Ash Manor, Maidstone. Pukul 17:12 sore.

 

            "Selamat sore, maaf, apakah saya sedang berbicara dengan Countess Ardney Rossline Paddock?"

            Mendengar seseorang bertanya di belakangnya, wanita muda yang tengah asyik berkebun itu bangkit. Rambut hitamnya yang indah terawarat, terangkat ke atas oleh embusan angin yang tiba-tiba. Membuat sosoknya tampak seperti lukisan nenek sihir karya Nevinson--wajah yang panjang, halus, kulit yang pucat, rambut hitamnya yang tertiup ke atas, serta sapu yang dipegangnya.

            "Saya Countess Ardney. Siapa Anda?" 

            "Saya Puggy Humphry," ujar Puggy sambil mengulurkan tangan untuk berjabat. 

            Countess Ardney sedikit mendongak dan berkata, "Saya minta maaf. Tangan saya kotor." Dia menunjukkan kedua telapak tangannya.

            "Tentu, tentu saja. Ah, betapa bodohnya saya," Puggy menoleh kepada Flora. "Ini Miss Flora Elshlyn."

            Perempuan berusia awal tiga puluh itu tersenyum pada Flora. Senyum yang melekukan bibirnya, hingga mulutnya yang lebar naik ke pipi. "Saya merasa terhormat sekali bertemu Anda, Miss Flora. Anda selalu menjadi buah bibir para anggota White Club. Jeoply sering menceritakan itu kepada saya."

            "Mereka terlalu berlebihan. Maksud saya, saya tak sehebat itu." Flora tersipu.

            "Omong-omong hal penting apa yang membawa Anda ke sini, Adakah sesuatu yang dapat saya bantu?"

            "Saya sebenarnya hanya menemani Miss Puggy," kata Flora, "ada satu dua hal yang teman saya ingin tanyakan kepada Anda."

            "Juga Count Jeoply, jika beliau bersedia." Puggy menambahkan.

             Countess Ardney menatap Puggy dengan curiga. Ada guratan lain di wajahnya yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Dia melepas sarung tangan karetnya. "Mari, silakan masuk," katanya dengan enggan. Kemudian dia mendahului mereka di depan.

 

            Ruang duduk itu rapi tak bercacat. Dan samar-samar tercium harumnya biji lavender yang di bakar. Di atas perapian, beberapa hiasan berupa gembala dari porselen Dresden, seolah tersenyum manis. Sebuah meja bergaya Chippendale diletakan di sudut. Di dinding terdapat lukisan-lukisan berwarna cerah berbingkai perak, dan beberapa foto Countess Ardeny dengan Count Jeoply.  Sementara itu, sebuah sofa bergaya Victoria yang indah di letakan di tengah-tengah ruangan. 

             Setelah mereka duduk Ardney berkata, "Maaf, saya sendiri tidak merokok. Jadi saya tak punya rokok. Tapi silakan merokok jika Anda suka." Dia tersenyum. Tapi bukan senyum yang manis. "Sebentar lagi Jeoply pulang. Dia telah menelepon beberapa waktu lalu."

            "Saya tidak punya cukup waktu, kalau Anda mengerti maksud saya. Jadi, kita mulai saja." Tanpa mempedulikan keberatan di wajah Countess Ardney Puggy bertanya, "Eh bien. Countess Ardeny, Anda tentu telah tahu tentang kasus pembunuhan Sir Leon."

            "Itukah yang membawa Anda kemari?" sela Ardney tajam.

            "Persis. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan kepada Anda. Anda mantan kekasih Sir Leon, bukan?"

            Countess Ardney menyeringai marah. "Anda tidak berhak mengajukan pertanyaan kurang ajar seperti itu!" serunya. "Itu tidak ada hubungannya dengan kasus yang Anda selidiki!"

            "Saya harus mengulangi pertanyaannya?"

            "Well, saya menolak menjawab." Ardney berkeras.

            "Anda dapat menolak menjawab, tapi Anda harus tahu bahwa penolakan Anda sendiri merupakan jawaban. Karena Anda tidak akan menolak menjawab jika tidak menyembunyikan sesuatu."

            "Pertanyaan Anda sangat menyinggung."

            "Saya hanya menginginkan fakta. Demi kebaikan Anda dan demi kebaikan semua orang, fakta itu harus diperjelas. Anda mantan kekasih Sir Leon, bukan? Bahkan hampir menikah."

            Countess Ardney mengatupkan rahangnya. Setelah menarik napas dalam-dalam, dia berbicara lambat-lambat dengan sangat terpaksa. "Itu kisah bertahun-tahun lalu," akhirnya Countess Ardney berkata, "sebenarnya saya tidak mencintai Jeoply, dan dia tahu itu. Tetapi lelaki memang keras kemauannya. Dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Begitupun Jeoply. Suatu hari, Jeoply memperkenalkan Leon dengan temannya yang juga seorang arkeolog. Kemudian mereka pergi ke sebuah situs penggalian di Mesir, dan mereka meninggalkan Leon saat terjadi badai pasir. Jika tidak ada mobil mendiang Sir Georges yang kebetulan melintas, Leon pasti sudah tewas waktu itu."

            "Kapan tepat peristiwa itu terjadi, Madame?"

            "Kurang lebih empat atau tiga tahun yang lalu."

            "Dan fakta bahwa sekarang Count Jeoply merupakan rekan bisnis Sir Georges, dapatkah Anda menjelaskan itu, Madame?" 

            "Jeoply sama sekali tidak tahu kebenaran itu. Cinta Leon terhadap saya terlalu besar. Bahkan dia menutupi semuanya, dengan cerita yang lain sama sekali."

             "Artinya hubungan bisnis Sir Georges dengan suami Anda adalah kehendak alam, eh bien." Walaupun Puggy mengangguk dengan mantap, tapi matanya berkilau-kilau. Belum puas.

            "Saya tidak dapat membayangkan," kata Flora, "dan saya sama sekali tidak menyangka Count Jeoply sekeji itu."

            Countess Ardney mengangangguk pelan. Sejenak wajahnya tampak meluapkan perasaannya. Tetapi secepat datangnya, secepat itu pula dia lenyap. "Cinta memang keji dan jahat--saya pun sama saja. Saya tidak ingin ada sesuatu hal buruk lagi terjadi pada Leon. Karena itu saya menerima lamaran Jeoply. Benar-benar kejam."

            "Tetapi Countess Ardney," ujar Puggy, "kita harus memaklumi itu. Kekejaman itu kadang-kadang disebabkan oleh daya khayal yang lambat pematangannya. Bukan dari pembawaan. Kelambanan dalam pertumbuhan daya khayal inilah, akar dari kebanyakan kekejaman dan kejahatan di dunia sekarang ini. Karena itu kita harus menghapus sikap kekanak-kanakan yang kita miliki." Suara Puggy benar-benar datar, tanpa tekanan sedikit pun. "Omong-omong," sambung Puggy, "satu pertanyaan terakhir, Countess Ardney. Apakah Count Jeoply mempunya saudara laki-laki?"

            "Ya. Count Joeply Paddock. Dia saudara kembar Jeoply. Dia tinggal di Prancis. Tepatnya di Aoste." Ardeney menjawab tanpa ragu.

            "Saya tidak tahu Count Jeoply mempunyai saudara kembar. Er, media tak pernah menyebut-nyebut soal itu." 

            "Itu karena Joeoply ... dia, ya,  sedikit berbeda. Anda tahu, yah, dia ... sedikit mengalami gangguan jiwa."

            "Maaf?"

            Ardney terdiam beberapa detik. "Joe, dia dilahirkan dengan kelainan gen. Kelainan karakteristik yang membuat jiwanya tidak stabil. Suatu nasib yang malang memang," kata Ardney sambil menekankan tangan ke dahi.

            "Terkadang, serangkaian nasib buruk itu disebabkan oleh adanya seseorang." Puggy menanggapi.

            "Ya. Itu menurut Nabi Yunus." 

            "Saya tahu. Tapi tak ada gunanya melawan nasib. Kenyataan memang sering tidak romantis." 

             Terdengar suara pintu berderit di ujung ruangan.

            "Astaga, Miss Puggy!?" seseorang berseru dari ambang pintu. Siluetnya yang bergerak mendekat tampak lebar dan tinggi. "Hal apa gerangan yang mebawa Anda ke Ash Manor?" dia mempercepat langkahnya. "Surat-surat kabar dan media--apakah itu benar? Maksud saya, Anda tengah menjadi buronan polisi Swiss dan Prancis." 

            Puggy bangkit dari duduknya, lalu mengulurkan tangan untuk berjabat dengan lelaki yang baru bergabung itu. "Pertama-tama, maafkan saya karena mengejutkan Anda, Sir," kata Puggy. "Kedatangan saya ke Ash Manor hanya sehubungan dengan investigasi yang tengah kami lakukan--saya dan Miss Flora."

            Count Jeoply Paddock menyambut hangat tangan Puggy. "Saya mendengar Anda tengah menangani kasus pembunuhan yang menimpa Sir Leon. Kasihan sekali. Dia masih begitu muda dan penuh vitalitas. Nasib memamg jahat!" dia berpaling pada Flora. Mata biru cerahnya berkilau-kilau. "Anda juga, Miss Flora. Suatu kehormatan besar dapat berjumpa dan berjabat tangan dengan Anda. Di Whites Club kami selalu membicarakan dan memuja Anda. Anda merupakan inspirasi dan teladan kami."

            "Saya benar-benar tersanjung," ujar Flora. "Demikian juga Anda. Bagi saya, Anda jauh lebih dermawan daripada Lordrick Wylhem."

            Count Jeoply tertawa renyah. "Saya belajar dari tuan saya, kalau Anda paham maksud saya." Dia membuat gerakan kepada Countess Ardney. "Sayang," katanya, "mengapa kau tak menyuruh Mrs. Savertton membuat teh atau kopi untuk tamu-tamu kita?"

            "Itu tidak perlu," jawab Puggy cepat-cepat. "Kami sedang terburu-buru, Sir. Anda tentu paham maksud saya."

            "Ah, tentu saja," ujar Count Jeoply. Dia melipat tangan si dada. "Kalau ada yang dapat saya bantu dengan cara apa pun, Miss. Puggy, saya akan sangat merasa terhormat. Meski saya tidak tahu apa yang dapat saya lakukan untuk Anda," sambungnya  dengan gaya seorang Inggris tulen.

            "Saya hanya akan menanyakan bebera hal."

            "Silakan. Tanya saja apa yang ingin Anda tanyakan." 

            "Eh bien. Mengenai Sir Leon, apakah Anda mengenalnya secara pribadi, Sir?" 

              "Saya yakin Rossline telah menceritakan itu kepada Anda." Count Jeoply menoleh pada isterinya. "Bukan begitu, Sayang?

            Countess Ardney hanya menanggapi dengan anggukan tak acuh.

            Count Jeoply berjalan ke sisi istrinya, memutar badan, lalu membungkuk menciuam dahi wanita itu. Puggy menatap lekat-lekat tengkuk lelaki di depannya dengan tajam. 

            "Ada lagi, Miss Puggy? Pasti masih ada," tanyanya setelah dia duduk di samping istrinya.

            "Pagi ini, saya dan Miss Flora melihat Anda di Swissôtel. Untuk  urusan apa Anda pergi ke Jenewa, tanpa Sir Wyhlhem?"

            Count Jeoply terperangah satu dua detik sebelum menjawab. "Untuk urusan bisnis, tentu saja," jawabnya. "Sir Lordrick sedang kurang enak badan. Dia mengutus saya ke Jenewa untuk satu urusan bisnis, yang tak dapat saya ceritakan."

            Mata Puggy menyelidik. "Saya ingin tahu, apa alasan Anda mengecat rambut Anda?"

            Count Jeoply kembali terperangah. Kemudian tawanya yang serenyah permen cokelat pecah. "Saya tidak menyangka Anda begitu memperhatikan penampilan saya," kata bangsawan Inggris itu dengan masih tertawa. "Saya sama sekali tidak punya alasan khusus--hanya sedikit bosan dengan warna rambut saya. Bukan begitu, Manis?" Count Jeoply menoleh pada Countess Ardney, sambil mengedipkan sebelah matanya dengan lucu.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Tansy

By murphy

601 370 9
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

359 279 4
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

202 163 3
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 784 14
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

930 660 13
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6