Kenapa kamu pergi? Kenapa tak bilang atau tak meminta aku untuk mengantarku?”

Hazel mengembuskan nafasnya lega setelah melihat kondisi tangannya kembali normal dan terlihat utuh seperti sedia kala. Tubuhnya membungkuk setelah mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan tumpahan kopi dilantai. “Aku ada urusan mendesak. Maaf.”

“Hei, jangan berlutut didepanku!”  Zaidan ikut membungkuk dan berlutut saat melihat Hazel hendak berlutut untuk membersihkan tumpahan kopi didekatnya. Tangan besar itu sigap menyentuh sepasang bahu sempit Hazel dan membantunya kembali berdiri tegak menghadapnya seperti semula.

“T-tapi—”

“Biar aku saja,” sergah Zaidan.

Pria jangkung itu merebut lembaran tisu ditangan Hazel. Berjongkok dengan sedikit mengangkat tumitnya. Tubuh tinggi dan kaki yang panjang membuat dirinya agak kesulitan untuk berjongkok. Pria itu terlihat begitu telaten dalam mengerjakan banyak hal. Dia sama sekali tak pernah memandang sesuatu dalam satu sisi. Pria cuek seperti dirinya seringkali bertingkah super protektif dibeberapa kesempatan. Dan kini ia dengan begitu tulus membersihkan sisa percikan air kopi disepatu Hazel. “Berjanjilah untuk tidak mengulangnya lagi. Sungguh aku bisa gila karenamu.”

Hazel tertegun memandangi Zaidan yang tengah sibuk mengelap high heels miliknya. Secara tidak sengaja dia sudah menyakiti Zaidan dengan berpura-pura menjadi kekasihnya. Dia memang menyukai Zaidan, tapi rasa suka tidak bisa disamakan dengan rasa cinta. Jika perasaan Zaidan sudah sedalam itu untuk Hazel, tapi Hazel belum. “Aku tidak yakin.”

“Kenapa?” tanya Zaidan. Menengadahkan kepalanya menatap sang wanita dari bawah.

 “Aku tidak bisa menjanjikan hal yang tidak bisa aku penuhi.”

Zaidan bangkit dan melempar gumpalan tisu kedalam tong sampah. Menarik salah satu kursi dan mendekatkan dirinya pada Hazel. Menarik simpul dasi dileher dan membuang nafasnya berat. “Aku takut kehilanganmu.”

“Aku ada disini sekarang. I’m so fine.” Hazel masih bersikeras memainkan peran Hazel Star didalam novel fiski misterius ‘The Eternal Love’.

Zaidan membungkuk, melingkarkan kedua lengannya disekeliling leher Hazel dari belakang. Memeluk bahu kecil wanita itu erat dan meletakkan rahang tegasnya dipuncak kepala Hazel. Dia tersenyum saat mencium aroma sampo dirambut kekasihnya. “Beberapa hari lalu ayahmu menelfonku, beliau meminta bantuanku untuk mencarikanmu apartmen.”

“Ayah Adipati?” tanya Hazel dengan mata berbinar.

Zaidan terdiam sejenak. Memandang wajah bahagia sang kekasih setelah melontarkan nama Adipati. Bebeda dengan Hazel, Zaidan tidak memasang wajah sebahagia Hazel setelah mendengar nama ayah angkat dari kekasihnya tersebut. Walaupun begitu, dia hanya bisa mengangguk pelan dan kembali berbicara. “Grand Residence Jakarta, lantai 12 no. 103. Natasha dan Samuell siap membantumu pindahan malam ini,” kata Zaidan. Melepas tuxedo hitamnya dan meletakkannya dipunggung Hazel.

Hazel memutar kursinya menghadap Zaidan. “Itu kan apartmen mahal. Aku rasa uang ayah tidak cukup untuk membelikanku apartmen semewah itu.”

“Akan aku ceritakan nanti. Jika sudah sampai di apartmenmu, jangan lupa kabari aku,” ujar Zaidan. Mengecup puncak kepala Hazel singkat kemudian pergi meninggalkannya begitu saja. “Oh ya. Aku sudah membelikanmu ponsel baru. Dan aku sudah men-setting semuanya termasuk panggilan darurat. Tekan no.1 karena itu akan tersambung dengan telefonku. Jangan biarkan ponselmu mati sebelum mengabariku, pasang GPS, karena aku akan melacakmu nantinya. Jangan merusaknya lagi, dengan begitu aku takkan kehilanganmu,” ujar Zaidan saat tubuhnya diseret paksa oleh Samuell.

Hazel tersenyum geli sambil memandangi ponsel pemberian Zaidan. Bagaimana tidak, pria itu memasang foto dirinya sendiri sebagai wallpaper ponsel Hazel. Dan Zaidan juga menamai kontak nomornya dengan nama 'Pria Tampan'. Dia tahu, Zaidan sangat mengkhawatirkannya sejak kejadian malam itu. Ditambah lagi mereka kehilangan jejak sang penguntit.

 “Sampai kapan aku harus memerankan karakter utama novel itu?”

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Khadijah
2018-10-09 14:46:27

Wah, bagus nih. Serasa baca novel thiller Amerika. Kalo difilmkan ini keren, baru setengah jalan padahal, gak sabar kelanjutan ceritanya.
Mention


Dewi_One
2018-10-08 09:09:18

Nice... Wahh daebakkk
Mention


Dewi_One
2018-08-19 19:16:47

Gak sabar nunggu kelanjutannya. hihi
Mention


Nick_Judi87
2018-08-19 19:10:54

Plot twist nih, keren. Semangat nulisnya. Ditunggu kelanjutan ceritanya. Good Luck.
Mention


dede_pratiwi
2018-08-12 21:25:06

nice prolog, cant wait next episode
Mention


Page 1 of 1 (5 Comments)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

467 377 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

845 534 9
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 877 15
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

711 525 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

687 509 8