"Halo?"

            "Katakan, apa saya berbicara dengan Miss Puggy?" 

            "Saya Miss Puggy. Siapa ini?"

            "Saya dari DCPJ. Anda dan saya sebaiknya bertemu."

            "Saya sedang dalam perjalan pulang. Sepuluh menit lagi temui saya di Puri Faucille."

            "Sepuluh menit lagi. Di Puri Faucille."

            Sambungan terputus.

            "Direction Cepurtale Police Judiciare? FBI Prancis?" Flora bertanya dengan ragu-ragu ketika Puggy telah selesai dengan ponselnya.

            Puggy hanya mengangguk, dan terus memacu mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi lagi. Kurang dari sepuluh menit kemudian Puggy sudah duduk di ruang kerja pribadinya, sambil menyalakan Hookah. 

            "Aku tidak mngerti," kata Flora, "untuk apa agen DCPJ ingin bertemu denganmu? Apakah ini ada hubungannya dengan kasus Sir Leon?"

            "Sepertinya begitu. Aku tidak melihat alasan lain."

            Terdengar ketukan di pintu. Mrs. Marie masuk, memberitahu ada tamu. Lelaki yang mengikutinya masuk berperawakan sedang dan berbahu lebar. Rambut hitamnya dipotong cepak, dan matanya yang berwarna biru tua tampak sekeras batu. 

            "Saya akan buatkan teh."

            "Non, tidak perlu Marie. Pergilah."

            Pelayan itu membungkukan badan lalu berbalik keluar.

            "Terima kasih untuk kedatangan Anda," kata Puggy, "silakan duduk."

            "Saya ingin bicara empat mata dengan Anda."

            Puggy menoleh pada Flora dan mengangguk.

            "Langsung saja, Miss," kata lelaki itu setelah Flora keluar, seraya menjatuhkan dirinya di atas kursi, "saya tidak ingin berbasa-basi dengan Anda. Serahkan benda itu, maksud saya mikrofilm itu. Anda telah terlalu jauh ikut campur urusan kami."

            Puggy mengerutkan kening. Sesaat Hookahnya terhenti di udara. "Apa yang Anda bicarakan? Saya tidak mengerti maksud Anda."

            "Sudahlah, Miss Puggy. Serahkan  saja benda itu. Atau akan buruk akibatnya untuk Anda." Ada tekanan yang sangat tegas dalam nada bicara lelaki itu.

            "Saya sama sekali tidak mengerti yang Anda bicarakan." 

            "Anda yang memaksa, Miss Puggy." Lelaki itu membuat tanda salib di dadanya. "Fey," gumamnya, lalu dia tampak merogoh sesuatu dari saku dalam mantelnya, dan menodongkan pistol Magnum kaliber 475. "Sekarang, berikan benda itu kepada saya!" suaranya berubah setajam batu menggores papan tulis.

            Di seberang meja, Puggy mengangkat Hookahnya dengan terkejut. Matanya terpaku lurus ke arah lawan bicaranya dengan aneh. "Wah, Sir. Anda benar-benar membuat saya bingung."

            "Anda yang menginginkannya, Miss Puggy." Lelaki itu balas menatap dengan tidak gentar. 

            "Saya mengatakan yang sebenarnya. Saya sama sekali tidak tahu apa-apa."

            "Tak ada gunanya berpura-pura, Nona." Lelaki itu bersiap menarik pelatuk pistolnya. Tidak ingin berdiplomasi.

 

            Udara dalam ruangan yang hangat dan beraroma kuno, mendadak berubah dingin dan mencekam. Jendela tiba-tiba terbuka, angin kencang menerobos masuk, memporak-porandakan ruangan. Buku-buku berjatuhan dari rak, lilin-lilin padam, dan kertas-kertas di meja berterbangan. Lelaki itu menatap sekelilingnya dengan tidak mengerti. Lalu dia menoleh ke arah Puggy, mencoba mencari jawaban dari ekspresi detektif wanita itu. Tapi wajah di seberang meja kaku seperti papan, dan dangkal seperti kolam air. Sedetik kemudian, yang terjadi benar-benar sulit dipercaya. Tubuhnya terasa kaku--sama sekali tidak bisa dikendalikan. Tangan kanannya yang menodongkan pistol bergetar hebat, hingga benda mungil itu terjatuh dan meledak di lantai. Tapi detik berikutnya, Agen DCPJ itu keheranan. Tubuhnya telah kembali dapat digerakan dan seolah tidak terjadi apa-apa. Dia  menyapu keningnya yang basah oleh keringat dengan tangannya. Namun ... itu bukan keringat. Itu darah. Perlahan-lahan dia menoleh ke arah Puggy. Perempuan itu masih duduk dengan tenang di kursinya. Dengan tangan kanan memegang Hookah, dan tangan kiri menggenggam Berreta dengan sisa asap dari moncongnya. 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Remember this story?

ratih211
2019-02-23 12:09:14

Berasa baca novel terjemahan. Keren
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:52

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:07

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


EqoDante
2019-02-21 08:09:09

Mantaapppp. Bab per bab bikin penasaran.
Mention


Rizalulhanan
2019-02-20 16:49:54

Gilee.. dpet rekomen cerita bgini dari kawan dan wow emang oke banget ceritanya
Mention


SusanSwansh
2019-02-20 15:11:53

Semuanya, makasih banyak. Maaf nggak bisa balas one by one. Panjang banget. Hehe. Sukses untuk kita semua.
Mention


sumarni285
2019-02-20 14:43:11

Wadaw, Baru prolog udah bikin aku jatuh cinta. Masukin list dlu deh. Hehe
Mention


YantiRY
2019-02-17 07:55:56

Mantullll. Mantap betul prolognya.
Mention


anny
2019-02-16 01:12:01

Kereeen
Mention


Vtiah
2019-02-15 04:41:44

Kereeeeeennnnnn....
Mention


Page 1 of 17 (165 Comments)

Recommended Stories

Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

565 415 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

867 620 11
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

316 264 5
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

429 336 13
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

528 399 6