Mrs. Marie mondar-mandir membentuk lingkaran kecil sambil melipat tangan di dada. Jantungnya berdebar-debar ketika mendengar suara langkah kaki mendekat di lorong. Mereka sudah datang. 

            "Madame?" 

            Mrs. Marie tidak mendengarnya. Dia sedang berada di dunia lain ... dunianya. 

            "Madame?" mata kecokelatan Einstein menyelidik penuh harap. "Anda baik-baik saja?" 

            Mrs. Marie mengangguk sekilas tanpa menghentikan langkahnya. "Einstein, apa yang harus kukatakan kepada polisi? Salah satu di antara Miss Puggy dan Miss Flora membunuh agen DCPJ, dan tak ada seorang mengetahuinya melarikan diri?"

            "Kita katakan semuanya. Maksud saya, bahwa kita memang tidak mendengar apa-apa."

 

            Einstein baru menyelesaikan kata-katanya ketika pintu berderit terbuka. Jon Swinton masuk bersama setengah lusin polisi. Mrs. Marie terkesiap, seketika berhenti mondar-mandir. Matanya membelalak, menatap rombongan kecil polisi itu dengan tatapan gelisah. Dia menghirup udara sebanyak mungkin ke dalam paru-paru. Adrenalin terasa menjalar di tubuhnya, merusak proses berpikirnya. 

            "Saya--kami baru saja menerima telepon di markas besar polisi. Nama saya Inspektur Weagment," kata lelaki bertubuh kekar dengan raut wajah tajam. Senjata yang dibawanya dibiarkan terlihat. Sebagai peringatan terhadap siapapun yang cukup tolol untuk membuat keonaran di wilayahnya. "Seseorang bernama Rèmy Einstein menelepon kami dan memberitahu ada pembunuhan di sini."

            "Saya yang menelepon," sahut Einstein. 

            "Dapatkah Anda menjelasan apa yang terjadi, Sir?"

            Einstein menoleh sekilas ke arah Mrs. Marie. Kemudian kembali menatap lelaki berwajah tidak ramah di hadapannya dan menggeleng lemah. "Saya dan Jon Swinton--yang mengantar Anda--sedang bekerja di kebun belakang. Kami tidak tahu apa-apa soal pembunuhan itu." Einstein menoleh lagi kepada si kepala pelayan. "Mrs. Marie, kepala pelayan di sini yang menemukan pertama. Maksud saya, saya juga ikut bersamanya saat itu."

            Untuk pertama kalinya sejak sekian lama gelisah, Mrs. Marie mengangguk dengan mantap. "Kami tidak tahu siapa yang melakukannya. Saya sedang berada di kandang kuda waktu itu. Dan ruangan ini ... seperti yang Anda lihat. Bagaikan dilanda angin topan."  Mrs. Marie mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan.

            Inspektur Weagment memutar bola mata, mengamati sekelilingnya. "Ruangan ini seperti baru saja dilanda gempa bumi," kata Inspektur Weagment.

             "Begitulah, Inspektur," ujar Mrs. Marie, "tetapi, tidak ada satu pun dari kami yang mendengar adanya keributan. Padahal ruangan ini kacau sekali."

             "Dengan kekacauan seprah ini, tapi bagaimana mungkin?" sahut Inspektur Weagment sangsi. 

             "Itulah yang saya tanyakan pada diri saya sendiri, Inspektur. Saya sama sekali tidak mengeti."

             "Mungkin karena kami terlalu sibuk denga  pekerjaan kami. Sehingga kurang memperhatikan," usul Einstein.

             Inspektur Weagment mengangguk. "Selain itu, ruangan ini berada di tengah-tengah." Dia menoleh ke arah Mrs. Marie. "Omong-omong, di mana mayatnya, Madame?"

            "Di sana, Inspektur." Mrs. Marie mengangkat jari telunjuknya, dan menunjuk lurus ke depan. 

 

            Terdorong impuls, tubuh Inspektur Weagment beringsut mendekati mayat itu seakan terhipnotis. Ketika Inspektur Weagment cukup dekat, sehingga bisa melihat mayat yang dimaksud si kepala pelayan, dia menyipitkan mata. Lalu mengitari mayat korban seperti seekor hiu.
            "Anda tidak menyentuh atau mengubah posisinya, kan, Madame?"

            Di kejauhan Mrs. Marie menyahut. "Semua masih tetap sama seperti saya pertama menemukannya. Kami tidak memindahkan atau mengubah letak sesuatupun." 

 

            Inspektur Weagment berjongkok untuk mulai memeriksa. Lelaki itu kira-kira berusia awal tiga puluh. Berkulit kecokelatan dengan rambut hitam yang dipotong cepak. Anehnya, yang membuat Inspektur Weagment khawatir bukan kondisi mayat itu. Tetapi mata biru korban yang menatap kosong. Sebuah lencana tampak menyembul dari balik mantel mayat itu. Inspektur Weagment mengambilnya menggunakan sapu tangan, mengamatinya sesaat sebelum memasukannya ke dalam kantong spismen bening. 

             "Di mana Miss Puggy?" tanya Inspektur Weagment sambil memberi isyarat kepada anak buahnya untuk memeriksa mayat itu. 

            "Saya--kami tidak tahu, Inspektur." Mrs. Marie menyahut. "Setelah saya mengantarkan tamu Miss Puggy, saya pergi ke kandang kuda untuk memandikan kuda bersama Roger. Saya memang sempat melihat Miss Flora keluar ruangan. Sesaat setelah saya keluar. Tetapi saya sama sekali tidak tahu yang terjadi. Mungkin tamu Miss Puggy ingin berbicara empat mata. Saat  saya kembali dengan Einstein untuk makan siang  ... kami baru menyadari mobil Miss Puggy tidak ada di garasi. Kami mencarinya ke kamar kerja dan .... "

            Inspektur Weagment berjalan ke arah Mrs. Marie. "Miss Flora? Maksud Anda Miss Flora si penjudi yang terkenal itu?"

            "Ya, Pak. Miss Flora Elshlyn the God of gambler yang itu."

            Inspektur Weagment menatap si kepala pelayan dengan tatapan menginterogasi. "Apa Anda tahu, untuk urusan apa agen DCPJ itu datang ke sini?"
            "Dia hanya mengatakan ingin bertemu Miss Puggy."

             Inspektur Weagment menegakan kepala. Seolah mencatat fakta itu dalam hati. "Madame, menurut pendapat Anda, apakah kasus pembunuh ini ada hubungannya dengan kasus pembunuhan Sir Leon yang sedang ditangani Miss Puggy?"

            "Entahlah, saya sama sekali tidak tahu, Inspektur," ujar Mrs. Marie.

            Kini Inspektur Weagment berbalik sepenuhnya menghadap si kepala pelayan, mata hitamnya menilai. "Apakah Anda tahu ke mana mereka pergi? Maksud saya apakah Miss Puggy ada janji  bertemu dengan seseorang?"

            Mrs. Marie mengerutkan kening dalam-dalam. "Miss Puggy tidak pernah mengatakan ke mana, dan dengan siapa dia akan pergi. Dia selalu menangani urusan pekerjaannya sendiri."

            "Inspektur," kata salah satu anak buahnya,"kami menemukan ini." Dia memberikan sepucuk pistol yang terbungkus sapu tangang kepada Inspektur Weagment. "Kami menemukannya didekat kaki meja. Kami menduga ini milik korban."

            Inspektur Weagment mengambil benda itu, dan memeriksa magasinnya. "Isinya masih penuh. Pastikan sidik jarinya."


            2

 

            Inspektur Weagment duduk di kursinya dengan tegak dan penuh curiga. Mrs Marie telah memerintahkan Einstein untuk memanggil semua pelayan, tukang kebun, juru masak dan yang lainnya ke ruang tengah. Kurang dari lima menit Einstein datang. Di belakangnya seorang perempuan dan seorang lelaki bertubuh kecil mengikuti. Inspektur Weagment memberi isyarat untuk mereka duduk. Einsten menarik kursi yang terdekat. Sementara Mrs. Ursula Borne yang masih mengenakan celemek, menarik kursi di dekat Mrs. Marie. Dan Roger mengambil kursi yang tersisa. Setelah semuanya lengkap, Inspektur Weagment memulai dengan meminta si kepala pelayan menceritakan kronologi penemuan mayat itu. 

              "Kalau begitu, kemungkinan korban dibunuh beberapa lama setelah Anda meninggalkan mereka--salah satu di antara Miss Puggy dan Miss Flora," kata Inspektur Weagment setelah Mrs. Marie mengakhiri kisahnya, "Anda ingat berapa lama Anda membantu Roger memandikan kuda sebelum Anda kembali ke kamar kerja itu?"

            Mrs. Marie tampak berpikir-pikir. "Antara empat puluh sampai empat puluh lima menit, saya rasa. Karena sebelumnya, Miss Puggy telah meminta saya untuk tidak mengganggunya dengan tamunya itu. Bahkan Miss Puggy melarang saya menyajikan teh untuk tamunya."

            "Dilihat dari kondisi korban, prediksi waktu kematiaannya memang antara tiga puluh lima dan empat puluh menit yang lalu. Atau lima sampai sepeluh menit setelah Anda meninggalkan mereka."

            "Demi Bunda Theresa!" jerit Mrs. Marie.

            "Omong-omong, Madame, apakah tindakan Miss Puggy menolak teh itu biasa?"

            Mrs. Marie memejamkan mata lalu menggeleng lemah. "Ini untuk yang pertama kalinya. Miss Puggy selalu beramah-tamah dengan menyajikan teh, atau semacamnya."

           "Itu pasti karena Miss Puggy sudah mengetahui semuanya. Maksud saya, para roh halus sudah memberitahunya." Einstein menyela.

            "Maaf?" Inspektur Weagment mengerutkan kening dan menatap Einstein dengan curiga.

            "Miss Puggy itu ahli mistik, Pak," spontan Mrs. Ursula menyahut. "Dia berteman baik dengan para roh halus."

            "Maksud mereka, Miss Puggy itu eksentrik, Inspektur." Mrs. Marie membenarkan.

            Inspektur Weagment mengangguk mengerti. Aku rasa dia gila. Mata hitam Inspektur Weagment beralih kepada Mrs. Ursula Borne. "Madame, apakah Anda tidak mendengar suara tembakan, atau perkelahian, antara pukul tiga belas sampai pukul tigas belas lebih empat puluh lima?"

            "Saya tidak mendengar sesuatu pun. Bagaimana saya mendengarnya? Saya berada di dapur untuk menyiapkan makan siang. Yang saya katakan itu benar, kan, Mrs. Marie?" Mrs. Ursula menyahut dengan cepat. Namun tangannya tidak berhenti meremas-remas celemek yang masih dikenakannya. Dan wajahnya yang seperti wajah tikus tampak pucat pasi.

            "Tentu saja kau tidak mendengar sesuatupun, Ursula. Memang bagaimana kamu dapat mendengarnya? Maksudku, kau sedang sibuk dengan urusan dapurmu, bukan? Selain itu, dapurmu berada jauh di belakang."

            Inspektur Weagment berkata kepada Einstein. "Dan Anda, Sir.  Apakah Anda tidak melihat Miss Puggy meninggalkan Puri Faucille?"

            "Sama sekali tidak, Inspektur. Saya dan Winton tengah merapikan mawar di kebun belakang," sahut Einstein. 

           "Selain itu," Jon Swinton menbahkan, "suara ringkikan Peggy, Meggy, dan Gobby, tidak sudah cukup mengesalkan. Kami harus menyelesaikan pekerjaan secepat mungkin, jika tidak ingin telinga kami meledeka."

            Inspektur Weagment memutar bola matanya. "Peggy, Meggy, dan Gobby--nama kuda-kuda Miss Puggy?"

            "Sebenarnya, bukan." Roger menyela. "Ketiga kuda pacu itu milik Sir Willis. Kerabat jauh Miss Puggy Inggris."

            "Maksud Anda Sir Arthur Willis?"

           "Ya, Pak. Sir Willis menitipkan kuda-kudanya karena beliau ada urusan bisnis di Bagdad. Beliau tidak dapat mempercayai siapapun, untuk menjaga ketiga kuda pacu terbaiknya selain Miss Puggy. Itulah alasan saya di sini." Roger menjelaskan.

            "Jadi, Anda sebenarnya tukang kuda Sir Willis?"

            "Benar sekali, Pak."

            Walkie talkie di pinggang Inspektur Weagment bergemeresak. Dia meraihnya dan berkata, "Ada masalah?"

            "Ya, Pak." Sebuah suara menyahut. "Kita dapat masalah besar. Kami menunggu Anda. Segera."

 

            3

 

            Rue Armengaud adalah sebuah jalan tenang di Paris, yang diapit deretan rumah dengan atap miring, bertalang, dan bercerobong asap rendah. Menjulang tinggi di antara rumah-rumah itu, sebuah bangunan bertingkat delapan, adalah markas besar interpol pusat penyimpanan informasi kejahatan internasional negeri itu. 

 

            Charles Rame, asisten sekertaris interpol, tengah duduk santai sambil menikmati aroma kopi seduhannya. Lelaki jangkung berambut kemerahan itu baru saja hendak mencicipi kopinya, ketika ponsel genggamnya di meja berbunyi nyaring. Sambil mengumpat pelan, Charles meraih benda itu.

            "Charly, ini aku Weagment." Sebuah suara di ujung sambungan berkata. "Aku menelepon istrimu. Dia mengatakan atasanmu yang kejam menahanmu akhir pekan ini."

            "Sial kau! Katakan, mau apa menelponku, bangsat?"

            "Aku butuh bantuanmu. Apa yang kau ketahui tentang seorang agen DCPJ, bernama Maximilien Beaufort?"

            Charles mengerutkan kening. "Apa kau gila Weagy? Kau tidak--"

            "Dia tewas. Di tembak Miss Puggy Humphry." Inspektur Weagment menyela. 

            "Itu lelucon paling tolol dan tidak lucu, kalau kau tanya pendapatku."

            "Kali ini aku bersungguh-sungguh. Demi Tuhan!"

            Hening satu dua detik.

            "Beri aku dua menit." Charles menekan tombol tunggu, dan beralih pada layar komputernya. Dia mengetikan serangkaian kata kunci. Saat informasi dari hasil pencariannya muncul, tiba-tiba Charles merasakan cairan empedu naik ke tenggorokannya . Astaga! Charles segera memberitahu sepupunya.

 

            Sementara itu, 255 mil jauhnya dari kota Paris, Sang Pengawas baru saja mengakhiri sambungan teleponnya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 643 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

601 370 9
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

446 349 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

605 444 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

564 423 6
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

597 461 7