Puggy dan kelompok persekongkolannya, duduk di ruang tengah mendengarkan laporan yang masuk dari berbagai penjuru Eropa.

            “Sebagian besar anggota kelompok mata biru telah berhasil ditangkap. Kecuali Star dan Sang Pengawas.” Flora berkomentar.

            Puggy meyalakan Hookahnya dan menyandarkan punggung ke dinding. “Bagaimana pendapat Anda, Sir David?”

            David Robbinson membenamkan kepala dalam tangannya. “Tak seorang pun pernah melihat Sang Pengawas. Dia selalu memberi perintah lewat telepon. Atau melalui tangan kanannya, Star. Antara satu Soldat dengan yang lainnya pun kami sama sekali tidak tahu. Masing-masing menggunakan nama sandi, dan identitas mereka hanya Sang Pengawas yang tahu.”

            “Tapi dia tak akan bisa sembunyi lama-lama,” sahut Puggy. “Salah satu dari burung merak itu akan segera muncul juga. Kerangka pemikiran mereka itu, otak yang bergerak dan bekerja ke satu arah yang pasti. Tang-ting-tung, si kucing ada di sumur. En verite. Dia pasti akan ke sini, Mon ami.

            “Bagaimana kau bisa seyakin itu?"

            “Karena, sudah menjadi sifat lebah mengejar siapapun yang merusak sarangnya."

            Flora mengerutkan bibir. “Sebenarnya mana yang benar, lebah atau kucing?”

            “Keduanya, tentu saja." Puggy berkecak pinggang. "Surat kaleng itu, Mon ami. Sengaja dikirim dengan misterius untuk mengalihkan perhatian kita, dari apa yang seharusnya. Yaitu, bahwa ada persekongkolan besar di antara kita."

             "Benar-benar mengerikan," kata David, "saya menyadari semua itu saat Inspektur Deyrill menemukan saya di Puri Faucille. 

            “Otak Anda, Sir, memang cemerlang. Begitu Anda mengetahui Sir Leon terbunuh, otak Anda yang cerdas langsung menarik konklusi bahwa pelakunya pasti salah satu di antara komplotan lelaki bermata biru. Dan Anda berimprovisasi dengan kasus Sir Georges Panington untuk memberi petunjuk saya, karena Anda tidak punya kesempatan sama sekali untuk memberitahu saya. Meskipun untuk itu, rahasia kebusukan organisasi Anda jadi taruhannya. Miss Puggy memang tidak pernah salah menilai orang. Tentu saja." Puggy menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.

             David tersipu. "Saya tidak punya pilihan lain dan waktu, tentu saja. Semuanya mendesak dan tiba-tiba. Tetapi saya tahu, dalam permaianan roulet, pada akhirnya, walau berkali-kali yang keluar warna hitam, warna merah akan mendapat giliran juga. Saya bertaruh untuk itu. Selama ini, kami menyembunyikan diri karena nama baik organisasi kami tercemar. Tetapi itu tidak perlu lagi sekarang. Tentu saja. Kehormatan organisasi kami telah pulih dengan berakhirnya kasus ini."

             Mrs. Marie masuk membawa koktail. “Anda luar biasa, Sir,” katanya pada Lyns. “Anda seperti hiu yang mencium bau darah. Anda tahu ke mana harus memburu berita eksklusif.”

            Wajah Lyns bersemu merah. “Itu semua berkat petunjuk yang diberikan Senator Sagrat. ‘Enyhalah dariku, Setan! Pergilah ke neraka, temui deketif Anda.’ Maksudnya adalah pergilah ke Puri Faucille, kirim setan-setan  ke neraka.” Lyns menoleh kepada Puggy. “Sebelumnya, Miss Puggy telah memperingatkan saya untuk berhati-hati dengan lelaki bermata biru. Tetapi Senator Sagrat bermata cokelat. Jadi saya dapat mempercayainya.”

            Puggy mengembuskan asap dari mulutnya. “Saya menyadari itu, saat Mrs. Panington menceritakan kebiasaan Sir Georges menyanyikan lagu penghantar tidur, berjudul Little Boy Blue waktu mabuk. Little Boy Blue, jika disingkat menjadi LB--sesuai dengan petunjuk dari papan ouija. Saya langsung mengerti, LB3 yang dimaksud papan ouija adalah lirik lagu Little Boy Blue baris ke tiga--the sheep’s in the meadow--meadow untuk Tuan Paddock--petunjuk yang sama dengan pesan kematian Sir Leon. Dan darah di pelupuk mata korban, adalah peringatan bahaya--bahaya dari  lelaki bermata biru. "

            Flora menyela, “Dan kau menyembunyikan semua itu dariku sampai menit terkhir? Keterlaluan!"

            Lyns menoleh kepada Puggy. “Tetapi motif yang dikatakan Count Jeoply kurang tepat. Tidak masuk akal untuk kasus gila-gilaan seperti ini, kalau Anda mengerti maksud saya."

            “Sebenarnya,” Puggy menyahut cepat-cepat, “motif kasus ini sederhana sekali. Dan kerena terlalu sederhana, menjadi tidak terlihat. Motif kasus ini adalah kegilaan terhadap suatu idelisme, dan nafsu pada keunggulan pribadi.”

            “Motif yang aneh,” Flora mencibir. 

            “Tidak, jika kau seorang revolusione, Mon ami.” Puggy mengingatkan.

            “Miss Puggy benar,” sahut Lyns, “saya pernah mewawancarai seorang mantan revolusioner. Saya dapat mengerti ambisi itu.”

            Terdengar langkah kaki berlarian di lorong. Mrs. Ursula masuk dengan terengah-engah. Setelah merapikan celemeknya, dia memberi hormat dan berkata, “Miss Puggy, Ms. Abriella ingin--”

            “Bertemu Anda.” Sebuah suara menyelesaikan.

            Seketika, semua orang dalam ruangan itu menoleh ke ambang pintu. Ms. Abriella berdiri dengan anggun di sana.

            “Saya harus bicara dengan Anda,” sambung Ms. Abriella, sambil berjalan ke arah Puggy.  “Anda tidak boleh menolaknya.”

            Puggy berdiri tegak, memberi isyarat untuk Mrs. Ursula keluar, lalu berjalan ke arah kursi dan menariknya. “Tentu, tentu saja Madame. Silakan duduk.”

            “Terima kasih ramah-tamah Anda, Miss Puggy. Tapi saya hanya sebentar.” Mata Ms. Abriella menyela. “Saya hanya ingin memperingatkan Anda untuk tidak ikut campur urusan orang lain. Atau akibatnya akan buruk bagi  Anda.”

            Puggy mengibaskan tangan secara ekspresif. “Tetapi, Madame, sesungguhnya Anda pun tahu dengan sangat baik sekali. Jika hanya saya dan Tuhan, yang berdiri di antara Anda dan jurang kehancuran yang begitu dalamnya, hingga Anda tidak akan dapat menemukan dasarnya."

            Ms. Abriella mengertakan rahang, lalu menudingkan jarinya yang tumpul ke wajah Puggy. “Kau orang Kasim! Kau tak punya hak untuk memaksaku membuat keputusan apa pun. Bahkan mengusulkannya pun tidak."

            Puggy menggeleng kuat-kuat. "Non. Bukan mengusulkan. Memerintahkan. Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya.” Walaupun itu sebuah ancaman Puggy mengatakannya dengan tenang tanpa emosi.

            Ms. Abriella terkekeh. “Dan jika saya menolak, Anda akan memanggil polisi untuk menangkap saya?”

            “Lebih buruk dari itu,” sahut Puggy, “saya akan membunuh Anda. Riwayat Anda sudah tamat, Mr. Star!”

           Perempuan tua itu agak terbelalak mendengar pernyataan Puggy. Tetapi dengan cepat dia mampu menguasai diri. Seolah semua hanya lelucon, dia tersenyum dan berkata, “Oh, jadi Anda sudah mengetahuinya?” Ms. Abriella menarik lepas rambut keperakan di kepalaya, menunjukan rambut cepak miliknya.

            “Tuhanku!” pekik Flora.

            “Mon ami, inilah lebah kita. Mr. Abbghielle Standhmore. Orang yang bersama Sir Leon yang di maksud Mrs. Satterhwaite.  Abeille--lebah-- untuk Abbghielle dan Abriella.” Suara parau Puggy berkerit jernih. “Wah, Sir. Anda memang pemain sandiwar terbaik yang dimiliki Prancis. Tetapi, kesalahan fatal Anda adalah, Anda lupa apakah Ophelia itu benar-benar gila atau hanya pura-pura sinting."

            “Hm, jadi begitu rupanya. Padahal aku benar-benar yakin dia sinting."

            "Seperti Anda, Mrs. Satterhwaite juga pandai bersandiwara. Dia seorang aktris yang tersembunyi bakatnya. Dia sama sekali tidak meminum obat-obatan yang rekan Anda berikan. Dia tahu obat macam apa itu, dan dapat menduga apa yang kalian rencanakan."

             Abbghielle terkekeh. "Sayang sekali memang. Tapi saya tidak bisa membunuh perempuan tua itu. Betapa kejamnya seekor singa, tidak mungkin dia tega membunuh ibunya sendiri. Mrs. Satterhwaite adalah ibu asuh saya. Dia pasti mengenali saya sejak pertama. Tapi itu sudah tidak ada artinya lagi." Ekor mata Abbghielle melirik tenang ke arah David. “Sekarang, saya ingin mengirim babi busuk ini ke neraka. Orang-orang yang tidak punya idealisme suci, harus dimusnahkan dari dunia ini. Orang-orang tolol inilah yang memperlambat berkembangnya dunia.” Dia mendongak sedikit, mengeluarkan tangan dari saku sweternya, dan menodongkan pistol magnum ke kepala David.

            “Saya tidak pernah menyasali tindakan saya itu,” sahut David defensif, “sebaliknya, saya merasa sangat puas dan bangga.”

            “Menjijikan! Benar-benar menjijikan. Kau menggadaikan idealismemu untuk ini? Bermain-main dengan orang idot. Padahal kau punya otak untuk menguasai dunia.”

            “Saya tidak tertarik menguasai dunia!" David berteriak marah.

            Alis mata Puggy naik sedikit. Dengan gerakan yang sangat tenang dia berjalan ke arah rak buku dan  mengambil revolvernya. “Mais oui, itu menjelaskan segalanya, Sir. Sekarang, pilihannya ditangan Anda. Menyerah dengan terhormat atau mati?” Puggy mengacungkan berretanya tepat ke jantung Abbghielle.

            “Saya tak sudi menyerah, apalagi mati di tangan orang rendah seperti Anda! Saya seorang bangsawan. Dunia mengenal Mr. Abbghielle sebagai pemain sandiwara terbaik di Prancis.” Abbghielle menarik pelatuk pistol kecilnya itu. Tetapi bukan ke kepala Puggy atau David, melainkan ke kepalanya sendiri. “Sampai jumpa di neraka, Bangsat!” sedetik kemudian tubuhnya jatuh tersungkur ke lantai. 

             "Oh, Tuhan," gumam Flora, "sekarang hilang sudah harapan kita untuk mengetahui siapa Sang Pengawas.”

            “Hanya Sang Pengawas dan Tuhan yang tahu, memang. Tapi aku yakin, tang-ting-tung, si  kucing ada di sumur. Dia ada di sekitar kita. Dekat sekali, bahkan."

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 1 0 0 0
 
Remember this story?

ratih211
2019-02-23 12:09:14

Berasa baca novel terjemahan. Keren
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:52

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:07

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


EqoDante
2019-02-21 08:09:09

Mantaapppp. Bab per bab bikin penasaran.
Mention


Rizalulhanan
2019-02-20 16:49:54

Gilee.. dpet rekomen cerita bgini dari kawan dan wow emang oke banget ceritanya
Mention


SusanSwansh
2019-02-20 15:11:53

Semuanya, makasih banyak. Maaf nggak bisa balas one by one. Panjang banget. Hehe. Sukses untuk kita semua.
Mention


sumarni285
2019-02-20 14:43:11

Wadaw, Baru prolog udah bikin aku jatuh cinta. Masukin list dlu deh. Hehe
Mention


YantiRY
2019-02-17 07:55:56

Mantullll. Mantap betul prolognya.
Mention


anny
2019-02-16 01:12:01

Kereeen
Mention


Vtiah
2019-02-15 04:41:44

Kereeeeeennnnnn....
Mention


Page 1 of 17 (165 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

566 437 6
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

867 620 11
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

317 265 5
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

329 251 5
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

411 326 7
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

565 415 8