Wode Hall, London. Pukul 15:13 siang. 

 

            Rumah itu bergaya Victoria yang dikelilingi pagar hidup yang dipotong rapi. Di balik pohon hidup itu tampak kebun yang menyenangkan. Puggy menghentikan mobil sewaannya di depan pintu gerbang dari besi. Dia melompat turun, meraih selot, membukanya, lalu melompat kembali ke mobil dan mengemudikannya sampai ke depan pintu. Saat mobil berhenti, seorang wanita berusia kira-kira pertengahan tiga puluh yang tengah duduk di teras, bangkit memburu. 

            "Oh, akhirnya Anda datang juga, Miss," serunya sambil mengulurkan tangan kepada Flora. "Saya cemas karena kemenakan saya mendadak tidak dapat dihubungi. Dan pemberitaan di media mengatakan--"

            "Anda tidak perlu khawatir, Madame," Puggy menyela, "saya dapat memastikan bahwa Sir David baik-baik saja."

             Perempuan berwajah persegi dengan pipi kemerahan itu menoleh tajam ke arah Puggy. Dia mengamatinya beberapa lama sebelum kembali menatap Flora. "Miss Puggy, katakan, apakah yang nona ini benar?"

            Flora mengangguk dengan maaf. "Dialah Miss Puggy, Nyonya. Nama saya Flora Elshlyn." 

            "Oh!" pekik perempuan itu dengan suara yang kecil. Dia menoleh dan menatap Puggy dengan tidak percaya. "Saya minta maaf."

            Puggy mengangguk dan tersenyum maklum.

            "Saya benar-benar tidak bermaksud kurang ajar. Anda mengerti? Semuanya begitu lain dari yang saya bayangkan," sambungnya.

            "Saya dapat memaklumi. Beberapa orang yang saya temui sering melakukan kesalahan serupa." Puggy mengakui. "Omong-omong apakah saya sedang berbicara dengan Mrs. Panington?"

            "Saya Mrs. Panington," sahut empunya rumah, "mari, silakan masuk, Nona-nona." Mrs. Panington membimbing kedua tamunya ke ruang duduk.

            "Nah, Miss Puggy," kata Mrs. Panington setelah mereka duduk, "sekarang bagaimana saya dapat membantu Anda?"

            Puggy mengangguk. "Saya ingin memperjelas beberapa hal kepada Anda, Madame. Pertama, saya ingin tahu nama baptis Anda." Sambil bicara matanya memandang Mrs. Panington dan mengamati wajahnya sedetik lebih lama.

            Mrs. Panington tampak kebingungan. "Nama baptis saya?"

            "Oui, Madame. Nama baptis Anda."

            "Alena Maria Goldenharm, tentu saja," jawab Mrs. Panington tanpa pikir panjang. 

            "Apakah Anda orang Jerman?"

            Mrs. Panington menatap Puggy dengan tanda tanya. "Saya orang Inggris." Ada nada yang tandas dalam suaranya. 

            Puggy memiringkan kepala sedikit, lalu dengan mata menginterogasi dia menatap Mrs. Panington. "Anda yakin nama Anda bukan Helena Marie Laversharn, gadis Jerman kecil yang itu?" tatapan mata Puggy benar-benar menusuk. 

            Mrs. Panington bergidik. Seolah-olah lumpuh oleh kengerian. Postur tubuhnya menunjukkan perasaan bersalah yang membebaninya selama puluhan tahun. "Saya .... " Mrs. Panington mendesah. "Anda memang benar. Sayalah anak kecil itu. Tetapi, bagaimana Anda tahu?"

              "Bekas luka yang memanjang di dekat pelipis Anda. Letak dan ukurannya sama dengan Helena kecil. Perias wajah yang Anda gunakan, tetap tidak bisa menutupi dengan sempurna luka yang cukup dalam itu."

             "Anda dapat memastikannya? Maksud saya, setelah puluhan tahun berlalu."

              "Luka pada tubuh manusia tidak berubah ukurannya. Meskipun tubuh itu mengalami perubahan."

               "Hebat! Saya tidak pernah berpikir sejauh itu." Suara Mrs. Panington berubah menjadi kagum tak terkira.

            Warna merah muda samar-sama merambati kedua pipi Puggy. "Saya akan sangat berterimakasih jika Anda menjelaskan semuanya."

            "Tentu, tentu saja." Mrs. Panington menegakan duduknya. "Kita bicara langsung saja tentang ini," sambungnya, "ibu saya, adalah seorang anggota Partai Persatuan Sosialis Jerman. Waktu itu, saya berusia sepuluh tahun saat saya menemukan Kolonel Morries yang malang. Ibu sedang di Inggris ketika itu. Dan dia terburu-buru pulang saat mendengar kabar kami menemukan Kolonel Morries sebelum dia tewas.'

            " 'Anda tahu, Miss Puggy, apa yang pernah ibu saya katakan kepada saya sehubungan tragedi itu? Dia berkata, 'orang komunis keparat itu memang pantas mati!' saya tidak mengerti sama sekali maksudnya--barulah di kemudian hari saya memahaminya.'

             " 'Setelah ibu dan ayah saya meninggal, saya mengikuti jejak ibu saya.Saya masuk Partai Sosialis Jerman--itu bertahun-tahun sebelum saya menjadi aktivis, tentu saja. Saya ingat sekali. Waktu itu hari Sabtu di musim dingin. Saya masuk ke kamar kerja mendiang ibu saya, dan menemukan sebuah dokumen yang membuat saya mengerti segalanya."

            "Dokumen, Madame?" sela Puggy. 

            Mrs. Panington mengangguk. "Isi dokumen yang akan saya ceritakan ini," ujar Mrs. Panington, "kedengarannya seperti fiksi ... sebuah cerita yang tak masuk akal. Akan tetapi .... " Mrs. Panington terdiam, menghela napas, lalu melanjutkan, "akan tetapi, isi dokumen itu dibuktikan oleh sejarah, walau tidak ada yang mencatatnya sebagai bagian dari sejarah. Kecuali saya, tentu saja."

            "Saya ingin tahu isi dokumen itu," kata Puggy, menyela tidak sabaran.

            "Saya tidak tahu darimana ibu mendapatkan dokumen itu. Yang jelas, di sana tertulis mengenai serangkaian rencana orang-orang kiri untuk menyusun ulang sistim masyarakat Eropa. Salah satu caranya adalah menyusup ke dalam lapisan masyarakat dan mengajarkan sebuah doktrin baru--doktrin komunis yang sedikit dimodifikasi untuk lebih dapat diterima semua kalangan kemudian memanfaatkan masa untuk menggulingkan pemerintah."

           Kedua alis Flora bertaut, wajahnya menyiratkan rasa takut bercampur tidak percaya. "Itu benar-benar mengerikan," gumamnya.

            Gigi-geligi Puggy merapat karena marah. "Saya dapat menduga yang selanjutnya," ujar Puggy.

            "Begitulah, Miss Puggy," sahut Mrs. Panington. "Kolonel Morries merupakan salah satu dari orang-orang kiri itu. Ibu saya memang  liberal, tapi dia tidak pernah membenarkan tindakan keterlaluan semacam itu. Dia tahu tentang Kolonel Morries, karena dia mencurigainya, kalau Anda tahu maksud saya."

            Puggy mengangguk. "Silakan lanjutkan, Madame."

            Mrs. Panington tampak tengah memilih kata-kata.. "Sebenarnya, inilah bagian terpenting dari semua kisah itu. Mereka rupanya mencurigai ibu. Karena itu ibu harus disingkirkan. Berikutnya, mereka tidak ingin mengambil resiko dengan ayah, yang insting polisinya perlahan tergugah. Maka ayah pun mereka bungkam bertahun-tahun kemudian."

            "Itukah alasan Anda mundur dari partai, dan memilih untuk mengganti identitas diri Anda?" tanya Flora. 

            Mrs. Panington mengiyakan dengan anggukan. "Saya punya keyakinan mereka tidak akan membiarkan saya hidup lebih lama lagi. Saya mengambil semua tabungan saya, mengatur  perjalanan ke Asia sedemikian rupa. Kemudian saya kembali dengan identitas baru sebagai warga negara Inggris, dan menetap di London beberapa lama. Setelah saya merasa aman, saya kembali ke Jerman sebagai warga negara asing. Saya bergabung menjadi seorang aktivis. Dan ternyata tak ada yang mengenali saya sebagai Helena Leversharn. Itu berkat kehebatan seni merias wajah, dan bakat yang saya miliki sebagai pemain drama yang baik."

            Puggy berdehem untuk menyela. "Adakah orang lain yang mengetahui hal ini, Madame? Sir David atau mendiang suami Anda, barangkali."

            "Saya tidak percaya kepada Georges. Sejak pertama. Tetapi saya dapat mempercayai kemenakannya, maksud saya David."

            Jawaban tak terduga itu membuat Puggy dan Flora terperangah. 

            "Saya pikir Anda pasangan yang cocok sekali." Flora berkomentar kosong.

            "Saya tidak pernah mencintai Georges. Kasihan dia. Saya menikahinya karena saya tahu dia anggota komplotan komunis itu."

            "Apa? Bagaimana mungkin?!" 

            "Itu hanya kedok, tentu saja."

            "Ya Tuhan .... "

            "Saya menikahinya dengan harapan dapat membunuhnya suatu hari nanti. Tetapi saya tidak punya keberanian untuk melakukannya."

            "Jadi, siapa yang membunuh Sir Georges?" tanya Puggy, "Sir David menceritakan kepada saya pelakunya kemungkinan orang yang diperasnya."

           Mrs. Panington terkekeh. "Anda telah ditipu mentah-mentah Miss Puggy. Tidak pernah ada pemerasan apa pun. Sama sekali."

            Puggy mengerang.  "Saya ingin mendengar semua faktanya."

            "Georges meninggal bukan karena ditembak. Tetapi karena overdosis ecstasy cair yang diminumnya," sahut Mrs. Panington. "Malam itu, setelah makan malam, saya, David, dan Georges pergi main bridge. Sementara para pelayan yang telah selesai dengan pekerjaanya pergi tidur.  Kami main sampai larut. Sekitar pukul dua saya minta diri untuk pergi tidur. Georges dan David melanjutkan permainan tanpa saya. Beberapa menit berikutnya, saya mendengar suara gaduh dari kamar bawah, tempat main bridge. Saya terburu-buru turun, dan .... "

            "Apa yang Anda lihat, Madame?" sergah Flora dengan tidak sabar.

             Mrs. Panington mendesah. "Georges, dia kejang-kejang di lantai. Di meja bridge tergeletak botol ecstasy cair yang baru saja direguknya."

             "Jadi Sir Georges tewas overdosis ecstasy cair, bukan karena ditembak pencuri?"

           "Begitulah."

            "Bagaimana dengan perampokan itu?" potong Puggy sarkastis.

            Mrs. Panington tiba-tiba tersenyum puas. Dia menumpukkan siku di pahanya. "Setiap orang pada hakikatnya punya potensi untuk menjadi pembunuh," kita Mrs. Panington dengan nada misterius. " Dalam diri setiap orang, dari waktu ke waktu tumbuh keinginan untuk membunuh, meskipun bukan tekad untuk membunuh. Ini semacam penyakit yang tidak disadari keberadaannya oleh kebanyakan orang. Termasuk saya."

            "Jangan katakan Anda yang .... " Flora tidak sanggup melanjutkan. Tenggorokannya tercekat oleh ketidakpercayaan.

            Mrs. Panington terkekeh. "Saya akan sangat senang sekali,  jika dapat melakukan yang Anda pikirkan, Miss Elshlyn. Tetapi bukan saya yang membunuhnya--dia overdosis ecstasy--kami hanya melakukan sentuhan akhir."

            "Maaf?"

            "Anak muda itu baik dan dapat dipercaya. Saya beri tahu David jika akan menjadi aib keluarga apabila publik tahu pamannya tewas akibat overdosis ecstasy. Pikirannya yang analitis bekerja cepat. Sebelum George benar-benar tewas, kami menyeretnya ke kamar David. Saya menahan tubuhnya dari depan, dan David menembak punggungnya satu detik setelah Gerorges benar-benar tewas. Berikutnya, Anda tentu tahu apa yang kami lakukan."

            "Apakah Sir Georges pecandu?" tanya Puggy dengan gaya seorang dokter yang ingin tahu semua gejala penyakit pasiennya.

            "Cukup berat. Tapi dia sangat cerdik hingga hampir tak ada yang mengetahuinya." Mrs. Panington membuat gerakan tangan. "Saya telah mempersiapkan ini untuk Anda, Miss Puggy." Dia bangkit, mengambil sehelai kertas dari map hijau di rak buku. Lalu diberikannya kepada Puggy. "Hasil autopsi Georges yang kami rahasiakan dari publik."

             Puggy mengambil kertas itu danberkata, "Bagaimana dengan dokumen itu? Dapatkah saya melihatnya?"

            "Sayangnya ... dokumen itu sudah tidak lagi ada pada saya. Dokumen itu hilang beberapa waktu sebelum Georges tewas. Saya tidak tahu di mana dan siapa yang mencurinya. Tetapi itu tidak menjadi soal lagi. Toh Georges sudah mati. Kecuali Anda, saya tidak yakin ada yang mengenali saya Helena."

            Puggy mengangguk sekilas lalu membuka kertas yang diberikan Mrs. Panington. Seketika matanya menyipit, mengamati dengan seksama.

 

AUTOPSY PROTOCOL

NAME: GEORGES PANINGTON 

ARCIHIVES: C-L961

 

ANATOMIC SUMMARY

I. DILATED AND HYPERTROHIC CARDIOMYOPATHY

A. CARDDIOMEGALY (750 GM)

B. LEFT VENTRICULAR HYPERTROHY, HEART (2.3 CM)

C. CONGESTIVE HEPATOMEGALY (2750 GM)

D. CONGESTIVE SPLENOMEGALY (350 GM)

II. ACUTE OPIATE INTOXICATION
ACUTE PASSIVE CONGESTION, ALL VISCERA IU TOXICOLOGY (SEE SEPARATE REPORT)

CONCLUSION: (CAUSE OF DEATH)
DILATED AND HYPERTROPIC CARDIOMYOPATHY ACUTE OPIATE INTOXICATION

 

            "Apa artinya itu, Puggy?" Flora bertanya.

            "Artinya penyebab kematian Sir Georges adalah kerena overdosis  methylenedioxymethaphetamine. Atau yang di jalanan dikenal sebagai ecstasy." Puggy menoleh kepada Mrs. Panington. "Madame, saya ingin tahu, menurut Anda siapa dalang dari pembunuhan Sir Leon ini?"

            "Saya sama sekali tidak punya pandangan. Sudah saya katakan, semua orang punya potensi untuk membunuh. Dan korbanlah yang sering merupakan sebab dari suatu kejahatan. Membunuh itu gampang--selama tidak ada orang yang mencurigai kita. Dan Anda tentu tahu, si pelaku itu sendiri justru orang yang paling tidak dicurigai."

            "Orang-orang ini yang berbahaya, Madame," Puggy menyahut, "mereka semua harus ditenggelamkan ke dasar samudera! Bagaimana pendapat Anda? Maksud saya, saya yakin Anda mempunyai gagasan--suatu gagasan yang baru setengah jadi."

            "Kenapa Anda berpikir begitu?" ditatapnya Puggy dengan ingin tahu.

            "Anda mungkin pernah melihat atau mendengar Sir Georges menyebut-nyebut sesuatu yang remeh dan tidak berharga. Tetapi mungkin saja mempunyai relevansi dengan kasus Sir Leon ini."

            Mrs. Panington mengerutkan kening dalam-dalam. Seolah tak ingin melewatkan sesuatu pun dari apa yang diingatnya. "Er, ya," gumamnya kemudian, "saya ingat. Georges pernah berceloteh tidak jelas sewaktu mabuk. Dia menyebut-nyebut soal lebah betina yang kurang ajar. 'Lebah betina itu kurang ajar sekali!' katanya. Saya tidak tahu apakah ini ada Artinya untuk Anda. Saya pikir Georges hanya melantur saja. Sebab, setelah itu dia justru bernyanyi seperti orang gila--little boy blue ... come blow your horn ... the sheep's in the meadow .... "

            Puggy terkesiap. Dia menegakkan duduknya lalu menatap Mrs. Panington dengan tajam. "Madame, katakakan, apakah Sir Georges mengenal Count Jeoply Paddock?"

            Alis Mrs. Panington bertaut. "Kalau yang Anda maksud Count Jeoply sekertaris Lordrick Wylhem, tentu saja."

            "Apa hubungan mereka?" 

            "Sejauh yang saya tahu, hanya rekan bisnis. Count Jeoply suka sekali dengan barang antik. Dan dia tahu ke mana harus pergi."

             Puggy menyapukan pandangan. "Saya tidak melihat benda antik di sini, apakah Sir Georges menyimpannya di suatu tempat?"

            "Begitulah. Georges menyimpan benda-benda antik itu di galeri khusus."

            "Adakah salah satu di antaranya berupa lukisan berharga. Seperti ...  misalnya lukisan karya Jean Baptiste Greuz?"

            "Saya tahu apa yang Anda maksud. Dan itu benar. Geoges meny--"

            "Madame, seberapa dekat Sir Georges dengan Sir Leon?" Puggy menyela.

            "Err--sangat dekat. Hampir dapat dikatakan seperti ayah dan anak," jawab Mrs. Panington yang tampak agak kesal karena disela.

            "Satu pertanyaan terakhir, Madame," kata Puggy, "apakah Anda tahu di mana Mrs. Strathmore setelah kematian Kolonel Morries?"

            Mrs. Panington mengerutkan bibir. "Terakhir, yang saya tahu mereka tinggal di Inggris. Mrs. Strathmore dan kedua anak lelakinya. Kasihan. Mereka masih terlalu kecil saat kejadian itu. Sekarang usia mereka pasti hampir sebaya kami."

            "Ah, ya. Tentu saja. Alington dan Allerton, kalau saya tidak salah. Mereka kembar, bukan?" wajah Puggy tampak aneh ketika mengucapkan kata-kata itu. 
Mrs. Panington mengangguk. "Eston dan Lerry. Semoga mereka tidak mengikutu ideologi dan idealisme tolol Kolonel Morries."

            "Semoga saja, Madam. Semoga saja."

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

ratih211
2019-02-23 12:09:14

Berasa baca novel terjemahan. Keren
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:52

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:07

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


EqoDante
2019-02-21 08:09:09

Mantaapppp. Bab per bab bikin penasaran.
Mention


Rizalulhanan
2019-02-20 16:49:54

Gilee.. dpet rekomen cerita bgini dari kawan dan wow emang oke banget ceritanya
Mention


SusanSwansh
2019-02-20 15:11:53

Semuanya, makasih banyak. Maaf nggak bisa balas one by one. Panjang banget. Hehe. Sukses untuk kita semua.
Mention


sumarni285
2019-02-20 14:43:11

Wadaw, Baru prolog udah bikin aku jatuh cinta. Masukin list dlu deh. Hehe
Mention


YantiRY
2019-02-17 07:55:56

Mantullll. Mantap betul prolognya.
Mention


anny
2019-02-16 01:12:01

Kereeen
Mention


Vtiah
2019-02-15 04:41:44

Kereeeeeennnnnn....
Mention


Page 1 of 17 (165 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

324 252 4
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

566 437 6
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 751 12
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 580 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

175 141 2
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

411 326 7