Range Rover merah itu meluncur deras di sepanjang Rue de Montbrillant yang lengang. Berbelok tajam ke kiri, masuk Rue de la Savertte. Di kejauhan matahari Jenewa yang baru saja terbit, mencium puncak gedung-gedung tinggi kota itu. Bulan April yang kering memperkuat spektrum penuh cahaya matahari yang mulai tinggi. Tanpa mempedulikan pemandangan di sekitarnya, Puggy terus menaikkan kecepatan mobilnya sampai sekitar 170 kilometer perjam--lebih dari 100 mil perjam. Dua menit kemudian dia menghentikan mobilnya di depan bangunan berbentuk persegi panjang, bergaya abad 18, di Rue du Rhône. 

 

             Suasana hotel masih begitu sepi. Selain beberapa petugas kebersihan yang baru memulai aktivitas mereka, hampir tak ada kegiatan apa pun di sana. Puggy melewati pintu mekanis, memasuki lobi utama yang sangat luas, dan disambut seorang petugas penerima tamu yang masih mengantuk. 

             "Selamat pagi Mademoiselle." Wanita di belakang meja itu ragu-ragu. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, mengamati perempuan berwajah mengenaskan di hadapannya beberapa lama. "Ada yang dapat saya bantu?" sambungnya lama kemudian.

             "Apakah ada tamu bernama Flora Elshlyn menginap di sini?" 

              Petugas penerima tamu itu bergeming sesaat mendengar suara Puggy yang berkerit kosong. Seperti mesin otomatis, dia mengambil map dari bawah meja dan memeriksanya sekilas. "Kamar dua puluh lima. Setelah melewati mini bar di ujung koridor lantai dua, Anda ke kiri. Di sana koridor itu."

             Puggy membungkukan badan, mengucapkan terima kasih dengan horamat lalu berbalik pergi. 

 

             2


            Flora Elshlyn berangsur-angsur terjaga. Sebuah kepalan tangan menggedor-gedor pintu kamarnya. Sambil mengumpat pelan Flora mengikat mantel tidurnya, lalu merosot turun dari tempat tidur. Kakinya seketika tengelam ke dalam karpet bulu tebal seperti menginjak lumut. Flora membuka pintu beberapa inci, tetapi membiarkan rantai pengamannya tetap menyangkut. 

            "Siapa?"

             "Apakah aku terlalu pagi membangunkanmu, Mon ami." Aksen suara itu kaku seperti komputer.

             Sambil menguap Flora menyahut, "Kaukah di situ, Puggy?"

             "Tentu saja. Kecuali ada Puggy lain di Eropa."

              Flora membuka rantai pengaman pintunya, dan menepi untuk mempersilakan Puggy mendahuluinya masuk. "Ini hari Minggu pukul enam pagi. Tak bisakah kau membiarkan aku menikmati akhir pekanku dengan tenang?"

             Puggy mendesah. "Aku khawatir tidak." 

              "Kau ini agak keterlaluan, Puggy." Flora menutup pintu. "Kau tidak pernah memberikan hari libur untuk anak buahmu. Selalu saja kasus di atas segalanya." 

             "Aku menjunjung tinggi pekerjaan. Bukankah manusia berarti karena pekerjaannya?"

             Flora mengibaskan tangannya. "Aku tak mau debat--masih terlalu pagi. Kau mau minum teh dengan krim? Ah, teh dengan jeruk nipis, tentu saja."

             "Aku tak mengerti, mengapa orang dungu sepertimu dapat menjadi God of gambler terbaik di Eropa." Ejek Puggy sambil berlalu ke balkon luas di depan jendela.

             Flora pura-pura tidak mendengar. "Mau tambah scone?" serunya dari meja telepon.

             "Terserah sajalah!" Puggy menyahut dari balkon. Seorang lelaki berambut pirang duduk dengan punggung menghadap ke arahnya. Sewaktu lelaki itu memalingkan wajahnya ke samping, Puggy keheranan. 

             "Ada apa sih?" tanya Flora sambil menghampiri Puggy. 

             Puggy terkekeh. "Amis, ternyata lelaki itu memiliki bisul yang baru tumbuh di tengkuknya." Puggy melirik pada lelaki yang dimaksudnya dan tersenyum mengejek. 

             Flora langsung mengenali lelaki itu sebagai Count Jeoply Paddock. "Itu kan Count Jeoply Paddock," sahutnya, "bangsawan Inggris yang terkenal dermawan, yang sekarang menjadi sekertaris pribadi Lordrick Wyhelm."

             Puggy menyipitkan matanya. "Benarkah? Aku hampir pasti dia orang lain. Aku akui dia sangat mirip. Tetapi ... ada hal yang membuatku ragu."

             Seorang pelayan tampak menghampiri Count Jeoply. Dia membawa nampan berisi gelas dan sebotol Fortified Wine. Setelah meletakan nampan itu di samping Count Jeoply, dia terburu-buru pergi.

             "Apa tidak terlalu berat minum Fortified sepagi ini?" 

             Flora mengernyitkan dahinya. "Tentu saja tidak. Jika kau sudah biasa."

             "Ah, betapa tololnya!"

             Terdengar suara pintu diketuk. Flora terburu-buru membukakan pintu. Seorang pelayan kamar membawa pesanan dan langsung mengaturnya di meja. Flora mengucapkan terima kasih sebelum pelayan itu pergi.

             "Mon ami, apa yang kau ketahui tentang organisasi tombak lima?" tanya Puggy setelah dia bergabung dengan Flora.

             Flora memandang temannya dengan heran. "Ayolah, Sobat. Kita sudah membahas topik ini satu minggu yang lalu, kan?" dia menyerahkan sebuah cangkir keramik berat untuk Puggy. "Sekarang, bagaimana jika kau mulai menjelaskan untuk apa kau ke sini?"

             Puggy menyesap cangkir tehnya. Setelah meletakannya di meja dia berkata, "Apa kau sudah dengar tentang kasus Sir Leon?"

             Cangkir Flora terhenti di udara. "Sir Leon? Maksudmu anak Senator Sagrat? Memang apa yang terjadi?"

             "Dia dibunuh. Oleh komplotan komunis bawah tanah."

              "Organisasi tombak lima maksudmu?" potong Flora, "itu ... tidak mungkin." Nada suara Flora sekurang-kurangnya turun tiga nada. 

             Puggy mencondongkan tubuhnya ke depan dan berbicara dengan tajam, "Dia terbunuh semalam. Kasus pembunuh ini rumit sekali. Kebohongan bercampur-aduk dengan fakta. Belum lagi hadirnya orang luar yang berusaha mendikteku." Wajah Puggy berubah merah padam karena marah. "Sang Pengawas, Mon ami. Dia mengirimiku surat kaleng."

            Kedua alis Flora bertaut.  Matanya yang berwarna hijau kenari memancarkan rasa takut. "Apa kau bersungguh-sungguh dengan yang kau katakan? Maksudku soal Sang Pengawas itu."
             Puggy merogoh saku mantel bulu angsanya, menarik keluar sehelai surat penuh bercak noda, lalu diberikannya kepada Flora. "Surat itu dikirim padaku sore ini. Alamat dan identitasnya isapan jempol, tentu saja." Puggy mengetuk-ngetuk meja. "Awalnya, aku berpikir surat kaleng itu hanya pas des blagues, lelucon yang tidak lucu. Tetapi sapu tangan merah itu ... sama sekali bukan lelucon."

             Flora membaca surat itu sekilas lalu mengacak-acak rambutnya. "Kau membuatku pusing! Kau bicara ini itu tapi tak menjelaskan kronologisnya padaku. Bagaimana aku dapat mengerti?"

             Puggy menatap Flora yang kebingungan dengan kasihan. Kemudian dia menceritakan semuanya.

             Wajah Flora Elshlyn yang berbentuk hati mendadak pucat pasi. "Itu ... mustahil. Sulit dipercaya," komentarnya setelah Puggy menyelesaikan kisahnya. "Semuanya terdengar seperti omong kosong belaka--terlalu fantastis dan gila-gilaan. Surat kaleng ini lebih-lebih!" dihempaskannya surat itu ke atas meja oleh Flora. 

               "Tidak ada hal yang mustahil di dunia ini, Mon cher," sahut Puggy, "hanya tidak terpikirkan. Pikiran manusia itu mempunyai mekanisme pertahanan ego primitif, yang menafikan semua realitas yang menimbulkan ketegangan untuk ditangani otak. Mekanisme itu disebut penyangkalan. Tetapi, hanya karena pikiran manusia tidak dapat membayangkan sesuatu yang mungkin terjadi, bukan berarti itu tidak akan terjadi.

             "Taktis yang bagus, Santa Theresa, " ujar Flora setengah mengejek, "katakan, bagaimana hipotesis sementaramu?"

             "Aku harus mengumpulkan semua fakta yang ada sebelum membuat hipotesis, Mon ami. Hipotesis, meskipun hanya sementara, tetap harus sesuai  fakta--hipotesis harus mengikuti fakta, bukan sebaliknya."

             Flora mengerucutkan bibirnya. "Persetan kau, Puggy. Lebih baik kita sarapan, sekarang. Mesin di otakmu sudah terlalu panas tampaknya."

             "Gagasan yang bagus, Mon ami. Cuci mukamu dan kita turun."

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 1 2 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Tansy

By murphy

601 370 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

564 423 6
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 9
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

354 269 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

467 363 14