Sebuah lorong pendek berlantai papan dari kayu ek membawa Puggy dan Mrs. Satterhwaite ke dapur dan ruangan belakang. Puggy mengamati sekelilingnya dengan antusias. 

            "Apakah itu pintu menuju ruang belakang, Madame?" tanya Puggy. 

            Mrs. Satterhwaite mengangguk. "Benar, Miss."

            Puggy memutar badan lalu menunjukan jarinya ke arah lorong. "Dan pintu yang ada di ujung lorong  dekat ruang keluarga itu, yang menuju bangunan sayap?"

            "Itu satu-satunya pintu penghubung ke bangunan sayap, Miss. Saya ingin merekonstruksi kejadian semalam. Karena itu saya membawa Anda ke dapur."

            Puggy tersenyum sabar. "Itu tidak perlu, Madame. Sebenarnya saya ingin melihat-lihat isi dapur."

            Mrs. Satterhwaite terbahak-bahak. "Saya mengerti maksud Anda. Tunggu sebentar. Saya siapkan roti panggang untuk Anda."

            Puggy menarik lengan Mrs. Satterhwaite, dan menggelengkan kepala. "Maksud saya, saya ingin melihat-lihat dapur ini."

            "Anda tidak lapar?"

            "Tidak, Madame. Saya sama sekali tidak lapar."

            "Baiklah. Terserah Anda."

 

            Puggy menghela napas panjang-panjang. Kesabarannya jelas sedang diuji. Kemudian, tanpa membuang waktu lagi, dengan cekatan dia memeriksa stoples-stoples, makanan kaleng, dan kotak berisi bumbu masak. Puas dengan dapur, Puggy meminta Ms. Satterhwaite mengantarnya ke ruang makan. Ruangan itu sendiri berbentuk bujur sangkar dan cukup besar. Bahkan terkesan lebih besar karena hanya ada satu set meja makan dan sebuah meja kecil di sana. Dindingnya dilapisi kertas dinding berwarna cerah, dengan sebuah lukisan bergambar lebah yang menukik siap menyengat. Di sudut dekat meja makan terdapat perapian model Victoria. Lengkap dengan pengorek api, sekop yang berlubang, dan penjepit arang. Tutup perapian dan alasnya terbuat dari dari pualam yang berat. Puggy membungkuk, menggosok-gosokan jarinya ke sepanjang tepi belah kanan tutup perapian, lalu memeriksa hasilnya. Jarinya benar-benar hitam. Dia mengulangi dengan jari yang lain di tepi sebelah kiri. Kali ini jarinya sedikit lebih bersih. Puggy menggulung lengan rompi bulu angsanya sampai ke siku, lalu membungkukan badan lebih dalam, supaya dapat memasukan tangannya di antara dinding perapian itu. Ketika dia hendak bangun, topi yang dikenakannya terantuk bagian atas perapian, dan hampir terjatuh jika tangannya tidak sigap menahannya. Setelah merapikan letak topi dan lengan rompi bulu angsanya, Puggy pun berdiri.

            "Madame, sepertinya perapian ini sudah lama tidak digunakan."

            Mrs. Satterhwaite mengangguk. "Saya tidak ingat kapan terakhir perapian ini dinyalakan. Mungkin tiga minggu atau bahkan tiga bulan lalu."

            Puggy mengedarkan pandangan dan menajamkan telinga. "Ruangan ini benar-benar tertutup," ujarnya, "bahkan sama sekali tidak ada ventilasinya. Dan suara di luar pun terdengar pelan sekali dari sini."

            Seperti mesin otomatis tiba-tiba Mrs. Satterhwaite berkata, "Sebenarnya, ruangan ini dulu bekas kamar kerja Sir Leon. Mrs. Sagratlah yang mengatur ulang semuanya, sebelum meninggal. Permpuan itu memperlakukan Sir Leon seperti boneka gantung." Mata Mrs. Satterhwaite melebar penuh semangat. "Miss Puggy, maukah Anda mendengar suatu cerita?"

            "Saya akan merasa terhormat sekali."

            "Hari itu--yang entah kapan tepatnya, saya mendengar Sir Leon tengah berbicara dengan seorang perempuan di kamar kerjanya."

            Puggy mengangguk. Tapi tidak berkomentar apa pun karena tidak ingin mengganggu pikiran Mrs. Satterhwaite.

            "Yang orang asing itu, yang perempuan, dia bicaranya cepat sekali. Sampai saya hanya mendengar beberapa patah kata saja--bukti-bukti, filem, dan lebah."

            "Lebah?" Puggy mengulang dengan tanda tanya.

            Mrs. Satterhwaitte menoleh ke samping, lalu menggerkan dagunya ke arah lukisan di dinding. "Saya tidak tahu maksudnya apa, tapi itu memang lebah. Le-bah."

            "Bisakah Anda ingat-ingat kapan Anda mendengar percakapan itu?"

            Mrs. Satterhwaite menggeleng dengan sedih. "Saya tidak ingat--tidak bisa mengingatnya. Mungkin sebulan atau tiga bulan yang lalu. Atau bisa jadi setahun yang lalu."

            "Apakah Anda sering mengalami hal-hal ganjil akhir-akhir ini?"

            Mrs. Satterhwaite tiba-tiba menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Oh, semua orang menganggap saya sakit jiwa. Mungkin mereka benar. Saya tidak selalu dapat mengingat apa yang telah saya kerjakan, atau di mana saya pernah berada. Saya bisa kehilangan satu atau dua jam--dan saya tidak bisa mengingatnya. Saya menceritakan sesuatu kepada orang-orang mengenai apa yang saya kerjakan, atau apa yang pernah saya dengar. Tapi saya tidak ingat pernah bercerita." Mrs. Satterhwaite menundukan kepalanya dalam-dalam. "Karena itulah, Miss Puggy, orang-orang menganggap saya ini gila. Dan saya pikir, saya memang mulai gila."

            "Apakah Anda mengonsumsi obat-obatan, Madame?"

            Pertanyaan monohok Puggy itu seperti kilat di telinga Mrs. Satterhwaite. Tiba-tiba dia menegakan kepala dan menatap lurus ke mata Puggy. "Itu jahat sekali, Miss Puggy. Saya perempuan baik-baik."

            "Non, Madame. Bukan begitu. Maksud saya, apakah Anda pernah berkonsultasi kepada dokter?"

            Wajah Mrs. Satterhwaite tampak lega. "Dokter Emily Brent yang menangani saya. Dia teman dari Sir Leon."

            "Apa yang dikatakan doketer itu?"

            "Hanya stres biasa. Katanya saya terlalu banyak pikiran, dan itu mempengaruhi kinerja otak saya."

            "Anda sudah selesai, Miss Puggy?" seru sebuah suara cempreng dari arah belakang. 

            Puggy memutar badan, melihat siapa yang datang. "Saya sudah selesai," kata Puggy. Lalu dia kembali pada Mrs. Satterhwaite, mengucapkan terima kasih dengan hormat, dan pergi menemui Inspektur Deyrill. 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

564 423 6
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 643 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 9
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

605 444 9
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

359 279 4