BAB 14

BERSAMAMU LAGI

            Menyebrangi sungai yang dipenuhi buaya, selang beberapa puluh menit mendayung perahu akhirnya kami sampai di sebuah daratan. Daratan tersebut dipenuhi semak belukar yang tingginya mencapai 60 cm. Semak belukar ini kurasa paling tinggi dibanding semak belukar lain. Hartowardojo menuntun langkahku, dengan hati-hati aku mencoba mengikuti langkahnya.

“Perjalanan ke tempat persembunyian masih cukup jauh. Kita akan benar-benar masuk ke tempat yang dalam dan sangat pelosok di Borneo. Sehingga tentara Jepang tidak akan menemukan kita.” Ujar Hartowardojo. Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju.

Benar saja apa yang dikatakannya, sungai berisi buaya itu belum seberapa dibanding kami harus berjalan kaki menyelusuri hutan lebat. Melewati beberapa sungai kecil, air terjun, dan melewati dataran menjulang seperti perbukitan kecil. Cukup lelah memang namun karena Hartowardojo dan rekannya sudah mempersiapkan dengan matang perbekalan seperti makanan dan air minum maka semua terasa aman dan baik-baik saja.

“Ini adalah sarang para singa hutan. Aku sudah memprediksi jadwal mereka. Mereka sedang turun ke bawah mencari makan beberapa hari sekali dalam seminggu. Tempat tinggal kita akan aman sekali karena dilindungi buaya di sungai dan dilindungi sarang singa.” Ujarnya menjelaskan padaku. Kuamati di sekelilingku ternyata sarang singa. Bulu kudukku merinding. Memang tidak ada singa berkeliaran di hadapanku saat ini atau jangan-jangan singa itu sedang bersembunyi dan hendak menerkam kami?

“Menyeramkan!! Se...sekarang kita sedang melewari sarang mereka?” tanyaku ketakuatan.

“Hahahaha. Benar, tapi saat ini sarangnya sedang kosong, singa-singa itu sekarang sedang berburu rusa di sebelah timur sana.” Ujar Hartowardojo sambil menunjuk ke arah timur. Aku menghela nafas lega, ternyata Hartowardojo selama ini bersembunyi di tempat yang sangat pelosok di hutan Borneo, pantas saja dia tidak pernah menulis sepucuk surat pun kepada keluarganya karena dirinya pun memang memisahkan diri dari tentara Jepang.

“Apa kau menyesal pergi ke Borneo diperdaya tentara Jepang, Hartowardojo?” tanyaku padanya di tengah perjalanan kami.

“Hmmm... kurasa ini konsekuensi dari setiap pilihan yang kuambil.” Jawabnya tegas.

“Ya, aku juga berpikir demikian. Aku tidak pernah menyangka akan dijadikan gundik oleh mereka. Mengerikan sekali.” Ujarku.

“Sekarang Jepang sudah terang-terangan menjajah bangsa kita, mereka tidak lagi memakai cara persuasif yang halus. Tinggal tunggu saja pemuda-pemuda akan bergerak dan memberontak.” Tukasnya dengan menggelora.

“Itu artinya perang?” tanyaku.

“Tentu saja. Tapi kita tidak gegabah, ada jaringan rahasia yang dibangun pergerakan pemuda bangsa kita, ini akan banyak membantu.” Jelasnya.

Hartowardojo membawaku ke sebuah desa kecil di tengah hutan Borneo. Terdiri dari beberapa rumah yang terbuat dari bilik-bilik bambu diterangi lampu teplok. Aku diajaknya masuk ke salah satu rumah di desa tersebut. Rumahnya sederhana dengan tiga kamar utama dan satu dapur serta kamar mandi di belakangnya. Ternyata rumah itu adalah rumah milik Syahrul dan keluarganya. Syahrul memiliki seorang istri dan anak perempuan berusia 7 tahun. Baru kutahu orang tua Syahrul meninggal dibunuh tentara Jepang sehingga dia dan anak istrinya memilih untuk tinggal di desa kecil ini. Lidya istri Syahrul menyambutku dengan hangat. Lidya berusia sekitar 8 tahun lebih tua dariku, parasnya cantik dan terlihat sangat dewasa dan anggun. Dia memelukku erat saat pertama kali kami berjumpa.

“Oh jadi ini kekasih Hartowardojo, sangat cantik. Pantas, dia tidak pernah mau dijodohkan dengan gadis di sini.” Ujarnya sambil tertawa cekikikan. Aku melotot ke arah Hartowardojo. Dia hanya memalingkan wajahnya.

“Ningsih, kau bisa tidur di kamar putriku. Selama ini Hartowardojo bersama Bejo tinggal di rumahku. Jangan sungkan, anggap saja rumahmu sendiri.” ujar Syahrul sambil mempersilakan aku masuk ke sebuah ruangan di dalamnya terdapat anaknya, Lidya menuntunku dengan sangat antusias ke kamar anaknya, Aisyah yang sudah tertidur pulas.

“Kau bisa tidur di sini. Jangan sungkan.” Ujar Lidya. Aku tersenyum lembut. Ternyata di tengah penjajahan ini membuat bangsa kami bersatu dan bahu membahu, sungguh luar biasa perasaan semacam ini. Orang yang tidak kukenal sebelumnya yaitu Bang Bejo, Bang Wisnu, Bang Syahrul rela menolongku kabur dari tentara Jepang, mendayung perahu susah payah, membantuku melarikan diri dan kini Bang Syahrul dan Istrinya, lidya memberikan aku tempat tinggal. Aku sangat terharu dan meneteskan air mata.

“Terima kasih, Bang Syahrul, Mba Lidya, Bang Bejo, Bang Wisnu. Terima kasih banyak atas kebaikan kalian.” Aku tidak tahu lagi bagaimana nasibku tanpa bantuan mereka.

“Sama-sama.” Lidya memelukku erat. Aku merasa aman dan nyaman dalam pelukannya. Setelah mandi, salin menggunakan baju yang dipinjami Lidya, aku pun tertidur pulas di kamar bersama Aisyah. Lelah sekali rasanya hari ini.

***

Pagi hari di desa kecil Borneo, aku tidak pernah menyangka akan berada di desa ini sebelumnya. Desa yang jauh dari keramaian pusat kota, desa yang untuk mencapainya harus mengarungi sungai besar yang dihuni buaya dan sarang singa. Kurasa tentara Jepang tidak akan pernah menyangka ada desa kecil di pelosok hutan Borneo karena letaknya yang sangat pelosok. Bisa dibilang desa ini cukup strategis untuk bersembunyi dari tentara Jepang.

Kuperhatikan sekelilingku pagi menjelang, bapak-bapak sibuk mengangkut kayu bakar dan beberapa bahan makanan lain yang didapat dari hutan. Mata uang tidak begitu berlaku di sini, warga desa menggunakan sistem barter untuk memenuhi kebutuhan. Sesekali ikan salmon yang ditangkap dari sungai ditukar dengan buah-buahan, atau kayu bakar sesuai dengan apa yang warga desa butuhkan, hal itu disebabkan populasi desa ini yang kecil sehingga konsumsi barang pun dalam skala kecil masih bisa dipenuhi dengan baik tanpa perlu mereka belanja ke pasar di pusat kota Borneo.

Beberapa warga ada yang memiliki kebun yang ditanami berbagai macam sayuran sehingga tidak kerepotan untuk bahan makanan, ada pula yang memiliki berbagai macam pohon mangga, apel, nangka dan banyak lagi di pekarangan rumahnya. Desa ini kecil namun sudah bisa memasok bahan makanan sendiri bagi masing-masing warganya. Untuk makanan pokok, tentu saja umbi-umbian menjadi santapan utama. Padahal aku selalu mengantongi uang yang kubawa dari Djakarta namun agaknya uang ini tidak begitu berarti di sini. Ah, mungkin tidak sekarang tapi aku yakin tidak ada ruginya membawa uang kemana pun aku pergi.

Hartowardojo menghampiriku yang duduk sambil memperhatikan sekeliling.

“Di sinilah selama berbulan-bulan aku tinggal dan bersembunyi.” Ujar Hartowardojo padaku. Aku memalingkan wajahku ke arahnya. Dia tersenyum sambil membelai rambutku.

“Aku hidup dengan baik di sini meskipun begitu aku khawatir dengan bapak dan ibuku, dengan Warsonoe, dan terutama denganmu. Kuharap keluarga kita di Djakarta baik-baik saja.” Tukasnya. Matanya memandang ke arah langit biru.

“Kuharap juga begitu.” Jawabku pendek.

“Warsonoe, anak itu apa dia menjagamu dengan baik saat aku tidak ada di sana?” tanyanya kemudian.

“Ya, dia menjagaku sangat baik.” Jawabku.

“Kau tidak jatuh cinta kan, pada adikku? Ketika kepergianku saat itu aku bahkan tidak tahu bisa bertemu denganmu lagi atau tidak, aku bahkan berniat menjodohkan adikku denganmu.” ujarnya dengan wajah serius.

“Hahaha... kau cemburu? Dengan adikmu sendiri pula.” aku terkekeh. Seorang Hartowardojo bahkan bisa merasa cemburu juga.

“Aku serius, bagaimana dengan ibu dan bapakku?” tanyanya lagi. Hartowardojo tidak bisa menyembunyikan rasa keingintahuannya akan kabar keluarganya dariku.

“Mereka dalam kondisi baik ketika aku pergi, bahkan ibumu sudah setuju aku menikahimu.” Jawabku.

“Benarkah? Pasti banyak sesuatu terjadi ketika aku tidak berada di sana.” Dia sedikit lega, senyum mengembang di wajahnya.

“Tentu saja.” Tukasku.

“Sejujurnya aku sempat berpikir, aku tidak akan menikahimu.” Ujarnya. Keningku berkenyit ketika mendengarnya berbicara seperti itu.

“Kurasa kau memang tidak berniat menikahiku makanya kau pergi ke Borneo.” Aku mendengus kesal. Jauh-jauh aku pergi ke Borneo hampir dijadikan gundik untuk bertemu Hartowardojo, dia malah berkata begitu padaku. Tega sekali.

“Bukan begitu. Aku ingin seperti Bung Hatta. Dia juga berkata pada kekasihnya tidak akan menikahinya sebelum bangsa ini merdeka.” Jelasnya. Aku memandang manik matanya lekat. Tidak ada kebohongan, matanya jernih memancarkan kejujuran.

“Tapi kau bukan Bung Hatta.” Aku membuatnya bangun dari mimpinya.

“Aku memang bukan beliau, aku hanya seorang pemuda biasa. Ningsih, maukah kau menikahiku saat bangsa ini merdeka?” Hartowardojo menyeretku lagi dalam mimpi indah. Tak perlu waktu lama untukku menjawab.

“Tentu!!” jawabku mantap. Kulihat senyum merekah dari bibirnya.

***

Dapat kau memberitahukan daku.

Di mana gerang tempat bagia,

Di mana damai tidak terganggu,

Di mana jiwa bersuka ria?

Hartowardojo seolah bertanya padaku dengan membacakan sebuah syair. Ah, dia masih tetap Hartowardojo yang sama, dia tidak sedikit pun berubah, masih menyukai sastra. Beberapa bulan di Borneo tidaklah membuatnya lupa akan sastra.

“Aku tahu, syair itu berjudul Gadis lembah karya Sanusi Pane.” Ujarku sambil tersenyum.

“Aku tidak sedang membacakan syair belaka, aku benar-benar bertanya padamu.” Tukas Hartowardojo dengan nada serius. Aku bahkan lupa bahwa Hartowardojo selalu berbicara dengan nada serius.

“Inilah yang kurindukan darimu. Syair-syair semanis madu.” Aku mengembangkan senyumku merasa hari-hari berat tanpanya sudah usai.

“Tapi setidaknya madu itu manis dan tidak memabukkan.” Elaknya diikuti gelak tawanya yang renyah.

“Ya, tapi madu melenakan.” Tukasku lagi sambil ikut terkekeh. Aku senang bukan kepalang kini bisa bercanda tawa dengan Hartowardojo lagi.

“Damai tidak terganggu, jiwa bersuka ria adalah kehadiran dirimu, Ningsih. Padahal bisa saja kau memilih menikahi Sutedjo yang kaya raya itu, namun kau justru ke Borneo untuk bertemu denganku. Bagaimana bisa aku melepaskan tanganmu?” Ujarnya lirih. Dia menatap kedua manik mataku lekat seraya menggenggam tanganku hangat. Wajahku bersemu merah.

***

Detik demi detik berlalu, hari demi hari berganti, dan tahun 1942 pun berganti menjadi tahun 1943, aku hidup dengan cukup baik di desa terpencil di Borneo. Aku yang sudah mengenyam pendidikan dari Taman Siswa akhirnya mengajari penduduk desa ini baca dan menulis. Setiap hari semenjak kedatanganku di Borneo dengan sukarela aku mengadakan pembelajaran kecil-kecilan di halaman rumah Syahrul yang diikuti oleh anak-anak bahkan orang dewasa penduduk desa. Mereka terlihat sangat antusias. Mereka memanggilku bu  Bu Guru. Dalam jangka waktu satu tahun banyak dari mereka kini sudah bisa baca dan tulis karena aku menganjurkan mereka untuk banyak latihan di rumah masing-masing. Aku memang tidak pernah meminta bayaran namun mereka selalu memberiku hasil kebun mereka, bisa berupa buah-buahan, sayur mayur, dan kayu bakar. Hal ini tentu mengejutkan bagiku. Aku tidak pernah merasa kelaparan karena kiriman makanan selalu saja datang dari penduduk desa.

“Bu guru! Ibu istri Hartowardojo ya?” tanya salah seorang anak desa yang sedang kuajari. Mereka tertawa cekikikan.

“Doakan saja ya.” Jawabku malu-malu. Kulihat Hartowardojo sedang memperhatikanku dari dalam rumah. Dia tersenyum melihat tingkahku yang malu-malu.

“Kalau dia tidak mau, biar aku saja yang menikahi Bu guru!” celetuk seorang anak lagi. Mereka semua tertawa terbahak-bahak. Aku hanya membalas celetukannya dengan senyum.

Kini aku menyadari benar, apa yang kuinginkan. Mengajar. Aku jatuh cinta dengan pekerjaan ini, mengajar anak-anak, mendidik mereka, menceritakan kisah-kisah hebat, menceritakan perjuangan, kasih sayang, nilai moral dan agama, rasanya ada banyak yang ingin kusampaikan pada mereka. Bahwa, dunia ini sangat luas dan lebar untuk diarungi dalam nama ilmu pengetahuan.

Kurasa setelah bertahun-tahun aku hidup akhirnya aku menemukan passion-ku, keinginanku. Aku ingin tetap mengajar, melihat anak-anak dapat memahami apa yang kuajarkan, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Sebuah perasaan yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya. Aku menyukai perasaan bahagia ketika melihat anak-anak yang kuajari kini bisa membaca huruf dengan baik, bisa menghapa perkalian, bisa menghapal nama-nama negara, bisa berbahasa dengan baik. Aku sungguh menyukai perasaan bahagia yang ditimbulkan dari mengajar.

Ya, aku tahu dalam mengajar juga tidak semulus yang banyak orang bayangkan, banyak sekali rintangan di dalamnya, seperti psikologi setiap anak yang berbeda dan kita harus bisa mengerti akan hal itu, ditambah kemampuan menyerap pelajaran setiap orang berbeda tidak bisa disamakan. Itulah tantangan yang kualami saat mengajar di sini. Buku-buku tidak perlu dipertanyakan karena Hartowardojo penyuplai buku terbaik yang pernah ada.

Aku pun juga mengajari mereka sastra dan pentingnya sastra dalam sebuah kehidupan. Bagaimana sastra sebagai pendamping kehidupan, representasi, refleksi kehidupan manusia. Sastra dan peradaban tidak akan bisa dilepaskan. Sastra sebagai bukti autentik sejarah dan peradaban manusia, maka aku selalu menyampaikan sastra kepada mereka. Dengan cara membacakan puisi-puisi perjuangan, roman-roman kehidupan. Begitulah aku melewati hatiku dengan baik di desa terpencil di Borneo.

Hingga Juli 1943 pemuda Kalimantan Selatan hendak melakukan pemberontakan pada tentara Jepang. Hartowardojo beserta rekan-rekannya melalui jaringan rahasia antara pemuda turut mendukung berjalannya aksi pemberontakan ini. Mereka pergi meninggalkan desa dengan gagah berani, meskipun aku tahu kematian bukanlah sesuatu yang tidak mungkin dalam sebuah pemberontakan, namun ternyata Hartowardojo dan rekannya selamat, meskipun sekitar 1.000 orang pemuda pejuang Kalimantan Selatan lainnya ditangkap oleh tentara Jepang. Entah bagaimana nasib 1.000 orang pemuda yang ditangkap tentara Jepang tersebut, ataukah mereka semua dieksekusi mati atau dibiarkan hidup menjadi pekerja kasar.

“Situasi semakin sulit.” Begitu kata Hartowardojo sesampainya di desa kami. Untungnya mereka dapat pulang dengan selamat.

“Benar, mereka menangkap para pejuang Kalimantan Selatan. Beruntung kita bisa kabur dari tempat penangkapan. Tentara Jepang bisa dengan mudah menyelusup masuk ke rumah para pemuda yang dianggap melakukan pergerakan ditangkap semua.” Bejo menimpali ucapan Hartowardojo sambil mengunyah ubi rebus dengan sangat lahap, ia bercerita selama pemberontakan sulit sekali makan dengan baik karena memang tidak tersedianya bahan makanan yang cukup.

“Ini gila! Kita harus menunggu waktu yang tepat lagi untuk memberontak. Kudengar tentara Jepang melakukan romusha sejenis kerja paksa di beberapa desa di nusantara. Banyak yang mati kelaparan karena hal tersebut.” Wisnu terlihat begitu kesal. Aku bergidik ngeri, romusha? Kata asing yang baru aku dengar. Bagaimana ibu bapak dan adik-adikku di Djakarta? Apakah mereka bisa menghindar dari romusha tersebut? Pikiranku berkecamuk.

“Ba...bagaimana dengan keluargaku di Djakarta apakah mereka juga terkena romusha?” tanyaku dengan penuh kecemasan pada mereka.

“Kami tidak begitu yakin, namun seharusnya mereka bisa melarikan diri dan bersembunyi di desa lain.” Jawab Syahrul dengan gamblang.

“Ya, aku masih berkomunikasi dengan pemuda Djakarta, banyak dari mereka bersembunyi di desa pelosok di Jawa Barat atau Jawa Tengah bahkan tinggal di dalam tanah. Jangan khawatir.” Wisnu menimpali. Kecemasan tidak bisa lari dari dalam pikiranku. Dulu aku sangat khawatir dengan Hartowardojo sampai-sampai aku menyusulnya ke Borneo, kini aku di Borneo sudah berjumpa dengan Hartowardojo namun aku terus kepikiran dengan keluargaku di pulau Jawa, aku khawatir terjadi sesuatu terhadap keluargaku, terutama adik-adikku mereka perempuan dan masih kecil-kecil. Aku khawatir mereka diseret dijadikan jugun ianfu juga sama sepertiku.

Penjajahan adalah sebuah bentuk penindasan paling buruk yang pernah ada dalam sejarah. Memang Belanda menjajah berabad lamanya namun penjajahan Jepang terasa paling menyakitkan. Menjadikan wanita sebagai jugun ianfu, memaksa melakukan romusha, dan juga menjarah hasil bumi bangsa kami. Aku di desa terpencil ini memang baik-baik saja, tapi tidak dengan desa lain, mereka banyak yang mati kelaparan, gila karena dijadikan jugun ianfu dan banyak yang meninggal karena dijadikan pekerja kasar. Mungkin jika tentara Jepang berhasil menemukan desa ini, bisa saja nasibku dan seluruh warga desa akan berubah. Untungnya letak georgafis desa ini sungguhlah terpencil dan sulit dilalui membuat tentara Jepang tidak bisa mendeteksi keberadaan kami di sini.

***

1943-Chairil Anwar

Racun berada di reguk pertama

Membusuk rabu terasa di dada

Tenggelam darah dalam nanah

Malam kelam-membelam

Jalan kaku-lurus. Putus

Candu

Tumbang

Tanganku menadah patah

Luluh

Terbenam

Hilang

Lumpuh.

Lahir

Tegak

Berderak

Rubuh

Runtuh

Mengaum. Mengguruh

Menentang, menyerang

Kuning

Merah

Hitam

Kering

Tandas

Rata

Rata

Rata

Dunia

Kau

Aku

Terpaku.

1943.

            Aku membacakan sebuah syair dari Chairil Anwar berjudul 1943. Syair ini dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru nusantara. Aku mematikan Chairil Anwar dalam penafsiranku sendiri, aku menghilangkan penulis dan menjadikan puisi sebagai objek utama untuk dibedah hari ini di depan anak-anak desa yang kuajari.

“Tentara Jepang membohongi kita semua, mereka mengaku menjadi teman padahal mereka adalah lawan.” Ujarku kepada anak-anak. Seluruh mata memandangku tanpa luput, begitu juga Hartowardojo, dia dari kejauhan memandangku dengan senyuman, lembut. Aku bisa berdiri di depan anak-anak, mengajari mereka akan sastra. Itu karenamu. Dari Hartowardojo aku menjadi menyukai sastra, dari kesukaanku pada sastra, aku menurunkannya pada anak-anak yang kuajari. Tak lama, seluruh desa menjadi pengagum sastra. Bukankah itu cukup baik? Kehidupan tanpa sastra bukankah tidak menyenangkan? Bahkan, ketika fakta diembargo sastra dapat mengupasnya tanpa terkecuali, sastra juga dapat menggelorakan kemerdekaan. Bukan begitu?

***

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

rara_el_hasan
2019-01-03 12:51:31

mapkhan saya bunda yg baru baca.. padahal cucok meong bgt
Mention


SEKARMEMEY
2018-12-26 06:57:55

Thank udah like karya saya . Cerita.nya bagus dan pantas jadi pemenang , sukses untuk karya2 selanjutnya ya kak
Mention


dinda136
2018-12-23 08:23:03

Bagus banget kak,, dari awal baca udah tertarik, keren nih
Mention


anna_777
2018-12-23 00:55:31

Karya tulis dengan latar belakang masa lalu, selalu membuat saya impress. Thank you udah like karya saya juga, tersanjung di like oleh pemenang tinlit. Good luck for your next story
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:27:03

@Khanza_Inqilaby terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:25:24

@[dear.vira] terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:24:28

@AlifAliss terima kasih banyak sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:54

@tikafrdyt wah, terima kasih banyakkk :) terima kasih juga sudah mau mampir
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:23

@Tania terima kasih sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:01

@Citranicha terima kasih kak sudah mampir... :)
Mention


Page 1 of 5 (44 Comments)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

338 281 5
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

898 639 12
Anne

Anne's Tansy

By murphy

567 341 7
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

186 149 2
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

547 408 6
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

582 447 7