BAB 13

TERJEBAK

Aku berlari dan berlari dalam balutan yukata tidaklah mudah, namun setidaknya aku harus berjuang untuk mencari jalan keluar. Sampai akhirnya aku menemui jalan buntu dengan segerombolan tentara Jepang di lorong tersebut, sekitar empat orang jumlahnya saat itu mereka sedang mengobrol. Tidak ada cahaya lampu teplok di situ, jadi cukup gelap. Mereka melihatku seperti habis berlari merasa curiga.

Anata wa koko de nani-o shite imasuka?[1] salah seorang dari mereka berjalan mendekatiku. Mereka sepertinya tidak bisa bahasa bangsaku. Mereka berbicara dengan bahasa Jepang.

“Uuumm... anoo.. anata ga kono basho kara dasshutsu shiyou to shite iru to wa iwanai?[2]” kemudian yang lainnya mencoba bertanya dengan nada menggoda. Bulu kudukku bergidik. Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka katakan, namun kurasa mereka menanyakan mengapa aku berlari-lari atau semacamnya. Melihatku seperti orang kebingungan, mereka justru tertawa terbahak-bahak. Mereka berempat saling memberi kode melalui mata mereka, aku tidak tahu apa maksudnya namun kurasa mereka merencanakan sesuatu yang buruk. Mereka mendekatiku dan mengunciku di pojok lorong dengan lengan salah satu dari mereka. Aku ketakutan setengah mati. Kini mereka berempat melingkariku. Salah satu dari mereka mendekatiku, aku mengelak hebat dan mencoba mendorong tubuhnya. Ia terjatuh. Pria itu kaget aku berani melawannya, didorongnya tubuhku hingga terjelembab.

“Aaaaaa!!” aku meringis kesakitan, badanku masih sakit akibat dicambuk habis-habisan dan kini didorong jatuh hingga terjelembab begitu keras.

SORE TO OMERU!![3] tiba-tiba sesosok pria muncul. Seketika semuanya diam dan berdiri tegak memberi hormat padanya. Aku masih menangis. Bisa kurasakan pria itu mendekatiku dan mamakaikan aku sebuah jaket tebal demi menyembunyikan yukataku yang sudah tersibak.

“Kanojo wa watashi no on nanoko desu. Watashi no on nanoko ni wa furenaide kudasa!![4]bentaknya diikuti kepergian keempat bajingan itu. Aku tidak mengerti yang dikatakannya, namun kurasa ia itu memarahi mereka. Aku masih menangis dengan badan gemetar hebat.

“Mereka sudah pergi, jangan takut lagi.” Pria itu menenangkanku. Suara yang tidak asing. Aku membuka mataku yang sembab dengan perlahan,

“Ryujin?” tangisku pecah. Aku tidak percaya dia menolongku, bukankah Ryujin salah satu bagian dari mereka juga? Belum hilang rasa heranku, Ryujin segera memelukku erat. Aku kesakitan. Pelukannya terlalu kencang, sedangkan punggungku masih sakit akibat dicambuk.

“Tenanglah. Kau aman sekarang.”

Hari ini terbuka semua tanpa celah, baru kutahu semua pekerjaan seperti menyajikan teh, alat musik, sandiwara adalah sebuah kebohongan terbesar. Semua itu adalah kedok Jepang untuk menarik hati pemudi pribumi agar dengan sukarela bergabung dalam hegemoni mereka yang sesungguhnya adalah dijadikan comfrot zone alias pemuas nafsu, budak seks, atau gundik-gundik mereka.

            Jepang berpura-pura menjadi saudara sesama negara Asia pada bangsaku, padahal mereka memiliki niatan menjajah di dalamnya. Mereka bisa saja menculik gadis-gadis secara masal dan menjadikan mereka budak seks terang-terangan, namun mereka cukup cerdik. Mereka menggunakan taktik yang lembut, bahkan sampai aku saja terperangkap di dalamnya. Mereka merekrut gadis-gadis dengan cara persuasif, melalui kebijakan pemerintah, membuka lapangan kerja di Borneo, menawarkan pendidikan gratis yang ternyata semua itu bohong. Lantas, apakah aku harus disalahkan karena masuk ke dalam perangkap mereka? Ini bukan salahku juga. Aku adalah korban dan subjek di sini.

            Gadis-gadis yang sudah terlanjur pergi ke Borneo atau tempat lain di bumi nusantara karena bujuk rayu pekerjaan dengan upah besar dari Jepang, jelas tidak memiliki banyak pilihan, selain bertahan hidup dengan menjadi gadis penghibur atau bunuh diri. Aku belum memutuskan akan memilih yang mana dari keduanya. Aku jadi teringat ucapan Zus Sulastri, kalimatnya terus terngiang di kepalaku, ‘jika kau tidak dapat melawan, maka bergabung lebih baik.’ Dasar Zus Sulastri wanita jalang, kukira dia hanya menyerahkanku pada penjajah untuk disiksa atau dijadikan pekerja kasar, ternyata Zus Sulastri lebih kejam. Dia menjebakku dan rekanku yang lain sebagai gundik pelacur Jepang.

Dan Ryujin, mengapa dia menolongku saat ini?  Bukankah dia sama seperti penjajah yang lain? Dia berengsek, keparat dan bajingan sejati. Mengapa dia menolongku sekarang? Apakah dia akan menjadikanku gundiknya juga? Ah, kepalaku terlalu pening harus memikirkannya. Tubuhku lemas. Aku tidak sadarkan diri di pelukan Ryujin.

            ***

            “Sudah sadar?” tanya Ryujin saat aku membuka mataku dari pingsan. Aku teringat semalam kejadian buruk semalam dan Ryujin yang menolongku. Mataku menyadari aku berada di ruangan yang cukup asing dengan perabotan yang cukup banyak di dalamnya. Seperti dipan, lemari kayu, dan meja kerja dan sebuah guci keramik antik.

            “Di mana ini?” tanyaku lemah.

            “Kamarku. Tadi kau pingsan sebentar.” Jawabnya. Aku terbelalak. Celaka, keluar kandang macan, masuk ke kandang singa. Tidak ada baiknya bagiku.

            “HAAAAHH?!! Jangan macam-macam!” aku ketakutan dan gemetaran hebat, teringat kejadian malam tadi terulang lagi, air mataku kembali tumpah. Aku sangat panik dan sangat ketakutan berada di ruangan Ryujin. Ryujin berusaha mendekatiku yang terlihat histeris.

 “AAAAAAAAAAAAA!!!!!” aku berteriak sekeras-kerasnya. Pikiranku kalang kabut. Mengapa Ryujin membawaku ke dalam ruangannya. Aku sangat takut. Ketika Ryujin menghampiriku, aku memukul, meronta dan menonjok badannya dengan tenaga yang kumiliki sekeras mungkin. Teriakanku yang keras dari ruangan Ryujin membuat segerombolan tentara Jepang berhamburan masuk menyeruak ke dalam ruangan Ryujin. Aku tidak peduli lagi jika mereka hendak membunuhku, bunuhlah aku saat ini juga. Untuk apa aku hidup dalam tempat seperti ini menjadi gundik-gundik mereka. Lebih baik aku mati saja.

“Tidak ada masalah. Gadis ini hanya kaget saja. Jangan ganggu kami, silakan kalian keluar.” Ujar Ryujin pada rekannya sambil menutupi mulutku dengan tangan kanannya, ia membisikanku sesuatu padaku. Dengan hitungan detik seluruh tentara tersebut mengikuti perintah komandannya, mereka pergi secepat mungkin.

“Kumohon, kalau kau bertindak lebih dari ini, kau bisa mati saat ini juga. Jangan gegabah.” Aku memberontak dalam pelukannya. Sekuat tenaga kugigit tangan kanannya yang membekap mulutku.

“Aaakh!!” dia teriak kesakitan. Kulihat aku berhasil menggigit tangannya hingga berdarah.

            “Kumohon, tenanglah... aku tidak seperti mereka. Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan melindungimu, aku janji. Kau ingat, bagaimana dulu kau menolongku yang sedang sekarat? Kau merawatku berhari-hari, memberikanku makanan, minuman, mengganti obatku, semua kau lakukan dengan baik. Bagaimana mungkin aku melupakan semua itu? Kau tahu, betapa mengerikan hari-hari sebelum kau datang dan menyelamatkanku? Aku berpikir bahwa setiap detik aku bisa saja mati, terlalu menyakitkan rasanya.” Ryujin mencoba menenangkanku. Aku mengatur nafasku yang hampir habis karena menangis dan berteriak kencang sekali.

Apa aku harus mempercayai ucapannya? Tentara Jepang menjadikan kami gundik-gundik di sini. Aku tidak mau menjadi gundik. Lebih baik aku mati saja saat ini juga. Aku melihat ada guci keramik berukuran 30 cm di dekat meja Ryujin dan aku segera beringsut mengambil guci itu dan memecahkannya sehingga jatuh berkeping-keping. Aku mengambil kepingan paling runcing dan paling besar. Aku meletakan bagian runcing itu di pergelangan tangan kiriku. Aku tidak peduli lagi pada dunia. Aku sungguh, tidak ingin menjadi gundik mereka. Aku lebih baik mati. Ryujin terbelalak melihatku memegang pecahan guci itu.

“Dengarkan aku baik-baik... sungguh. Jangan kau lakukan itu.” Ujarnya pelan-pelan dengan sangat was-was.

            “Lalu mengapa kau pergi begitu saja pada saat itu? Kau pula kan, yang memberitahu rekanmu bahwa aku ada di tempat itu?” keringatku mengalir deras. Aku sangat deg-degan. Apa mungkin mati dengan cara bunuh diri ini adalah nasibku? Bukankah Tuhan melarang hal ini? Aku sedikit cemas memikirkan bagaimana rupa neraka jahanam jika aku mati dengan cara bunuh diri nantinya, karena ujung pecahan guci keramik ini sangatlah tajam dan runcing sekali tebas urat nadiku jelas akan terputus. Tanganku gemetaran hebat.

            “Tidak, kau salah paham. Aku tidak pernah membocorkan keberadaanmu pada siapapun. Aku justru berharap kau pergi menjauh dan tidak tertangkap. Pada awalnya mereka menemukan tulang-belulang rekanku yang sudah dimakan kerumunan macan, kemudian mereka mencari yang masih hidup, ternyata akulah satu-satunya yang masih bertahan. Akhirnya mereka membawaku pulang dengan tandu. Kuharap mereka tidak menemukanmu di sana, tapi ternyata mereka menemukanmu juga.”

            “Haruskah aku percaya kebohonganmu? Sedangkan kalian membohongiku, mengatakan bahwa akan bekerja di Borneo ternyata kalian menjadikan kami gundik.” Tanganku semakin gemetaran. Aku bingung, apakah yang Ryujin katakan semua adalah kebenaran darinya ataukah hanya tipu muslihatnya saja?

“Kalau kau tidak percaya padaku. Silakan kau bunuh aku dengan pecahan guci keramik yang ada di tanganmu itu. Daripada kau membunuh dirimu, bukankah lebih baik kau membunuhku?” Ryujin menantangku. Gila, kau pikir aku takut membunuh seorang penjajah? Perlahan aku mendekati Ryujin sambil mengarahkan pecahan guci keramik tajam ke arahnya. Haruskah aku membunuhnya? Sebagai seorang tentara seharusnya dengan mudah dia bisa balik membunuhku saat ini juga jika dia mau melihat banyak pecahan guci keramik lainnya di lantai. Sebenarnya, apa yang dipikirkan pria ini?

            “Aku tidak  bisa banyak bicara mengenai hal ini karena ini adalah perintah langsung dari Kaisar Meiji, Imperial Rescript Armed Forced maksudnya kami menghormati perintah atasan sebagai perintah bersama tanpa harus menggunakan alasan moral dan tanpa mempertimbangkan apakah itu rasional atau tidak.” Ujarnya kemudian.

“Menjadikan gadis-gadis pribumi gundik adalah perintah kaisar kalian?” Aku terbelalak kaget, mereka mendewakan kaisar mereka. Apapun yang dikatakan kaisar adalah sesuatu yang mutlak meskipun tidak rasional ataupun tidak sesuai dengan norma. Ryujin hanya mengangguk.

“Lalu, mengapa saat kita bertemu, kau tidak menyuruhku kabur saja agar tidak tertangkap mereka?”

“Maaf, aku terlalu egois, saat itu aku benar-benar ketakutan bahwa kau akan meninggalkanku sendirian di sana. Saat itu aku sekarat, setiap detik seolah menuju kematianku. Aku tidak bisa menyuruhmu pergi. Namun, aku berjanji pada langit, pada bumi bahwa aku akan berusaha menjagamu. Kau sudah menyelamatkanku, maka sebagai gantinya aku akan mempertaruhkan apa saja untuk menyelamatkanmu.”

“Kalau begitu, saat ini juga bawa aku keluar dari tempat ini.”

“Itu mustahil, saat ini percuma kau keluar dari tempat ini. Kau tahu, saat ini hampir 70% tanah Borneo sudah dikuasai tentara Jepang. Kami membangun banyak markas di banyak titik di seluruh penjuru Borneo.”

“Jadi, artinya aku tidak bisa pergi kemana-mana?”

“Ya. Aku memberitahu pada tentara lain bahwa kau adalah milikku sehingga tidak ada yang berani menyentuhmu seujung jari pun. Kau akan aman jika berada di dekatku.”

“Tapi tetap saja kau juga seorang pria.”

“Maksudmu, semua pria itu serigala? Atau semua tentara Jepang itu jahat? Terlalu sempit pemikiranmu. Bagi pria, yang dipegang adalah kata-katanya. Jika pria tidak bisa memegang ucapannya, maka dia bukan seorang pria.” Ujar Ryujin sambil menjulurkan tangannya membelai rambutku dengan lembut, aku kaget dibuatnya. Mungkinkah Ryujin tulus padaku?

“BRUUUUKK!!!”

Dalam hitungan detik, Ryujin yang baru saja membelai rambutku, tiba-tiba tubuhnya ambruk seketika ke arahku, aku kaget bukan main. Aku segera mendorongnya keras. Ryujin terjatuh. Dia tidak bergerak sedikit pun. Dari mulutnya mengalir darah hitam. Kulihat di leher belakangnya tertancap jarum berukuran 10 cm. Dia diracun!

Aku menengok ke arah jendela, tiba-tiba dalam sekejap sesosok pria masuk dari jendela dengan berpakaian hitam. Aku sangat was-was, kuduga bahwa pria itu yang meracuni Ryujin dengan meniupkan jarum beracun dari mulutnya sejauh 2 meter ke arah leher Ryujin. Kebetulan memang jendela ruangan Ryujin cukup besar sehingga bisa disusupi orang, namun dengan pengawalan super ketat mungkinkah bisa menembus gedung utama markas ini. Kulihat wajah pria itu ditumbuhi kumis dan janggut lebat, dia berjalan cepat ke arahku. Pria itu segera mengenggam tanganku dan menarikku. Mata kami berpapasan, matanya setajam elang, aku terperangah sejenak dan menyadari pria itu adalah

“Hartowardojo?” mataku terbelalak. Seolah bola mataku hampir meloncat ke lantai. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.

“Iya benar ini aku, Hartowardojo. Sekarang kita harus keluar dari tempat ini. Ikuti aku dan jangan mengeluarkan sepatah katapun, kalau tidak kita bisa mati.” Ujar pria itu berbisik di telingaku. Seolah ditiup angin segar dari Himalaya, tubuhku tidak bergeming dalam seketika. Aku sedang menyinkronkan otak, hati dan pikiranku dalam waktu yang bersamaan. Apakah aku bermimpi saat ini di hadapanku ada Hartowardojo?

Suara bass-nya jelas menyadarkanku bahwa benar dia adalah Hartowardojo. Tapi bagaimana dia bisa menyelusup ke mari? Aku kehilangan kata-kataku karena Hartowardojo menarikku dan keluar melalui jendela yang tadi dia susupi. Kulihat di luar beberapa tentara Jepang penjaga sudah terkapar dengan jarum di lehernya. Aku bisa keluar dengan mudah dari markas tersebut tanpa membuat kegaduhan sama sekali. Kurasa Hartowardojo sudah hafal sekali markas ini sehingga dia bisa dengan mudah menemukan celah kecil yang dijebol dari tembok untuk melarikan diri dengan mudah,  bahkan aku sendiri tidak tahu adanya celah kecil untuk keluar secara rahasia di balik pohon besar yang ditutupi kayu-kayu bakar, yang mungkin dibuat sendiri oleh Hartowardojo. Pria cerdas ini selalu saja mengejutkanku. Hartowardojo masih menggenggam tanganku erat. Dia menarikku sambil berlari dan memerintahkanku agar tidak panik dan tidak mengeluarkan suara sama sekali.

Aku berlari dan berlari sampai jauh dari markas. Aku tidak berani mengeluarkan suara apapun karena nyawa menjadi taruhannya. Dalam pelarian tanpa suara aku melihatnya menggenggam tanganku, kami berlari bersama di antara hutan lebat Borneo. Menyelusuri semak-semak, jalan setapak, ranting-ranting pohon tidak ada yang mengenaiku karena dengan sigap Hartowardojo selalu memperhatikan langkahnya yang lebih dahulu berpijak dengan aman. Aku hampir tidak percaya dengan mataku sendiri bahwa Hartowardojo kini menggenggam tanganku erat. Semua seperti mimpi yang indah dan melenakan. Sedetik tadi aku hampir saja dijadikan gundik Jepang.

 Sekitar satu jam kami berlari tanpa suara, sekelompok orang menunggu kami saat kami sampai di sebuah sungai yang sangat besar dan terdapat perahu dayung. Sekitar 4 orang sudah menyambutku dan Hartowardojo di dalam perahu dayung tersebut. kulihat perahu dayung tersebut tidak begitu besar namun cukup untuk menampung 6-8 orang. Mereka terlihat sudah sangat akrab dengan Hartowardojo. Mereka menyambut kami dengan penuh rasa lega.

“Di sini sudah aman. Mereka semua teman-temanku. Sekarang kita akan melewati sungai ini untuk dapat masuk ke tempat persembunyian yang aman dari tentara Jepang.” Ujar Hartowardojo. Dua orang dari mereka bertugas untuk mendayung perahu yang kami naiki. Aku mengatur nafasku karena berlari cukup jauh.

Di kegelapan kami berenam mengarungi sungai Borneo yang dalam dan terdapat banyak buaya. Aku sedikit kaget melihat buaya berenang di samping-samping perahu dayung kami. Aku yang duduk di sebelah Hartowardojo bergidik ngeri. Aku menarik baju yang dipakainya. Hartowardojo hanya tersenyum melihat sikapku dan mengusap rambutku lembut.

“Tenang saja. Kami sudah memberi makanan untuk mereka sebelumnya. Jadi mereka sudah kenyang dan menjadi malas. Oh ya, aku Wahyu.” Ujar salah satu dari teman Hartowardojo sambil memperkenalkan dirinya. Karena gelap gulita aku tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas sosok Wahyu ini, namun kurasa dia dari Jawa juga sama seperti Hartowardojo.

“Ya, tadi kami memberi mereka beberapa ayam hutan dan bangkai rusa yang sudah dipotong-potong. Kenalkan Ningsih, ini rekanku di Borneo Wahyu, Syahrul, Prima dan Bejo.” Ujar Hartowardojo memperkenalkan aku pada keempat rekannya. Aku menjabatkan tangan kepada mereka satu persatu. Setelah selesai memperkenalkan diri dan sedikit berbasa-basi, giliran aku berbicara empat mata dengan Hartowardojo. Lelaki yang selama ini kucari bahkan dalam mimpi pun.

“Jadi benar kan, kau Hartowardojo yang memanggilku ketika di tengah hutan waktu itu? Aku mengejarmu sekuat tenaga, tapi kau menghilang!!” ujarku padanya dengan nada melemah, aku menahan rinai air mataku yang hampir saja terjatuh.

“Ya, siapa lagi di Borneo yang mengenalmu Ningsih? Sebenarnya ketika mengetahui dirimu di Borneo aku ingin menyelamatkanmu dari tentara Jepang dan membawamu berlari ke tempat yang aman, namun di tengah perjalanan kau kehilangan jejakku dan aku pun sama kehilangan jejakmu.” Ujar Hartowardojo ia terdiam beberapa detik seolah menyiapkan hati untuk berbicara suatu yang penting, kemudian dirinya melanjutkan lagi ucapannya.

“Ketika aku menemukanmu lagi, aku sangat heran mengapa kau di hutan kudapati menolong komandan Jepang itu, padahal sebelumnya aku dan rekan yang lain mati-matian berperang dengan mereka, aku sangat kaget ketika kau menolong tentara yang masih hidup itu. Jadi, sangat berbahaya bagiku untuk menemuimu saat itu. Aku menunggu waktu yang tepat untuk menolongmu ternyata kau keburu tertangkap mereka.” Hartowardojo menjelaskan padaku panjang lebar. Aku hanya tersenyum seolah rasa duka laraku sirna dalam seketika, mendengarnya berbicara padaku seola oase di tengah padang pasir kegersangan bernama kehidupan. Padahal nyaris saja aku dijadikan gundik Jepang. Aku masih bisa tersenyum hanya karena bisa berjumpa lagi dengan Ryujin. Air mataku meleleh di pipi.

“Jangan menangis. Sekarang, ceritakan mengapa kau bisa ada di sini? Aku kaget setengah mati ketika melihatmu sampai di Borneo. Aku dan rekan-rekanku selalu memperhatikan gerak-gerik Jepang, jadi aku bisa tahu kau berada di Borneo karena dibawa tentara Jepang.” Ujar Hartowardojo sambil memelukku. Pelukannya yang hangat akhirnya aku bisa merasakannya lagi, aku pikir aku tidak akan pernah merasakan kehangatan ini lagi. Dia masih sama dengan Hartowardojo yang kukenal dulu, hanya saja kulitnya menjadi lebih hitam, rambutnya menjadi panjang sebahu dan dia memiliki bewok yang cukup panjang. Selebihnya, dia tetap Hartowardojo kekasihku.

Perlahan aku menceritakan kepadanya bahwa aku dijodohkan dengan orang lain dan bagaimana akhirnya aku bisa ke Borneo. Hartowardojo cukup terkejut mendengarku hendak dijodohkan dengan lelaki lain. Namun ia cukup mahfum karena dirinya pun tidak bisa memberi kabar apapun dari Borneo, wajar sekali jika semua orang mengira dirinya sudah meninggal atau terjadi hal buruk lainnya. Hartowardojo menjelaskan padaku bahwa dirinya baru sadar kalau tentara Jepang bukanlah teman, namun mereka menjajah seperti kolonial Belanda. Ketika dirinya sadar akan hal tersebut, Hartowardojo segera kabur bersama beberapa rekannya dari pulau Jawa dan bersembunyi hingga saat ini dari tentara Jepang.

“Mereka melakukan 3 kesalahan besar pada bangsa ini. Kujelaskan padamu satu-persatu aku tahu berita ini dari rekanku sesama pejuang kemerdekaan yang diam-diam mendapat berita dari Djakarta dan daerah lain. Pertama, mereka menyuruh kaum laki-laki dikirim ke Burma untuk kerja paksa hingga ribuan orang meninggal, kedua tentara Jepang mengambil paksa sandang, pangan menyebabkan ribuan orang mati kelaparan, dan yang terakhir, mereka menjadikan gadis-gadis pribumi menjadi Jugun Ianfu! Aku tidak habis pikir mengapa gadis yang cerdas sepertimu malah dengan sukarela ke Borneo di saat aku bahkan tidak bisa pergi dari sini?”

“Alasan utamaku ke Borneo adalah mencarimu. Hartowardojo! Kami di Djakarta belum mengetahui fakta bahwa Jepang penjajah sebab mereka masih bermanis-manis di depan kami semua. Bahkan Bung Karno pun bekerjasama dengan mereka. Kupikir tentara Jepang bukanlah musuh.”

“Itu namanya taktik perang, Bung Karno, Bung Hatta dan Sjahir berpura-pura bekerjasama dengan Jepang padahal mereka diam-diam menggelorakan perjuangan bangsa ini. Aku benar-benar hampir gila karena dirimu, Ningsih! Sedikit saja aku terlambat, mungkin... kini nasibmu sudah berbeda.” Hartowardojo melemahkan suaranya.

“Mungkin tanpamu kini aku sudah sah menjadi Jugun Ianfu. Aku tahu hal itu. Aku bersyukur bisa diselamatkan olehmu. Terima kasih.” Aku menggenggam tangannya dengan erat.

“Aku yang berterima kasih bahwa kau masih hidup.” Ujarnya.

“Kini, jangan tinggalkan aku lagi. Berjanjilah.” Pintaku.

“Ya.” Hartowardojo tersenyum. Aku menyenderkan kepalaku di pundaknya. Di tengah dinginnya hutan Borneo kami menyebrangi sungai yang huni buaya-buaya. Wahai buaya-buaya ciptaan Tuhanku, janganlah kau terkam kami, kami ini sedang dianiaya oleh para penjajah, maka tidak pantaslah kalian para buaya menerkam kami. Terkamlah mereka-mereka yang mendzolimi kami, caplok sajalah mereka-mereka yang mengkhianati bangsanya sendiri demi kekuasaan dan demi uang.

***

 

[1] Apa yang sedang kamu lakukan di tempat ini?

[2] Jangan bilang kamu mencoba kabur dari tempat ini.

[3] Hentikan!

[4] Dia adalah gadisku, tolong jangan sentuh gadisku.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

rara_el_hasan
2019-01-03 12:51:31

mapkhan saya bunda yg baru baca.. padahal cucok meong bgt
Mention


SEKARMEMEY
2018-12-26 06:57:55

Thank udah like karya saya . Cerita.nya bagus dan pantas jadi pemenang , sukses untuk karya2 selanjutnya ya kak
Mention


dinda136
2018-12-23 08:23:03

Bagus banget kak,, dari awal baca udah tertarik, keren nih
Mention


anna_777
2018-12-23 00:55:31

Karya tulis dengan latar belakang masa lalu, selalu membuat saya impress. Thank you udah like karya saya juga, tersanjung di like oleh pemenang tinlit. Good luck for your next story
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:27:03

@Khanza_Inqilaby terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:25:24

@[dear.vira] terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:24:28

@AlifAliss terima kasih banyak sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:54

@tikafrdyt wah, terima kasih banyakkk :) terima kasih juga sudah mau mampir
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:23

@Tania terima kasih sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:01

@Citranicha terima kasih kak sudah mampir... :)
Mention


Page 1 of 5 (44 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

541 419 5
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

296 250 4
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

846 606 10
Kubikel

Kubikel

By rickqman

995 727 11
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

159 133 1
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

551 404 8