BAB 10

MENCARI HARTOWARDOJO

 

Gadis Belukar, J.E.Tatengkeng

Di tengah manusia

Aku tersia-sia 

Mencari khabar

Yang agak benar

***

Sudah hampir satu minggu aku dan pemuda-pemudi berada di Borneo, seminggu ini kurang lebih digunakan untuk masa pengenalan anatara penghuni kamar, pembelajaran budaya dan bahasa Jepang khususnya percakapan sehari-hari. Aku sudah dapat mengenalkan diriku dalam bahasa Jepang seperti yang diajarkan rekan Zus Sulastri.

Hajimemashite, Ohayou gazaimasu. Watashi no namae wa Yuki desu[1]. Atau untuk bertanya apa kabar dalam bahasa Jepang Ogenki desuka, yang dijawab genki desu dan Gomen nasai untuk meminta maaf. Setidaknya percakapan dalam bahasa Jepang diajarkan di sini. Untuk rekan yang tidak bisa membaca dan menulis tidak memiliki kendala yang berarti karena pengajar yang juga orang pribumi mengajar tanpa menyuruh mencatat, jadi sifatnya seperti hafalan yang diucapkan secara berulang-ulang.

Kemudian kami dibagi menjadi beberapa kelompok lagi, kelompok sandiwara, kelompok tarian tradisional Jepang, kelompok permainan musik tradisional Jepang dan kelompok teh Jepang. Pemilihan kelompok ini dilakukan bukan karena kesukarelaan gadis-gadis yang ada di sini, namun berdasarkan postur tubuh, wajah, gestur dan lain-lain. Zus Sulastri menjelaskan berapa gaji pokok yang bisa kami dapatkan setiap minggunya jika kami dapat dengan baik bekerja sesuai dengan kelompok masing-masing. Aku dan beberapa rekanku yang lain kebagian untuk penyajian teh ala Jepang atau disebut dengan Matchado karena bahan dasar yang digunakan adalah bubuk teh matcha hijau yang baru diperkenalkan ke Jepang sejak abad ke-12.

Aku digiring dengan beberapa gadis lain yang kebetulan masuk ke dalam kelompok penyaji teh untuk diajari cara menyajikan teh matcha saat Matchado. Di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar namun memiliki banyak properti mendukung. Tak banyak dijelaskan oleh Rika alias Zus Asih mengenai asal-usul Matchado atau upacara minum teh ini, namun yang kuketahui darinya bahwa tradisi ini awalnya dilakukan oleh China yang kemudian diadaptasi oleh samurai Jepang pada abad ke-12, dan akhirnya menyebar ke seluruh pelosok Jepang abad ke-16. Kupikir aku akan bermain sandiwara namun ternyata pekerjaan yang aku dapat adalah menyajikan teh, dan kukira ini akan menjadi pekerjaan yang mudah ternyata ada banyak sekali peraturan di dalamnya. Matchado bukan sekedar menyajikan teh biasa namun seperti upacara saklek penuh dengan norma dan aturan. Pekerjaan ini tidak cocok untuk orang yang tidak sabaran, sebab filosofi penyajian teh sendiri adalah tata krama yang membutuhkan kesabaran.

Hal awal yang Rika alias Zus Asih ajarkan padaku adalah memperkenalkan alat-alat yang akan kugunakan dalam menyajikan matcha. Seperti Okama[2] yang bentuknya bulat dan paling besar di antara lainnya warnanya coklat, di tengahnya terdapat lubang dan bagian atas Okama memiliki pegangan kecil sekali di sisi kiri dan kanannya. Okama digunakan untuk memanaskan air yang digunakan untuk membuat teh matcha, kemudian ada hisyaku, senshu, kaishi, mizu sashi, cha shen, koboshi, Onatsume,[3] dan banyak lainnya.

Kami diberi waktu singkat untuk menghafal seluruh nama-nama benda yang digunakan dalam prosesi penyajian teh dan bagaimana cara kerjanya. Aku agak kesulitan karena namanya asing dan aku tidak terbiasa melafalkannya. Selanjutnya Zus Asih mengajarkan kami untuk duduk dengan benar ketika menyajikan teh, yaitu dengan dada tegap dan kaki dilipat ke belakang, bukan main kami berlatih duduk saja dalam waktu setengah jam sudah sesak nafasku. Kurasa prosesi penyajian teh Jepang ini bukan suatu hal yang mudah dilakukan.

Setelah berlatih duduk tegap dan kaki dilipat ke belakang, Zus Asih mengajarkan bagaimana menyiapkan teh kepada tamu, yaitu dengan memberikan satu persatu yang nantinya para tamu akan memutar cangkir sebanyak 3 putaran 180 derajat. Sebuah kebudayaan yang cukup panjang bukan? Kudengar gadis Jepang asli membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mempelajari cara menyajikan teh ini. Sedangkan kami, hanya beberapa hari saja. Sebab kami bukan mengambil esensi atau filosofi mendasar dari penyajian teh ini, namun hanya menduplikat agar terasa ke-Jepangannya bagi tentara Jepang di Borneo.

“Duhhh... kakiku pegal.” Keluh Mayang yang satu kelompok denganku.

“Ternyata rumit.” Balasku. Diikuti lirikan mata tajam Zus Asih. Kami berdua langsung kicep karena merasa tidak enak dipandangi Zus Asih.

Tiga hari selanjutnya setelah diajari cara menyajikan teh, kami dalam kelompok penyaji teh diajarkan untuk memakai yukata[4] dan berdandan ala gadis Jepang dalam balutan busana tradisional. Sebenarnya di Jepang asli menggunakan kimono untuk menyajikan teh namun karena yukata lebih simpel maka dipilih yukata hanya sekedar untuk merasakan sensasi yang sama saat berada di Jepang, meskipun tentu saja akan ada banyak hal yang missing.

Memakai yukata pun tidak bisa sembarangan, ada 4 perlengkapan yang harus disiapkan sebelumnya, yaitu hadagi berupa baju putih yang digunakan sebelum memakai yukata, kemudian ada koshihimo sejenis tali mengikat yukata di bagian pinggang, ada obi yaitu sabuk khusus yukata, selanjutnya ada maeita sejenis penahan obi agar yukata tidak berantakan, alas kaki pun tidak bisa sembarangan, harus memakai geta alias bakiak Jepang.

Poin utama yang diajarkan Zus Asih pada kami dalam memakai yukata adalah urutan bagian kiri kerah berada di dalam sehingga bagian kanan ada di depan, jika terbalik maka akan menjadi simbol samaran untuk orang yang sudah meninggal. Langkah memakai yukata pun cukup panjang, yaitu menggenakan hadagi terlebih dahulu, lalu setelah hadagi sudah terpasang maka langkah selanjutnya adalah memakai yukata dimulai dari bagian lengan dan memastikan bahwa jahitan yukata di bagian punggung sudah berada di tengah. Setelah memastikan bahwa kain sudah sesuai panjangnya di bagian kaki, kerah maka yang terakhir adalah memakai koshishimo atau tali pinggang, sabuk dan terakhir obi. Langkahnya cukup panjang, namun jika biasa memakainya akan terasa mudah.

Aku merasa perlakuan Jepang pada kami adalah cara dari sebuah hegemoni berjalan. Memasukkan budaya mereka, berupa tarian tradisional, mengajarkan kami percakapan sehari-hari menurutku merupakan hegemoni dalam bahasa, hegemoni dalam pakaian berupa yukata. Kebanyakan kami, sebagai subjek hegemoni tidak menyadari bahwa sesungguhnya kami menjadi subjek utama dari hegemoni kebudayaan Jepang itu sendiri. Kami dikondisikan tidak memiliki sebuah pilihan selain menerima hegemoni tersebut (the death of subject), meski dengan iming-iming upah.

Jepang menebarkan ideologinya kepada pemuda pribumi, hakko-ichi-u, yaitu sebuah ideologi delapan penjuru dunia di dalam satu atap sebagai slogan persaudaraan negara Asia, dari ini pula banyak pemuda pribumi berbondong-bondong membantu Jepang untuk menang dalam perang Asia Timur Raya, demi tercapainya tatanan kehidupan baru. Tak terkecuali Hartowardojo, yang rela ke Borneo demi melaksanakan tugas tersebut dan aku yang ke Borneo untuk menyusulnya, sisanya tujuanku adalah menghindari pernikahan dengan Sutedjo dan untuk mendapat pekerjaan di sini dengan upah yang besar.

Aku berkeinginan mencari celah untuk keluar dari gedung wanita ini guna mencari Hartowardojo, kurasa nanti malam adalah waktu yang tepat untuk melancarkan aksiku, aku belum mengetahui medan kiri kananku namun aku tidak memiliki banyak pilihan selain keluar dari gedung ini dan pergi mencari Hartowardojo, aku bisa memulai mencari Hartowardojo ke gedung laki-laki di sebelah gedung utama karena tidak ada akses apapun menuju ke sana, jadi aku tidak pernah mengetahui apakah Hartowardojo berada di kompleks yang sama denganku atau tidak. Masalah Zus Asih mencariku bukan persoalan utama, sebab besok adalah hari Minggu, kami mendapat waktu untuk beristirahat sejenak setelah disuguhi banyak pelajaran beberapa hari terakhir.

***

Gelap semakin jatuh malam ini, kurasa ibu, bapak dan kedua adikku sudah lama menemukan surat yang kutinggal di bawah bantalku. Bisa jadi mereka panik bukan kepalang setelah mereka mengetahui bahwa aku pergi dari rumah ke Borneo. Semoga mereka baik-baik saja di sana tanpa aku. Kuharap Sinar dan Mulyati tetap bisa mengerjakan tugas dari Taman Siswa dengan baik, kuharap ibu dan bapak dapat makan dan hidup dengan sehat. Kira-kira malam hari ini mereka berempat sedang apa ya di rumah? Apakah mereka rindu padaku sebab aku sangat rindu pada mereka.

Siapa yang menggantikanku pergi ke pasar? Yang menggantikanku berberes rumah, memasak di dapur, mencuci baju, menyapu halaman rumah? Ibu tentu sibuk membantu bapak di pabrik tahu baru, apakah Sinar bisa melakukan semua itu? Aku jadi teringat mengenai pabrik tahu baru, apakah semua berjalan baik-baik saja? Kemudian Sutedjo, bagaimana perasaannya ketika mengetahui calon istrinya kabur, pasti sedih sekali. Semoga dia tetap bisa bersikap baik kepada ibu dan bapakku meski tidak berhasil menikahiku, dan Warsonoe, adik kekasihku itu apakah dia baik-baik saja di sana? Berbagai pertanyaan menari-nari di kepalaku.

Aku sedang menunggu semua orang tertidur pulas sebelum akhirnya aku menyelinap untuk keluar dari gedung ini. aku sudah memperhatikan ternyata tentara yang berjaga terkadang jatuh tertidur apabila tengah malam tiba, maka aku bisa mengambil kesempatan itu untuk segera keluar dari tempat ini dan mencari Hartowardojo yang mungkin ada di gedung laki-laki, di sebelah gedung utama.

“Belum tidur juga?” tanya Kurnia melihatku krusak-krusuk sambil pura-pura tidur.

“Belum.” Jawabku singkat. Kulihat setengah dari rekan sekamarku sudah tertidur pulas, ternyata Kurnia belum tidur.

“Aku sebenarnya ingin keluar malam ini.”

“Hah? Keluar dari tempat ini kan dilarang, Zus Sulastri sudah memperingatkan kita sebelumnya.”

“Ya, kalau tidak ketahuan kurasa tidak masalah. Sebenarnya aku ke Bornoe untuk mencari kekasihku, Hartowardojo. Ia ke Borneo beberapa bulan yang lalu untuk bergabung dengan tentara Jepang dalam perang Asia Timur Raya, kurasa malam ini adalah waktu yang tepat untuk mencarinya. Aku sudah menunggu berbulan-bulan untuk hari ini.”

“Waaaah... perang Asia Timur Raya? Kudengar tak banyak yang selamat jika ikut perang itu.”

“Tak ada yang tahu mengenai nasib.”

“Benar juga, lalu kau berniat mencari kemana?”

“Hm... ke gedung laki-laki di sebelah, mungkin saja selama ini dia ada di sana. Cukup sulit pergi meskipun hanya ke gedung sebelah karena selalu dijaga tentara Jepang. Kalau malam seperti ini, kurasa mereka sedikit lengah.”

 “Kupikir kekasihmu tidak ada di kompleks gedung ini, karena gedung ini kan cukup baru disinggahi tentara Jepang yang sebelumnya ditempati Belanda, sedangkan kekasihmu pergi dari beberapa bulan kemarin, jelas tidak ada alasan dia berada di sini.”

“Begitukah?” tanyaku.

“Ya. Kita pribumi yang pertama menempati gedung ini, bukankah saat kita datang pertama kali gedung juga dalam keadaan kosong, kecuali diisi tentara Jepang, mungkin kekasihmu ada di tempat lain atau di markas lain. Borneo kan luas.”

“Benar juga.”

“Aku dengar pembicaraan Zus Sulastri dengan Zus Asih bahwa kita pribumi yang pertama menempati tempat ini.”

“Ohhh... jadi begitu. Berarti aku tidak usah mencari di gedung sebelah, tapi langsung saja keluar dari gedung ini untuk mencari Hartowardojo di tempat lain.”

“Ya, ide yang bagus. Kira-kira, berapa lama kau berniat mencari Hartowardojo? Dan kau berencana kembali ke tempat ini lagi kan?”

“Aku tidak yakin berapa lama, jika ternyata kelak aku tidak kunjung menemukan Hartowardojo, karena aku butuh uang untuk bertahan hidup di Borneo, maka mau tidak mau aku harus tetap kembali ke tempat ini untuk bekerja.”

“Apakah kau pikir Zus Sulastri akan menerimamu kembali setelah kau mencoba keluar dari tempat ini tanpa sepengetahuannya?”

“Kuharap begitu, sebab dia tetangga di dekat rumahku. Aku cukup mengenalnya. Seharusnya tidak ada masalah jika aku kembali ke tempat ini setelah berusaha mencari Hartowardojo. Aku akan menjelaskan detail padanya nanti.”

“Kau harus tetap berhati-hati jangan sampai tertangkap saat mencoba menyelinap keluar nanti. Aku khawatir kepalamu akan berpisah dengan badanmu jika ketahuan.” Kurnia memperingatiku. Aku bergidik sendiri. Selama ini tentara Jepang tidak menunjukkan gelagat aneh selama aku di sini, namun aku juga harus waspada dengan segala jalan yang hendak aku pilih jangan sampai nyawaku melayang sia-sia.

Aku menunggu semua orang tertidur pulas, tidak termasuk Kurnia karena dia mengetahui niatku, maka dia membantuku mengawasi keadaan agar aku bisa keluar dengan aman. Sebelumnya aku sudah memasukkan sejumlah uang yang kupunya di dalam jarik coklat yang kugunakan dan aku juga mengambil ubi rebus serta persediaan air minum dari dapur secara diam-diam untuk bekal perjalananku nanti, di dapur tidak ada orang sama sekali jadi aku bebas menyelinap ke dalamnya, sebab aku tidak tahu medan apa saja yang akan kutemui.

Kurnia berjalan pelan di depanku, ia mengendap-endap memeriksa apakah tentara Jepang yang menunggu di depan gedung masuk wanita sudah tertidur atau belum, kemudian dirinya mengacungkan jempolnya menandakan bahwa keadaan aman terkendali. Aku menghampirinya, benar tentara sudah tertidur namun masalah lainnya adalah pintunya terkunci dengan gembok yang kulihat sudah sedikit karatan. Aku mencari-cari di mana kunci gemboknya, ternyata ada di meja dekat tentara itu berjaga. Jarak antara meja dengan pintu tidak begitu jauh, aku bisa menggapainya jika tanganku kujulurkan ke arahnya, namun ini membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi, aku harus bisa mengambil kunci gembok itu dengan cepat tanpa menimbulkan suara apapun. Keringatku menetes deras, ini seperti uji nyali, salah gerakan sedikit saja, kurasa kepalaku taruhannya. Kurnia memandangku dengan sedikit cemas sambil tetap berjaga-jaga memperhatikan kiri dan kanannya.

Aku berhasil mengambil kunci gembok itu, sekarang dengan sangat lembut dan lemah gemulai aku mencoba memasukkan kunci gembok ke dalam gemboknya dan memutar ke arah kanan dan ke arah bawah untuk membuka tanpa mengeluarkan decitan suara apapun, aku kembali berhasil. Keringatku menetes deras, ini cukup membuat jantung copot. Telapak tanganku sudah dibasahi air keringat, aku mengelapnya sebentar ke kain jarik yang kupakai. Setelah berhasil membuka gemboknya, aku segera keluar dengan hati-hati, sekarang yang perlu aku lakukan adalah mengunci kembali gembok dan meletakkan kuncinya di meja tentara agar tidak ada yang curiga bahwa seseorang telah pergi dari gedung wanita. Kurasa tentara itu tertidur karena kelelahan setelah melakukan apel di sore hari, jadi ketika aku pergi mereka tidak menyadarinya.

Kukembangkan senyuman dan melambaikan tanganku dari luar gedung pada Kurnia yang telah membantuku. Kemudian dengan segera aku kabur dengan cepat tanpa grasak-grusuk. Aku berjalan dan terus berjalan, menelusuri hutan, aku tidak tahu ke mana arahku berjalan namun aku merasa rembulan sedang menuntunku. Sepanjang malam aku terus berjalan, jika aku merasa lelah, aku memutuskan untuk berhenti sejenak di bebatuan besar atau duduk di bawah pohon besar. Tidak ada cahaya yang menemaniku, aku hanya berjalan di hutan yang gelap, cahaya dan arah jalanku hanya rembulan yang bersinar. Sesekali auman serigala terdengar oleh telingaku, sejujurnya aku sedikit takut ada hewan buas yang tiba-tiba menerkamku. Namun, aku harus tetap melangkahkan kakiku. Aku harus mencari Hartowardojo.

Malam yang begitu pekat dan dingin, seorang gadis sepertiku berjalan di hutan belantara di pulau yang tidak kuketahui sebelumnya, tanpa seorang pun. Sepanjang perjalanan aku hanya berdoa agar Tuhan selalu menemani setiap langkahku menelusuri alas belantara yang dipenuhi ranting pohon yang tumbang, sungguh jika aku tersesat di sarang penyamun juga tidaklah lebih baik bagiku daripada mati sia-sia di tengah alas rimba.

Dingin... sungguh dingin yang menusuk kulit dan persendianku, hutan ini belum terjamah manusia kurasa, begitu asri dan perawan. Setiap mataku memandang hanya ada pohon besar dan lebat, kutaksir pohon-pohon ini umurnya sudah puluhan atau mungkin ratusan tahun. Beberapa kali pacet dan lintah menempel di telapak kakiku, aku langsung membunuhnya dengan benda yang ada di sekitarku, aku sudah terbiasa bermain di sawah sejak kecil jadi sekedar pacet dan lintah bukanlah musuh terbesarku. Aku masih mengikuti rembulan, kemana ia menunjukkan jalan, ke arah itulah kakiku melangkah.

“Sraaak.... sraaak...!!”

Terdengar daun-daun di pohon pendek bergoyang-goyang dan saling bergesekan sehingga menimbulkan bunyi. Ah, mungkin monyet hutan atau sejenisnya. Aku mencoba mengalihkan pandanganku dari arah itu dan kembali melanjutkan langkah kakiku, namun

“Sraaak....sraaaak...!!”

Lagi-lagi suara daun bergoyang, seolah ada seseorang di balik dedaunan itu, mengapa bulu kudukku jadi merinding begini? Memang benar di pulau Jawa terkenal memiliki dedemit di dalam alas rimba, namun apakah dedemit juga hidup di tanah Borneo. Pulau Jawa memiliki genderuwo, pocong, wewe gombel dan sejenisnya. Aku jadi takut apakah di pulau Borneo ini ada dedemit.

“Sii..siiapa itu?!!” aku takut setengah mati. Aku atur nafasku sedemikian rupa agar tidak terlalu kentara bahwa aku ketakutan, siapa tahu itu bukan dedemit kan malah menjadi situasi yang berbahaya bagitu. Tapi setelah kupikir lagi jangan sampai yang bergerak-gerak itu ternyata bandit, tukang rampok atau kanibal, lebih baik dedemit sekalian daripada manusia tapi jahat seperti mereka. Aku mencoba menghampiri daun yang bergoyang itu. Semakin kuhampiri, semakin terlihat sesosok bayangan seperti wujud manusia. Aku sedikit kaget, mengapa ada bayangan sesosok manusia di tengah hutan belantara seperti ini, apa lagi dalam tengah malam. Kukira hanya aku seorang diri di tempat ini, ternyata ada sosok lain kah? Kira-kira siapa sosok itu? Pikiranku menyeruak ke mana-mana. Aku takut, kaget sekaligus melakukan kuda-kuda.

“Ningsih.” Sesosok bayangan yang mirip wujud manusia itu tiba-tiba menyebut namaku pelan, sangat pelan bahkan hampir terdengar seperti desiran angin. Namun, aku tetap bisa mendengarnya dengan jelas. Dalam hitungan detik stimulus-respon, logikaku langsung berpikir cepat, tidak ada yang mengenalku di Borneo selain rekanku di gedung tentara Jepang, namun kini aku berada di tengah alas Borneo yang jelas sekali tidak ada yang mengenalku bahkan tahu akan diriku. Tapi mengapa sosok ini bisa tahu namaku, jangan-jangan dia...

“Hartowardojo? Itu kah kau?” jantungku berdegub kencang, aku segera menghampiri bayangan dari balik dedaunan itu. Kosong, bayangan itu sudah pergi secepat kilat ketika aku berusaha menghampirinya. Bayangan itu pergi sambil menimbulkan suara berisik lainnya dari balik dedaunan lain di sekitarnya. Aku berlari mengejar bayangan itu. Gelap sekali, di tengah alas hutan seperti ini hanya kegelapan yang menyelimutiku, meski bulan purnama bersinar terang namun tidak cukup sinarnya menyinari keseluruhan alas yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar ini.

“Sraaak...sraaak... draaap...draapp....”

Aku mendengar jelas langkah kaki yang berlari terkena daun-daun kering di tanah alas. Kupastikan diriku sedang tidak bermimpi bahwa aku sedang berhalusinasi, jelas tadi bayangan itu memanggilku Ningsih. Apa mungkin dedemit bisa memanggil manusia dengan begitu jelas? Aku masih waras, aku bisa membedakan mana suara halusinasi dan mana suara betulan. Jelas bayangan itu adalah sosok manusia. Iya! Hartowardojo!

“Hartowardojo!! Tunggu akuuu!!” aku berlari dan terus berlari mengejar sosok bayangan itu. Seolah tak mendengar teriakanku, bayangan itu tetap berlari dengan kencang. Aku mulai merasakan telapak kakiku sakit karena tergores banyak ranting-ranting pohon di tanah alas yang kuinjak. Terasa sakit. Aku memperlambat langkahku. Sampai kapan bayangan itu akan berlari, aku merasa cukup lelah.

 “Hossh...hossh...”

Sial, aku kehabisan nafas, keringatku basah di sekujur badanku, di tambah udara hutan yang dingin membuatku sedikit mengigil. Bayangan itu lari dengan cukup cepat. Aku sudah berlari cukup jauh dari tempat pertama mengejar bayangan itu namun tak juga aku bisa menyamakan langkah kakinya.

Tidak ada lagi suara derap langkah, tidak ada lagi suara dedaunan, aku kehilangan jejak bayangan itu. Aku menyerah, langkah kaki bayangan itu tidak bisa kuimbangi dengan baik.  Kuputuskan untuk beristirahat dengan duduk di bawah pohon besar. Aku melongok ke arah telapak kakiku, beberapa bagian di kulitku terkelupas karena terkena ranting pohon, cukup perih namun aku masih bisa melanjutkan perjalanan. Terlebih aku merasa sangat lelah dan butuh istirahat, sambil memejamkan mataku satu hal yang bisa kuyakini, bayangan itu adalah Hartowardojo. Dia masih hidup. Dia di sini, di Borneo.

***

 

[1] Hajimemashite, Ohayou gazaimasu. Watashi no namae wa Yuki desu: Senang bertemu dengan anda, selamat pagi. Nama saya Yuki.

[2] Okama: alat pemanas air.

[3] Hisyaku: centong air, senshu: kipas, kaishi: tempat makanan dalam upacara minum teh, mizu sashi: wadah air bersih, cha shen: pengaduk teh, koboshi: wadah mencuci bekas teh, Onatsume: gelas teh, semua ini adalah sebagian peralatan yang digunakan untuk membuat teh matcha pada matchado.

[4] Yukata: baju tradisional Jepang.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

rara_el_hasan
2019-01-03 12:51:31

mapkhan saya bunda yg baru baca.. padahal cucok meong bgt
Mention


SEKARMEMEY
2018-12-26 06:57:55

Thank udah like karya saya . Cerita.nya bagus dan pantas jadi pemenang , sukses untuk karya2 selanjutnya ya kak
Mention


dinda136
2018-12-23 08:23:03

Bagus banget kak,, dari awal baca udah tertarik, keren nih
Mention


anna_777
2018-12-23 00:55:31

Karya tulis dengan latar belakang masa lalu, selalu membuat saya impress. Thank you udah like karya saya juga, tersanjung di like oleh pemenang tinlit. Good luck for your next story
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:27:03

@Khanza_Inqilaby terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:25:24

@[dear.vira] terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:24:28

@AlifAliss terima kasih banyak sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:54

@tikafrdyt wah, terima kasih banyakkk :) terima kasih juga sudah mau mampir
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:23

@Tania terima kasih sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:01

@Citranicha terima kasih kak sudah mampir... :)
Mention


Page 1 of 5 (44 Comments)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

386 305 7
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 545 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

355 282 10
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 7
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

846 606 10
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

500 374 5