London, Inggris 05:30 pagi.

 

            Sir Musthafa Mond bangkit dari kursinya dan memandang ke luar jendela dengan gelisah. Di luar langit biru gelap berubah warna menjadi jingga tua oleh sinar matahari yang baru terbit seperti bola merah. Dulu, langit London pernah didominasi oleh Big Ban dan Tower Bridge. Sekarang horizon itu membungkuk pada Millenium Eye--sebuah roda Ferris ultra moderen yang sangat besar, yang menjulang setinggi lima ratus kaki. Dan menyajikan pemandangan kota yang mengagumkan.

 

            Dari jendela perpustakaan yang rendah, Sir Musthafa dapat melihat kuncup-kuncup mawar yang merekah di kebunnya. Betapa anggun dan angkuhnya dia, Sir Musthafa membatin. Diambilnya gelas anggur di meja lampu di sampingnya. Kemudian dia meminum anggurnya perlahan-lahan. 

            "Jadi," kata Sir Musthafa, "Swiss memutuskan untuk melakukan perjanjian bilatral dengan EC?" pertanyaan itu bernada tidak mengharapkan jawaban. "Kita sudah dibuat repot dengan Common Market. Dan sekarang muncul masalah baru. Mengatur dunia memang sulit. Buat memo. Segera."

            "Baik, Sir." Seorang laki-laki yang mengenakan kacamata berbingkai kulit penyu, yang berdiri diam di belakangnya menyahut. 

            "Jangan lupa," sambung Sir Musthafa, "pastikan kepingan-kepingan itu jatuh pada tempatnya. Buka gerbang lebar-lebar untuk kepingan terakhir."

            "Memang terlalu mendadak dan agak sedikit berantakan. Tapi sejauh ini semua masih terkendali. Sisanya hanya menunggu waktu." Asistennya memberitahu. Dia berhenti sejenak dan tampak ragu-ragu. "Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan Miss Puggy?" akhirnya dia memberanikan diri bertanya.

            Sir Musthafa meneguk habis anggur dalam gelasnya. Pertanyaan itu agaknya terlalu sulit untuk dijawabnya. "Kita harus sangat berhati-hati dengan perempuan itu. Salah perhitungan sedikit saja, kita mampus!" 

            Asistennya berdehem, lalu meminta maaf. "Apa kita tidak terlalu mengbil resiko, Sir?"

            "Neraka pun tidak semurka wanita yang tersinggung harga dirinya. Tetapi kita harus mengambil resiko." Sir Musthafa memutar badan, menatap lurus asistennya. "Sebaiknya cepat, Winn. Kita berpacu dengan waktu."

            Asistennya mengangguk. "Tentu, Sir." Dengan kelincahan seorang yang terlatih, lelaki yang dipanggil Winn  itu meminta diri untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 1 2 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

597 461 7
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

202 163 3
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

564 423 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

601 370 9
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

359 279 4
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

605 444 9