Mobil itu meluncur deras memasuki hanggar di ujung jalan pesawat. Ketika mobil itu mendekat, seorang lelaki berpakaian kusut bergegas keluar dari hanggar. Dia melambai dan mendorong pintu metal besar, memperlihatkan sebuah jet putih di dalamnya. Kemudian berlari ke arah Range Rover merah yang baru tiba.

             "Hampir siap, Miss," kata Richard. Aksen Inggrisnya lekat. "Maafkan saya atas keterlambatan ini. Anda begitu mendadak, dan  petugas menara mempersulit dengan izinnya."

            "Tidak masalah, Richard," sahut Puggy yang langsung meloncat turun. Di belakangnya Flora Elshlyn mengikuti.

            "Mari, Mesdemoisells." Richard membawa mereka menyebrangi landasan pacu menuju pesawat. Kemudian dia memberi isyarat ke arah tangga. 

 

            Beberapa menit kemudian Puggy dan Flora telah duduk di dalam kabin yang kosong. Dan Richard menghilang ke bagian depan pesawat. Mesin Hawker 731 jet pribadi itu bergemuruh. Membuat lambung pesawat bergetar. Musik country mulai terdengar lirih dari atas bagian kabin. Di luar jendela, bandar udara internasional Jenewa ditinggalkan dengan kecepatan mengejutkan. 

 

            Kursi putar di kabin pesawat The Fan Jet Executive Design yang mewah itu, dibaut pada rel di lantai dan dapat dipindahkan di sekitar meja persegi dari kayu keras. Untuk menciptakan kesan sebagai sebuah ruang rapat mini. 

            "Kau mempersulit keadaan, Puggy." Ketika bicara tubuh Flora terdorong mundur ke sandaran kursi. "Seharusnya kau tidak membunuh agan DCPJ itu. Lihatlah, sekarang kita menjadi buronan internasional." 

            Puggy mengangkat bahu dengan ringan. "Itu akan baik untuk kita, Mon ami. Maksudku, aku memang sengaja melakukannya."

            "Apa?!" Flora benar-benar berteriak. Ditatapnya Puggy dengan mata mengintimidasi. "Puggy, sejak kapan kau beralih profesi menjadi tukang jagal?"

            "Aku harus melakukannya. Itu bagian penting dari rencana kotak pikiranku. Jika aku tidak membunuh agen DCPJ itu, kita kalah judi. Kita berdua mampus!" 

            "Sama saja, Puggy! Polisi Inggris akan menangkap kita begitu kita mendarat," tukas Flora. Dia memijit-mijit alisnya, merasa seperti berada dalam kapal yang tengah diamuk badai ... terombang-ambing. Tetapi dia tidak dapat keluar dari situ. 

            "Itu tak akan terjadi," Puggy berkata sambil membuka sebuah koper kecil berwarna hitam. "Aku sudah mempersiapkan segalanya. Miss Puggy dan Miss Flora akan mampus beberapa jam setelah dia tiba di Inggris."

            Flora mengerutkan kening. Menatap tidak percaya isi dalam koper itu. "Apa ini tidak keterlaluan?"

            Puggy terkekeh. "Mon ami, apakah seorang penjudi mengenal kata keterlaluan?" 

            "Setelah aku meyakinkan dunia bahwa perjudian bukanlah kegiatan maksiat, melainkan hiburan bagi masyarakat kelas menengah ke atas, ini menjadi sangat keterlaluan!" Flora memandang Puggy dengan marah. 

             Puggy tidak menanggapi protes temannya. Sebagai jawaban, dia mengulurkan tangan, mengambil kertas kosong di antara beberapa dokumen yang dijepit rapi menjadi satu. "Kebohongan, Mon ami. Kebohongan yang besar, rapi, dan tidak terbantahkan, yang menyambut kita sejak pertama," katanya, sambil menggambar dua buah lingkaran--pembunuhan. Lalu Puggy membuat titik-titik di sekelilingnya. Sedangkan di kedua sudut bagian atas, Puggy menggmbar jaring laba-laba, yang di tengah jaring tersebut ditulisnya inisial 'LB3' dan 'FSO.' Terakhir Puggy menggoreskan tanda tanya besar di tengah-tengah gambar.

             Puggy menyodorkan hasil karyanya pada Flora. "Kasus ini seperti batu mosaik yang tak ada cacat celanya. Di mana di dalamnya setiap orang telah di tempatkan dan memainkan peranannya secara sempurna. Begitu teraturnya permainan itu, hingga dari luar tampak seperti sesuatu hal yang wajar. Inilah yang mengacaukan kenyataan. Kita harus menemukan rangkaian polanya. Baru bagan sempurna itu dapat kita hancurkan."

            Flora mengamati sekilas gambar ditangannya, dan mendadak dia terkesiap. Intuisi perempuannya bekerja sebagai alat detektor yang dapat menangkap adanya bahaya yang mendekat. Tidak hanya bagi dirinya sendiri ... tapi bagi semua orang. Otot-ototnya menegang. "Bagaimana kau bisa tahu semua ini? Maksudku, agen DCPJ itu ada di pihak yang lain." Flora tergagap, dengan mata kosong melirik  kertas di tangannya.

            "Aha!" sahut Puggy sambil menggerakkan tangan penuh gairah. "Agen DCPJ tolol itu terlalu sombong. Dia mengira aku seorang dungu. Fey--sebuah kata dari Skotlandia--yang dimaksudkan kepadaku adalah sebuah tantangan yang disertai ejekan--kebahagiaan murni sebelum datang bahaya. Sesuatu yang indah apabila benar-benar terjadi."

            "Dan itu tidak mungkin." Flora menimpali. "Satu hal yang masih tidak kumengerti. Mengapa agen DCPJ itu ingin bertemu denganmu, untuk urusan apa?" Flora menatap Puggy. Matanya menyala-nyala. "Aku butuh penjelasan, Puggy. Kau telah mempertaruhkan nama baikku sebagai penjudi terhormat."

            Puggy berdehem. "Agen DCPJ tolol itu menginginkan mikrofilm, yang konon berisi dokumentasi yang dapat memicu pecahnya perang antar negara Eropa. Aku sempat berpikir mungkin benda itulah motif pembunuhan ini. Tetapi banyak fakta yang tidak cocok."

            Flora mendesah. "Aku khawatir ini tidak akan mudah."

             "Semua akan menjadi sederhana bila fakta-fakta yang ada kita susun pada tempatnya." Puggy menyahut. Dia menarik kertas kosong lain dari penjepit, lalu menuliskan sesuatu di sana. "Pesan rahasia yang memakai teknik reaksi fotografi itu, Mon ami. Aku telah menemukan kunci sandinya."

            Flora memiringkan sedikit kepalanya. "Benarkah?"

            "Kalau kau menghilangkan empat kata dari pesan itu, hasilnya sama sekali. Ini." Puggy menyodorkan kertas di tangannya sambil mengedipkan sebelah matanya. "Bacalah."

            Flora membaca setiap kata yang digarisbawahi Puggy dengan takut-takut. Seperti seorang ibu, yang akan memberikan ceramah burung dan kumbang kepada anak gadisnya. "Kalau dokumen-dokumen itu muncul, pengaruhnya akan sangat besar dalam percaturan politik Eropa. Dampaknya tentu bagus." Lima belas ribu kaki di udara, Flora merasa dunia jasmaniyahnya memudar, karena semua pikirannya beralih pada kertas di tangannya. Bahkan, sebelum dia dapat merenungkan apa maksud pesan itu, dia merasa ada sesuatu yang lebih mendasar di dalam benaknya. Perlahan Flora menoleh ke arah Puggy. "Apa artinya semua ini, Puggy?"

            Puggy berkata santai, "Artinya, lelaki gila yang menelpon Sir David berkata benar. Sir Leon adalah anggota komplotan komunis bawah tanah. Komplotan orang tolol yang mengirimkan pesan kaleng berisi tantangan kepadaku. Dan mencoba mendikteku." Ada kilatan kejam yang berbahaya di mata Puggy.

             Flora mengusap pelipisnya yang tiba-tiba berkeringat. "Sekarang aku menjadi benar-benar khawatir." Dia menjentikkan setitik keringat dari ujung hidungnya. "Jika Sir Leon sendiri anggota komplotan komunis bawah tanah, itu artinya kita berada di jalan yang salah, kalau kau tahu maksudku."

            Tangan Puggy bersandar di atas lengan kursi, matanya menatap kabin pesawat dengan kosong. "Aku mulai menduga, bahwa mungkin masalah ini jauh lebih dalam dan lebih tersembunyi daripada dugaanku semula," guamamnya. Suaranya terdengar sama khawatirnya dengan Flora.

            "Jangan katakan kita berada di jalan yang salah."

            Puggy membuat gerakan yang mengekspresikan pikirannya yang kacau. "Sejak awal kasus ini bergulir, aku merasa ada yang janggal. Orang-orang yang terlibat--mereka semua menyembunyikan sesuatu juga berbohong akan sesuatu. Selain itu ada seseorang yang berada dalam bahaya. Tetapi, sulitnya, fakta-fakta yang ada menunjukan dua arah yang berlawanan. Jika orang yang kukira dalam bahaya betul-betul dalam bahaya, sampai saat ini aku belum melihat alasan mengapa dia dalam bahaya. Tidak ada motif." Graham Puggy mengetat karena menyampaikan berita buruk itu. 

            "Siapa orang yang dalam bahaya yang kau maksud?" 

            "Mrs. Satterhwaite."

            "Perempuan tua yang sinting itu?" wajah Flora yang tampak memiliki 12 juta pertanyaan dalam benaknya mengkernyit.

            "Non, non. Bukan begitu. Di antara semua orang yang kita temui, hanya Mrs. Satterhwaite yang berkata sesungguhnya."

             "Puggy menurutku permpuan sinting itu--"

              "Dia sama sekali tidak sinting," tukas Puggy, "hanya dibuat seolah-olah sinting. Seseorang mengendalikannya dengan obat terlarang." Puggy berbicara lebih cepat dan penuh keyakinan. "Ada seseorang yang telah memberikan narkotika kepada pelayan malang itu, tanpa sepengetahuannya. Campuran yang menarik--pasti LSD yang mengakibatkan timbulnya mimpi-mimpi yang seolah nyata. Juga Hemp, yang membuatnya tidak bisa membedakan waktu. Sehingga dia percaya sesuatu telah terjadi berjam-jam yang lalu, padahal hanya beberapa menit. Orang yang melakukan ini pasti tahu baik narkotik. Dia mempermainkan perempuan tua itu hingga membuatnya hampir gila. Zat perangsang, zat penenang, zat stimulan ... semuanya mempunyai peranan mengendalikan Mrs. Satterhwaite, dan membuatnya tidak berdaya seperti lalat dalam larutan gula kental."

             Flora bergidik. Dari cara bicara Puggy,dia tahu temannya bersungguh-sungguh. 

            "Mrs. Satterhwaite menceritakan padaku suatu rahasia." Puggy melanjutkan. "Hari itu--yang entah kapan tepatnya, dia mendengar Sir Leon tengah berbicara dengan seorang perempuan di kamar kerjanya. Tetapi, karena perempuan asing itu  bicaranya cepat sekali, Mrs. Satterhwaite hanya mendengar beberapa patah kata saja

 Yaitu bukti-bukti, filem, dan lebah."

            "Lebah?"

            Puggy mengangguk. "Mrs. Satterhwaite berkeras memang lebah. Le-bah."

            "Apa mungkin dia salah dengar?"

            Puggy menggerakan bahunya. "Entahlah. Yang kutahu, memang ada lukisan lebah di ruangan bekas kamar kerja korban--lukisan lebah menukik siap menyengat."

            "Aku jadi pusing," kata Flora, "semakin dipikir, kasus ini terasa semakin misterius." Dia bangkit dari kursinya dengan letih. "Mungkin satu kaleng cognac dapat menjernihkan pikiran." Flora menghilang ke belakang.

 

            Puggy bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah jendela. Dia berdiri di sana memandang jauh  keluar. Pesawatnya mandi sinar matahari. Awan di bawah tampak seperti sebidang pelataran berbulu lembut. Dan di bawah awan itu, terdapat dunia yang dikenalnya dengan baik. Inggris. Puggy mengerutkan dahi. Suatu gagasan mendadak muncul dalam benaknya. 

            "Kau tampaknya baru disengat lebah, Puggy. Apa yang mengganggu pikiranmu?" Flora yang telah kembali dengan dua buah kaleng cognac bertanya.

            Puggy mengertakan rahang dan tiba-tiba meninju-ninju udara  "Ah, tololnya aku baru menyadari hal ini! Benar-benar goblok sekali! Semuanya begitu sederhana dan jelas. Tapi aku tidak melihatnya."

            Flora menatap kosong.

            "Mrs. Satterhwaite, keberadaannya mengancam banyak orang yang terlibat permainan ini." Puggy melanjutkan sambil berjalan mondar-mandir. "Jika sampai fakta bahwa perempuan tua itu selama ini dikendalikan menggunakan obat-obatan terlarang terungkap, itu berbahaya untuk mereka. Karena semua orang akan mempercayainya. Dan cerita mengenai siluet pembunuh itu, pasti akan dipertimbangkan untuk diselidiki kebenarannya."

            Flora mengangsurkan kaleng cognac. "Minumlah, ini akan membuat pikiranmu sedikit tenang."

            Puggy menerima kaleng cognac itu dan langsung meminumnya. "Komplotan itu akan membunuh Mrs. Satterhwaite secepatnya. Mereka tidak punya pilihan. Kecuali .... " Puggy menghentikan langkahnya dan tampak merencanakan sesuatu.

            "Apa yang kau pikirkan?"Flora menatap Puggy dari kursinya. 

            "Mencoba menempatkan posisiku di posisi komplotan itu untuk menyusupi jalan pikirannya."

            "Jika kau pikir Mrs. Satterhwaite dalam bahaya, mengapa kau tidak mengambil tindakan?" kata Flora.

            Puggy menggeleng dan kembali  duduk. Wajahnya tampak puas. "Yang akan kita lakukan adalah tidak melakukan apa pun." Puggy mencondongkan tubuhnya ke depan. "Ini tentang kemenangan secara mutlak, Mon ami. Satu tindakan hebat untuk menghancurkan lawan, dan mengendalikan keadaan hingga kita dapat membereskan berbagai hal. Dan tindakan hebat itu dimulai dengan tidak melakukan apa pun."

            Untuk sesaat Flora tidak mengerti apa maksud perkataan temannya itu. Lalu, ketika dia memahaminya, sebuah bola meriam meninju tepat di perutnya. Dia menatap Puggy dan darahnya terasa membeku."Kau berencana membiarkan Mrs. Satterhwaite terbunuh?"

            "Orang gila selalu lolos dari hukum dengan mudah, Mon ami. Dan lebah tidak akan menyengat jika tidak merasa dalam bahaya." Puggy berkata dengan sungguh-sungguh.

            Kernyitan di dahi Flora menunjukan dia sama sekali tidak setuju. "Aku tak habis pikir," Flora berkata, "sebenarnya apa tujuan mereka menantang dan berusaha mendiktemu, apa motifnya?" Flora diam sebentar, supaya kata-katanya meresap. "Rasanya sama sekali tidak ada motif yang signifikan."

            Mata Puggy mengecil dan berkilat-kilat tajam. "Untuk suatu alasan yang tidak maasuk akal. Bukan sesuatu yang spesifik. Tetapi untuk sebuah kepuasaan diri dan nafsu pada  keunggulan kualitas pribadi. Orang-orang ini sepertinya punya sentimen pada orang-orang yang mereka anggap hebat."

            Flora mengerutkan bibir. "Syukurlah aku bukan orang yang membuat mereka tertarik," sahutnya, yang merasa kesal karena gelar raja judinya, tidak dianggap hebat. "Yang mengganggu pikiranku adalah surat bersandi itu. Apa yang dapat kau peroleh dari surat itu?" 

            Puggy menaruh kedua sikunya di lengan kursi. Jari-jari kedua tangannya dikatupkannya. "Dilihat dari susunan kata-katanya," Puggy mulai, "si penulis bukanlah orang Prancis maupun Inggris--sekertaris pribadi saya akan muncul di kantor anda--hanya orang Jerman, atau yang lama tinggal di Jerman yang akan berbicara seperti itu. Tidak diragukan lagi."
            Flora tampak skeptis. "Orang Jerman? Sang Pengawas orang Jerman?"

            "Belum dapat kupastikan antara apakah dia orang Jerman, atau hanya lama di Jerman. Yang jelas dia seorang yang berkepribadian tinggi, cerdas, dan penuh percaya diri."

             Wajah Flora tiba-tiba tegang. Dia mentap dengan terbelalak ke arah Puggy. "Kalau saja kita tahu milik siapa surat itu .... "

            "Sayangnya, aku sendiri tidak tahu. Surat itu kutemukan di buku Panah hitam, di rak buku Sir Leon. Tapi itu bisa belum dapat dipastikan miliknya." Puggy mengakui dengan pahit.

            Flora menyelipkan rambut ke belakang telinganya dengan gugup. "Tentu saja begitu," sahutnya, "kita tidak berurusan dengan penjahat biasa, melainkan dengan komplotan orang berotak cemerlang di Eropa."

            Puggy mengibaskan tangan. "Sampai sekarang, memang mereka tertawa. Tetapi bukankah ada pepatah Inggris yang mengatakan 'yang tertawa terakhirlah yang menang?' jadi, kau lihat saja, Mon ami. Siapa yang akan tertawa, dan siapa yang akan tenggelam ke dasar samudera!"

            Flora belum sempat menyahut ketika interkom di atas kepala mereka tiba-tiba bergemeresak.

            "Harap kenakan sabuk pengaman Anda Mesdemoiselles," kata Richard, ketika pesawat jet itu mulai turun memasuki langit London. "Kita akan mendarat dalam tiga menit lagi."

 

            Wajah Flora merona. Dia bergembira pulang ke rumahnya. Perbukitan Kent tampak terentang di bawah pesawat yang sedang turun itu. Lama penerbangan Jenewa-London, yang kurang lebih memakan waktu satu jam itu, rasanya seperti perjalanan keliling dunia untuk Flora. Beberapa puluh detik kemudian, roda pendaratan pada peswat itu turun dengan mengeluarkan suara berdentum. Siap tinggal landas.

 

            Simon Edward, petugas pelayanan ekskutif di lapangan udara Biggin Hill, berlari tergesa-gesa ke landasan pacu. Lelaki berusia pertengahan tiga puluh itu masih menggerutu, karena diganggu jam makan siangnya. Namun yang lebih menjengkelkan lagi, dia diperintahkan untuk mengawasi jet pribadi milik perempuan asing yang tidak menyenangkan, meluncur masuk ke hanggar yang berseberangan dengan terminal utama. Dan dia tidak bisa bilang tidak kepada orang itu. Sekarang, saat Simon melihat jet itu semakin rendah, dan tampak hampir menyentuh ujung-ujung pepohonan di sebelah kanannya, syarafnya terasa seperti tercabik. Dia segera turun ke bawah untuk melihat pendaratan dari landasan pacu. Petugas landasan telah siap dengan pengganjal ban. Jauh di ujung landasan pacu, hidung pesawat jet itu mendongak, dan ban-bannya menyentuh landasan. Kemudian pesawat bersiap mengurangi kecepatan, bergeser dari kanan ke kiri di depan terminal, dan berhenti dengan suara yang menderum-derum. Setelah menurunkan kedua penumpangnya, pesawat itu kembali meluncur menuju hanggar pribadinya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

ratih211
2019-02-23 12:09:14

Berasa baca novel terjemahan. Keren
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:52

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:07

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


EqoDante
2019-02-21 08:09:09

Mantaapppp. Bab per bab bikin penasaran.
Mention


Rizalulhanan
2019-02-20 16:49:54

Gilee.. dpet rekomen cerita bgini dari kawan dan wow emang oke banget ceritanya
Mention


SusanSwansh
2019-02-20 15:11:53

Semuanya, makasih banyak. Maaf nggak bisa balas one by one. Panjang banget. Hehe. Sukses untuk kita semua.
Mention


sumarni285
2019-02-20 14:43:11

Wadaw, Baru prolog udah bikin aku jatuh cinta. Masukin list dlu deh. Hehe
Mention


YantiRY
2019-02-17 07:55:56

Mantullll. Mantap betul prolognya.
Mention


anny
2019-02-16 01:12:01

Kereeen
Mention


Vtiah
2019-02-15 04:41:44

Kereeeeeennnnnn....
Mention


Page 1 of 17 (165 Comments)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

528 399 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

429 336 13
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

175 141 2
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

329 251 5
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

566 437 6