Issy-les-Moulineaux, Prancis. Pukul 01:34 dini hari.

 

            Kantor pusat stasiun televisi Canalsat,  terletak 4,1 mil dari pusat kota Paris. Tepatnya di pinggir barat daya ibu kota Prancis itu. Zola Keye, seorang redaktur senior, merasakan kopi pahit ketiga yang diminumnya, mulai menjalari tubuh bagai arus listrik. Dia menyalakan sebatang sigaret dan menaikan kaki ke atas meja. Zola baru menghisap beberapa hisapan rokoknya, ketika papan panel sambungan telepon di meja berdering. Perempuan kurus berambut keperakan itu langsung meraihnya ke telinga. 

            "Canalsat," Zola berkata.

            "Aku punya cerita hebat yang mungkin menarik bagi jaringam televisimu." Suara laki-laki di ujung sambungan terdengar renyah namun dibuat-buat. Tetapi nada bicaranya tanpa keraguan--benar-benar tegas. 

            Zola mengeluarkan sebuah pena dan kertas. "Tentang?"

            "Kasus pembunuhan Sir Leon."

            Zola mengerutkan kening. "Monsieur, kami telah mendapat perintah--"

            "Kamu ada reporter TV di TKP?"
            Zola mendesah. "Saya kira demikian."

            "Aku harus bicaranya dengannya. Langsung!"

            "Maaf, tapi saya tidak dapat memberikan nomor telepon reporter kami secara sembarangan. Itu aturan."

            "Yang membunuh Sir Leon bukan David. Tapi salah satu dari anak Stalin."

            "Maaf?" 

            "Aku yakin kamu mendengarnya."

             Sebuah konspirasikah? Zola meraih gelas kopinya dan meneguk beberapa kali.

            "Anda punya bukti?"

            "Ya. Mikrofilm Sir Georges yang ada pada korban hilang."

            Zola meletakkan gelas kopinya, mengambil buku catatan. "Biar saya catat informasi tersebut. Nama Anda?"

            "Namaku tidak penting."

            Sebagai redaktur senior, Zola tidak heran. "Tidak masalah. Tetapi, Monsieur, seperti yang saya katakan sebelumnya, kami memiliki kebijakan untuk tidak memberikan nomor telepon wartawan kami pada--"

            "Aku mengerti. Aku akan menelpon jaringan lain. Terima kasih atas waktumu. Selamat--"

            "Sebentar," sergah Zola, "bisa tunggu sebentar?" tanpa menunggu persetujuan dari ujung sambungan, Zola menekan tombol tunggu dan menjulurkan lehernya. Sambil menguap, Zola memeriksa daftar wartawan yang bertugas. Ketika dia melihat nama wartawan lapangan  yang meliput kasus pembunuh itu, dia tertawa sendiri. Dicatatnya nomor telepon si wartawan, kemudian sambil menyalakan sigaretnya yang mati, dia memberikan nomor itu kepada si penelpon gelap.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
1 3 1 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

467 363 14
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

605 444 9
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

446 349 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

564 423 6
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

354 269 6