Puggy Humphry terdiam beberapa lama. Kedua matanya menerawang jauh, seakan memandangi visi yang muncul dari dalam dirinya sendiri. Dia mencondongkan tubuh ke depan, dan membuat gerakan yang aneh."All seeing eye," gumam Puggy, sambil tangan kanannya terangkat ke dahi, dan jarinya menggambar suatu bentuk di sana. "Saya telah menganalisa kembali fakta-fakta yang ada dalam kepala saya. Untuk memisahkan mana mata rantai yang kuat, dan yang lemah. Hasilnya, saya bisa melihat, meskipun baru samar-samar, sebuah penjelasan tertentu yang mampu mengungkapkan fakta-fakta yang telah kita ketahui. Terutama mengenai organisasi pelaku."

            David menatap Puggy dengan rasa ingin tahu. "Jadi, Anda percaya organisasi tombak lima itu benar-benar ada?"

            Puggy mengangguk. "Surat kaleng itu bukan lelucon," kata Puggy sambil menempelkan ujung jemarinya dan mencondongkan tubuh ke depan. "Banyak sekali peristiwa-peristiwa aneh yang terjadi di masa lalu. Berbagai kilasan peristiwa yang muncul kembali, terlihat sejenak, dan menghilang lagi. Tentu saja saya memiliki alasan lain untuk berpendapat begitu--lusinan petunjuk yang samar-samar mengarah langsung ke pusat jaringan di mana mengintai mahluk berbisa yang tidak bergerak."

            Mata Inspektur Deyrill membelalak, kebingungan. "Apakah tidak lebih baik kita .... "

            "Kita sedang melakukannya," sela Puggy marah. "Semua ini memiliki relevansi langsung dan vital dengan kasus pembunuhan Sir Leon."

            Inspektur Deyrill tersenyum lelah. "Pemikiran Anda agak terlalu cepat untuk saya, Miss Puggy."

            Puggy tidak menanggapi komentar tolol inspektur polisi itu. "Bagi orang yang mencintai kekuasaan, betapa hebat kekuasaan itu. Kekuasaan untuk mengontrol kehidupan setiap manusia di tangannya sendiri."

            David berdehem untuk menyela, lalu meminta maaf. "Bisakah Anda lebih spesifik, Miss? Saya tidak mengerti arah pembicaraan Anda." 

            "Saya sedang membicarakan tragedi Mei 1968, Sir." Puggy menjelaskan. "Pendapat kita yang telah terbentuk sebelumnya mengenai peristiwa Mei 1968 begitu kuat. Sehingga pikiran kita memagari keganjilan yang ada, dan mengesampingkan mata juga logika kita."

            "Menarik," sahut Inspektur Deyrill, dengan nada bahwa dia tidak mendengar sesuatupun. 

            "Ada banyak keanehan dalam peristiwa dua puluh tujuh tahun silam itu. Bagaimana mungkin dalam satu waktu yang bersamaan, beberapa negara di Eropa bergejolak? Dan anehnya, tuntutan-tuntuan mereka hampir sama semua."

            "Saya ingat semua dengan baik," ujar David, "peristiwa yang diawali oleh serentetan pemogokan mahasiswa dan pelajar lainnya di Paris, yang kemudian disusul oleh kaum buruh dan seluruh lapisan masyarakat Prancis, membuat negara itu lumpuh."

             "Semua itu pasti bukan kebetulan," kata Puggy. Air mukanya berubah menjadi sangat serius. "Saya yakin, ada satu tangan kekuasaan di balik semua ini. Yang keberadaan mereka tidak pernah terbayangkan."

            "Maksud Anda seperti sebuah organisasi?" tanya David.

            Puggy tidak langsung menjawab. Wajahnya mendadak kaku, dan alisnya berkerut dalam. "Penjelasan ini agak aneh sedikit," katanya, lama kemudian. "Tetapi saya dapat menjamin semua ini benar. Bukan organisasi tombak lima dalang di balik semua kekacauan ini. Tapi sebuah organisasi aktif yang memiliki kekuasaan menyeluruh, uang, dan politik. Sebuah organisasi yang tidak tampak berbahaya, yang dekat dengan masyarakat, dan disegani. Orang-orang yang sebenarnya pengkhianat, tetapi seperti orang yang mengabdi untuk negara. Orang-orang ini  berintegritas besar dan pecinta perdamaian. Bukan fasisme, hanya damai untuk semua, dan hadiah uang untuk yang mau bekerja sama.  Mereka mempunyai kepercayaan politik yang sangat tebal, dan selalu mengusungkan perdamain untuk menyelamatkan dunia. Tapi di sisi lain, orang-orang ini bersedia mengkhianati negaranya dengan suka rela. Motifnya bukan untuk suatu kekayaan atau uang. Tapi untuk kegilaan akan kebanggaan diri yang mereka dapatkan. Sebuah kepuasan yang tidak biasa. Ini semacam ideologi, atau semacam itu."

            David dan Inspektur Deyrill bertukar pandang, seolah-olah sepakat bahwa perempuan di hadapan mereka sudah gila.

            "Hanya ada garis yang sangat tipis yang memisahkan antara kegilaan dan kegeniusan, Messiuers," kata Puggy seolah-olah mampu membaca pikiran kedua orang di hadapannya. "Ingat, saat saya bertanya siapa pelaku yang telah menghabisi Sir Leon kepada para roh halus? Jawaban mereka bukan inisial dari oraganisasi tombak lima. Melainkan lain sama sekali."

            "Apakah itu ada artinya untuk Anda?" sahut Inspektur Deyrill.

            "Besar sekali. Siapa pun yang di maksud dengan 'LB3' oleh para roh halus, artinya dia telah berani sekali mencoba mendikte Puggy Humphry! Mereka semua harus tenggelam ke dasar samudera." Nada bicara Puggy penuh tekad.

            "Saya ingin tahu yang dikatakan para roh halus." Inspektur Deyrill mengejek.

            "En fait, saya sendiri tidak tahu. Belum dapat memastikan. Saya harus mengumpulkan lebih banyak fakta terkait sebelum dapat membuat sebuah hipotesis."

            Inspektur Deyrill mengangkat alisnya, mencemooh. "Sungguh tragis!"

            Kata-kata Inspektur Deyrill memicu ingatan David dengan aneh. Sungguh tragis? Tiba-tiba bagaikan terjangan truk, kenyataan itu terpikirkan oleh David. Seketika tarikan wajahnya berubah tegang.  Mata birunya yang bulat melebar seolah-olah dia baru melihat setan bertanduk tiga.

            "Sir, Anda baik-baik saja?" tanya Puggy, yang melihat perubahan kontras di wajah kliennya itu.

            "Saya ... mengerti sekarang," gumam David. Suaranya tidak jelas, seperti orang yang sedang bermimpi. Perlahan dia menaikan wajahnya. Lalu memejamkan mata erat-erat. "Itu bukan perampokan. Ya, pasti bukan. Paman Georges di bunuh. Sama dengan Leon."  

            "Siapa yang sedang Anda bicarakan, Sir?"

            David membuka matanya, lalu mendesah panjang. "Sir Georges Panington. Sejarawan Inggris yang tewas di tangan perampok tiga tahun lalu. Dia ...  paman saya dan teman bisnis Leon."

            "Anda tidak sedang membual, kan, Sir?" Inspektur Deyrill sinis.

            "Saya mengatakan yang sebenarnya!" tukas David, dengan nada lebih serius.

            Puggy memberi isyarat tangan untuk menyela. "Jelaskan persisnya apa yang terjadi, Sir. Supaya fakta yang ada menjadi lebih jelas lagi."

 

            David Robbinson bertanya-tanya dalam hati, bagaimana kehidupan membawanya ke persimpangan jalan yang sureal ini. Tetapi jwabannya terlalu sulit untuk dipahami dalam kondisinya yang tegang itu. Meskipun dia tahu semua kekacauan malam ini bermula. 


            London

            Musim dingin tiga tahun lalu

 

            Ruangan itu hanya diterangi cahaya lilin dan api perapian yang sudah hampir mati. David berdiri di balik keremangan perapian yang menyala di

depannya. Sial! Musim dingin kali ini terlalu dingin di London, umpatnya dalam hati. Dia membungkuk dan menambah arang pada perapiannya. Sepi. Satu-satunya suara adalah gemertak kayu yang sedang dimakan api. David menoleh ke arah jam dinding kuno di sudut ruangan. Pukul 02:32 dini hari. Semua orang sudah tidur, pikir David, aku perlu veronal agar dapat menyusul mereka. Dia bangkit mengambil kotak obat di rak dekat perapian, kemudian membukanya. Selain beberapa butir aspirin, hanya ada sebuah bungkusan kecil yang lebelnya bertuliskan: Tablet BuSpar, 15 mg. Bertanda NDC D087 D822-23. David mengerutkan kening, obat relaxant? David mengambil salah satu bungkusan itu, mengendus baunya, lalu melarutkan ke dalam air, dan meminumnya. Setelah itu dia melemparkan bungkusnya ke perapian.

 

            Dalam keremangan, David mulai merasa obat itu mulai mengaliri tubuhnya. Dia terus menguap. Merasa tidak tahan, David segera merangkak ke tempat tidur. Dia baru saja hendak memejamkan mata ketika mendengar sesuatu di lantai bawah. Suara benda jatuh. Kemudian sunyi. Pasti Irene, si kepala pelayan yang ceroboh. David menajamkan telinga. Tidak terdengar apa-apa. David beringsut menarik selimut. Kantuknya semakin tak tertahan.  Ironisnya, nyaris seketika itu kembali terdengar kagaduhan dari bawah. Seperti suara orang sedang berkelahi. Kemudian disusul langkah kaki yang tergesa-tergesa menaiki tangga. Suara itu terdengar semakin dekat. Semakin jelas. 

            "Bajingan! Kau penipu licik!"

            David memerangi rasa kantuknya yang teramat, memaksa matanya agar tetap terbuka, karena menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dia mendengar suar pamannya memaki orang. Beberapa saat kemudian, samar-samar dia melihat pintu kamarnya terbuka lebar. Sebuah siluet setengah berlari ke arahnya sambil bersumpah serapah tak jelas. David bersusah payah memerangi rasa kantuknya, dan memaki dirinya sendiri karena telah minum obat penenang dalam dosis tinggi. Tapi sia-sia. Obat itu menarik David lebih kuat, dan dia merasa seakan gravitasi bumi menjadi semakin besar gaya tariknya setiap detiknya, berupaya menyeretnya ke dasar kasur. Sepuluh detik berikutnya, yang terjadi adalah sesuatu yang samar-samar. Dia mendengar sebuah letupan kecil. Lalu antara sadar dan tidak sadar, dia melihat seseorang yang kurus dan jangkung, dadanya menyemburkan cairan kemerahan. Darah. Persekian detik berikutnya, orang itu jatuh dengan wajah mencium lantai. Tergelincir darahnya sendiri. Kemudian semua gelap dan sepi lagi. 

 

            Ketika David mulai sadarkan diri, dia mendapati di sisinya seseorang yang mengenakan seragam polisi, tengah mengguncang-guncangkan tubuhnya kuat-kuat. 

            "Anda sudah sadar, Sir?"

            David mengerjap-ngerjapkan matanya. Polisi? Dia terlonjak, dikuasai insting adanya bahaya. "Ada apa ini?!"

            "Tenanglah, Sir. Anda perlu menenangkan diri."

 

            David menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan dari mulut. Ketika napasnya telah kembali teratur, dan penglihatannya telah penuh, David baru dapat menangkap sesuatu yang mengerikan di lantai kamar tidurnya. Sesuatu yang kecoklatan berceceran. David menoleh ke arah agen polisi di sampingnya. Dia membuka mulut untuk bertanya, tetapi suaranya tersangkut di tenggorokan.

            "Sir Georges," ujar si agen polisi,  yang dapat membaca kebingungan dan ketakutan di wajah David. "Perampokan disertai pembunuhan," sambungnya.

            David ternganga memandang agen polisi itu, membisu dalam ketidakpercayaan. Kembali dia mengingat penglihatan ganjil berupa siluet jangkung yang bersumpah serapah. "Saya ... melihatnya," gumam David. Suaranya tidak lebih dari bisikan rendah.

            "Maaf?"

            David menceritakan semua yang diingatnya.

            Ekspresi agen polisi itu berubah tidak percaya. "Demi Tuhan, Sir. Anda bersungguh-sungguh dengan dengan yang Anda ceritakan?"

            "Saya yakin sekali."

            Kini dalam waktu satu menit yang mengerikan, pikiran David kembali terfokus. Dan kabut yang menyelubunginya terangkat.

            "Sir?" 

            David Robbinson tersentak bangun dari lamunan setengah sadarnya. Suara parau Puggy telah menariknya kembali dari ingatan masa lalunya.  "Ya Tuhan! Saya mengerti kolerasinya sekarang." David berseru penuh percaya diri.

            Kebingungan yang absolut merambati wajah lonjong Inspektur Deyrill. "Ya?"

             David menceritakan bayangan yang ada di kepalanya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 1 1 0 0 0
 
Remember this story?

ratih211
2019-02-23 12:09:14

Berasa baca novel terjemahan. Keren
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:52

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:07

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


EqoDante
2019-02-21 08:09:09

Mantaapppp. Bab per bab bikin penasaran.
Mention


Rizalulhanan
2019-02-20 16:49:54

Gilee.. dpet rekomen cerita bgini dari kawan dan wow emang oke banget ceritanya
Mention


SusanSwansh
2019-02-20 15:11:53

Semuanya, makasih banyak. Maaf nggak bisa balas one by one. Panjang banget. Hehe. Sukses untuk kita semua.
Mention


sumarni285
2019-02-20 14:43:11

Wadaw, Baru prolog udah bikin aku jatuh cinta. Masukin list dlu deh. Hehe
Mention


YantiRY
2019-02-17 07:55:56

Mantullll. Mantap betul prolognya.
Mention


anny
2019-02-16 01:12:01

Kereeen
Mention


Vtiah
2019-02-15 04:41:44

Kereeeeeennnnnn....
Mention


Page 1 of 17 (165 Comments)

Recommended Stories

Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

565 415 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

175 141 2
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

429 336 13
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 9
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

867 620 11
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 580 8