BAB 12

PENGKHIANATAN

Sudah hari ketujuh aku membantu pria ini mengobati luka di perutnya. Setiap hari aku membersihkan lukanya kemudan mengganti cocor bebek dengan daun yang masih baru dan segar untuk ditumbuk dan dibaluri di atas lukanya, sesekali aku meninggalkan goa untuk mencari bahan makanan seperti buah-buahan atau berburu ikan, kelinci, dan lain-lain.

“Siapa namamu?” tanya pria itu tiba-tiba. Biasanya dia tidak banyak bersuara ketika aku membersihkan lukanya. Pria itu menatap kedua manik mataku lekat. Selama ini aku tidak jeli memperhatikan, ternyata biji matanya yang hitam begitu bulat meskipun tidak memiliki lipatan mata sepertiku namun bisa kulihat bahwa matanya yang kecil cukup indah. Hidungnya mancung, wajahnya tirus, sedangkan bibirnya berwarna merah merekah seperti buah delima yang siap dipanen, kulitnya sangat putih, bening sampai-sampai kau bisa melihat urat-urat dengan jelas dari lehernya yang jenjang. Berada di sampingnya membuat gadis pribumi sepertiku sedikit minder dengan kulit lembut dan bening miliknya. Kulitnya cukup sempurna untuk ukuran pria. Dia cukup tampan, badannya pun cukup berotot mungkin karena ia seorang tentara jadi banyak melakukan olah fisik.

“Ningsih. Kau bisa berbahasa dengan lancar?” tanyaku.

“Aku Ryujin. Aku dan banyak  rekan di markas sempat mendapat pengajaran bahasa untuk memudahkan komunikasi tapi mengapa kau menolongku?” Ryujin menatapku lekat.

“Aku hanya tidak bisa meninggalkan orang yang sedang sekarat pada sekawanan macan hutan. Entah itu tentara, entah itu pribumi bagiku sama-sama makhluk hidup bernama manusia, jadi aku menolongmu.”

“Macan hutan?”

“Ya, kurasa rekanmu yang lain sudah menjadi tulang belulang saat ini dimakan habis-habisan oleh sekawanan macan hutan.”

“Kau bukan orang Borneo, ya kan?”

“Aku dari Jawa.”

“Begitu, lalu mengapa kau bisa ada di tempat ini?”

“Ceritanya panjang, aku baru sampai di Borneo seminggu yang lalu. Aku kemari untuk bekerja sebagai grup sandiwara di markas tentara Jepang. Namun ternyata aku kebagian bekerja di tim penyaji teh matchado.”

“Seminggu yang lalu? Tim sandiwara?” Ryujin terlihat kaget. Namun dia berusaha memasang wajah datar. Entah mengapa dia berekspresi demikian.

“Ya.”

“Jadi bisa dibilang saat ini kau sedang dalam masa kabur? Tidak mudah bukan, keluar dari tempat itu?”

“Begitulah. Ada seseorang yang sedang kucari di Borneo. Omong-omong, seragam yang kau pakai sama dengan seragam tentara di markas yang kutinggali. Apa kau berasal dari markas yang sama denganku?”

“Aku tidak yakin tentang hal itu, seragam ini adalah seragam sekutu Jepang, di China, Korea, Jawa pun seragam kami seperti ini. Lagi pula di Borneo markas kami ada di banyak titik. Selama di sana kau baik-baik saja kan?”

“Ya begitulah. Aku cukup lapar, tunggu di sini, aku akan keluar sebentar mencari bahan makanan.” Ujarku padanya sambil beringsut pergi untuk mencari makanan.

Hari ini rejeki yang bisa kudapatkan kira-kira apa ya. Aku menuju tempatku membuat jebakan untuk kelinci dengan alat sederhana yang sudah kupasang, yaitu ranting daun yang disusun membentuk kubah dan di dalamnya kuberi sepotong buah mangga lalu kubah dari ranting itu disanggah dengan ranting lain agar bisa terbuka sedikit, jadi ketika ada hewan kecil masuk untuk mengambil makanan, otomatis jebakanku akan menutup sendirinya dan membuat hewan itu terperangkap di dalamnya.

Aku mengecek untuk memeriksa hewan apa yang hari ini telah terperangkap dalam jebakanku. Setelah kubuka ternyata kelinci. Badannya menggeliat saat aku mengeluarkannya dari jebakan yang sudah kubuat. Aku tidak akan membiarkan kelinci ini kabur, segera aku mengolah kelinci yang malang ini sebagai santapanku hari ini karena sudah memiliki alat pemantik api, maka aku tidak lagi memakan daging dalam keadaan mentah, namun aku bisa membakar hewan di atas api unggun yang terbuat dari ranting pohon yang sudah kupersiapkan.

Setelah makanan siap, aku meletakannya dalam piring dari kulit pisang. Aku masuk ke dalam goa untuk memberikan Ryujin makanan yang sudah berhasil aku peroleh. Aku juga belum makan sama sekali, jadi setelah memberinya makanan, aku akan memakan kelinci bakar ini juga. Yang utama adalah orang sakit, orang sehat menjadi nomor sekian.

Namun setelah melangkahkan kakiku ke dalam goa, aku tidak menemukan Ryujin sama sekali. Dia menghilang. Aku mencarinya kemana-mana. Aku berkelilling goa untuk mencarinya, tidak ada. Aku pun mencarinya di luar goa, dia juga tidak berhasil kutemukan. Dia memang sudah lebih baik dari sebelumnya, namun dia tidak boleh banyak bergerak demi kesembuhan lukanya.

Sial, pergi ke mana pria itu. Sudah kutolong dan kurawat dengan susah payah. Bukannya berterima kasih, malahan kabur tanpa permisi. Apakah ini karma? Aku juga kan kabur dari rumah tanpa permisi setelah dibesarkan oleh ibu dan bapakku dengan susah payah. Yasudahlah, terserah Ryujin pergi kemana, toh bukankah ini cukup baik bagiku? Dengan kepergiannya. Aku bisa kembali fokus mencari Hartowardojo. Aku menikmati kelinci bakarku dengan lahap sebelum akhirnya kuputuskan untu kembali mencari Hartowardojo.

Matahari hampir meninggi, sebelum gelap sebaiknya aku meninggalkan goa ini dan mencari tempat persinggahan lain. Aku memutuskan meninggalkan goa yang sudah kutempati bersama Ryujin selama kurang lebih satu pekan. Aku berjalan dan berjalan, melewati banyak pepohonan. Di kiri dan kananku hanya ada pohon dan pohon yang menjulang. Sinar matahari sesekali masuk melalui celah-celah dedaunan. Sungguh indah Borneo dengan keanekaragaman hayati di dalamnya.

Aku tidak sempat menanyakan pada Ryujin mengapa mereka berperang dengan warga lokal. Sesungguhnya ini masih menjadi teka-teki bagiku. Jika mereka berperang karena tentara Jepang berniat menjajah kami seperti kolonial Belanda, maka akan sangat buruk keadaan sebab rekan-rekanku di gedung tentara itu bagaimana nasibnya? Kuharap tentara Jepang tidak menjajah kami, sebab mereka berkata ingin menjadi saudara kami sesama orang Asia.

            Tiba-tiba di tengah perjalanan, aku dihadang sekelompok tentara Jepang yang berbaju sama dengan Ryujin, juga sama dengan baju seragam tentara Jepang di gedung yang kutinggali itu. Aku sedikit bingung mengapa mereka menghadang jalanku. Apakah aku ketahuan sudah kabur dari markas mereka?

            “Hei, tanggap gadis ini. Dia orang yang kita cari!” ujar salah satu dari mereka memerintahkan anak buahnya untuk menangkapku. Aku tercekat. Situasi ini buruk bagiku.

            “Tunggu... apa maksudnya?”

            “Kau Ningsih kan, yang kabur dari markas kami. Tidak ada gadis lain berkeliaran di hutan Borneo selain kau.” Jawabnya, aku mencoba melepaskan diri, namun sia-sia. Tanganku diikat dengan tali yang kuat, tali tersebut diikatkan dipergelangan tanganku dan menyisakan bagian yang panjang agar mereka bisa menarikku. Sulit bagiku melepaskan diri dalam keadaan seperti ini.

            “Lepaskan aku! Mengapa kalian memperlakukan aku seperti ini? kita bisa bicara baik-baik.” Aku memberontak. Mereka tidak mendengarkan ucapanku dan menarikku dengan paksa. Seperti keledai yang diikat dan ditarik paksa oleh majikannya, kira-kira begitulah penggambaran aku saat ini. Menarik tali dengan paksa sehingga membuatku mau tidak mau berjalan dengan cepat menyesuaikan langkah mereka. Pergelangan tanganku terlihat mulai memerah dan lecet-lecet karena mereka menarik tali di pergelangan tanganku dengan paksa.

Aku sudah berjalan cukup lama dengan diseret paksa oleh mereka tanpa ampun. Sesekali telapak kakiku terbeset ranting pohon yang patah hingga berdarah, aku memohon mereka untuk berhenti sejenak, namun mereka tidak menggubrisku. Sungguh, perilaku macam apa ini? Bukankah mereka mengatakan bahwa mereka menjadi sahabat kami sesama orang Asia? Namun mengapa sikap mereka sangat berubah seratus delapan puluh derajat begini. Beginikah perlakuan kepada sesama saudara se-Asia? Namun, anehnya mengapa juga mereka bisa mengetahui keberadaanku di sini? Ryujin kah? Dia mengkhianatiku dan memberitahukan persembunyianku pada rekannya. Padahal aku sudah menyelamatkan nyawanya. Gila! Aku tidak lagi mengerti dunia. Dunia begitu kotor dan penuh kepicikan!

Mereka menarikku dengan paksa, berjalan berjam-jam tanpa istirahat, tanpa minum, dan tanpa makan. Aku sudah sangat kelelahan. Keringat deras membasahi tubuhku. Aku tidak bisa membuka mataku dengan baik, terlalu sedikit tenaga yang tersisa dariku. Sampai akhirnya aku tiba di markas tentara Jepang. Tubuhku diseretnya di depan gedung utama, semua orang kemudian berkumpul menontonku dari balik pintu masuk perempuan dan di balik pintu masuk laki-laki.

            “Pengumuman-pengumuman!! Gadis ini mencoba kabur dari markas ini. Siapapun yang mencoba kabur akan menerima hukumannya seperti ini!!” Tentara Jepang menjorokkan tubuhku hingga lututku terbentur tanah. Aku dalam keadaan terjatuh dan tersungkur. Semua mata memandangku. Kurasa mereka menjadikanku contoh nyata bahwa hukuman di sini jelas dan ada. Sehingga memperingati orang lain agar tidak kabur jika tidak ingin dihukum.

Kulihat Mayang, Sekar, Kurnia, dan rekan-rekanku yang lain hanya memandangku dari balik pintu masuk wanita yang bentuknya seperti jeruji besi sehingga mereka bisa melihat keadaanku dari sana. Wajah mereka sama seperti dulu, namun aku melihat seolah mereka adalah orang yang berbeda. Rekan-rekanku ada apa dengan mereka semua? Apa yang terjadi pada mereka selama aku pergi? Mengapa mereka semua terlihat seperti kehilangan jiwanya? Tempat macam apa ini sebenarnya?

“Cambuk dia sampai pingsan! Ini sebagai contoh untuk yang lain agar tidak mencoba kabur dari tempat ini!!!” seorang tentara Jepang mengikuti komando dari atasannya. Dia membawa sebuah cambuk. Astaga! Mataku melotot tajam, badanku bergemetar. Mengapa mereka tega melakukan ini semua? Mereka bukan saudara! Mereka mengaku sebagai saudara se-Asia namun tega melakukan penganiayaan pada seorang gadis? Mereka bukan saudara! Mereka semua penjajah bangsa ini!

“DASAR PENJAJAHHHHHH!!!” Aku memaki keras sambil meludahi tentara Jepang itu.

“KALIAN PENJAJAH! BERPURA-PURA MENJADI SAUDARA SE-ASIA! JANGAN BERMIMPI KALIAN!!!” Aku terus memaki. Kulihat tentara Jepang itu tersulut emosinya karena melihatku meludah ke arahnya. Dia mendekatiku dan melayangkan cambuknya ke arah punggungku. Sakit. Perih. Panas. Seperti terbeset pisau. Satu persatu kulitku terasa terlepas setiap kali cambuk mengenai punggungku.

“AAAAAAAAAA!!!” Aku berteriak seperti orang kesetanan setiap kali ia mencambukku. Hingga suaraku menjadi serak dan parau. Aku tidak bisa lagi menahan rasa sakit ini. Lebih baik, bunuh aku dengan cepat daripada dengan perlahan seperti ini. Aku melihat rekanku berteriak memanggil namaku. Saat aku merasa rohku seolah melayang ke udara, apakah aku sudah mati? Aku tidak lagi bisa merasakan tubuhku sendiri. Pandanganku menjadi gelap. Aku tidak sadarkan diri.

***

Saat aku membuka mataku, kudapati tubuhku sangat sakit, bahkan menggerakkan badan saja aku tidak bisa. Kulitku terkelupas dan meninggalkan bekas tersayat, darah merah kulihat membasahi baju yang kukenakan, itu darahku sendiri yang mengalir karena punggungku dicambuk berkali-kali hingga aku tak sadarkan diri. Gila, aku disiksa di tanah bangsaku sendiri. Dasar keparat.

Kupandangi sekelilingku, meskipun entah mengapa pandangan mataku menjadi sedikit kabur, mungkin karena badanku sakit mempengaruhi banyak organ tubuhku termasuk mata. Aku berada di sebuah jeruji besi. Penjara. Aku dimasukkan ke dalam penjara yang dingin dan gelap. Kurasa penjara ini berada di bawah tanah. Penjara ini bentuknya seperti lorong panjang yang setiap sisi kiri dan kanannya diberi sekat tembok beton. Di depanku juga ada tahanan lain, dengan luka yang sama denganku. Sepertinya kami yang mencoba kabur dicambuk hingga pingsan dan akhirnya dikurung di dalam sini, aku bisa mengetahuinya karena luka di punggung mereka samar terlihat dari tempatku berada.

Penjara ini kiri dan kanannya adalah tembok beton, dan bagian depannya adalah jeruji besi. Jadi, aku dan sesama tahanan bisa saling melihat keadaan satu sama lain lewat celah jeruji meskipun tidak begitu jelas. Tidak ada pembicaraan di antara sesama tahanan, hanya diam seribu bahasa menanti nasib apa yang akan dilalui selanjutnya. Apakah mati kelaparan di dalam penjara ini ataukah dibebaskan namun dijadikan budak, pekerja kasar, aku dan mereka yang berada di sini tidak pernah tahu.

Jangan mengharapkan di dalam tahanan bisa tidur dengan nyenyak, sebab di dalam sini sangat dingin. Tidur pun beralaskan jerami yang kering. Punggungku yang terluka tidak semakin membaik karena tidur di atas jerami kering itu sungguh gatal dan sisinya sangat kasar apabila terkena kulit. Jangan harap bisa buang air kecil atau buang air besar dengan baik. Hanya ada lubang kecil tanpa air disiapkan di bagian pojok penjara.  Mereka mengurungku di penjara berhari-hari tanpa makanan dan minuman, membuat aku jarang mengeluarkan air kecil ataupun air besar.

Bisa dipastikan, tidak mendapatkan asupan makanan maka kondisi tubuhku yang lemah makin melemah. Aku hanya bisa mencoba membuka dan menutup kedua kelopak mataku untuk menemukan kesadaranku. Saking lemahnya tubuh ini, aku sering kali kehilangan kesadaran dan kuhanya mendapati hitam dan hitam saja dalam pandanganku semua kabur dan memusingkan.

Aku tidak yakin sudah berapa hari aku berada di dalam penjara sebab pagi ataupun malam aku tidak tahu pergantiannya, di dalam sini kami tidak melihat secuil cahaya matahari pun. Aku bisa merasakan kulit punggungku melepuh, daging yang terluka berhari-hari tidak diobati, jelas luka bekas cambukan ini terinfeksi bakteri karena tidak disterilkan. Luka di punggungku perlahan mengeluarkan cairan nanah bercampur darah, aku bahkan tidak memikirkan hal itu. Aku berharap keajaiban datang padaku. Semoga aku tidak mati dalam keadan sia-sia sebab aku belum menemukan Hartowardojo.

“KREEEEKKKK!!!!”

Suara berdecit membangunkan kesadaranku. Mataku terbuka sedikit, pintu penjara dibuka untukku. Dua orang tentara masuk dan menyeret tubuhku yang tidak bisa bergerak keluar. Aku tidak bisa memberontak, aku hanya bisa pasrah mereka hendak membawaku ke mana karena sekujur tubuhku rasanya sakit sekali. Sulit kujelaskan dengan kata-kata. Di antara keadaan sadar dan tidak sadar mereka membawaku ke sebuah ruangan. Ada Zus Sulastri di situ. Aku tidak begitu yakin apa yang akan dia lakukan padaku. Pandangan mataku kembali kabur dan seketika semua begitu gelap.

***

“Ningsih.” Sesosok bayangan itu mendekatiku. Dia Hartowardojo. Aku memeluknya erat namun ia segera mendorong tubuhku hingga jatuh terjelembab. Aku kaget sekali dia mendorongku begitu kerasnya.

“Mengapa kau bersikap dingin begini?” aku tak habis pikir mengapa Hartowardojo mendorong tubuhku dan seolah marah besar padaku.

“Kau menolong seorang penjajah. Kau sama saja dengan mereka.” Ujarnya dengan nada marah.

“Aku tidak tahu tentara Jepang ternyata penjajah. Sungguh.” Jawabku.

“Kalau begitu, bunuh mereka.” Ujar Hartowardojo sambil memberikanku sebuah belati. Aku terheran-heran. Entah mengapa belati yang ada di tanganku terbang begitu saja terkena angin besar dan tidak sengaja menancap di punggungku hingga berdarah. Sakit sekali.

“AAAAAAAA!!!” Aku berteriak.

“Hooshh...hossshh...hosshhh!!” nafasku tersenggal-senggal. Kubuka mataku, cahaya. Aku melihat cahaya matahari menyeruak dari balik tirai berwarna putih.

Ternyata barusan itu mimpi namun mengapa rasa sakitnya belum hilang. Aku membuka mataku lebar, kulihat Zus Sulastri sedang mengolesi punggungku dengan obat. Sakitnya bukan main.

“Bermimpi apa? Sampai teriak begitu?”

“Kaa...kaauu...” aku ingin memakinya, namun tubuhku begitu lemas. Sedikit saja lengah, aku bisa kembali kehilangan kesadaran karena kepalaku masih terasa sangat berat dan pusing.

“Sudahlah, aku tahu kau sama sekali tidak memiliki tenaga. Aku sudah membersihkan tubuhmu dan kini sudah selesai memberikan obat. Sekarang makan sup ini dengan tenang.” ujar Zus Sulastri sambil menyuapiku sup hangat yang diambilnya dalam mangkuk beling. Aku mencoba menghalanginya masuk ke mulutku. Aku tidak sudi makan dari tangannya meskipun aku harus mati sekalipun.

“PRRRAAANGGG!!” Piring beling itu praktis jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping, supnya tumpah ruah ke mana-mana termasuk mengenai baju yang dikenakan Zus Sulastri. Ia terlihat marah dan reaksi spontannya adalah menampar wajahku.

“PLAAAAK!!” Terasa sakit. Tapi cukup memberikanku kesadaran lebih banyak. Beraninya dia menampar wajahku. Aku memandang kedua manik matanya dengan penuh dendam. Air mata di pipiku menetes.

“Wa..wanita ja..jalang!! Kau berkomplotan dengan penjajah, mengkhianati aku dan bangsamu.” Makiku lemah dengan segala tenagaku yang masih tersisa. Dia memalingkan wajahnya padaku, sejenak kulihat raut wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun, entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Menyerah saja. Jangan sok kuat. Jika kau tidak dapat melawan, maka bergabung lebih baik. Bukankah ada idiom terkenal yang mengatakan demikian? Kurasa kau cerdas karena kau sekolah tinggi, kau seharusnya bisa mencerna kata-kataku dengan baik.” Jelasnya padaku dengan wajah datar tanpa ekspresi sedikit pun.

“CUUUH!!” Aku meludah ke arahnya. Dia tidak bergeming.

“Baiklah jika kau benar-benar membenciku, tapi jangan sampai kau mati kelaparan di sini. Setidaknya makan dan sehatlah setelah itu kau bisa balas dendam padaku.” Ujarnya  sambil beranjak pergi.

Wanita gila, aku mengumpat di dalam hati. Tubuhku belum membaik, meski Zus Sulastri si keparat itu sudah membersihkan luka dan mengobatiku ketika aku tidak sadarkan diri namun tubuhku masih terlalu lemah karena belum diasupi makanan dan minuman beberapa hari meskipun begitu aku menolak makanan dari tangan Zus Sulastri. Entah sampai kapan tubuhku ini bisa bertahan.

Tak lama kemudian datanglah seorang gadis yang aku tidak tahu namanya siapa, aku belum melihatnya sebelumnya. Dia mendekatiku membawa nampan berisi sup hangat dan juga segelas susu segar. Dia hanya memperhatikan wajahku sebentar, seolah tidak mempedulikanku dan hanya menjalankan tugasnya, dia tidak bergeming padaku dan sibuk membersihkan sup yang berceceran dan pecahan mangkuk beling yang kujatuhkan. Setelah lantai bersih dia beringsut pergi meninggalkan aku sendirian di ruangan ini tanpa bicara sepatah kata pun.

Baiklah, lagi pula ada benarnya ucapan wanita keparat itu, aku tidak punya pilihan apapun saat ini jika tidak ingin mati konyol, maka cara pertama yang harus aku lakukan adalah bertahan hidup dan makan makanan dengan baik agar lukaku cepat pulih dan aku bisa memikirkan cara bagaimana bisa keluar dari tempat ini. Bertahanlah wahai tubuhku, kau pasti kuat, aku bergumam di dalam hati menyemangati diriku sendiri.

Hari-hari berikutnya gadis itu tetap kembali ke kamarku tanpa suara, memberikanku makanan, susu hangat, obat, berulang setiap hari hingga aku merasa bahwa tubuhku sudah jauh lebih baik dan luka di punggungku sudah tidak separah dulu. Entahlah aku harus berterima kasih dan mengutuk pada siapa.

Ketika didapati gadis itu aku sudah pulih dan sehat, pada hari keenam, gadis itu menuntunku ke sebuah tempat. Juga tidak  ada pembicaraan di antara kami. Aku sendiri pun malas untuk bertanya, lebih tepatnya lidahku terlalu kelu. Saat ini aku memaksa diriku untuk mengikuti keinginan mereka, jika waktunya tepat aku bisa kabur atau melakukan perlawanan, penyerangan, dan sebagainya. Jika memungkinkan, kutekankan di sini agar lebih jelas sebab aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi padaku selanjutnya.

Gadis itu menyodorkanku sebuah yukata, dan alat-alat make up. Jadi mereka menyuruhku berganti baju dengan ini dan berdandan ala Jepang.

“Pakai ini, Yuki-san.” ujar gadis itu memanggil namaku dengan nama Jepang yang pernah kudapatkan saat pertama kali datang ke sini. Akhirnya dia membuka mulutnya, hampir kukira dia bisu.

“Untuk apa?” tanyaku.

“Untuk apa? Pertanyaan macam apa itu? Bekerjalah, kau pikir untuk apa kau dibiarkan hidup? Jika kau tidak ingin nyawamu melayang sia-sia turuti saja perkataanku.” Ucapnya sambil menatap kedua manik mataku tajam seperti hendak mengatakan bahwa ini adalah kewajiban.

“Cih!” aku terpaksa menuruti ucapannya meski aku tidak mengerti bekerja seperti apa yang dimaksud, ataukah benar sesuai jobdesk-ku yaitu menyajikan teh matchado.

Setelah rapi dengan yukata dan berdandan ala gadis Jepang, gadis itu menggiringku ke sebuah ruangan berornamen Jepang yang sangat tradisional. Gadis itu membukakan pintu pelan. Kulihat banyak tentara Jepang sedang bersantai di dalamnya, di dalam ruangan itu ada sekitar sepuluh orang duduk santai berbaris membentuk horizontal yang di tengahnya terdapat meja besar berisi banyak arak dan makanan. Ruangan tersebut didesain sedemikian rupa seperti ruangan Jepang asli dengan ornamen Jepang. Seperti pintunya yang terbuat dari kayu dan kertas, kutaksir sekali kucongkel kertasnya bisa langsung sobek lebar, kemudian dindingnya pun terbuat dari kayu coklat, mereka semua duduk di lantai dengan bantalan tanpa ada kursi. Aku sedikit terkesima dengan jejepangan yang kulihat di ruangan ini.

Hal yang lebih mengejutkanku adalah keberadaan rekanku, masing-masing dari tentara itu ditemani oleh satu atau bahkan dua orang gadis. Mataku melotot kaget ketika kulihat Mayang, Kurnia, dan Sekar juga duduk di antara mereka, parahnya duduk di pangkuan tentara Jepang sambil bermanja-manja.

Wajahku memerah sekaligus marah. Apa yang sedang mereka lakukan? Mengapa mereka bertingkah sebagai wanita penghibur. Apa mereka semua dipaksa untuk menghibur, jika tidak, maka akan dibunuh? Begitukah? Ketiga rekanku memandang ke arahku sejenak, seolah tidak mempedulikan kehadiranku mereka kembali asyik dalam kesibukannya menggelendot di lengan tentara Jepang atau duduk di pangkuan dengan gaya yang centil dan manja. Astaga.

Seorang tentara Jepang kemudian menyuruhku memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang. Untungnya aku masih ingat kalimat yang harus kuucapkan saat memperkenalkan diri dalam bahasa Jepang.

“Hajimemashite, Konbanwa. Watashi no namae wa Yuki desu.[1]" aku sedikit kikuk melihat semua mata asing memandang ke arahku.

“Kawaii nee...[2]Aku mendengar beberapa dari mereka menyebutku kawaii-kawaii. Mereka menyuruhku duduk di bangku paling depan yang kosong dua bangku ketika tentara lain tidak ada yang duduk di tempat itu. Kurasa aku harus menemani laki-laki yang akan datang dan duduk di sebelah sini. Entah siapa pria itu yang jelas dia memiliki pangkat yang tinggi di sini dilihat dari posisinya yang seorang diri berada di depan dan di tengah. Aku harus berhati-hati tidak boleh salah langkah jika nyawaku tidak ingin melayang. Semenjak mereka menyeret dan menyiksaku dengan cambukan sampai aku hampir mati, aku merasa nyawaku kapan saja bisa hilang begitu saja.

“Sreeeek!!!” suara pintu yang dibuka perlahan berdecit.

“Tapp...tap...tap...” langkah kaki seorang pria mendiamkan seisi ruangan. Kurasa yang barusan masuk itu adalah ketua dari mereka semua, sehingga yang tadinya ruangan bergemuruh seketika menjadi sepi dan senyap. Aku memincingkan mataku, pria itu duduk di bangku yang disediakan untuknya, tepat di sebelahku. Sepertinya tidak asing pria ini bagiku. Astaga! Aku mengenal wajah itu, mata yang kecil, hidung mancung dan bibir merah bagai delima. Dia...

“Ryu...Ryujin?” ujarku, pria itu menoleh dan kudapati dirinya tak kalah kaget.

“Eeeeeeeee?” dia kaget melihatku berada di sebelahnya seolah tidak percaya. Apa saat ini dia sedang berakting? Bukankah jelas-jelas dia yang menyuruh anak buahnya menyeretku ke sini. Aku memalingkan wajahku darinya. Dia berpikir sejenak seolah takjub tidak percaya menemukan aku di sini. Aku mengepalkan telapak tanganku, kutahan rasa marah, kecewa dan sakit hati di dalam hatiku. Pria ini sudah kutolong nyawanya namun meninggalkanku tanpa pamit dan justru menyuruh rekannya menangkapku. Aku mencoba tidak gegabah dalam bertindak. Aku mengontrol emosiku dengan katarsis [3] yang baik.

            Aku berkatarsis dengan memainkan peranku bekerja sebagai penyaji teh matchado dengan lemah gemulai dan mengingat instruksi yang sudah diberikan beberapa waktu yang lalu. Semua berjalan dengan baik tidak ada kendala suatu apapun. Aku melayani Ryujin dengan baik, menyuapinya buah segar, menuangkan teh untuknya, ini sudah pernah kulakukan sebelumnya saat dirinya terkapar hampir mati, bukankah aku juga yang melayaninya saat itu atas dasar kemanusiaan?

Pekerjaan yang cukup mudah bagiku, meskipun kondisi kesehatanku sudah jauh lebih baik, namun tubuhku tetap terasa sakit dan sangat pedih di bagian punggung. Aku mencoba menutupinya, Ryujin memperhatikanku sedari tadi. Matanya tidak lepas dariku, sebenarnya apa yang sedang pria ini pikirkan. Bisakah dia berhenti menatapku. Berkali-kali dia mencoba mengajakku berbicara, namun aku selalu menghindarinya. Dia dan tentara yang ada di sini adalah penjajah. Buat apa aku berbicara padanya?

Akhirnya prosesi menyajikan teh sudah selesai. Waktu menunjukkan tengah malam, selain menyajikan teh, ada juga atraksi memainkan alat musik, menyanyikan lagu tradisional Jepang dan sebagainya oleh rekanku yang lain, sehingga suasana cukup ramai. Satu persatu tentara pergi dari ruangan ditemani gadis di samping mereka. Gadis itu rekan-rekanku yang selama ini aku kenal. Ya, mereka Mayang, Sekar, Kurnia, dan banyak lainnya. Tentara itu mencumbu rekanku di hadapanku, mereka berciuman mesra. Aku kaget bukan kepalang.

Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa rekanku mau saja diperlakukan seperti itu tanpa melawan? Aku tidak sempat bertanya pada rekan-rekanku karena mereka beringsut pergi bersama tentara di sebelahnya. Aku tertegun. Tempat ini... prostitusi kah? Ti...tii...dak mungkin! Kalau tempat ini adalah prostitusi mungkinkah Mayang, Sekar dan Kurnia tidak bisa menolak karena diancam akan dibunuh? Astaga! Badanku bergetar hebat. Tidak cukupkah aku diseret dan dicambuk sampai hampir mati dan dibiarkan kelaparan berhari-hari? Kini mereka menjadikan tempat ini tempat prostitusi. Tidak! Aku harus segera keluar dari tempat ini apapun yang terjadi, sebelum mereka menjadikanku salah satu dari gadis gundik. Jadi, selama aku tidak berada di tempat ini, sudah banyak yang berubah dalam sekejap.

            Aku melangkahkan kakiku keluar ruangan, kulihat di belakangku Ryujin terkaget-kaget melihatku sedikit berlari. Aku menjauh dari ruangan itu dan mencari jalan keluar. Di sepanjang perjalanan pemandangan yang terlihat adalah loveydovey, adegan percumbuan, dan ciuman mesra sebelum gadis-gadis itu, termasuk rekan-rekanku digiring masuk ke dalam ruangan di gedung utama. Sial, tidak mudah kabur untuk kali kedua. Mereka memperketat penjagaan dua kali lipat. Ini jebakan! Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin menjadi pelacur. Aku harus pergi dari tempat ini apapun caranya. Meskipun jika ketahuan mereka akan mencambukku lagi, aku tidak peduli. Persetan dengan semua!

***

 

[1] Hajimemashite, Konbanwa. Watashi no namae wa Yuki desu: Senang bertemu dengan anda, selamat malam. Nama saya Yuki.

[2] Kawaii: imut.

[3] Katarsis: pelepasan energi, penyingkiran atau pembersihan energi penyebab agresi untuk mengurangi seseorang bertindak agresi.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 1 0 0 0
 
Save story

rara_el_hasan
2019-01-03 12:51:31

mapkhan saya bunda yg baru baca.. padahal cucok meong bgt
Mention


SEKARMEMEY
2018-12-26 06:57:55

Thank udah like karya saya . Cerita.nya bagus dan pantas jadi pemenang , sukses untuk karya2 selanjutnya ya kak
Mention


dinda136
2018-12-23 08:23:03

Bagus banget kak,, dari awal baca udah tertarik, keren nih
Mention


anna_777
2018-12-23 00:55:31

Karya tulis dengan latar belakang masa lalu, selalu membuat saya impress. Thank you udah like karya saya juga, tersanjung di like oleh pemenang tinlit. Good luck for your next story
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:27:03

@Khanza_Inqilaby terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:25:24

@[dear.vira] terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:24:28

@AlifAliss terima kasih banyak sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:54

@tikafrdyt wah, terima kasih banyakkk :) terima kasih juga sudah mau mampir
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:23

@Tania terima kasih sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:01

@Citranicha terima kasih kak sudah mampir... :)
Mention


Page 1 of 5 (44 Comments)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

427 336 7
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 614 8
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

547 408 6
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

898 639 12
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

591 434 9
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 9