Sir Musthafa terbangun dengan terkejut. Napasnya memburu cepat. Dia tertegun beberapa lama. Lampu redup menyelinap dari balik tirai kamar tidurnya. Ini sore atau fajar? Sambil duduk di tepian ranjang, perlahan Sir Musthafa sadar apa yang telah membangunkannya ... mimpi yang paling aneh. Selama berhari-hari dia telah berusaha memilah informasi yang datang bertubi-tubi. Tetapi sekarang ini dirinya merasa yakin akan sesuatu yang tak pernah dia perhitungkan sebelumnya. Mungkinkah itu? Sir Musthafa bergeming. Lalu dia bergerak turun, berjalan ke arah jendela. Dibukanya tirai kamar itu, dan mendadak dia mendengar dengung aneh di telinganya--seakan seutas kabel ditegangkan secara pelahan-lahan dalam benaknya. Haruskah aku dihukum karena keangkuhannku? Pertanyan itu kembali mengganggunya. Sir Musthafa menarik napas dalam-dalam, mencoba memusatkan pikiran kepada dunia tempatnya berada. Tapi sia-sia. Kenangannya melayang ke masa lalu.

 

            Paris. Musim panas.

            April, dua puluh sembilan tahun yang lalu … tapi masih terasa seperti kemarin. Dia tersenyum. Tangan kirinya menggenggam telapak tanganku. Sedang yang kanan mempermainkan ujung hidungku.

            “Alangkah indahnya malam musim panas ini. Apalagi bersamamu di gondola,” kata gadis berambut pirang itu. Kata-katanya pelan, lebih banyak kurasakan napasnya di telingaku daripada suaranya. “Apakah di negerimu ada gondola?” tanyanya kemudian.??????????????

            Apakah di negeriku ada gondola? Ribuan ada di tanah airku! Batinku, tetapi yang kukatakan, “Tentu saja. Kami menyebutnya perahu.” Dan memang begitu.

 

            Gondola terus berlayar diatas sungai Seine. Nun jauh di sana, aku melihat menara Eifel yang benderang.

            “Audry,” kataku, “apa yang membuatmu tertarik dengan orang asing seperti diriku, sampai-sampai kau mengikutiku ke Paris?”

            “Aku mencintaimu, tentu saja,” jawab gadis itu, “kaulah tujuan hidupku.

Bersama-sama kita akan membangun mimpi kita. Dunia yang ideal.” Matanya yang biru muda memandangku penuh pemujaan.

            Mata itu … aku sangat tahu mata itu. Oh, betapa semua ini membahayakan ketenteraman jiwaku. Membuatku berkuasa atas orang-orang lain, dan aku benci akan hal itu. Aku benci pada keangkuhan yang masih saja merusak jiwaku. Aku benci pada diriku sendiri! Dan, yang pantas disalahkan untuk semua itu adalah cinta. Karena dialah manusia menjadi kehilangan watak. Kemudian, mereka mencoba lari dari kenyataan dengan berangan-angan. Mendirikan dunia ideal misalnya. Ah, ya. Dunia yang ideal. Betapa tololnya angan-angan itu.???????

            “Maaf, Audry,” kataku, lama kemudian, “tetapi aku tidak bisa membalas cintamu. Tidak akan pernah.”

            “Jangan bergurau, Mon cher,” sahut nya, “itu sama sekali tidak lucu, kau tahu.”???????

            “Aku bersungguh-sungguh, Audry. Ini terdengar tolol, tapi aku benci mata birumu itu.”

            Lalu apa yang dikatakan gadis itu? “Aku tidak dapat menerima penghinaan ini,” katanya, “kau orang Timur, berani sekali menolak cintaku. Padahal, kau hanya seorang pelarian di negerimu.”

            Oh, Audry de la Bourneku yang malang. Kuharap idelisme tololmu tentang dunia ideal, tidak membuatmu  sampai pergi ke neraka.???????

 

            Sir Musthafa memejamkan mata. Mencoba mengusir bayang-bayang masa lalu dari benaknya. Tetapi, wajah perempuan yang mirip wajah tikus itu tidak mau pergi. Wajah itu, wajah yang tampak tidak akan pernah bisa memerankan suatu bagian yang berarti. Atau meningkat mencapai suatu tempat yang terkemuka dalam bidang apa pun juga. Namun itu sebuah kekeliruan besar. Karena dia, meskipun tampak remeh dan tak berarti, dia memegang kendali atas nasib Eropa. Dalam suatu kerajaan yang dikuasai tikus, dialah pemimpin tikus-tikus itu. Sir Musthafa mendesah panjang ketika perlahan membuka matanya. Kemudian, dengan langkah gontai dia pergi ke meja di sudut kamar tidurnya. Sir Musthafa mengambil sebuah bungkusan persegi panjang dari laci meja itu dan membukanya. Dia memeriksa isinya sekilas, lalu dibungkusnya lagi dengan serampangan, dan dilemparnya ke perapian. Selanjutnya dia membungkuk untuk menyalakan api. Musnahlah kau ke neraka mikrofilm dan dokumen sial! 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

467 363 14
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

2K+ 1K+ 11
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

930 660 13
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 643 8
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

564 423 6
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6