BAB 1

                                                                                                        KEKASIHKU

Berlagoe Hatikoe (Amir Hamzah, 1934)

Bertangkai bunga kusunting

Kujunjung kupuja, kurenung

Berlagu hatiku bagai seruling

Kukira sekalini menyecap untung.

 

Dalam hatiku kuikat istana

Kusemayamkan tuan di genta kencana

Kumaburkan kusuma cempaka mulia

Kan hamparan turun dewi kakanda...

            Aku menulis ulang 2 bait puisi Poedjangga Baroe berjudul Berlagoe Hatikoe yang dibuat pada Maret 1934 oleh penyair Amir Hamzah dalam sebuah kertas putih bergaris. Kuresapi baik-baik setiap kata dan retorika di dalamnya. Puisi ini kutunjukkan untuk kekasih hatiku, Hartowardojo. Seorang pemuda Batavia cerdas yang pernah mengenyam bangku di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) sekolah menengah pertama selama 4 tahun dan telah menyelesaikan studinya di Algeemene Middlebare School (AMS) sekolah menengah umum. Tidak banyak rakyat yang bisa bersekolah di MULO dan AMS karena hanya sudagar kaya raya saja yang bisa bersekolah di sana atau orang terpilih lainnya. Sedangkan aku? Cukup beruntung, karena aku sudah lulus sekolah menengah umum dari Taman Siswa dan saat ini kini aku hanya membantu orang tuaku menjaga rumah, memasak untuk adik-adikku dan membantu bisnis keluarga kami, yaitu pabrik tahu. Mencari pekerjaan saat ini cukup sulit, namun aku cukup beruntung sebab tidak semua orang bisa mengenyam pendidikan. Di kampungku saja hanya segelintir pemuda-pemudi yang lulus dari Taman Siswa sepertiku, sisanya? Menikah muda dan punya anak. Alasannya cukup mudah, pendidikan bukanlah sesuatu yang penting saat ini. 

            Keluargaku tidak miskin namun tidak juga begitu kaya, orang tuaku masih bisa  berkecukupan memberikan aku serta kedua adikku, Sinar dan Mulyati makanan dan sandang papan dari usaha pabrik tahu rumahan. Awalnya pabrik tahu milik keluargaku untung besar sekali namun perlahan usaha keluarga kami memburuk. Pulau Jawa awal abad ke-19 mengalami krisis gizi akibat kolonial Belanda yang menyuruh tanam paksa dan hasil bumi dikuasai semua oleh Belanda, kemudian perlahan-lahan pribumi mengambil alih beberapa sektor pertanian karena Belanda mengalami goncangan akibat perang dengan Jerman dan Jepang. Pengambil alihan kembali sektor pertanian ke pribumi secara perlahan-lahan ini berdampak usaha bisnis olahan pangan dari pertanian menjadi primadona. Salah satunya bisnis keluargaku sebagai pabrik tahu mengalami penaikan luar biasa, semua orang memiliki alternatif makanan dari olahan kedelai yaitu tahu, yang sudah lama ditemukan bangsa Tiongkok 3.000 tahun lalu. Namun, pasang surut kehidupan terjadi, akhir-akhir ini usaha orang tuaku tidak cukup baik. Terlebih tahun 1942 ini selepas Belanda dipukul mundur dari Batavia dan tiba-tiba Jepang mendarat dan mengatakan akan membantu kemerdekaan. Usaha orang tuaku makin buruk karena harga akhir-akhir ini tidak stabil dan mempengaruhi kondisi keluarga kami.

            Berbeda denganku yang biasa saja, kekasihku Hartowardojo adalah anak saudagar kaya raya, pria Batavia berusia 19 tahun berdarah jawa. Kulitnya sawo matang, matanya indah tajam bak elang, rambutnya yang sedikit ikal berwarna hitam lebat selebat buaian malam. Aku pertama kali berjumpa dengannya satu tahun yang lalu dalam acara di Taman Siswa, dia datang bersama rekannya dari AMS. Ketika aku berlari kencang di koridor tiba-tiba kami bertabrakan, persis adegan opera tapi itu benar-benar terjadi. Dia tersenyum manis meski sedikit meringis karena pundaknya cukup sakit terkena beberapa buku yang sedang kubawa. Aku ingat benar, saat itu dia tidak melepas pandangannya dariku. Aku merasa malu saat itu karena kali pertamanya ada pria yang tidak melepaskan pandangannya padaku. Akhirnya tak berapa lama Hartowardojo memberanikan diri berkenalan denganku. Kami mulai dekat sejak pertemuan pertama itu, dia sering berkunjung ke rumahku.

            Dia mengatakan padaku bahwa aku gadis cantik yang menggemaskan, rasanya ingin selalu berada di sampingku dan melindungiku. Aku hanya terkekeh setiap kali mendengarnya merayuku meski sebenarnya kupu-kupu di perutku berterbangan. Dia pandai beretorika, dia mengatakan wajahku bagaikan rembulan di pantulan sungai Nil, bibirku merah bagaikan jambu di pohon depan rumahnya, entah apa yang dia bualkan namun cukup membuatku salah tingkah. Kubilang padanya rayuannya semanis madu, memabukkan dan melenakan. Dia menunjukkan rahasianya, dia suka membaca buku sastra tak heran retorikanya bagus.

            Aku menyebutnya pria gila sastra. Jelas itu bukan tanpa alasan, karena dia hobi sekali mengirimi aku baitan puisi karya penyair terkenal. Sesekali aku membalas puisi-puisi tersebut. Jika ada puisi yang belum pernah aku baca sebelumnya, pastilah itu puisi yang dibuatnya sendiri. Kali ini aku mencoba mengiriminya dua buah bait puisi berjudul Berlagoe Hatikoe karya Amir Hamzah, penyair kesukaanku karena gaya bahasanya begitu lugas dan diksinya pun enak sekali dibaca. Hartowardojo kekasihku, sangat menyukai sastra, berupa puisi, roman tidak heran dia tak segan mengirimiku syair puisi. Dia juga penikmat berat karya Sultan Takdir Alisjahbana seperti roman Tak Putus dirundung Malang, Dian yang Tak Kunjung Padam, Layar Terkembang sudah habis dilibasnya dalam beberapa hari saja. Terakhir bertemu dia menceritakan padaku kisah Tuti dalam Layar Terkembang seorang wanita yang menyampaikan pandangannya dalam pembangunan bangsa. Aku banyak sekali mendapat pandangan dari tokoh-tokoh yang diceritakan Hartowardojo setiap kali dia menceritakan sesuatu dari buku sastra yang dia baca.

           Dia mengatakan padaku bahwa, sebenarnya sastra adalah cerminan kehidupan manusia sesungguhnya, sastra adalah refleksi kehidupan manusia yang dituangkan dalam tulisan beretorika. Ketika, suatu peristiwa terjadi di dunia nyata maka sastra pun akan merepresentasikannya dalam sebuah tulisan. Jadi, menurutnya sastra tidak akan pernah punah selama dunia ini tidak punah. Aku selalu terkejut dengan pemikiran-pemikirannya, dengan pandangan-pandangannya mengenai sebuah esensi kehidupan, entah itu mengenai sastra, politik, dan lain-lain. Tidak banyak pemuda yang berpikiran terbuka seperti dirinya pada saat ini.

           Bersamanya hari terasa menyenangkan, bersamanya akan menambahkan pengetahuanku, bersamanya aku merasa menjadi lebih berwawasan. Dia dapat menginterprestasikan sastra dengan baik dan menyampaikan padaku menjadi sesuatu yang menyenangkan. Aku selalu mengagumi dan juga mencintai sosok Hartowardojo. Kagum menjadi cinta. Kesukaan Hartowardojo pada sastra pun menular padaku. Aku jadi mulai suka dengan buku-buku sastra. Pertama kali aku jatuh cinta pada roman Kalau tak Untung terbitan tahun 1933 karya pengarang wanita bernama Selasih atau Selguri yang merupakan nama samaran dari Sarimin asal Sumatera Barat, aku masih ingat jelas jalan ceritanya mengenai percintaan sepasang sahabat Masrul dan Rusmani namun kandas. Aku sempat berdiskusi panjang mengenai kisah Masrul dan Rusmani dengan Hartowardojo dan dia mengungkapkan pemikirannya mengenai kisah tragis tersebut

            Ah, aku lupa saat ini tahun 1942, kami tidak lagi menyebut Batavia sebab kami menggantinya menjadi Djakarta tapi lidahku belum begitu terbiasa menyebut Djakarta jadi selalu saja aku mengulang menyebutnya Batavia, kami sedang berjuang mendapatkan kemerdekaan. Tentara Jepang mengiming-imingi kami banyak janji manis. Bolehkah kami percaya pada mereka? Sejujurnya kami semua sudah lelah dengan pendudukan Belanda di tanah ini. Kehadiran Jepang tentu bukan sebagai kekhawatiran. Itulah yang tadinya aku pikirkan.

           Malam ini diam-diam Sinar, adikku kusuruh ke rumah Hartowardojo untuk mengirimkan puisi yang kusalin milik Amir Hamzah, tenang saja aku selalu mencantumkan nama penyairnya sebab aku bukan seorang plagiat pun dalam urusan percintaan. Setiap kali kami berkirim puisi, selalu menggunakan perantara adik-adik kami. Jika aku mengerahkan Sinar, maka Hartowardojo mengerahkan Warsonoe, adiknya untuk mengirim surat kepadaku. Aku mengimingi Sinar kue wajik yang akan kubuatkan esok hari khusus untuknya karena mau membantuku mengirimkan surat pada Hartowardojo. Sinar dengan senang hati menerimanya, karena kue wajik cukuplah primadona bagi kami.

           Setelah setengah jam menunggu pergerakan Sinar, akhirnya dia pulang dengan terengah-engah. Aku melihatnya berhasil mengirimkan surat itu. Aku berharap Hartowardojo dapat membalasnya dengan cepat. Biasanya dia membalas 2-3 hari surat yang kukirim melalui perantara adiknya karena kesibukannya saat ini membantu usaha kedua orang tuanya yang sedang meningkat pesat, jadi kurasa waktu 2-3 hari adalah waktu yang ideal untuknya. Ditambah kami sering bertemu setiap akhir pekan, atau bahkan setiap beberapa hari sekali dalam seminggu jika dia tidak sibuk dengan pekerjaannya.

           Satu hari telah terlewati, dua hari terlewati. Aku menunggu-nunggu balasan surat Hartowardojo. Tak kunjung datang jua, semakin lama dia membalas, semakin gelisah hatiku ingin segera mendengar kabar tentangnya. Ingin rasanya kakiku segera berlari ke rumahnya menanyakan mengapa ia belum juga membalas suratku sudah dua hari ini, namun karena keegoisanku sebagai wanita, aku harus dengan anggun menunggunya membalas surat tersebut. Aku, sebagai wanita pantang melangkahkan kaki ke rumah seorang pemuda terlebih dahulu hanya untuk menanyakan kabar.

           Aku selalu memperingatkan diriku untuk selalu berperilaku anggun, sopan, lemah lembut dan tidak menunjukkan perilaku tergesa-gesa, grasak-grusuk pun dalam urusan percintaan. Baginya aku adalah sungai Nil yang tenang dan memberikan kenyamanan, maka aku tidak bisa memecahkan ekspetasinya karena memang aku memiliki ideologi seperti itu, wanita tenang dan berpendirian. Meski dalam hatiku berkecamuk berbagai hal, aku harus menampakkan rupa tenang dan anggun. Seperti yang diungkapkan oleh Choco pendiri Choco chanel yang pernah kubaca dari sebuah majalah, dia mengatakan bahwa, wanita harus berkelas. Seolah prinsip tersebut segera menyergap dan masuk dalam diriku.

           Empat hari berlalu, akhirnya surat balasan dari kekasihku, Hartowardojo sampai kepadaku melalui adiknya, Warsonoe. Dia menyerahkan surat dari Hartowardojo dengan senyum dan sedikit basa-basi. Dia sudah terbiasa ke rumahku mengantarkan surat dari kakaknya. Sebagai adik yang baik dia tidak mungkin menolak permintaan Hartowardojo. Berbeda dengan kakaknya, Warsonoe yang masih berusia 17 tahun artinya 2 tahun di bawahku. Warsonoe memiliki kepribadian yang lembut, santun dan juga kalem. Jika Hartowardojo adalah tipe orang tegas, kuat, menggebu-gebu, penuh kejutan, intuisif, aktif, maka sang adik Warsonoe adalah orang yang sebaliknya, yakni pasif, kalem, manut hanya saja Warsonoe sedikit iseng.

“Mbak, gimana kabarnya?” ujarnya berbasa-basi. Aku tahu, dia menungguku memberikannya minuman limun yang menyegarkan meskipun perjalanan tidak begitu jauh, namun aku selalu menyediakan untuknya segelas es limun dan kue arem-arem.

“Baik. Masmu sibuk banget ya?” tanyaku. Dia hanya mengangguk dan kedua bola matanya langsung berbinar ketika melihat aku membawa nampan kecil berisi es limun dan kue arem-arem hangat. Dia tak lagi mendengarkanku bicara, dia asyik sendiri dengan es limunnya. Aku tersenyum melihat tingkah Warsonoe. Selang beberapa lama Warsonoe di rumahku, akhirnya dia memutuskan untuk pulang karena merasa tugasnya sebagai pengantar surat sudah terselesaikan dengan baik. Sebelum Warsonoe pergi dia sempat melontarkan pertanyaan,

“Mbak, Mbak kan cantik ya. Kok mau sih sama Masku. Ganteng juga enggak. Gantengan juga saya.” Tanyanya polos. Aku hanya memandang wajah Warsonoe dengan berbagai pertanyaan.

           Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu pada calon kakak iparnya. Eh, ya, aku mengharapkan bisa bersandirng dengan kakaknya, wajar kan? Hehe. Aku hanya terkekeh tanpa menjawab apapun. Kubilang padanya hati-hati di jalan, kalau jatuh tolong bangun sendiri sebab tidak ada yang mau membantu orang usil sepertimu. Kemudian dia hanya meninggalkan rumahku dengan kikikan panjang.

Setelah Warsonoe pergi aku segera membuka surat dari Hartowardojo yang ditunjukkan kepadaku. Kira-kira apa isinya ya? Apakah dia membalas puisi yang kemarin kukirimkan. Aku membukanya perlahan.

Kekasihku, Ningsih.

Sabtu siang pukul 13.00 wib mari bertemu di pasar raya.

Sampai jumpa di sana.

-Hartowardojo-

              Aku melipat kembali surat itu, ternyata dia memintaku bertemu dengannya di pasar raya. Ini kencan yang kesekian untuk kami. Tentu saja aku selalu menikmati saat-saat bersama dengannya. Kalian tahu, penikmat sastra itu orang yang romantis. Begitu pula dengan Hartowardojo, sosok pria yang terkesan dingin padahal dia sangat romantis dan menyukai keromantisan. Baginya, dunia adalah bentuk keromantisan Tuhan padanya, maka dia akan berlaku romantis pada mahluk ciptaan Tuhan untuk membalas keromantisan Tuhan padanya.

***

Previous <<
How do you feel about this chapter?
2 4 5 0 0 0
 
Save story

rara_el_hasan
2019-01-03 12:51:31

mapkhan saya bunda yg baru baca.. padahal cucok meong bgt
Mention


SEKARMEMEY
2018-12-26 06:57:55

Thank udah like karya saya . Cerita.nya bagus dan pantas jadi pemenang , sukses untuk karya2 selanjutnya ya kak
Mention


dinda136
2018-12-23 08:23:03

Bagus banget kak,, dari awal baca udah tertarik, keren nih
Mention


anna_777
2018-12-23 00:55:31

Karya tulis dengan latar belakang masa lalu, selalu membuat saya impress. Thank you udah like karya saya juga, tersanjung di like oleh pemenang tinlit. Good luck for your next story
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:27:03

@Khanza_Inqilaby terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:25:24

@[dear.vira] terima kasih sudah berkenan mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:24:28

@AlifAliss terima kasih banyak sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:54

@tikafrdyt wah, terima kasih banyakkk :) terima kasih juga sudah mau mampir
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:23

@Tania terima kasih sudah mampir :)
Mention


dede_pratiwi
2018-12-22 21:23:01

@Citranicha terima kasih kak sudah mampir... :)
Mention


Page 1 of 5 (44 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

618 475 7
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

387 322 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

632 465 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

373 282 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

600 450 7
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

382 296 4