BAB 11

MENOLONG MAKHLUK BERNAMA MANUSIA, BUKAN TENTARA JEPANG

Matahari muncul dari celah-celah pohon rindang, aku membuka kedua kelopak mataku perlahan. Cicitan burung bersautan. Dinginnya alas rimba belum juga hilang meski matahari sudah naik sedikit ke permukaan. Aku memeriksa luka di kakiku dan membersihkannya dengan mengumpulkan embun-embun yang tersimpan di atas daun-daun lebar. Terasa sakit dan perih namun lebih baik daripada terkena bakteri lebih banyak karena kotor. Luka seperti ini sudah biasa bagiku dan bukanlah suatu yang berarti.

Sebagai sarapan aku meminum sedikit persediaan air yang kubawa dan memakan ubi rebus perlahan. Sampai kapan kira-kira aku bisa bertahan di tengah alas rimba ini seorang diri? Aku tidak tahu, kuharap aku bisa kembali menemukan Hartowardojo. Setelah merasa siap untuk kembali melanjutkan perjalanan, aku kembali melangkahkan kakiku sembari mengingat jalan yang sudah kulalui dan yang belum. Aku memutuskan untuk berjalan ke arah barat daya. Sekitar satu jam aku berjalan aku belum menemukan tanda-tanda adanya kehidupan penduduk lokal, maupun tanda-tanda adanya Hartowardojo lagi. Aku mendengar sayup-sayup suara air sungai yang mengalir deras. Aku segera menuju ke arah suara air mengalir karena aku butuh air segar untuk mengisi persediaan air minumku beserta mencari ikan sebagai makan siang.

Tidak mengecewakan, setelah berjalan cukup lama kini di depanku kini terbentang sungai yang mengalir jernih, meskipun jernih sungai ini cukup deras alirannya dan juga dalam di bagian tengahnya. Aku terkesima airnya benar-benar jernih sekali, aku langsung meminum air sungai dengan menggunakan kedua telapak tanganku, tak lupa kubersihkan anggota tubuhku agar kembali segar. Rasanya benar-benar seperti berada di syurga, maklum badanku sangat lengket akibat berlari dan berjalan jauh semalam. Tak ayal ketika tubuhku terkena air sungai rasanya seperti terbang ke awang-awang, seolah aku menjadi manusia yang baru dilahirkan kembali. Begitu segar sekali.

Ikan-ikan salmon besar berenang melawan arus air sungai yang mengalir. Aku tidak melepaskan kesempatan ini. Ikan-ikan gemuk itu sudah kutangkap menggunakan ranting pohon yang ujungnya runcing karena patah. Saat ini aku tidak memiliki apapun untuk menghasilkan api, jadi aku memakan ikan itu dalam keadaan mentah, tentunya aku bersihkan dahulu ikan tersebut dari bagian kepala, bagian jeroan serta kotorannya, rasanya segar dan enak. Aku cukup menikmatinya. Tidak masalah memakan ikan mentah, toh kudengar banyak orang Jepang makan ikan mentah dan hidup sampai seratus tahun.

Aku menelusuri sungai tersebut, sungainya agak berkelok dan ditutupi pohon  rindang di kiri dan kanannya sehingga aku tidak bisa melihat ada apa di ujung sungai tersebut terkecuali hanya sungai dan pohon, aku tetap berjalan sambil mencari pohon buah untuk dimakan buahnya, kutemukan pohon mangga. Ternyata di tengah alas rimba pohon mangga bisa tumbuh dengan baik juga. Aku langsung memetik buah mangga yang sudah ranum. Asem dan terasa kecut. Buah di hutan rasanya memang berbeda dengan buah yang biasa ditemukan di pasaran karena belum mengalami pencangkokan jadi rasanya lebih alami dan orginal.

Kakiku tetap berjalan menyelusuri sungai sambil melihat ada pohon apa kiranya yang buahnya bisa kujadikan makanan. Aku terkejut bukan main sesaat setelah melewati kelokan sungai, lututku terasa sangat lemas, aku tidak bisa berdiri dengan tegak. Aku melihat tepat di depanku... ada...puluhan mayat.

Mayat berlumuran darah bergeletakan di hadapanku. Mayat tentara Jepang dengan baju seragam yang sama dengan tentara Jepang yang ada di markas tempat kutinggali itu, sepertinya seluruh tentara Jepang di bumi nusantara memakai baju seragam yang sama sehingga mudah dideteksi. Entah mengapa mereka bisa ada di titik ini dan aku tidak mengerti mengapa mereka semua meninggal. Kurasa di tempat ini beberapa hari yang lalu terjadi perang antara tentara Jepang dan warga lokal. Terlihat dari mayat yang meninggal ini tertancap alat-alat tradisional, seperti anak panah beracun, bambu yang diruncingkan, dan lain-lain.

Jika logikanya tentara Jepang yang meninggal cukup banyak, maka bisa dipastikan perang yang terjadi cukup besar dan warga lokal yang meninggal jauh lebih banyak karena tentara Jepang membawa senjata api. Sekali tembak saja, belasan orang sudah berhasil dikalahkan. Kurasa warga lokal sudah membawa jenazah rekan mereka yang meninggal untuk dikuburkan dan sebagainya, sedangkan mereka membiarkan jenazah tentara Jepang tergeletak begitu saja. Tunggu dulu, ada yang aneh, mengapa warga lokal menyerang tentara Jepang? Bukankah tentara Jepang menganggap kami saudaranya sesama orang Asia? Seharusnya tidak ada peperangan di sini, kecuali salah satunya berkhianat. Ada apa ini? mengapa semuanya terasa aneh bagiku. Sebenarnya apa yang tentara Jepang lakukan sampai terjadi perang seperti ini?

Aku sedikit ketakutan dengan pemikiran-pemikiranku sendiri. Darah di badan mereka sudah sedikit ada yang membeku, ini menandakan perang sudah terjadi sekitar satu-dua hari yang lalu. Bau busuk pun sudah tercium di beberapa tubuh jenazah yang terkoyak senjata tradisional. Aku harus segera pergi dari tempat ini, sebab bisa-bisa bau khas jenazah dapat memancing binatang buas hutan rimba untuk turun dari sarangnya menuju tempat ini. Ditambah, aku merasa ada yang tidak beres dengan semua kejadian ini. aku jalan berjingjit melewati satu persatu jenazah tentara Jepang.

Bulu kudukku bergidik. Ini bukan pertama kalinya aku melihat korban perang secara langsung karena aku sudah biasa menyaksikan kekejaman tentara kolonial Belanda membantai saudara-saudaraku, namun tetap saja melihat berkali-kali tidak membuatku terbiasa dengan keadaan ini, aku tetap tidak pernah terbiasa dengan peperangan, dengan pembantaian, dan dengan kekerasan. Aku ingin segera sampai di ujung sungai ini, sebab aku tidak mungkin berjalan menyebrangi sungai yang dalam tanpa jembatan atau perahu, airnya kencang dan cukup dalam. Bukannya aku tidak bisa berenang, hanya saja aku memilih meninggalkan resiko terkecil agar tetap bisa selamat. Satu-satunya cara adalah mencari ujung dari sungai ini daripada memaksa menyebrangi sungai yang dalam. Semakin lama aku berjalan, jumlah jenazah semakin sedikit dan bisa dihitung jari, berbeda dengan di awal tadi sangat banyak jumlahnya. Akhirnya aku bisa melewati mereka semua.

Tiba-tiba...

Kaki kananku dihentikan oleh sebuah tangan salah satu dari tentara Jepang yang bergeletak di tanah. Sontak aku berteriak kencang.

“AAAAAAAAA!!!! SETAAAAN!!” aku kaget setengah mati. Aku hampir saja kencing sambil berdiri saking takutnya. Apakah mayat yang sudah meninggal bisa hidup lagi? Memang dalam ilmu biologi yang kudapat di Taman Siswa, badan jenazah bisa bergerak lagi dalam beberapa jam setelah meninggal karena adanya reaksi dari otot atau apalah aku lupa, namun ini kan sudah hampir satu-dua hari mereka meninggal. Masa iya sih mereka bisa bergerak juga?

Setelah kusadari, tentara Jepang yang memegang pergelangan kakiku itu ternyata masih hidup. Aku menoleh ke arah kiri dan kananku, dapat kupastikan semua dari mereka sudah tidak bernafas alias sudah meninggal, namun ternyata masih ada satu yang bertahan.

“To...tolong!” tentara Jepang itu bisa berbahasa bangsaku? Dia butuh bantuan saat ini, kulihat bagian perutnya terluka cukup lebar, seperti terkena anak panah yang meleset. Namun darah yang keluar dari tubuhnya sudah cukup banyak menyebabkan dirinya terlihat sangat pucat. Aku masih membaca keadaan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini? Mengapa Jepang dan penduduk lokal berperang sehingga menimbulkan banyak tentara Jepang yang meninggal?

Jika aku menolong tentara ini apakah aku akan dianggap penghianat bangsa karena menolong negara musuh? Tapi apakah benar tentara Jepang ini musuh bangsaku? Aku saja di Borneo hidup, makan dan diberi hegemoni mengenai negara Jepang, namun aku tidak melihat kekerasan atau agresivitas mereka padaku selama di tempat tentara Jepang. Apakah itu artinya Jepang sebagai teman bangsaku? Atau sebenarnya belum waktunya saja mereka bersikap agresi pada aku dan rekan-rekan di gedung itu?  Sebenarnya yang mana yang benar? Tentara Jepang ini teman atau musuh dari bangsaku? Aduh, kepalaku pusing. Aku sama sekali tidak memiliki petunjuk apapun  dalam masalah ini.

“Aaaiir...aiir.. aku sangat ha...us...” tentara Jepang itu merintih meminta diambilkan air. Aku dalam keadaan yang sangat gamang saat ini, apa yang harus aku lakukan? Apakah Tuhan nanti akan mengutukku karena tidak mau menolong orang sekarat hanya karena membeda-bedakan bangsa? Bukankah menurut Tuhan, manusia adalah makhluk yang sama di mata-Nya? Semua manusia adalah sejajar, sama rata dan ketika ada yang membutuhkan bantuan, seharusnya ditolong kan? Aku segera memberikannya persediaan air yang kupunya. Dia meminumnya dengan membabi buta.

Tapi tunggu dulu, bagaimana kalau dia penjajah sama seperti Belanda? Ini akan menjadi sangat buruk jika aku mencoba menolongnya. Aku putuskan untuk tidak mau terlibat dengan tentara Jepang dan juga peperangan yang telah mereka lakukan. Biarkan saja dia tergeletak di situ sampai menemui ajalnya. Toh, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tentara Jepang musuh atau teman bangsaku pun aku tidak tahu pasti.

“EEErrrrrr.....eeeeeerrrrrrrrr.....errrrrrr......”

Aku mendengar suara macan. Aku mengintip dari balik pepohonan rindang di dekat sungai. Dari kejauhan nampak segerombolan macan mendekati arahku. Mereka sepertinya sudah terlanjur mencium bau daging. Celaka, jika tidak cepat-cepat pergi dari tempat ini, bisa-bisa aku akan mati juga dimakan kawanan macan itu. Aku melihat pria yang tergeletak tak berdaya itu, apa enaknya dicabik-cabik macan dalam keadaan masih hidup? Itu sangat mengerikan. Baiklah, aku harus membawa pria ini pergi dahulu dari tempat ini. Setidaknya warga lokal sudah berusaha membunuhnya, tapi ternyata panahnya meleset dan akhirnya dia bisa bertahan hidup bukankah seperti sebuah kesempatan kedua di saat yang lain meninggal?

Dengan mengerahkan seluruh tenagaku, aku memapah pria itu di pundakku, untungnya dia masih bisa berjalan meski tertatih-tatih. Berulang kali aku menengok ke arah belakang, khawatir kawanan macan mulai mendekat, namun kurasa cukup jauh. Cukup bagiku pergi dari sana, namun pria ini berjalan sangat lambat. Dengan kecepatan berjalannya yang lemah, bisa-bisa macan itu keburu menemukan kami. Tidak ada jalan lain, aku harus menggendongnya di punggungku dan berlari sekuat tenaga.

“Hoooshhh...hooooshhhh...” nafasku terengah-engah.

Seorang gadis sepertiku yang bertubuh ramping, langsing dan kecil ternyata bisa menggendong pria dengan badan besar sambil berlari pula. Pantas banyak orang bilang wanita sebenarnya sangatlah kuat, tapi sampai sejauh mana aku harus berjalan. Kepalaku terasa sedikit pening karena mengemban beban berat yang tidak seimbang dengan berat badanku sendiri. Aduuuh... cukuplah berjalannya, toh sudah hampir satu jam aku berjalan dan sesekali berlari sambil menggendong pria ini. Seharusnya ini sudah menjadi wilayah yang aman dari kawanan macan itu.

Aku meletakkan pria itu di bawah pohon beringin besar untuk beristirahat dan melihatnya apakah masih bernafas, ternyata dia masih hidup. Syukurlah. Aku mencoba membangunkannya dengan memberikan air minum padanya. Dia terbangun dan akhirnya meneguk air yang kuberikan padanya dengan sangat tergesa-gesa. Pria itu tidak banyak bicara. Kurasa dia juga belum mengunyah makanan beberapa hari terakhir ini. Kuambil persediaan ubi rebusku dan kucoba menyuapinya dengan suapan-suapan kecil, ia makan dengan sangat lahap.

            Aku melihat luka di perutnya cukup dalam, namun tidak sampai merobek organ pentingnya seperti usus, lambung, dll. Kurasa lukanya masih bisa dibilang luka luar yang dalam, namun  akan tetap berbahaya jika terus menerus dibiarkan. Mungkin seharusnya lukanya dijahit agar tidak mengangga, namun apa boleh buat di hutan tidak ada dokter untuk menjahit lukanya. Aku mencoba sebisaku membersihkan luka itu dengan bekal air yang kupunya sekedar untuk mensterilkan dari bakteri. Keluargaku hidup dalam masa-masa perang sehingga aku banyak tahu bagaimana menyembuhkan luka seperti ini. Apalagi ini di dalam hutan, kurasa tak sulit menemukan tumbuhan yang bisa menyembuhkan luka dengan cepat, yaitu daun cocor bebek.

Pria itu terlihat sangat kesakitan, aku menyuruhnya menungguku di tempat itu sebab aku akan mencari daun cocor bebek, air bersih dan beberapa makanan untuk persediaan lain. Ia hanya mengangguk pelan. Aku kembali menelusuri lebatnya hutan sambil mencari daun cocor bebek. Menurut nenekku, daun cocor bebek cukup ditumbuk dan diberi sedikit air bersih kemudian dioleskan pada luka yang sakit. Cocor bebek dalam keluarga kami, dianggap sebagai daun yang berkhasiat untuk menghentikan pendarahan, mengurangi pembengkakan di kulit, dan juga berkhasiat mempercepat kulit untuk sembuh karena dipercaya di dalam cocor bebek mengandung zat lendir dan magnesium yang tinggi.

Setelah cukup lama mencari, akhirnya aku menemukan yang kubutuhkan. Aku sengaja mengambil banyak daun cocor bebek untuk persediaan selama beberapa hari ke depan. Aku kembali ke tempat di mana pria itu berada. Dia masih duduk lemas di tempatnya. Kemudian, aku menyuruhnya berbaring agar mudah mengobatinya. Ia menuruti perintahku tanpa basa-basi.

Aku mencari batu besar untuk menumbuk daun cocor bebek dan mencampurnya dengan sedikit air bersih, setelah selesai kutumbuk aku segera membalurkan ramuan tersebut ke luka menganga yang ada di perut pria itu.

“AAAAAAKKKHHH!!!” dia berteriak menahan rasa sakitnya.

“Sabar.” Ujarku menenangkan. Aku merobek ujung jarikku yang memang sudah ada yang bolong terkena ranting tajam saat berlari ke sana dan ke mari. Jadi tidak cukup sulit jarik yang kukenakan untuk disobek dengan sobekan panjang. Aku segera membendel luka di perut dengan robekan jarik milikku. Pria itu tak banyak bicara, dia hanya berusaha menahan sakit dan akhirnya jatuh tertidur.

Tak lama kemudian, malam pun jatuh. Hutan rimba kembali gelap. Suasana sangat sunyi dan sepi. Namun kali ini aku tidak sendirian, di sampingku ada pria asing dari negara asing. Pria itu terbangun dari tidurnya. Menyadari hari sudah gelap, ia sedikit menggigil kedinginan. Hebatnya pria ini bisa bertahan hidup selama beberapa hari dengan luka menggangga tanpa air dan tanpa makanan. Berapa lama dia harus melewati itu semua?

“Korek api.” Dia melemparkan padaku sebuah korek api dengan bentuk yang aneh, tidak ada korek dan tidak ada pemantiknya, mengapa benda seperti ini disebut korek api? Ini lebih mirip kotak berisi air. Aku baru pertama kali melihatnya merasa sedikit terkesima.

“Bagaimana cara menyalakannya?”

“Seperti ini.” dia mengajariku memantik korek api tersebut. Aku mencoba menyalakan korek api itu sendiri. Berhasil. Api keluar diujung benda ini. Sangat canggih. Jadi, tidak ada korek dan pemantiknya namun api tetap bisa menyala.

Aku mengumpulkan daun-daun kering di sekitaran tempat kami duduk. Setelah kurasa cukup banyak, daun-daun itu kutumpuk bersama ranting-ranting pohon yang panjang dan tipis-tipis. Kuletakkan daun-daun kering itu di atasnya dan kunyalakan api menggunakan mesin pemantik api tersebut. Terang. Akhirnya, di hutan aku tidak lagi kegelapan dan juga tidak lagi kedinginan. Aku memandang langit dengan kerlipan bintang bertaburan di atasnya. Seolah ada permadani cahaya di atas sana. Hari ini aku menyelamatkan orang asing. Hatrowardojo, selamat malam. Kulanjutkan esok hari untuk mencarimu kembali. Kuyakin kau masih hidup di sudut Borneo, entah di mana.

Malam berganti pagi, cicitan suara burung terdengar nyaring membangunkanku. Aku segera mematikan api unggun yang semalam berhasil kunyalakan. Kulihat pria itu masih tertidur. Aku mendekatinya dan memeriksa apakah lukanya mengalami perbaikan. Kurasa tidak mungkin menyembuhkan luka ini dalam hitungan jam, setidaknya butuh beberapa hari hingga lukanya mengering. Aku melepas kain jarik yang membalutnya dan kembali kubersihkan lukanya dengan air bersih, dia terbangun dan memincingkan matanya, didapatinya aku sedang membersihkan lagi lukanya agar tidak infeksi. Kemudian aku mencuci bersih jarik yang digunakan untuk membalut lukanya., kujemur di sinar matahari, lalu aku tumbuk lagi cocor bebek. Aku mengulangi pengobatan yang sama pada perutnya yang masih terluka. Dengan pengobatan seperti ini secara terus-menerus aku yakin lukanya akan sembuh.

Aku kembali mencari bahan makanan di sekitarku, setelah itu aku mencoba menyuapinya dengan buah-buahan yang sudah aku temukan. Ia tidak banyak berkata, kurasa lukanya masih terasa sakit jadi dia memutuskan untuk tidak banyak bicara guna mempercepat proses penyembuhan. Aku kembali mengulangi pengobatan yang sama di beberapa hari selanjutnya. Tiba-tiba, pada pagi hari ia mengatakan sesuatu,

“Aanuu... aku ingin buang air kecil.” Ujarnya lirih. Aku sedikit terkejut. Dia tidak mungkin buang air kecil seorang diri kan? Sedangkan dia saja tidak bisa banyak bergerak. Jadi, mau tidak mau aku harus memapahnya? Hmm... baiklah, bukan sesuatu yang sulit, aku hanya perlu memapahnya. Gumamku dalam hati.

Segera kupapah dirinya dengan hati-hati menuju tempat yang agak jauh dari tempat kami duduk. Kemudian aku memalingkan wajahku saat dia sedang panggilan alam. Tunggu dulu, jangan-jangan selama beberapa hari ini dia menahan buang air kecil karena malu aku adalah wanita?

“Jadi, selama ini kau menahannya?” kembali aku memapahnya ke tempat awal kami duduk dan beristirahat.

“Ya begitulah. Kurasa hujan akan tiba.” Ujarnya sambil menunjuk ke arah langit. Benar sekali, langit terlihat mendung.

“Kurasa kita harus pindah ke tempat yang terhindar dari hujan. Tadi aku menemukan sebuah goa kecil di sekitar sini. Bagaimana kalau untuk sementara kita pindah ke sana?” tanyaku pada pria itu. Dia hanya mengangguk.

***

Sebelum pindah aku memastikan bahwa di dalam goa itu tidak ada binatang buas. Untungnya goa tersebut benar-benar sepi dan tidak ada binatang buas, jadi kami bisa beristirahat di dalamnya. Aku melihat luka dari pria ini sudah berangsur-angsur membaik, setelah beberapa hari rutin kuberikan balutan cocor bebek, lukanya sudah tidak sebasah sebelumnya dan beberapa hari ke depan mungkin sudah mengering.

Rencanaku mencari Hartowardojo sedikit terhalang karena aku harus merawat luka pria ini selama beberapa hari, siapa pria ini bahkan aku tidak mengetahuinya. Aku hanya tidak bisa meninggalkannya seorang diri dengan luka mengangga. Paling tidak aku baru bisa meninggalkannya saat dia sudah lebih baik dari hari ini. Namun, tidak ada tanda-tanda kemunculan Hartowardojo lagi semenjak aku bersama pria ini. Hartowardojo, dimanakah dirimu berada? Aku berdiri di Borneo, sedangkan engkau berdiri di bagian mana?

Berdiri Aku (Amir Hamzah, 1933)

Berdiri aku di senja senyap

Camar melayang menepis buih

Melayah bakau mengurai puncak

Berjulang datar ubur terkembang

 

Angin pulang menyenduk bumi

Menepuk teluk mengempas emas

Lari ke gunung memuncak sunyi

Berayun-ayun di atas alas

 

Benang raja mencelup ujung

Naik marak mengerak corak

Elang leka sayap tergulung

Dimabuk warna berarak-arak.

 

Dalam rupa maha sempurna

Rindu-rindu mengharu kalbu

Ingin datang merasa sentosa

Menyecap hidup bertentu tuju.

***

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

rara_el_hasan
2019-01-03 12:51:31

mapkhan saya bunda yg baru baca.. padahal cucok meong bgt
Mention


SEKARMEMEY
2018-12-26 06:57:55

Thank udah like karya saya . Cerita.nya bagus dan pantas jadi pemenang , sukses untuk karya2 selanjutnya ya kak
Mention


dinda136
2018-12-23 08:23:03

Bagus banget kak,, dari awal baca udah tertarik, keren nih
Mention


anna_777
2018-12-23 00:55:31

Karya tulis dengan latar belakang masa lalu, selalu membuat saya impress. Thank you udah like karya saya juga, tersanjung di like oleh pemenang tinlit. Good luck for your next story
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:27:03

@Khanza_Inqilaby terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:25:24

@[dear.vira] terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:24:28

@AlifAliss terima kasih banyak sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:54

@tikafrdyt wah, terima kasih banyakkk :) terima kasih juga sudah mau mampir
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:23

@Tania terima kasih sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:01

@Citranicha terima kasih kak sudah mampir... :)
Mention


Page 1 of 5 (44 Comments)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

338 281 5
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

898 639 12
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

547 408 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

449 349 14
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

186 149 2