Sumpah Tak Berlaku

“Mengingat masa lalu itu kadang membuat senyuman terukir tiba-tiba. Namun, lain ceritanya jika masa lalu itu sangat pahit, seketika wajah memerah menahan tangis. Setidaknya masa itu yang membuatku berjuang. Ada hal yang harus kubuktikan, ada sumpah yang harus dipatahkan.”

----(0)----

            Apa yang harus kulakukan?

            Tulisan tangannya terhenti, hanya kalimat itu yang ia tulis. Ratu Ziya memeluk lututnya, lalu membenamkan wajah. Kelopak matanya terasa perih karena sering menangis. Tetes air mata selalu turun tanpa bisa ia cegah.

            Gadis itu duduk di belakang gedung kamar asrama. Di hadapannya terlihat sebuah jalan. Sering terlintas niat untuk pergi, tapi jalan tersebut terhalang oleh pagar tinggi yang begitu kokoh yang tak mungkin dipanjat.

            Menghadapi segalanya sendirian membuatnya hidup dengan penuh tekanan. Ziya tak percaya bahwa yang dialami saat ini adalah nyata. Ia merasa melayang. Hiruk pikuk santri dengan kegiatannya seolah tak nyata baginya.

            Sengaja ia duduk di belakang asrama, agar tak seorang pun dapat melihatnya. Telinganya ingin istirahat sejenak, bosan mendengarkan perkataan buruk yang terlontar dari setiap orang untuknya.

            Ayah, Bunda, kapan kalian datang? Aku rindu.  

            Usai mencatat, matanya memandang kosong ke jalanan. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil dengan plat nomor yang ia hafal melintas. Ziya langsung bangkit dan berjalan cepat menuju gerbang pondok pesantren.

            Pondok pesantren itu memiliki tempat khusus untuk para tamu yang datang. Semacam gubuk yang berbaris panjang. Wali santri yang menjenguk tidak diperkenankan untuk masuk ke asrama. Ada wisma khusus jika ingin menginap.

            Jarak dari asrama putri menuju tempat itu lumayan membuat capek. Sesampainya di sana, ia mendapati orangtuanya sudah duduk di gubuk dan melambai. Ia berlari dan memeluk keduanya. Di pelukan itu, tangisnya tumpah lebih keras.

            ”Ayah, Bunda, aku mau pulang!” isaknya.

            “Lho, masa anak Ayah mau pulang? Baru juga sebulan tidak dijenguk,” protes ayahnya dengan lembut.

            Sementara wanita yang memeluk putrinya itu hanya diam. Hatinya pedih mendengar tangis sang anak. Ia yakin ada yang tidak beres, karena tangisan keras ini baru pertama kali ia dengar. Bahkan sebelum-sebelumnya walau dijenguk hanya sebulan sekali, Ziya tak pernah menangis atau mengeluh.

            Ratu Ziya mengangkat kepala, memandang orangtuanya dengan sisa air mata yang masih menumpuk. Isak tangisnya mereda perlahan.

            “Aku pengen pergi dari sini, bawa aku pergi!” pintanya dengan air mata yang berlinang.

            Sekali lagi halimah meraih badan kecil putrinya ke dalam pelukan. Diusapnya dengan lembut punggung yang bergetar itu. beberapa saat setelah tangisnya kembali mereda, barulah  ia tanyakan penyebabnya.

            “Kamu kenapa, Nak?” tanyanya.

            “Ziya dituduh mencuri, Bunda. Tiap malam Ziya disidang, dibentak-bentak, setiap orang berkata buruk dan kasar,” jelasnya, “aku bukan maling, Bunda.”

            Mata ayah Ziya memerah menahan amarah, siapa yang tidak marah jika anaknya diperlakukan dengan buruk karena kesalahan yang tidak dilakukannya. Namun, ia harus tetap bertindaak dengan bijak. Agar tidak salah mengambil tindakan.

            Halimah mengusap matanya, menghapus tetes bening yang turun. Ia percaya Ziya tidak melakukannya, karena ia tidak mendidiknya untuk menjadi orang yang buruk. Anaknya selalu baik sejak ia kecil.

            “Ceritakan kenapa bisa sampai dituduh seperti itu, sayang,” pintanya, “siapa tahu kamu mempunyai salah sampai orang menuduh kamu.”

            Ziya mengusap air matanya, “Ziya gak tau, Bunda.”

            Ketiganya terdiam, Ziya masih terisak dan orangtuanya yang menahan tangis. Tentu hati mereka terluka atas hal yang dialami putrinya.

            “Tiba-tiba aku dipanggil dan dituduh,” ucap Ziya memecah kebisuan, “aku gak kuat di sini!”

            “Ziya, dengar Ayah, Nak,” pinta Fachri kepada putrinya, “coba pikirkan apa kata mereka nant jika kamu pergi dari tempat ini, mereka akan menyangka bahwa kamu adalah pelaku yang sebenarnya.”

            “Tapi siapa yang bisa bertahan dengan keadaan seperti ini, Ayah!” protes Ziya.

            “Ayah tidak meminta kamu menetap, Ayah hanya meminta kamu memilih. Kamu yang menjalani hidup, ini jalanmu. Silakan pikirkan baik-baik. Ayah silaturrahmi ke pak kyai dulu.” Jelas Fachri sebelum beranjak, menyisakan istrinya dan Ziya yang begitu dilema.

            Sepeninggal Fachri, tangis Ziya tak kunjung henti. Ia semakin merasa bingung. Tempat itu serasa bagai neraka. Setiap hari hanya membuat hati panas hingga hancur. Membuatnya ingin berlari jauh dari sana.

            “Ayah kenapa, Bunda?” isaknya.

            “Maksudnya, Nak?” tanya Halimah tak mengerti.

            “Ayah kenapa pergi, Bunda? Ayah gak percaya sama aku? Aku gak nyuri,” isaknya semakin keras, “tiap malam aku disidang, dimarahi, dibentak, dipaksa buat ngaku kalau aku nyuri uang. Tiap orang menyumpahi dengan kata kasar, mereka gak peduli aku berteriak keras bahwa aku bukan maling!”

            Halimah terpukul mendengar penuturan putrinya. Ia merangkul anak sulungnya. Sekeras mungkin ia coba untuk menahan air mata, bagaimana bisa membuat Ziya kuat jika ia sendiri lemah.

            “Tapi kamu benar tidak mencuri, kan?” tanyanya.

            Ziya melepas pelukannya, menatap sang ibu sedikit tajam, “apa Bunda juga gak percaya sama aku?” tanya gadis itu.

            “Bukan seperti itu, kamu menangis untuk apa, Ziya? Jika kamu tidak bersalah, buat apa kamu menangis?!”

            “Bunda pikir kalau tidak menangis keadaan jadi lebih baik?!”

            “Ya, buat apa buang-buang air mata? Apa menangis juga bisa bikin keadaan membaik?!”

            “Terus mereka bilang, ‘hatinya terlalu keras! Lagian mana ada maling mau ngaku!’ Bunda pikir kalau gak nangis semua orang bakal percaya aku bukan maling? Aku pernah nyoba itu tapi kata-kata mereka jadi lebih kasar!”

            “Kalau gitu kuatlah, Nak! Cobaan menuntut ilmu itu pasti ada di mana pun tempatnya. Ayah seperti itu bukan karena tidak percaya. Kalau kamu pergi dari sini, kamu pikir cobaan itu menghilang? Cobaan itu menghilang, tapi akan terganti dengan cobaan dalam bentuk lain. Tidak ada hidup yang mulus, sayang.”

            Isak Ziya belum terhenti juga, sudah keras sekali ia minta dirinya untuk kuat. Namun, nyatanya tidak mudah. Pundaknya terlalu ringkih untuk menanggung beban itu. Hatinya terlampau rapuh karena ucapan-ucapan yang begitu menusuk. Karena kata-kata lebih  tajam dari pedang, ia dapat menusuk apa pun yang tidak dapat ditusuk oleh jarum.

            “Terus aku harus gimana, Bunda?” Ziya semakin terisak.

            Halimah menghela napas, lalu mengusap pundak putrinya dengan lembut. Terpukul sekali hatinya dengan keadaan seperti itu. Wanita itu mungkin terlalu mempercayai Ziya, tapi begitulah kata hatinya.

            “Aku gak kuat, Bunda,” katanya dengan linangan air mata, “bawa aku pulang!”

            Halimah mempererat pelukannya, “apa yang membuat mereka menuduh kamu, sayang?” tanyanya dengan pilu.

            “Ziya gak tau, Bunda,” isaknya, “mereka bilang aku menyangkal tanpa bukti, tapi mereka juga menuduh aku tanpa bukti.”

            Halimah terdiam, mulutnya tak mampu berkata apa pun. Jika ia menjadi Ziya, mungkin ia akan melakukan hal yang sama, atau mungkin lebih parah. Usia kamu saja masih muda sekali, Nak. Tergolong masih anak-anak, mengapa seberat ini yang kamu dapatkan? Apa yang akan anak lain lakukan jika mereka mengalami hal yang sama? Dan apa yang akan dilakukan oleh ibu mereka?

----(0)----

 

 

 

 

 

 

            “Saya belum pernah menemukan santri yang membuat kesalahan betah di pondok pesantren, Pak Fachri,” ujar Pak Kyai.

            “Bagaimana dengan dihina setiap orang atas kesalahan yang tidak dilakukan?” Tanya Fachri, sebenarnya Kyai dari pondok itu adalah kakak kelasnya dulu. Namun, ia tak ingin terikat dengan itu.

            Pria yang lebih tua dari Fachri itu terdiam, terlihat sangat bimbang. Ia berpikir sejenak, “apa buktinya kalau Ziya tidak bersalah?” tanyanya.

            “Apa Kyai juga punya bukti kalau Ziya benar-benar mencuri?” Fachri balik bertanya, “begini Kyai, jika anak saya tidak betah karena telah mencuri uang, dia mungkin akan menelepon dari hari pertama disidang melalui wartel pondok. Tapi Ziya menunggu hingga dijenguk, dan menahan hinaan dan cacian selama satu bulan penuh. Jika ia benar mencuri mungkin sudah menelepon minta pindah sekolah karena takut ketahuan.”

            Lagi-lagi keduanya terdiam. Keadaan ini membuat keduanya menjadi canggung. Seperti dua sosok yang belum pernah dipertemukan sebelumnya.

            Fachri melirik arlojinya, “jika Ziya memilih untuk menetap lalu terbukti bersalah silahkan hukum dia seberat kesalahan yang dia lakukan. Namun, jika ia tidak terbukti bersalah, saya kira Kyai tahu apa yang harus dilakukan.”

            Kyai itu mengangguk, lalu menjawab dengan senyuman kecil pada Fachri.

            “Saya tidak bisa berlama-lama, mohon pamit. Assalamu’alaikum,” ucapnya sebelum bangkit dan menyalami seniornya sebagai penghormatan.

----(0)----

 

 

 

            “Ziya mau tinggal di sini, Ayah,” ucapnya dengan tegas saat Fachri kembali.

            Fachri tersenyum, ia tahu Ziya akan memilih untuk menetap bila ia memang tidak bersalah. Karena jika pergi tak mengubah apa pun dan tidak akan membutikan bahwa dirinya tidak bersalah.

            “Ziya akan tetap di pondok, sekuat hati Ziya, Ayah,” tambahnya, “tapi jangan cegah Ziya untuk berhenti kalau tidak kuat lagi.”

            “Anak bunda pasti kuat,” Ujar Halimah lalu memeluk putrinya, menyalurkan semangat melalui pelukan.

            Sebenarnya aku tidak tahu bagaimana caranya untuk tetap kuat menghadapi ini semua, Ayah, Bunda. Sejujurnya aku kecewa karena kalian memberiku pilihan, bukan membawaku pergi. Sedangkan hatiku saja sudah hancur saat ini. Bagaimana caranya mencoba mengumpulkan serpihan itu agar tetap kuat menjalani kehidupan seperti ini.

            Setelah kalian pulang, hal-hal yang lebih buruk mungkin akan terjadi sekarang. Rasanya seperti aku tetap melangkah walau kaki telah penuh darah karena jalan itu berduri.

            Tak apa, asal kalian tidak berhenti mengucap doa untukku.

            “Bunda, Hati-hati di jalan,” pesannya sebelum melepas pelukan, “Ayah, juga.”

            Keduanya tersenyum kecil walau hati mereka sedikit pedih melihat wajah putrinya yang sendu dan penuh tekanan. Halimah mencium kedua pipi Ziya lalu pamit sekali lagi.

            “Belajar yang benar, Sayang.”

----(0)----

 

 

 

            Apa ini adalah hukuman? Apa dosa yang aku lakukan dulu sehingga harus menjalani kehidupan seperti ini? Setelah ayah dan bunda pulang, semuanya tetap sama. Menjalani kehidupan dengan setiap tatapan tajam setiap orang, dengan tuduhan-tuduhan mereka, dengan perkataan dan sikap buruk mereka, kepadaku.

            “Ziya itu maling, bener gak, sih?” bisik salah seorang santriwati. Sebenarnya tidak bisa dibilang bahwa itu adalah bisikan karena tetap terdengar oleh telinga Ziya.

            “Katanya iya. Tiap malam dia nyuri uang selama dua bulan lebih,” timpal salah satunya.

            “Menang banyak, dong.”

            “Pasti, lumayan kenyanglah! Duit jajan utuh.”

            Ziya menghela napas berat, mungkin pelajaran hadist tidak melekat di otak mereka, bukankah memang dilarang untuk berkata yang ‘katanya’ karena pasti tidak jelas kebenarannya, pikirnya lalu bangkit dari tempat duduknya.

            Baru saja ia bangkit malam itu karena ingin mencari tempat nyaman untuk belajar, tiba-tiba, “Ziya, madh’u ilaa diwaan ma’had!”[1] perintah salah seorang senior padanya.

            Lagi-lagi gadis itu menghela napas, kali ini lebih panjang dari sebelumya. Jika biasanya ia hanya dipanggil ke kantor keamanan pengurus santriwati putri, kali ini ia dipanggil ke kantor pondok langsung. Itu artinya, malam ini ia harus berhadapan dengan bagian yang lebih tinggi daripada bagian keamanan santriwati.

            Ziya melangkah gontai menuju kantor pondok pesantren. Jantungnya berdegup tak karuan, bukan karena takut, tapi hatinya terlampau sedih. Kebenaran kalah oleh kesalahan, kesalahan itu menyebar luas dengan cepat. Bahkan tidak terhitung tiga jam.

            Semudah dan seasik itu keburukan diperbincangkan daripada kebenaran, sehingga tak satu pun orang yang mempercayai kebenaran.  Sesenang itu manusia memperbincangkan keburukan sehingga kebaikan tersembunyi dibalik keburukan, bahkan walau keburukan itu tidak pasti kebenarannya.

            “Assalamu’alaikum,” ucap Ziya saat tiba di kantor.

            “Waalaikumussalam, udkhuli[2] Ziya,” Pinta sebuah suara berat dari dalam kantor.

            Ziya melangkah masuk ke dalam kantor dengan kepala tertunduk. Bagaimana pun, ia tidak pernah siap untuk selalu melihat berpasang-pasang mata yang selalu memandangnya dengan tajam dan penuh hinaan.

            “Ijlisii anti,”[3] pinta suara itu dengan bahasa arab, ia adalah Ustaz Fahmi.

            Pria berkaca mata itu tidak sendirian, ia didampingi bagian keamanan santriwati dan ketua pengurus yang rutin menyidangnya tiap malam dan memaksanya untuk mengaku telah mencuri uang.

            “Gimana, ya?” gumam Ustaz Fahmi seperti bertanya pada diri sendiri.

            Ziya yang tengah duduk di hadapan keempat orang itu mendongak, memberanikan diri untuk memandang mereka semua. Terlihat tatap mata Ustaz Fahmi penuh dengan amarah, juga tatapan ketiga pengurus penuh kesal dan benci.

            “Sejujurnya, telinga saya panas, Ziya,” ucap Ustaz Fahmi membuka pembicaraan.

            Gadis berwajah tirus itu hanya diam, ia tahu persis apa yang dimaksud oleh gurunya itu. Biasanya air matanya turun dengan cepat, tapi kali ini tidak. Matanya terasa panas dan sedikit perih, mungkin air matanya memang sudah terkuras habis karena hal ini.

            “Coba jawab dengan jujur, Ziya! Kamu mencuri atau tidak?” tanya pemilik suara berat itu dengan nada yang sedikit meninggi.

            Ziya menggeleng dengan tegas, “aku tidak mencuri,” jawabnya.

            “Kamu masih bisa bicara tidak mencuri? Panas  sekali telinga saya mendengar laporan tentang kamu ini!” Kata pria itu geram.

            “Aku benar-benar…”

            “Apa kamu tidak bosan terus menyangkalnya?!” Potong Ustaz Fahmi.

            “Kenapa kalian hanya terfokus kepada aku? Kalian membiarkan pelaku sebenarnya hidup dengan tenang lalu merusak kehidupan yang lain!” timpal Ziya dengan penuh emosi. Ia tidak peduli walau di hadapannya adalah seorang guru, ia merasa dirinya benar.

            Mata Ustaz  Fahmi menatapnya dengan tajam, “kamu berani berbicara kepada seorang guru dengan nada tinggi?! Apa yang kamu pelajari di kelas?! Kamu bintang santri tapi tidak menerapkan apa yang dipelajari di kelas?!” Emosinya tersulut.

            Ziya menunduk, “maaf, Ustaz. Tapi kalian juga tidak menerapkannya, jelas-jelas kita sudah belajar soal larangan berbicara ‘katanya’ tapi kalian malah mempercayai dan menyebarluaskannya.”

            “Kamu pinter tapi kebelinger.[4] Apa kamu punya bukti kuat kalau kamu tidak mencuri?” Tanya  Ustaz Fahmi dengan mata yang menyipit, menyelidik ke dalam mata santrinya.

            “Lalu, apa yang membuat kalian mengatakan kalau aku sudah mencuri?” Ziya balik bertanya.

            “Ziya, seisi pondok sudah mengetahuinya. Mereka semua tahu kamu adalah pencurinya,” seorang gadis berkacamata menjawab, ia adalah ketua pengurus putri.

            “Mereka semua tahu dari mana? Dari ‘katanya’. Lalu bagaimana jika itu tidak benar? Kalian sudah memfitnah, apa siap buat menanggung dosa dari fitnahnya?” tanya Ziya. Ia tak peduli jika mendapat cap ‘melunjak’. Ia melakukannya karena merasa benar.

            “Saya salah menilai kamu, Ziya. Saya kira kamu benar-benar bisa dijadikan teladan. Namun, ternyata tidak. Kamu melawan dengan parah,” ujar sang Ustaz.

            “Maaf, Ustaz. Aku hanya mempertahankan kebenaran.”

            “Terserah apa katamu! Yang saya tau, bahwa hidup seorang pencuri uang umat yang sedang menuntut ilmu tidak akan berkah! Ilmunya tidak akan bermanfaat, jangankan untuk menjadi orang sukses, untuk lulus sarjana saja ia tidak akan bisa. Orang seperti itu hanya akan menjadi sampah masyarakat!” ucap sang Ustaz dengan tegas.

            “Itu adalah sumpah saya!” Imbuhnya. Matanya telah memerah menahan amarah.

            Ziya tersenyum, “silahkan kutuk aku dengan sumpah, Ustaz. Aku akan buktikan bahwa sumpah tersebut tidak berlaku, karena Ustaz mengutuk orang yang salah.” 

            Gadis itu berbicara dengan sangat tegas. Ia bukan tidak menghormati gurunya, atau melawan. Hanya saja ia bosan terus ditindas saat bersikap lemah. Saat menjerit keras ‘aku bukan maling’ dengan air mata tak tertahan justru membuat semuanya tidak membaik, maka ia memilih untuk melawan semuanya dengan tegar. Meski hatinya menjerit tak kuasa.

----(0)----

 

[1] Dipanggil ke kantor pondok

[2] Masuklah

[3] Duduklah, kamu (perempuan)

[4] Kebingungan

Previous <<
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

Rositadn
2018-08-13 09:19:25

Bagus, suka bacanya


Devii
2018-08-07 09:46:12

Keren dan greget


mahira
2018-08-07 06:55:02

Keren banget ceritanya


Page 1 of 1 (3 Comments)

Recommended Stories

Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

460 331 8
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

459 358 4
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

3K+ 956 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

241 195 7
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

1K+ 786 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

708 506 8