Cintya de Belleford marah sekali. "Sekarang apalagi, Lyns?"

            Evans Lyns yang tengah mengawasi pintu rumah makan itu, menyahut tanpa menoleh. "Seseorang ingin bertemu kita di sini."

            "Informanmu gelapmu lagi?" 

            "Dia menjanjikan sebuah berita eksklusif."

            "Dan tidak memberitahu identitasnya siapa? Hebat sekali!" Cintya mengehala napas untuk menenangkan diri. Dia selalu berharap kalau dirinyalah yang memimpin tugas ini. Sialnya, bagaimanapun dia seorang videografer yang harus mengikuti tingkah gila para reporter ketika mereka memburu berita.

            "Sebenarnya," ujar Lyns, "dia bukan penelepon gelap."

            Cintya memiringkan kepala dengan curiga. "Ya?"

            "Dia .... " Lyns tiba-tiba tidak jadi bicara. Dia mengepalkan jemarinya, lalu meluruskannya lagi dengan kaku.

            Cintya mendengus. "Demi Tuhan, Lyns. Sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku? Kita sudah satu jam lebih di sini,  dan kau tidak memberiku penjelasan sedikit pun." 

            Lyns tidak menyahut, tetap bergeming di kursinya. 

            "Persetan kau, Lyns!" umpat Cintya yang merasa solah-olah berbicara dengan tembok. 

 

            Cintya de Belleford mengedarkan pandangan. Mengamati setiap pengunjung yang ada di rumah makan itu. Meja yang berhadapan dengan mejanya di duduki oleh dua orang laki-laki. Yang satu berambut ikal hitam, sementara yang satu mengecat rambutnya dengan warna coklat tua. Pada meja lain, sepasang kekasih tengah menikmati makan siang mereka sambil sesekali tertawa. Selain ke empat orang itu, hanya ada tiga orang lagi di meja sudut dekat pintu masuk. Cintya memfokuskan pandangannya. Menduga-duga kalau ketiga wanita muda menarik  yang duduk di meja itu, yang tengah diperhatikan Lyns. Dia menoleh ke arah Lyns, lalu ke wanita di meja itu. Kemudian Cintya menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku tahu persis selera si dungu itu.

 

            Mata biru Cintya belum sempat beralih dari meja wanita itu, saat pintu kupu-kupu di ujung ruangan terbuka. Seorang pria paruh baya yang mengenakan topi tinggi dan mantel hitam masuk. Di belakangnya, dua orang lelaki berotot yang tampak kejam, mengikuti dengan tetap menjaga jarak. Pria paruh baya berwajah mirip hasil kerja seorang konyol yang sedang melamun itu, menoleh ke kanan-kiri, tampak mencari-cari seseorang. 

            "Sir!" Lyns berseru sambil melambaikan tangan. "Di sini, Sir."

            Pria pendek, gemuk, berambut kemerahan, dan berkulit pucat itu tergesa-gesa ke meja Lyns. Dan kedua lelaki yang mengikutinya pun segera mengambil meja yang terdekat.

            "Syukurlah Anda bersedia menunggu saya. Saya minta maaf atas keterlambatan ini," kata Lord Keyns sambil mengulurkan tangan untuk berjabat. 

            Lyns berdiri untuk berjabatan tangan. "Tidak menjadi soal, Sir. Saya merasa terhormat bertemu Anda." Lyns menoleh pada Cintya. "Cintya de Belleford. Videografer."

            Cintya mengulurkan tangannya.  "Senang bertemu Anda, Sir."

            Lord Keyns menyambut tangan perempuan itu dengan ceria. "Sepertinya saya pernah bertemu Anda, Ma'am. Anda juru kamera yang tempo lalu meliput konferensi pers EFTA, bukan?"

            Cintya tersipu-sipu. "Luar biasa sekali Anda mengingatnya, Sir."

            Lord Keyns menarik kursi lalu duduk. "Mata biru Anda, Ma'am. Khas orang Prancis sekali."

 

            Pelayan-pelayan berkaki ringan dan bertangan cekatan mendatangi mereka. Namum Lord Keyns menolak makan siang dan hanya memesan koktail. Sementara itu, Lyns dan Cintya yang baru selesai makan,  justru menolak diberi tambahan koktail.

            "Non, merci. Kami sudah kenyang." Tolak mereka disertai gelengan.

            "Seperti yang saya katakan kepada Anda di telepon beberapa jam lalu," Lord Keyns memulai maksudnya, "setelah sekian banyak kabar miring mengenai EIB, dan gosip-gosip tak sedap lainnya, saya mewakili European Investment Bank, ingin menawarkan berita eksklusif pada Anda."

            "Saya merasa terhormat." Lyns menyahut cepat-cepat. "Jika boleh tahu, berita apa itu, Sir?"

            "Sebuah pengakuan. Tentang kebocoran tingkat tinggi di lembaga kami."

            Lyns dan Cintya terpana hingga tak dapat berbicara.

            "Apa yang akan saya ceritakan kepada Anda berdua ini, adalah sesuatu yang bersifat sensitif." Lord Keyns melanjutkan. 

            "Anda tidak perlu khawtir, Sir. Percakapan ini off the record." Lyns memberi dorongan. 

            Pria berwajah mirip kue talam dengan mulut seperti kismis yang melekat di tengahnya itu mengangguk. "EIB, seperti yang Anda ketahui, lembaga kami bertugas memberikan konstribusi bagi integrasi, keseimbangan pembangunan, ekonomi, dan kesatuan sosial negara anggota kami. Sebagai lembaga keuangan, kami bekerjasama dengan berbagai lembaga lain. Termasuk di antaranya dengan European Free Trade Association. Kerja sama kami baru dimulai belum lama ini.  Tapi ini merupakan kerja sama yang besar. Celakanya, ada kebocoran data tingkat tinggi di EIB yang dapat mengancam putusnya kerja sama ini, dan beberapa kerja sama dengan lembaga lain. Padahal, tahun ini Swiss baru saja memutuskan melakukan perjanjian bilateral dengan European Community. Dan ini besar sekali pengaruhnya bagi EIB. Tapi dengan adanya kasus itu ....  " Lord Keyns tidak melanjutkan kata-katanya. Sebaliknya, dia justru menggosok-gosokan telapak tangan seolah ingin melukiskan perasaannya saat itu. 

            Seorang pelayan datang membawa pesanan. Setelah menyajikan pesanan Lord Keyns, dia bergegas membawa nampan kosongnya  pergi.

            "Saya memang beberapa kali mendengar adanya masalah intern di lembaga EIB." Lyns menanggapi. "Yang tidak saya mengerti, mengapa Anda berkeras bahwa lembaga Anda baik-baik saja. Dan semua berita yang ada tidak lebih dari omong kosong." Lelaki berambut pirang yang penuh vitalitas itu mencerca tanpa ampun.

            Mata biru sekeras kelereng Lord Keyns kembali penuh percaya diri. "Kami yang membuatnya begitu. Untuk mengalihkan perhatian pers. Karena diam-diam kami meminta bantuan agen dinas rahasia untuk menyelidiki kasus ini. Namun yang mengejutkan kami adalah, dari hasil penyelidikan sementara, mereka menemukan bahwa orang-orang yang tersangkut dalam kasus ini, pasti memiliki keleluasaan di jajaran yang paling rahasia dalam lingkup EIB. Karena itu, kami  berkesimpulan bahwa siapapun yang bertanggungjawab, dia seorang dari eselon ekskutif tertinggi."

            Lyns melihat jam tangannya sekilas lalu bangkit dari kursinya. "Berita eksklusif yang Anda tawarkan sangat mengesankan, Sir," kata Lyns, "tapi maaf, saya tidak tertarik lagi dengan berita itu. Dan kalau Anda mau memaafkan saya, karena suatu alasan pribadi, terus terang saya tidak menerima penawaran Anda bukan karena berita itu tidak menarik. Tapi karena saya tidak suka dengan wajah Anda." Setelah berkata demikian, Lyns membungkukkan badan dan minta diri, dengan tidak merasa bersalah sedikit pun. 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

467 363 14
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

202 163 3
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

605 444 9
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

446 349 8
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11