Mrs. Marie Shaturland terpaku di ambang pintu. Dia memandang ke dalam ruangan itu dan tiba-tiba merasa asing sekali. Ruangan yang selalu rapi itu seperti baru saja dilanda angin topan; benar-benar porak-poranda. Kertas-kertas, buku-buku, dan map dokumen bertebaran di mana-mana. 

            "Apa ini?" tanya Rèmy Einstein dari belakangnya. 

            Mrs. Marie menggeleng lemah. "Saya baru kembali dari membersihkan kandang kuda. Dan .... " dia tidak melanjutkan kata-katanya. Mata biru perempuan tua itu melebar.     Dengan gerakan lambat karena takut akan apa  yang dia lihat, Mrs. Marie menyipitkan mata. Memfokuskan pandangan ke arah gundukan yang teronggok di dekat meja. Dia menunjuk agak jauh ke depan. "Kau melihatnya, Einstein?" 

            Rèmy Einstein mengangkat pandangannya dan mengikuti arah jari si kepala pelayan. Pada mulanya, dia mengira kepala pelayan itu menunjuk pada buku yang berserakan di lantai. Ketika Einstein melihat lebih seksama, mendadak perutnya menjadi mual.
"Itu .... " Einstein menutup mulutnya, dan menoleh takut-takut kepada Mrs. Marie.

 

             Perempuan berdagu kokoh itu menyeringai marah. Tanpa berkata sesuatu pun, dia pergi untuk melihat gundukan yang seperti pakaian kotor salah letak itu. Dengan perasaan campur-aduk antara was-was dan penasaran, Einstein menyusul Mrs. Marie. Dia berjalan tanpa bersuara di belakang perempuan berusia akhir empat puluh itu. Ketika bertambah dekat, sosok yang tergeletak di lantai beberapa yard itu semakin jelas. Mayat lelaki yang tertimbun buku-buku dan kertas-kertas yang benar-benar mengerikan. Dia terlentang, mata kosongnya menatap langit-langit. Wajahnya berlumuran darah yang mengalir hingga ke leher.  Tangannya yang mengepal dan lengannya yang membentang, menyembul dari buku-buku yang menutupinya. Wajahnya pucat dan memancarkan ekspresi ngeri bercampur kebencian. Mrs. Marie berlutut di samping mayat itu. Dia menyibak mantelnya menggunakan ujung sebuah buku. Sebuah lencana dinas rahasia Prancis berkilau. 

            "Ini ... agen DCPJ Prancis," gumam Mrs. Marie. Dia memutar kepala, menoleh dengan tajam pada Einstein. "Di mana Miss Puggy, tamunya, dan Miss Flora?"

            "Saya tidak tahu. Saya sejak pagi bekerja di kebun belakang."

            "Keterlaluan!" Mrs. Marie bangkit dan mengitari mayat itu sambil mendongak, dan melihat sekeliling ruangan yang seperti kapal pecah.

            "Mrs. tidakkah ... sebaiknya kita menghubungi polisi?" usul Einstein.

            Alis Mrs. Marie berkerut. Dia menghentikan langkahnya, dan menatap mayat di bawahnya dengan gelisah.

            "Sebuah investigasi resmi akan membuat puri ini digeledah. Tanpa terkecuali ruang kerja pribadi Miss Puggy--sebuah ruangan yang sangat pribadi baginya." Mrs. Marie berkata, seperti lebih pada dirinya sendiri. "Karenanya, kita harus menunggu sampai ada kabar dari Miss Puggy."

            "Tapi kita tidak bisa melenyapkannya begitu saja, kan? Maksud saya kematian agen DCPJ ini."

            Mrs. Marie diam.  Menimbang-nimbang keputusan yang hendak di ambilnya. "Demi Bunda Theresa," katanya agak lama kemudian, "telepon polisi, Einstein."

            Rèmy Einstein mengangguk lalu pergi ke meja telepon.

            "Dengan kantor polisi Jenewa, ada yang dapat kami bantu?"

            Suara datar di ujung sambungan membuat Einstein ragu. "Mayat. DCPJ. Puri Counts de la Faucille. Rèmy Einstein. Tukang kebun." Einstein berkata dengan terputus-putus.

 

            2

 

            Nomor gawat darurat kepolisian Swiss dilengkapi dengan sistem penahan otomatis. Sehingga seorang penelpon tidak bisa memutuskan hubungan, sebelum sambungnya di putus secara elektronik oleh papan penghubung. Dengan demikian, setiap nomor yang masuk bisa dilacak walaupun pembicaraannya sangat singkat. Dalam lima menit setelah hubungan dari pria bernama Einstein, Inspektur Weagment Champagne melangkah ke ruang kerja atasannya, membawa sebuah pita rekaman. 

            "Saya minta kesediaan Anda untuk mendengarkan ini," kata Inspektur Weagment. Tanpa menunggu persetujuan pria gemuk bertampang seperti anjing Pug di hadapannya, Inspektur Weagment langsung menekan tombol pemutar.

            Terdengar gemeresak, lalu suara seorang pria yang sangat ketakutan berkata, "Mayat. DCPJ. Puri Counts de La Faucille. Rèmy Einstein. Tukang kebun."

            "Puri Faucille adalah kediaman Miss Puggy Humphry." Inspektur Weagment menjelaskan. "Puri kuno itu hanya sekitar lima blok dari sini."

            Atasannya mengangguk-angguk di belakang meja. "Dan DCPJ itu ... Direction Cepurtale Police Judiciare?"

            "Saya tidak tahu kalau ada DCPJ yang lain."

            "Mintalah kepada pusat agar mengirim mobil untuk menyelidiki. Dan, ya, kau sendiri ikut ke sana."

            "Baik, Pak."

 

            Inspektur Weagment dan anak buahnya, hanya membutuhkan waktu kurang dari lima belas menit untuk menemukan Puri Faucille. Dengan kesigapan seorang profesional, Inspektur Weagment melompat dari mobil dan mengetuk pintu. Pintu itu dibuka salah satu pelayan yang memang sudah menunggu. 

            "Mrs. Marie dan Einstein menunggu Anda di kamar kerja Miss Puggy, Inspektur," kata pelayan itu. "Silakan lewat sini." Lelaki bertubuh ramping dan jangkung itu berbalik dan mempin jalan. Di belakangnya setengah lusin polisi mengikuti.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-25 04:16:13

@Celestilla heeehee makasih makasih. Btw ikutin juga yang blody marynya ya. Semoga suka. Heeehee like and reviewnya juga ditunggu. Hiihii
Mention


Celestilla
2019-04-23 13:21:17

Sampai jugaaaaaaa

Aku baca ulang inn nih, San sebelum mulai ngikutin yang Bloody Mary. Dua kata aja deh wqwqwq KETERLALUAN CADAS!!!!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Mention


SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


Page 1 of 18 (179 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

402 310 4
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

506 395 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 828 14
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 708 13
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

418 343 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

707 444 9