Flora Elshlyn menatap dengan kosong ke luar jendela Range Rover, yang bergerak di antara lalu lintas pagi Pont de Saint-Georges, dan tetap di kanan ketika memasuki Voice Centrale. Matahari bersinar cerah, udara kering lembut menebarkan wangi musim kemarau yang manis. 

            "Aku sedang berpikir," kata Flora, "jika organisasi komunis yang kau bicarakan itu memang nyata, menurutku Yonathan dari Saul yang dimaksud dalam pesan kematian korban, adalah Jonathan Wild--kekuatan tersembunyi para penjahat Inggris."

             "Perumpamaan yang bagus sekali, Mon ami,"  sahut Puggy, tanpa mengalihkan fokus matanya. "Kita lihat apa generalisasi yang dapat kita ambil. Sir Georges memiliki mikrofilm yang mengancam organisasi bawah tanah itu, lalu mereka menghabisinya."

            "Tapi mikrofilm itu tidak ada padanya," potong Flora, "lama kemudian, mereka pasti menduga Sir Leon yang menyimpan benda itu. Dan nasib Sir Leon pun sama dengan nasib Sir Georges."

            "Hipotesis yang bagus," ujar Puggy, "lalu, mengapa mereka mencoba mendikteku? Apa hubungannya diriku dengan mereka?"

            Flora tidak mendengarkan pertanyaan itu. Sesuatu yang melintas dibenaknya terasa meresahkan. Dia menoleh ke arah temannya. "Puggy, jangan-jangan mereka belum mendapatkan benda itu. Karena itu mereka mencoba mendiktemu. Setelah itu kau akan .... " Flora tidak dapat melanjutkan kata-katanya.

            Puggy terbahak-bahak. "Kita lihat siapa nanti yang mampus!" 

            "Musuh yang kita hadapi masih dalam gelap. Dan sangat berbahaya. Kita tidak tahu apa-apa tentang mereka. Tapi mereka tahu semua tentang kita." Flora mengingatkan.

            Puggy mengangkat sebelah tangannya. "Lupakan itu dulu. Kita sudah sampai."

            "Lihat!" tiba-tiba Flora berseru dengan panik, "di sana itu," sambungnya sambil menunjuk lurus ke depan. 

             Di halaman Puri Laurel menjadi lapangan parkir yang penuh belasan truk trailer. Piringan satelit raksasa di arahkan ke angkasa dari atap-atap truk yang berada di sana. 

            "Pers internasional sudah di sini?" Flora benar-benar tidak percaya. 

            "Mengapa heran?" tanya Puggy sambil membelokan mobilnya memasuki area halaman lebih jauh lagi. "Ini adalah tempat kejadian perkara pembunuhan seorang arkeolog muda yang cemerlang. Anak dari senator Prancis yang digadang menjadi duta besar Prancis untuk Inggris. Dan ini tahun pemilihan," kata Puggy sambil memarkirkan mobilnya secara serampangan dan bergegas turun. "Cepat. Inspektur Deyrill sudah menunggu kita."

            Flora merapikan tatanan rambutnya. "Aku tidak ingin terlihat buruk di hadapan kamera."

            "Miss Puggy!" sebuah suara berseru dari kejauhan.

            Puggy menoleh. Seorang lelaki berambut pirang melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Puggy menutup pintu mobilnya keras-keras. "Aku segera kembali. Katakan kepada Inspektur Deyrill, aku akan menemuinya dua menit lagi." Puggy melirik sekilas ke arah seseorang berseragam polisi, yang tengah tergesa-gesa ke arah mereka, sebelum dia pergi.

            "Anda Miss Flora Elshlyn, teman Miss Puggy?" tanya Inspektur Deyrill kepada wanita bertubuh tidak terlalu jangkung yang baru turun dari mobil itu.

            Flora mengangguk. "Saya Flora Elshlyn. Teman saya  akan segera kembali. Dia meminta Anda menunggunya sebentar."

            Segerombolan awak media dengan lampu kamera menyala memburu ke arah mereka. 

            "Saya harap Miss Puggy menemukan jalannya sendiri. Cepat Miss Flora." Inspektur Deyrill berbalik dan memberi isyarat untuk Flora mengikuti. 

            Kedua orang itu berlari secepat kilat menuju pintu belakang, lalu menghilang.

            "Pers benar-benar seperti kucing yang peka dengan keributan," gerutu Inspektur Deyrill sambil mengunci pintu. "Untuk sementara, kita aman di sini."

 

            Sesaat kemudian terdengar keributan luar biasa, yang terjadi antara awak media dan petugas polisi yang menjaga pintu di luar. Lalu terdengar suara tembakan, yang diikuti keheningan, dan suara langkah kaki yang menjauh pergi.

            "Saya tidak mengerti," kata Flora, "mengapa Anda menghindari awak media?"

            "Saya baru mendapat informasi jika Sir David menghilang. Dia  tidak pulang ke rumahnya  semalam." Inspektur Deyrill menjelaskan. "Berita itu telah sampai ke telinga pers. Dan sekarang, mereka mengejar-ngejar saya, karena saya yang terakhir kali bersama Sir David. Sedangkan saya tidak tahu sesuatu pun soal itu."

            Sir David menghilang.

            Kata-kata itu terus berdenging-denging di telinga Flora sebelum meninju perutnya. "Astaga," gumam Flora tanpa dia sadari. 

            Terdengar ketukan di pintu. 

            "Siapa?" teriak seorang petugas polisi yang menjaga pintu di dalam 

            "Miss Puggy." Suara yang menyahut berkerit dan kosong. Namun aksen Prancis begitu lekat. 

            Inspektur Deyrill mengintip lewat celah jendela. Lalu berbalik menatap salah satu anak buahnya. "Pete, waktunya kau menjalankan tugasmu."

            "Oui, Sir." Lelaki itu memutar badan dan bergegas pergi.

            "Buka pintunya. Biarkan dia masuk." Inspektur Deyrill memerintah anak buahnya yang menjaga pintu.

            "Miss Puggy, dari mana saja Anda?!" seru Inspektur Deyrill ketika Puggy masuk, dan pintu telah kembali ditutup.

            "Itu tidak penting," jawab Puggy dengan nada tak kalah tinggi. "Saya ingin melihat berkas-berkas hasil pemeriksaan tim forensik."

            Inspektur Deyrill yang diperintah dengan tegas mengendus kesal. "Yang Anda butuhkan ada di meja sana." Dia menunjuk tumpukan berkas di meja dengan dagunya. 

            "Inspektur, apakah Anda tahu di mana kita-kira Sir David?" tanya Flora yang tidak tertarik dengan berkas-berkas tim forensik.

            "Sama sekali tidak, Miss Flora." Inspektur Dryrill mengakui dengan sedih. "Tapi, mungkin Mrs. Panington mengetahuinya."

            "Apa maksud Anda?"

            "Miss Puggy memintanya membuahkan janji dengan bibinya itu--" 
            "Inspektur," Puggy berseru menyela, "saya ingin bertemu dengan Mr. dan Mrs. Burnwell, serta Mrs. Satterhwaite. Dan saran saya, sebaiknya Anda memberikan klarifikasi kepada pers, sekarang juga. Atau Anda akan mendapat masalah yang lebih serius dari ini."

            Inspektur Deyrill tampak menimbang-nimbang. Lalu dia mengangguk-angguk seolah saran Puggy ada benarnya juga. "Anda benar, Miss Puggy. Saya tidak bisa terus bersembunyi." Inspektur Deyrill berkata pada ketiga anak buahnya. "Kohler, panggil pelayan-pelayan itu ke sini. Dan kalian berdua ikut aku." 

            "Mon ami," Puggy memberi isyarat mata untuk Flora mendekat, setelah Inspektur Deyrill dan ketiga anak buahnya keluar ruangan. "Dapatkah kau memprediksikan,  berapa kemungkinan menang seorang penjudi nekat dalam permainan bridge?" tanyanya setelah Flora mendekat.

            Flora menatap Puggy dengan tidak mengerti. "Seorang penjudi nekat," katanya memulai penjelasan, "sering tidak mempunyai pertimbangan-pertimbangan yang cerdas. Jika sekali dia menang, dia mengira dirinya akan selalu menang. Dia tidak meninggalkan meja judi tepat pada waktunya, yaitu saat sakunya penuh. Karena itu, dia sering tidak mendapatkan apa-apa." 

            Mata kelabu Puggy menyala seakan baru saja menampung misteri dunia. "Kasihan sekali dia."

            "Katakan, apa sebenarnya maksudmu menanyakan hal itu?"

            Puggy  hanya menggerakkan bahunya.

 

            2

 

            Di halaman Puri Laurel, sebarisan polisi berseragam lengkap meneriakan perintah dan menyebar ke luar. Mereka berusaha mendorong kerumunan masa agar kembali ke jarak yang aman. Tapi tidak ada gunanya. Kerumunan itu terlalurapat, dan terlalu tertarik dengan Inspektur Deyril yang telah mereka nanti-nantikan, daripada memperhatikan  keselamatan mereka sendiri. Inspektur Deyrill sedikit memecingkan mata, silau oleh serbuan sinar lampu kamera, dan keriuhan masa yang membombardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan, yang diteriakan. Ketika mata Inspektur Deyrill sudah dapat menyesuaikan diri, dan telinganya dapat beradaptasi, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, berusaha dengan sia-sia menyuruh pers diam sejenak.

            "Kami pun sama terkejutnya mendapat informasi itu," kata Inspektur Deyrill, "saya dan Sir David berpisah di Puri Faucille, karena saya ada sedikit urusan."

             Mengenai pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut pesan kematian korban, Inspektur Deyrill berusaha mengelak. "Memang ada beberapa hipotesis. Tapi pesan kematian itu masih kami selidiki lebih lanjut," ujar Inspektur Deyrill. "Saya akan memberikan konfirmasi langsung apabila segalanya sudah jelas."

            Terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang keterlibatan Puggy Humphry yang ikut menyelidiki kasus itu, Inspektur Deyrill membenarkan dengan bangga. "Kami memang meminta bantuan Miss Puggy untuk menyelesaikan perkara ini," katanya, "karena kasus ini, seperti yang anda semua ketahui, rumit sekali."

            Kemudian Inspektur Deyrill meminta pengertian tentang singkatnya konferensi pers itu, berulang kali berterimakasih atas perhatian mereka, dan kembali masuk. 

 

            3

 

            Seorang pria jangkung yang berusia akhir empat puluh, berdiri di ambang pintu dengan gelisah. Di belakangnya, sesok wanita bertubuh langsing yang cantik di usia tiga puluh mengikuti dengan tenang. 

            "Mrs. Satterhwait akan segera turun. Inspektur sedang menenangkannya." Seorang agen polisi yang baru masuk memberitahu.
Puggy mengangguk, lalu memerintahkan si kepala pelayan dan isterinya duduk, dengan kesopanan yan akrab. "Mr. dan Mrs. Burnwell?" tanya Puggy. 

             Kedua orang di hadapannya mengangguk. 

            "Monsieur," sambung Puggy, "Andalah yang pertama kali menemukan korban, benar begitu?" walaupun nada bicara Puggy lembut, tapi matanya jelas mengintimidasi.

            "Kami berdua yang menemukanannya, Miss." Kepala pelayan itu menyahut. "Saya langsung membangunkan isteri saya saat Lybbo menyalak. Dan kami sama-sama turun."
Mrs. Burnwell mengangguk membenarkan. 

            "Di mana anjing penjaga itu diikat?"

            "Kami melepasnya di malam hari, dan di siang hari kami mengikatnya di kandang kuda." Kali ini Mrs. Burnwell yang menjawab. 

            "Omong-omong, apakah semalam tidak ada orang yang datang ke puri ini, Madame?"

          Mrs. Burnwell tampak mengingat-ingat. "Selain tukang dagin langganan kami, saya rasa tidak. Aku benar kan, Welly?"

            Mr. Burnwell mengangguk dengan mantap. "Saya dapat memastikan itu. Saya berada di gedung utama kemarin malam,? sampai saya naik untuk tidur."

            "Apa yang Anda kerjakan?"

            "Well, hanya pekerjaan rutin. Memastikan semua jendela dan pintu terkunci, mengatur makan malam, dan melepaskan Lybbo."

            "Dapatkah Anda memastikan bahwa semua jendela dan pintu terkunci malam itu?"

            "Tentu saja. Saya tidak mungkin ceroboh."

            "Di mana kamar para pelayan?"

            "Di bangunan sayap, lantai dua."

            "Monsieur, apa Anda ingat berapa jumlah jari yang diulurkan tuan Anda malam itu?"

            Mr. Burnwell berdehem. "Tiga, ya, jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis."

            "Tangan?"

            "Kiri."

            "Eh bien." Puggy berpaling kepada Mrs. Burnwell. "Madame, menurut Anda sebagai seorang perempuan, bagaimana Tuan Anda di mata Anda?"

            Mrs. Burnwell tampak terkejut dengan pertanyaan yang tidak diduganya itu. "Saya tidak mengerti maksud Anda," jawabnya dengan spontan. "Tuan sangat baik, dan ... penuh hormat."

             Puggy mengangguk lalu berpaling kembali pada Mr. Burnwell. "Saya ingin tahu anggur favorit korban."

             Mr. Burnwell tidak kalah terkejutnya dengan istrinya. Dia mentap Puggy satu detik lebih lama sebelum menjawab. "Tuan muda suka sekali rose wine."

            Terdengar suara langkah kaki merebak di luar, di ikuti derit pintu yang terbuka. Inspektur Deyrill dan seorang perempuan berambut keperakan masuk. Diikuti beberapa orang agen polisi.

             "Ini Mrs. Sattherwaite," ujar Inspektur Deyrill kepada Puggy. Matanya mengisyaratkan sesuatu yang sulit dipahami. 

            "Silakan duduk, Mrs. Satterhwaite," kata Puggy. "Saya hanya ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada Anda."

            Perempuan berambut keperakan yang amat kurus itu tampak benar-benar ketakutan. Tangannya  bergerak-gerak tidak menentu. Wajah permpuan itu pucat, dengan sepasang mata besar yang tampak  memyimpan tragedi menakutkan. Kedua alis perempuan itu bertaut, dan ekspresinya tiba-tiba lain sama sekali. Penuh keyakinan dan percaya diri. "Aku sudah memberitahu polisi-polisi bodoh ini jika aku melihat pelakunya," desis perempuan itu, "tapi mereka sama saja dengan si bangsat Burnwell dan istrinya yang tolol itu." Dia melirik sekilas ke arah orang yang dimaksud.

            "Apa Anda sungguh-sungguh melihatnya, Madame?" tanya Puggy. Suaranya sengaja dipelankan untuk memberikan dorongan. 

             Wajah perempuan tua itu berubah cerah. Dia menatap Puggy dengan sayang. "Miss Puggy, Anda baik sekali. Saya bukan perempuan gila yang suka berimajinasi seperti yang orang  katakan," katanya, dan matanya secara otomatis melirik ke arah Mr. dan Mrs. Burnwell. "Saya memang melihatnya, maksudku siluet pelaku," sambungnya penuh semangat. 

            "Saya ingin mengetahuinya." Puggy memberikan rangsangan lebih lanjut.

            "Semalam saya sakit kepala. Saya baru saja kembali dari dapur mengambil air minum. Saat saya di lorong tengah, saya melihat sebuah siluet melintas di ruang keluarga--sangat besar dan tinggi. Hanya sekilas memang. Tapi jelas sekali. Saya tidak berpikir apa pun. Karena postur itu persis postur Sir Leon. Saya baru tahu salah, saat mengetahui Sir Leon tewas."

            "Pukul berapa waktu itu, Madame?" tanya Puggy antusias. 

            Mrs. Satterhwaite tampak kebingungan. "Entahlah. Saya hanya tahu tak pastinya. Saya tidak melihat jam."

            Puggy bangkit dari kursinya. "Mrs. Satterhwaite, maukah Anda menunjukan tempat di mana Anda melihat siluet pelaku?"

            "Tentu saja, Miss Puggy. Saya senang sekali melakukannya." Perempuan itu pun bangkit dari kursinya dengan semangat. 

            "Inspektur, Anda tidak keberatan bukan jika kami pergi berdua?" tanya Puggy kepada Inspektur Deyrill, yang berdiri mematung di seberang meja. 

            Inspektur Deyrill mengangguk dengan terpaksa.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 1 2 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

446 349 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 784 14
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 643 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

601 370 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

354 269 6