BAB 9

TIBA

Akhirnya pagi-pagi buta kami tiba di Borneo, untuk pertama kalinya setelah beberapa hari kami tidak menapak daratan kaki kami semua menginjak tanah juga, aku merasa sangat rindu menjejakkan kaki di daratan sebab bosan juga ternyata hanya melihat lautan meski hanya dalam beberapa hari saja. Tentara Jepang segera menggiring kami semua berjalan dari pelabuhan Borneo. Aku tidak tahu apa nama pelabuhannya sebab masih sepi sekali pada pagi-pagi buta itu, tidak banyak orang berlalu-lalang seperti di Djakarta yang memang selalu ramai.

Kami berjalan cukup jauh, melewati jalanan berliku dan kurasa tempat yang kami tuju bukan di pusat kota melainkan sedikit masuk ke pelosok. Setelah berjalan kaki selama dua jam, kami merasa cukup lelah dan kepayahan terlebih karena barang bawaan yang kami bawa berat, namun tak sedikitpun tentara Jepang memberikan kami waktu untuk beristirahat. Aku mulai merasa mereka agak keterlaluan karena yang berjalan bukan hanya pemuda tapi gadis seperti kami. Aku bertanya-tanya di dalam hati, sampai kapan kita semua harus berjalan dari pelabuhan. Mengapa rasanya tidak sampai-sampai juga padahal sudah berjalan jauh dari pagi-pagi buta. Aku tidak berani protes apapun karena kulihat semua orang diam saja.

Aku hanya terkesima tentang bagaimana Borneo terlihat di mataku, sama seperti pulau Jawa, masih di kelilingi hutan belantara, tidak banyak perbedaan. Pribuminya juga berperawakan sama seperti kami yang ada di pulau Jawa. Meski kadang aku tidak mengerti mereka penduduk pribumi yang lalu lalang sedang menggumamkan apa. Sedikit kurasakan pribumi Borneo tidak begitu menyukai keberadaan tentara Jepang di wilayahnya, entah mengapa.

Lama kami berjalan yang kulihat kiri dan kanan hanyalah pepohonan dan pepohonan, bisa kubilang ini lebih mirip hutan kecil dan entah hutan besar belantara Borneo ada di sebelah mana kami berada.

“Duh... aku merasa capek sekali.” Sekar mengeluh. Aku melihat wajahnya sudah keletihan.

“Sabar yaa...” Mayang mencoba menenangkan adiknya meskipun dirinya sendiri juga sudah cukup keletihan berjalan jauh membawa tas besar yang berat.

“Sampai kapan kita harus berjalan?” tanyaku pada Zus Sulastri.

“Sst... jangan berisik. Sebentar lagi sampai kok.” Zus Sulastri mengingatkanku untuk tidak berisik di perjalanan karena kalau ada yang berisik di antara kami, seorang tentara Jepang akan menghampiri kami dan meneriaki kami dalam bahasa yang sama sekali tidak kami mengerti. Sejujurnya aku sedikit takut namun toh aku bersama banyak pemuda lainnya, jadi rasa takutku hilang.

Keringat mulai membanjiri badanku, aku merasa sangat lepek, capek dan sudah kehabisan tenaga. Di saat itu, akhirnya kami sampai tujuan. Total perjalanan yang harus kami tempuh dengan berjalan kaki dari pelabuhan sekitar tiga jam lebih. Cukup membuat betisku membesar sedikit. Aku sedikit ingat pemandangan ini mirip kolonial Belanda yang menggiring pribumi saat mereka memerintahkan sesuatu. Cara tentara Jepang yang membentak kami, menyuruh kami berjalan panjang tanpa istirahat. Bukan perasaanku saja kan? Bahwa aku merasa tentara Jepang saat ini seperti sedang memerintah kami layaknya tentara kolonial memerintah pribumi kemarin, bukan seperti pekerja dan majikan, namun seperti jajahan dan penjajah. Semoga hanya perasaanku saja.

Kami tiba di sebuah bangunan berkompleks-kompleks di tengah hutan kecil di Borneo, yang aksesnya jauh dari pada keramaian, dari arsitekturnya bangunan ini bekas kolonial Belanda, namun karena Belanda dipukul mundur Jepang, maka saat ini Jepang yang menempatinya. Bangunan ini berwarna putih bersih dengan beberapa aksen berwarna abu-abu muda. Terlihat sangat klasik sekali seperti bangunan Belanda pada umumnya. Bangunan paling besar kurasa adalah markas tentara Jepang, sedangkan kami pribumi dibagi menjadi dua, yaitu gedung sebelah kiri untuk wanita dan gedung sebelah kanan dari gedung utama untuk kaum pria. Setiap pintu masuk kompleks dijaga paling tidak dua sampai tiga orang tentara Jepang dan di sekelilingnya dipagari pagar tembok besar dan tinggi yang dikumuri kawat berduri. Gedung wanita tidak memiliki pintu akses untuk menuju gedung pria, namun memilki akses yang bisa ditembus dari gedung utama.

Aku sedikit merasa tempat ini seperti penjara bukan seperti tempat tinggal. Aku berpikir bagaimana kami hidup dan bekerja di tempat yang seperti ini? sedangkan akses ke jalan utama dan keramaian saja menempuh waktu tiga jam lebih, lalu selama kami hidup di sini, apa yang kami lakukan di waktu senggang? Sementara kiri dan kanan bangunan ini adalah hutan, aku bahkan tidak ingat lagi jalan mana saja yang sudah aku lalui untuk bisa sampai di sini saking banyaknya jalan. Bukankah sedikit membosankan.

Zus Sulastri membawa kami masuk ke dalam kompleks yang diperuntukkan bagi wanita. Zus Sulastri menggiring kami ke sebuah ruangan besar seperti aula yang nantinya akan digunakan untuk kami tidur beramai-ramai. Setidaknya menampung sekitar sepertiga dari jumlah wanita yang ada, dan sisanya tidur di dua ruangan besar sebelahnya. Jadi total ada tiga ruangan besar yang digunakan untuk kami para wanita tidur bersama-sama. Jangan membayangkan tidur dengan alas yang nyaman karena toh kami mendapat tempat tidur yang cukup layak pun sudah lumayan.

Kemudian, Zus Sulastri mengajak kami melihat ruangan yang nantinya diperuntukkan kami untuk belajar dan juga bekerja. Sebuah ruangan yang cukup besar dengan banyak ornamen khas Jepang di dalamnya. Seolah aku dibawa masuk ke negara sakura itu. Untuk kamar mandi sayangnya hanya ada dua kamar mandi untuk digunakan secara bergantian, kami harus menimba air terlebih dahulu untuk mandi dari sumur yang ada di dekatnya. Tak masalah bagiku sebab di rumah pun kebiasaanku adalah menimba air dengan menggunakan ember untuk mandi, masak dan mencuci.

Untuk urusan makan, ada sebuah dapur besar yang digunakan untuk memasak makanan bagi tentara Jepang, kulihat bahan makanannya tak jauh dari singkong, ubi, jagung dan sebagainya. Menurut Zus Sulastri setiap minggunya ada yang bertugas membeli bahan makanan ke pasar terdekat. Aku tidak yakin pasar terdekatnya itu berapa jam untuk bisa ditempuh namun kurasa mereka naik mobil jeep atau sebagainya agar bisa lekas sampai di pasar. Aku sedikit keheranan ada sebuah gedung kecil di belakang gedung wanita yang tidak dijelaskan mendetail oleh Zus Sulastri, kurasa gedung kecil itu adalah gudang namun mengapa memiliki banyak pintu dan sekat seperti itu, entahlah aku tidak begitu paham.

Sekar, Mayang dan Kurnia mengapit lenganku erat untuk bisa tidur dalam ruangan yang sama. Kami mendapat ruangan di ruang ketiga dari depan alias paling pojok. Kami akan tinggal di ruangan ini dengan beberapa gadis lainnya. Kuharap ini bisa menjadi awal yang baik untuk kami semua. Kami berempat diikuti tujuh gadis lainnya segera menuju ruangan yang letaknya paling pojok. Sesampainya di ruangan yang cukup luas tersebut kami saling memperkenalkan diri dengan penghuni ruangan yang sama dengan kami.

Kuketahui ketujuh gadis itu bernama Diah, Kosiah, Minten, Surti, Pitaloka, Ajeng dan Nyimas. Ternyata mereka datang dari berbagai daerah di pulau Jawa. Kudengar dari mereka bahwa Zus Sulastri-lah yang merekrut sebagian dari mereka, sama sepertiku yang juga diajak oleh Zus Sulastri.

Tak banyak dari ketujuh gadis ini yang menempuh pendidikan setara Sekolah menengah umum, paling tidak mereka berhasil lulus sekolah dasar seperti Pitaloka. Berarti aku cukup beruntung karena bisa mengenyam bangku pendidikan hingga sekolah menengah umum sama seperti Minten. Sisanya ternyata sama sekali tidak mengenyam bangku pendidikan. Namun, itu bukanlah masalah yang berarti bagi kami karena sejatinya kehadiran kami di sini untuk menjadi pemain sandiwara.

Meskipun agak aneh, untuk pemain sandiwara saja sampai disediakan tempat khusus segala, padahal kalau dipikirkan secara masak, tentara Jepang tidak setiap waktu mau menyaksikan sandiwara kan? Paling beberapa hari sekali dalam satu pekan karena kurasa cukup membosankan melihat sandiwara terus-menerus tapi kalau dilihat dari wilayah geografis tempat ini memang minim sekali hiburan dan mudah membuat orang yang tinggal di dalamnya menjadi bosan. Yaaah, sedikit masuk akal untuk menyediakan hiburan yang dipersiapkan seperti ini.

Malam itu kuputuskan untuk beristirahat melepaskan segala lelah akibat perjalanan yang cukup menguras tenaga. Esok hari ketika sudah kembali bertenaga akan kupikirkan dengan masak bagaimana mencari Hartowardojo, jangan sampai aku lupa bahwa tujuan utamaku ke Borneo salah satunya adalah untuk bertemu Hartowardojo. Namun Bornoe sangatlah luas, aku pun tidak tahu Hartowardojo berada di titik mana. Apakah ia juga berada di markas yang sama denganku atau tidak aku sama sekali belum menemukan jawaban.

Ditambah lagi akses ke gedung pria tidak ada dari gedung yang kutinggali saat ini. Yang lebih menyebalkan adalah ketatnya pengawalan tentara Jepang di setiap pintu masuk, kemudian dinding besar dan tinggi menjulang yang dilumuri kawat berduri membuatku memutar otak bagaimana caranya menemukanmu, Hartowardojo. Setidaknya aku bersyukur sudah berada dan sudah menginjakkan kaki di tanah, di pulau yang sama dengan Hartowardojo. Ini artinya jarak berdiri antara kita berdua tidak terlalu jauh lagi bukan?

***

Pagi hari di Borneo, kami semua sudah mandi, sarapan ala kadarnya dan siap menerima penjelasan dari Zus Sulastri mengenai pekerjaan kami. Seluruh wanita yang usianya 16-24 tahunan ini dikumpulkan di aula utama. Olehnya, Zus Sulastri menjelaskan bahwa di Borneo kami akan mendapatkan nama Jepang untuk masing-masing orang. Hal ini dilakukan guna membuat nyaman tentara Jepang ketika berpapasan dan memanggil kami dan serasa Borneo adalah tanah Jepang bagi mereka, tanah kelahiran mereka sendiri sehingga kami pun harus memiliki nama Jepang di Borneo dan dilarang bagi kami memanggil satu sama lain dengan nama asli kami.

Mengingat Jepang sedang berperang di Asia Pasifik, maka tentara Jepang yang akan dikirim ke perang Asia Pasifik tersebut membutuhkan kenyamanan agar tidak stress dan merasa tertekan sebelum menghadapi medan perang. Bisa dikatakan, tentara Jepang di Borneo sebagian akan dikirim ke perang Asia Pasifik dan sisanya menjaga markas di tempat ini dan di titik lain yang aku tidak begitu tahu.

Aku sedikit terkejut dengan hal ini, mengapa aku harus memanggil orang lain bukan dengan nama aslinya. Namun, kulihat semua orang sangat antusias karena pertama kalinya bagi mereka mendapatkan nama asing. Bagi mereka tentu seperti sesuatu yang menarik, ya sedikit masuk akal karena kami di sini juga sebagai grup sandiwara, bukankah dalam sandiwara kami memainkan tokoh dengan nama yang bukan nama asli kami? Okelah, apapun itu aku mencoba menerimanya meskipun secara akalku sedikit menolak.

Zus Sulastri sudah menyiapkan sebuah kertas yang digulung dan dimasukkan ke dalam gelas yang ditutupi kertas bolong di tengahnya. Satu persatu dari kami dipanggilnya dan mengambil salah satu dari kertas gulung yang dikocok Zus Sulastri, nantinya nama yang muncul di kertas tersebut akan menjadi nama kami selama di Borneo. Kami harus selalu menggunakan nama itu selama di sini.

Mayang mendapat nama Haruka, Sekar mendapat nama Midori, Kurnia mendapat nama Aika, ketika giliranku maju dan membuka gulungan kertas ternyata aku mendapat nama Yuki. Baru aku tahu Yuki artinya Salju dalam bahasa Jepang. Ya tidak cukup buruk, namanya terdengar bagus juga di telingaku. Zus Sulastri sendiri mengingatkan kami untuk memanggilnya Naoka-san[1]. Kami hanya mengangguk saja mengikuti perintahnya. Jadi, selama di Borneo ini namaku adalah Yuki, bukan lagi Ningsih. Meski namanya bagus namun aku merasa aneh saja mendengar orang lain memanggilku dengan nama Yuki.

“Yuki-san.” Goda Haruka alias Mayang.

“Ada apa, Haruka-san.” Aku tak mau ketinggalan usil, diikuti kikikan kecil dari kami. Naoka alias Zus Sulastri hanya memandangku tajam seolah menyuruhku untuk tidak bercanda selama dia menjelaskan.

Naoka alias Zus Sulastri kembali memberikan penjelasan kepada kami yang lebih banyak mengarah kepada budaya dan bahasa. Masing-masing dari kami diberikan beberapa set baju Yukata dan diwajibkan untuk berdandan ala gadis Jepang. Memakai gincu merah dan bedak putih, untuk rambut juga Naoka alias Zus Sulastri mendeskripsikan pada kami bagaimana berdandan ala gadis Jepang dan bagaimana menggunakan Yukata tersebut. Naoka mengatakan bahwa setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat kami harus memakai baju Yukata dan berdandan layaknya gadis Jepang.

Aku sedikit tidak setuju dengan hal ini, okelah untuk nama panggilan dalam bahasa Jepang masih wajar dan masuk akal, namun untuk penggunaan dan dandan seperti gadis Jepang apa itu tidak berlebihan? Dan lagi itu seperti memaksakan budaya Jepang ke dalam budaya bangsa ini. Sialnya, kebanyakan dari gadis-gadis pribumi yang ada di sini tidak menempuh pendidikan hingga sekolah menengah ataupun sekolah dasar jadi pola pikirannya tidak begitu sistematis dan berpola struktural.

Agak sulit menyadarkan mereka bahwa memakai baju Yukata dan berdandan Jepang adalah hal frontal, keras yang sengaja dimasukkan ke dalam sendi bangsa ini melalui kami, bukan? Justru mereka berpikir bahwa ini menarik sekali karena mereka belum pernah berdandan layaknya gadis Jepang sebelumnya. Aku baru menyadari pentingnya sebuah pendidikan untuk membangun pola pikir yang struktural dan pola pikir yang baik.

“Hei, Kurnia, a..anuu...maksudku Aika, bukankah ini agak sedikit memaksakan?” aku berbisik pada Aika alias Kurnia yang duduk di sebelahku.

“Ya, kurasa ini terlalu berlebihan. Tapi tidak ada satu orang pun yang mendebat. Bagaimana ini?” bisiknya pelan, dari raut wajahnya terlihat kekhawatiran.

“Aku juga tidak tahu. Aku takut bila salah bicara, nanti urusannya ke tentara Jepang langsung, kau tahu sekarang kita berada di tengah hutan jauh dari peradaban.”

“Mengapa aku berpikir bahwa lama-lama ada yang salah dengan tempat ini.”

“Benar.”

Aku dan Aika alias Kurnia memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah baju Yukata ataupun berdandan ala Jepang setiap hari Senin, Rabu dan Jumat yang maksudnya apa, aku pun tidak paham. Naoka alias Zus Sulastri menjelaskan hal tersebut adalah banyak upaya yang dilakukan agar tentara Jepang merasa berada di tanah kelahirannya dengan melihat gadis-gadis memakai Yukata, berdandan ala Jepang, memiliki panggilan nama Jepang. Semua dilakukan demi memberikan kenyamanan pada tentara sebelum mereka dikirim untuk perang Asia Pasifik. Kami di-hegemoni bahwa sesama saudara se-Asia sudah sewajarnya membantu agar perang Asia Pasifik bisa dimenangkan dan akhirnya bangsa ini bisa meraih kemerdekaannya sendiri.

***                                                                                                      

 

[1] San: akhiran dalam bahasa Jepang menunjukkan nona/nyonya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

rara_el_hasan
2019-01-03 12:51:31

mapkhan saya bunda yg baru baca.. padahal cucok meong bgt
Mention


SEKARMEMEY
2018-12-26 06:57:55

Thank udah like karya saya . Cerita.nya bagus dan pantas jadi pemenang , sukses untuk karya2 selanjutnya ya kak
Mention


dinda136
2018-12-23 08:23:03

Bagus banget kak,, dari awal baca udah tertarik, keren nih
Mention


anna_777
2018-12-23 00:55:31

Karya tulis dengan latar belakang masa lalu, selalu membuat saya impress. Thank you udah like karya saya juga, tersanjung di like oleh pemenang tinlit. Good luck for your next story
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:27:03

@Khanza_Inqilaby terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:25:24

@[dear.vira] terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:24:28

@AlifAliss terima kasih banyak sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:54

@tikafrdyt wah, terima kasih banyakkk :) terima kasih juga sudah mau mampir
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:23

@Tania terima kasih sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:01

@Citranicha terima kasih kak sudah mampir... :)
Mention


Page 1 of 5 (44 Comments)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

427 336 7
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

338 281 5
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

340 259 5
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

591 434 9
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

186 149 2