BAB 3

1942

Detik demi detik berlalu dengan cepat, tahun 1942 dalam sekejap Jepang sudah berhasil menduduki Jawa, Borneo, Manado, Pulau Buru, Timor Leste dan Papua dengan menjatuhkan bom ke titik-titik penting kolonial Belanda. Sehingga pada 9 Maret 1942 Letjen Ter Poorten mewakili gubernur jendral kolonial Belanda menyerah tanpa syarat secara defacto dan dejure pada tentara Jepang. Hal tersebut membuat kami menyambut Jepang dengan senang hati. Menganggap mereka adalah saudara seras, yaitu Asia Raya. Jepang bukan hanya menduduki nusantara, namun juga Korea serta China. Kami berpikir ini adalah jalan tercepat untuk segera merdeka, meskipun Bung Hatta pernah menaruh curiga pada Jepang sehingga tahun 1941 beliau sempat menulis artikel untuk berperang melawan Jepang, namun banyak yang sangsi dengan pemikiran Bung Hatta karena Jepang bertindak seolah memihak pribumi. Pun diperkuat oleh Bung Karno dan Bung Hatta yang akhirnya pada Juli 1942 menjalin kerja sama dengan pemerintah Jepang.

Di lain sisi, peralihan kekuasaan dari kolonial Belanda ke kaisaran Jepang membuat keuangan keluargaku semakin memburuk. Usaha pabrik tahu orang tuaku tidak mengalami perbaikan. Bahkan semakin memburuk karena bahan makanan, hasil pertanian dibeli dengan harga rendah oleh tentara Jepang padahal proses menanam hingga memanen membutuhkan luar biasa tenaga dan biaya, kini kami harus makan jagung rebus. Bukan sesuatu yang buruk bagi kami makan jagung rebus, sebab banyak tetangga kami hanya makan ubi dan singkong mentah. Namun, ini bukanlah hal yang biasa bagi keluarga kami. Mengingat kedua adikku masih bersekolah tentu mereka membutuhkan banyak uang untuk jajan, makan, beli pensil, rautan, dan lain-lain.

Aku sangat gamang dengan usiaku yang 19 tahun sekarang, aku ingin sekali menikah dengan kekasihku agar tidak menjadi beban bagi keluargaku namun belum ada keputusan pasti dari Hartowarjono kapan bersedia mengawiniku. Kemudian juga, aku ingin bekerja di tempat lain untuk membantu perekonomian keluargaku, namun aku bingung untuk wanita muda sepertiku pekerjaan apa yang kiranya cocok dan dapat menghasilkan banyak uang. Berbagai pikiran dan kekahawtiran hidup mulai menggerayangi pikiranku. Selama ini aku hanya membantu orang tuaku di pabrik tahu.

“Ningsih.” Ibu membuyarkan lamunanku. Aku sedikit tersentak di bale-bale rumah kami. Ditemani lampu teplok berisi sumbu api. Aku masih bisa melihat rembulan yang bersinar terang atau kelap kelip bintang berhamburan, sesekali jika beruntung kunang-kunang berterbangan di kebun depan rumah.

“Anak Ibu yang udah gadis. Kapan toh, si Hartowarjono itu nikahin kamu?” nah, pertanyaan ini sesungguhnya bikin kepalaku pusing tujuh keliling.

Memangnya seorang Ibu tidak pahamkah penderitaan ditanya, kapan nikah. Aku menggelengkan kepalaku pertanda Hartowarjono kekasihku belum juga memastikan kapan menikahiku. Kemudian seolah ibu berpikir sejenak dan meringsuk masuk ke dalam ruang tengah, tidak muncul lagi ke bale-bale rumah. Sepertinya beliau memilih tidur daripada memikirkan nasibku.

Sinar, adikku menyeruak menuju tempatku duduk membawa dua cangkir teh tubruk hangat, dia memberikan satu untukku dan menikmati secangkir teh tubruk hangat miliknya. Wajahnya mengadah ke atas. Langitlah fokusnya, dihiasi rembulan yang bersinar terang. Sinar hanya duduk di sampingku, sesekali mengajakku bercanda, atau bermain suit jari gunting, kertas, batu ala China. Sinar baru saja menginjak sekolah menengah pertama di Taman Siswa. Baginya di rumah aku adalah teman bermain dan juga sosok panutan. Bagiku, dia adik kesayanganku sekaligus pengantar suratku pada Hartowarjono.

Tak lama, muncul Mulyati adikku yang paling bontot. Mulyati segera menggelendot ke arahku, dia duduk di pangkuanku, kulihat mulutnya sedang mengunyah permen jahe yang entah dari mana dia dapatkan. Mulyati adik bontotku memiliki sifat agak manja, dia masih duduk di bangku sekolah dasar di Taman Siswa. Berbeda denganku dan Sinar, rambut Mulyati agak keriting ikal seperti bapak, sedangkan aku dan Sinar berambut lurus seperti ibu. Jika mata mulyati besar maka mataku dan Sinar agak kecil, bisa dibilang Mulyati adalah wujud replika bapak sedangkan aku dan Sinar wujud replika ibu. Kesamaan kami bertiga adalah kami memiliki badan ramping dan kurus mewarisi garis ibu, dibandingkan bapak yang berbadan besar, kulit coklat dan agak tambun, kami bertiga kutilang; kurus, tinggi, langsing. Sinar dan Mulyati memang belum menginjak dewasa namun bisa dilihat mereka akan tumbuh tinggi dibanding teman sebayanya.

Aku memandangi pantulan wajahku yang sedikit terlihat di dalam cangkir teh tubruk kedua yang kuminum dari cahaya lampu teplok di bale-bale rumah. Sesekali asap masih mengepul menandakan teh tubruk masih benar-benar hangat. Sinar dan Mulyati sudah tertidur di kamarnya sedangkan aku masih duduk di bale-bale. Pertanyaan-pertanyaan menari di kepalaku, seperti pertanyaan kapan kami merdeka, kapan kami akan hidup lebih baik, kapan aku akan menikah, kapan Romlah akan setuju anaknya menikah denganku yang tidak sekaya mereka? Aku pun tidak dapat menjawabnya dengan benar satu persatu. Karena pun, aku tidak tahu jawabannya.

Saat ini, hanya bisa makan, tidur dan hidup seadanya dengan nyaman saja sudah merupakan sebuah mukjizat, kolonial Belanda terpukul mundur dari tanah Jawa saja aku sudah bahagia, aku tidak perlu lagi melihat mereka berkeliaran di Batavia mengucapkan kata-kata yang asing di telingaku. Hanya satu, dua kata saja yang kupahami, selebihnya hanya interprestasi. Seolah kehidupan percintaan hanyalah sebagai pemanis atas pelarian kehidupan yang tidak bisa dibilang selalu menyenangkan. Sampai suatu hari itu tiba hingga aku menyadari bahwa percintaan bukanlah sebuah hiasan, namun sebuah kehidupan dan juga kematian bagiku.

***

Minggu pagi, aku baru selesai menjemur bawang merah yang kudapat dari pasar. Kujemur di tempat yang terjangkau matahari tentunya. Sedangkan kedua adikku sedang mengerjakan tugas rumah sambil asyik makan ubi rebus dan singkong rebus. Tak lama, segerombolan teman sepermainan adikku menghampiri rumah kami dan mengajak kedua adikku bermain di halaman rumah, mereka bermain kucing nongkrong, setelah itu gobak sodor, dan terakhir bermain benteng. Aku hanya memperhatikan anak-anak itu bermain dengan riang gembira. Mereka melengkingkan suara tawa dan kikikan gembira, aku pun dibuat tersenyum, sebab jadi teringat, aku pun saat kecil pernah memainkan permainan ini.

Setelah lelah bermain ronde pertama mereka semua dipenuhi keringat mengucur dan tak lupa badan dan baju mereka basah serta bau keringat. Beberapa menghampiriku meminta disediakan es limun. Sebagai tuan rumah yang baik aku beringsut menyediakan es limun dan singkong rebus untuk anak-anak itu. Mereka sangat berisik ketika bermain, sampai-sampai bapakku yang sedang tertidur pulas menjadi terbangun dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke tetangga sebelah daripada mendengar anak-anak bermain sangat ramai. Seolah anak-anak itu tidak ada habisnya tenaga untuk bermain. Setelah permainan ronde pertama, anak-anak itu melakukan permainan ronde kedu, entah sampai berapa ronde. Aku hanya memandangi mereka bermain dari bale-bale rumahku. Cukup lama mereka bermain, terkadang aku ikut terkekeh ketika melihat salah satu dari mereka melakukan hal konyol. Bermain adalah dunia bagi anak-anak. Menyenangkan sekali hanya melihat anak-anak asik bermain. Satu ronde terlewati, dua ronde pun terlewati anak-anak yang bermain benteng satu persatu bubar dan meninggalkan arena permainan ke rumah masing-masing, begitupun kedua adikku segera beringsut masuk ke dalam rumah dengan baju yang basah karena keringat. Aku menyuruh kedua adikku untuk raup dan salin agar tidak masuk angin.

“Calon Ibu rumah tangga yang baik nih. Menjaga anak-anak bermain.” Canda Hartowardojo. Dia salah satu tamu yang sama sekali tidak diundang.

Aku sempat kaget dia berkunjung ke rumahku tanpa mengirim surat terlebih dahulu, aku tersenyum kepadanya. Di tangannya terdapat beberapa tumpukan buku, beberapa roman dan majalah. Aku penasaran kali ini roman apa yang sedang dia baca. Aku mempersilakannya duduk di bale-bale rumahku. Aku dan Hartowardojo sibuk menggeledah buku yang dibawanya.

Hartowardojo menyodorkan salah satu roman berjudul Salah Asuhan yang kulihat terbit tahun 1928 karya Abdul Muis. Kudengarkan Hartowardojo menjelaskan padaku isi roman tersebut mengenai pertentangan kaum mudan dan kaum tua yang dianggap kolot, tokoh Hanafi yang menikahi seorang gadis Indo bernama Corrie namun akhirnya tidak menemukan kebahagiaan dalam pernikahannya. Aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Hartowardojo mengenai roman yang baru saja dibacanya. Dia sering kali ke rumahku untuk berdiskusi mengenia buku, roman atau puisi yang baru saja dibacanya.

“Kira-kira roman apa yang paling sesuai dengan kisah cinta kita berdua?” celetukku.

“Kau saja yang menjawab, kukira kamu sudah menemukan jawabannya sendiri.” pancingnya. Dia memberikanku kesempatan mengutarakan pendapatku sendiri.

“hmm... menurutku roman Azab dan Sengsara karya Merari Siregar.” Jawabku. Dia melotot tajam mendengar jawabanku. Seolah terbelalak dengan jawabanku dan jelas dia tidak setuju mengenai hal itu. Dia tahu jelas apa isi roman Azab dan Sengsara kisah percintaan yang dilarang orang tua, kurasa hampir mirip dengan kisahku dengan Hartowardojo.

“Bagaimana bisa kau menyamakan kita dengan Azab dan Sengsara? Ningsih, Jika ibuku tidak setuju aku menikahimu. Aku tidak akan diam saja. Aku akan tetap berupaya agar hatinya luluh juga.” Jawabnya.

Aku hanya tersenyum bangga. Entah mengapa ada sedikit kebahagiaan mencuat dalam hatiku. Begitukah? Jadi roman Azab dan Sengsara karya Merari Siregar tidak cocok untuk kisah cinta kita menurutnya. Untunglah. Hartowardojo pernah sekali mengatakan padaku bahwa seorang yang mencintai sastra tidak akan pernah menjadi seorang bajingan, karena di dalam sastra banyak sekali inti sari yang dapat dipetik dan dijadikan suri tauladan kehidupan. Jelas prinsip ini dia pegang erat, nyatanya dia tidak pernah menjadi bajingan bagiku. Semoga. Sebab di dunia ini tidak pernah ada yang konstan semua bersifat dinamis dan mengalami perubahan, tidak ada yang statis.

“hanya saja, aku terinspirasi beberapa sajak dari penyair Roestam Effendi. Kurasa kau pernah sekali membaca karyanya yang berjudul Mengeluh II, sajak puisi ini dibuat sekitar tahun 1902.” Ujarnya padaku. Aku menggelengkan kepala menandakan bahwa aku belum pernah membaca puisi tersebut. Hartowardojo membacakan sajak puisi tersebut, aku mendengarkannya dengan seksama,

Bilakah bumi bertabur bunga,

Disebarkan tangan yang tiada terikat,

Dipetik jari yang lemah lembut,

Ditanai sayap kemerdekaan ra’yat?

Bilakah lawang bersinar bebas,

Ditinggalkan dera yang tiada terkata?

Bilakah susah yang kita benam,

Dihembus angin kemerdekaan kita?

Di sanalah baru bermohon beta,

Supaya badanku berkubur bunga,

Bunga bingkisan, suara sya’irku.

Di situlah baru bersuka beta,

Pabila badanku bercerai nyawa,

Sebab menjemput menikam bangsaku.

“Puisi yang indah.” Kagumku.

“Menurutmu apa isi puisi itu?” tanyanya padaku dengan nada serius.

“Hmmm... mengenai seorang yang ingin memperjuangkan kemerdekaan bangsanya.” Jawabku singkat.

“Ningsih, aku juga sama.”

“Sama apa?”

“Aku juga sama seperti puisi ini, aku ingin berjuang demi kemerdekaan bangsa ini.”

“Maksudnya?”

“Aku tidak bisa berdiam saja duduk di tempat ini. Kita harus melakukan sesuatu agar kita semua bisa merdeka. Saat ini Belanda memang mundur tapi kita tidak tahu kapan Belanda akan kembali dan menjajah kita lagi. Aku tidak ingin hal itu terjadi.”

“Baa..baa...bagaimana caranya?”

“Jepang akan perang Asia Timur Raya, jika mereka menang, kita bisa mendapatkan kemerdekaan kita karena Jepang berjanji akan memberikan kemerdekaan bagi kita. Aku akan bergabung dengan mereka atas nama Asia Timur Raya. China dan Korea juga bergabung dengan Jepang melawan Belanda dan sekutunya. Kalau kita menang, kita bisa merdeka.”

“Haah? Pe...peraangg?”

“Ya, besok aku akan pergi ke Borneo bersama pasukan Jepang atas nama Asia Timur Raya melawan Belanda dan sekutunya. Belanda mendeklarasi perang pada Jepang tahun 1941 kemarin, ini kesempatan emas bagi kita untuk bisa merdeka.”

“Kauu... kau yakin Jepang akan membantu memerdekakan kita, jika kita ikut perang bersama mereka?”

“Ya, mereka telah berjanji.”

“Bagaimana kalau mereka kalah dalam perang?”

“Maka dari itu sesama orang Asia kita harus saling membantu.”

“Kau gila?”

“Lalu sebagai pemuda dari bangsa ini, apa yang harus aku lakukan? Duduk saja, menyaksikan tanpa berbuat apa-apa. Momentum ini sangat besar bagi kita, kita harus mengambil celah ini sebelum Belanda kembali. Aku sudah muak Belanda menjajah kita tiga abad lebih, apa kau tidak merasa muak dengan mereka?”

“Tapi kau bisa mati...”

“Mati untuk bangsa ini adalah kehormatan bagiku.”

"Lalu bagaimana denganku? Apakah sejatinya kau tidak pernah berniat menikahiku? Dan dinding terbesar hubungan ini bukan Romlah ibumu yang tidak setuju kau bersamaku, namun justru dirimu sendiri dengan cita-cita egoismu itu?” aku tidak percaya Hartowardojo berniat meninggalkanku.

“Aku berniat mempersuntingmu setelah aku menyelesaikan misiku di Borneo, Ningsih.”

“Kau gila!!!” Aku berteriak keras sambil mendorong tubuhnya. Aku tidak percaya dia akan melakukan hal ini. Bagaimana bisa dia menjadi seorang bajingan terhadapku?

“Tenang saja, aku akan hidup dan tetap hidup sehingga ketika kita merdeka, kita bisa menikmati kemerdekaan ini bersama aku dan kamu dan keluarga kecil kita nanti.”

“Jangan pergi, kumohon...” air mataku mengalir deras. Entah apa yang dipikirkan pria ini mengapa dia harus mengambil jalan ini? Jalan yang orang lain hindari?

 Kau bilang padaku, orang yang mencintai sastra tidak akan menjadi seorang bajingan, namun mengapa kau berubah menjadi bajingan hari ini? Meninggalkanku dan ikut perang bukankah langkah seorang bajingan? Bajingan cinta!

Aku tidak bisa menatap wajahnya lama-lama, air mata di pipiku sudah meleleh begitu deras, aku tidak mau menangis meraung-raung di hadapannya. Aku segera beringsut pergi dari bale-bale tempat kami duduk. Dia termangu sejenak sebelum menahan langkah kakiku untuk meninggalkannya masuk ke dalam rumah.

“Besok aku akan pergi. Jadi, jaga dirimu baik-baik.” Ujarnya lirih.

Besok? Dasar gila, bisa-bisanya dia menyampaikan hal mendadak ini padaku. Baik-baik katamu...? Bagaimana aku bisa hidup baik tanpamu? Umpatku dalam hati dengan mata memerah. Darahku seolah mendidih, ini seperti penghianatan cinta demi bangsa. Lantas apa yang bisa kuperbuat untuk menghentikan langkah gagahmu?

“Putus!” kata itu terucap dari bibirku yang bergetar. Bulu kudukku merinding, otak dan hatiku tidak sinkron. Otakku menyuruhku putus, hatiku menyuruhku untuk tetap di sisinya. Kuharap cara ini dapat menghentikan langkah gagah perkasanya.

Hartowardojo memandang kedua mataku lekat, dia menghembuskan nafasnya sebentar. Memandang wajahku yang parau. Lihat mataku, lihat hatiku, ini semua untukmu. Bagaimana bisa kaupergi meninggalkanku, Hartowardojo? Umpatku dalam hati.

“Kupikir kau meminta putus hanya karena tidak setuju pilihanku.” Gumamnya. Tepat, bagaimana mungkin aku pisah denganmu? Kau cerdas bukan? Batinku meronta.

“Sekali pun kau meminta putus, aku tidak akan pernah mengubah pendirianku. Kau tahu bagaimana diriku, bukan?"

“Baiklah, coba kau pikirkan lagi, pergi ke Borneo memang pilihanmu namun kau memiliki aku sebagai kekasihmu, selayaknya kekasih bukankah kita harus menetapkan suatu hal berdua? Bukan sendiri? Kalau begini kau sangatlah egois dan tidak bijaksana. Mengambil keputusan ke Borneo tanpa menimbang pandangan dariku. Aku tidak setuju kaupergi ke Borneo. Itu bisa membahayakan nyawamu.”

“Bagaimana bisa kau mengatakan padaku bahwa aku tidak bijaksana? Aku melakukannya untuk bangsa ini, Ningsih!” Hartowardojo meninggikan suaranya padaku, sebelumnya dia tidak pernah melakukan ini. Dia selalu lembut padaku. Kali ini dia benar-benar memegang teguh pendirinnya. Apa yang dapat aku lakukan Tuhan? Air mata meleleh di kedua pipiku. Aku tidak dapat lagi mencegahnya pergi. Dia terlalu keras kepala. Dia benar-benar menyebalkan. Sejujurnya hatiku sakit karena dia tidak memandang pendapatku sedikitpun dan bertindak semaunya sendiri, padahal dia memiliki aku. Itu artinya hidupnya juga hidupku.

“Kau tahu benar kan, dalam perang, menang menjadi arang, kalah menjadi abu. Kau bisa mati kapan saja, tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu di sana."

"Tenang saja, aku akan tetap hidup." Hartowardojo meyakinkanku.

"Aku tidak tahu Borneo itu pulau yang seperti apa. Lalu bagaimana aku bisa memastikan kau bisa tetap selamat?"

"Percaya pada Tuhan, bawa namaku dalam doa-doamu, Ningsih." Ujarnya. Aku terdiam sejenak. Aku tidak bisa menahan gejolak di dadaku. Ini terlalu tiba-tiba.

"Jangan... jangan pergi... kumohon...” Aku menangis meraung-raung seperti orang gila. Hartowardojo mendekapku, aku meronta di dalam pelukannya yang hangat. Akankah kehangatan ini dapat kutemukan lagi dari dirinya? Aku tidak pernah yakin meskipun malam ini ribuan kali Hartowardojo meyakinkanku bahwa dia akan baik-baik saja di Borneo.

“Maafkan aku, aku harus pergi. Dengarkan baik-baik perkataanku ini, Ningsih. Hidupku adalah hidupmu. Jadi, aku akan tetap hidup untukmu.”

“Kalau begitu kapan kaupulang?”

“Saat semuanya berjalan dengan baik. Aku akan pulang dan segera mempersuntingmu.”

“Aku tidak butuh janjimu. Aku hanya ingin kau tidak pergi ke Borneo.”

“Maaf, tapi aku harus pergi.”

“Kalau kau tetap pergi ke sana. Bagiku, kau bajingan.”

“Maafkan aku.” Berkali-kali Hartowardojo hanya meminta maaf. Aku menangis dalam kekecewaan di hadapannya. Aku tahu dia begitu keras kepala. Aku menyerah meyakinkannya, bahkan bumi dan langit bergoncang pun aku yakin tidak bisa mengubah niatnya. Aku menangis karena kecewa tidak bisa menjadi kekasih yang dapat memutuskan bersama langkah hidupnya, aku lupa bahwa Hartowardojo adalah laki-laki gagah, langkah hidupnya tidak akan terhenti hanya karena wanita. HIdupnya adalah hidupnya, perkara dia kekasihku, aku tidak dapat melewati batas untuk ikut campur dalam langkah hidup yang hendak diambilnya. Kalau begitu pergilah. Pergilah yang tinggi, jika kau menginginkannya. Namun, rumahmu kembali hanyalah hatiku yang tidak pernah mati.

***

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 1 2 0 0
 
Save story

Dwi_Ariati
2018-08-12 20:32:25

Suka banget cerita kayak gini. Cerita nuansa jaman dulu.
Mention


EttaGurl
2018-08-11 22:08:54

Keren, authorrr! Kujuga cuma tau Jugun Ianfu dari guru Sejarah, kenal Marah Rusli dari guru B. Indo :"""
Mention


etirukini
2018-08-09 19:15:20

niceee story
Mention


fahmibasya
2018-08-09 09:17:32

omg, very good
Mention


Page 5 of 5 (44 Comments)

Recommended Stories

THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

576 450 14
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

432 320 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

687 509 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

711 537 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

711 525 9