Ruang kerja pribadi itu beraura mistis. Penerangannya yang minim, dan aroma dupa yang bergelayut di udara meremangkan bulu kuduk. Mata biru terang lelaki tinggi-besar yang dikenal sebagai Hammer, menyapu ruangan. Dia menutup pintu di belakangnya dan menyelotnya. Sekilas dia melirik ke arah jendela. Terkunci. Sayup-sayup dikejauhan terdengar orang bercakap-cakap. Bagus, waktunya beraksi!

             Terpisah beberapa ruangan dari kamar kerja itu, Mrs. Marie menutup telepon dan berkata, "Nyonya Ambssdor dan Lady Ellien dalam perjalanan. Dua menit lagi mereka tiba."

             "Hebat sekali. Saya dapat mewancarai mereka."

             Mrs. Marie duduk di kursinya. "Anda tahu Mrs. Satterhwaite pelayan Sir Leon yang agak sinting itu?

             "Ya, Madame?"

             "Perempuan itu baru saja menelepon beberapa waktu lalu."

             Lyns menegakkan duduk. Benar-benar tertarik. "Apa yang diinginkan Mrs. Satterhwaite?"

             Mrs. Marie Menggerakkan bahunya. "Dia mencari Miss Puggy. Dia memperingatkan jika Luchifer sudah datang. 'Lucifer sudah datang. Dia akan mencari dan Ophelia dan memenggal kepalanya.' "

             "Luchifer datang untuk memenggal kepala Ophelia? Aneh sekali. Anda tahu maksudnya?"

             "Entahlah. Itu seperti peringatan bahaya, saya rasa."

             Terdengar suara mobil berhenti di depan.

             "Mereka datang." Mrs. Marie melompat bangun dan bergegas keluar.

              "Saya tidak pernah dengar Miss Puggy punya bibi dan kemenakan." Lyns berkata kepada Mrs. Ursula. 

             Mrs. Ursula tersenyum. Mata birunya yang lelah bersinar-sinar. "Bahkan saya tidak yakin Miss Puggy punya ibu. Dia bisa saja muncul dari mesin komputer, atau semacam itulah, kalau Anda mengerti maksud saya."

             Lyns agak terkejut dengan sarkasme itu. "Ah, ya. Tentu."

             Mrs. Marie masuk bersama seorang perempuan tua bungkuk, dan wanita berambut pirang bermata hijau kenari. "Nyonya Ambssdor dan Lady Ellien." Dia memperkenalkan ke Lyns.

             "Evans Lyns."

             "Lady--"

             Suara benda jatuh di belakang mengagetkan mereka. 

               Mrs. Marie melompat sambil berteriak keras, "Pencuri! Oh, bangsat itu pasti mencuri kotakku." Tanpa mempedulikan yang lainnya dia melesat ke belakang.

             "Suara itu sepertinya berasal dari ruang kerja Puggy!" seru Nyonya Ambssdor. "Pencuri tak akan membunuh perempuan tua. Biar saya yang periksa." Nyonya Ambssdor tergopoh-gopoh pergi.

              "Tunggu, Ibu!" Lady Ellien mengejarnya. "Kau orang tua yang tolol. Bagaimana jika pencuri itu bersenjata dan melukaimu?"

             "Saya akan menyusul Mrs. Marie," kata Mrs. Ursula. Dia belum sempat beranjak saat terdengar keributan di belakang. "Apa itu!?" 

             "Astaga, sepertinya benar-benar pencuri!" Lyns berteriak ngeri.

             "Saya akan memeriksanya."

              Evans Lyns menyambar telepon dan menghubungi Nate William. Sekertarisnya yang menyahut. "Kantor Mr. William."

              "Tom, ini Lyns. Aku harus bicara dengan Nate. Penting."

             "Tunggu sebentar."

             Sesaat kemudian terdengar suara Nate. "Lyns, ada apa?"

             "Aku berada di Puri Faucille. Seorang anggota komplotan komunis yang membunuh Sir Leon, tertangkap basah mencuri dokumen penting milik Miss Puggy. Nate, aku butuh bantuan. Aku harus meliputinya langsung, sekarang juga."

             "Tapi itu tidak mungkin," protes William. "Aku harus mendapat otoritas dulu dari Sime."

             "Tak ada waktu!" Lyns meledak, "demi Tuhan, jangan buang-buang waktu lagi! Ini sebuah berita eksklusif." Dia membanting gagang telepon, menghampiri pesawat televisi dan menyetel saluran empat. Acara yang tengah ditayangkan adalah opera sabun. Seorang pria setengah baya tengah berbicara kepada wanita muda. 

             "Maukah kau menikah denganku, Miriam?" pria itu berkata sambil berlutut di hadapan kekasihnya.

             "Dengan satu syarat, Pierre."

             "Katakan, Miriam. Katakan padaku."

             "Aku akan mati jika kau selingkuh."

 

              Lyns memeriksa apakah mikrofonnya sudah hidup, kemudian bergegas menyusul yang lainnya. Ketika sampai di ruang tengah, beberapa yard dari ambang pintu, Lyns tiba-tiba menghentikan langkahnya dan terpaku. Seorang lelaki tinggi-besar tampak sedang memasang peredam pada moncong pistol semi otomatisnya.

             "Serahkan benda itu padaku, dan menyerahlah."

             "Anda tak bisa--" kata-kata Lady Ellien tersangkut di tenggorokan, saat melihat moncong pistol terarah lurus ke kepalanya.

             "Shh! Sebaiknya tidak usah ribut-ribut. Letakan benda itu di lantai. Sekarang." Suara lelaki itu terdengar serenyah permen cokelat, namun berbahaya. 

             Lyns merasa mulas ketika mengenali suara familiar itu. Dia mundur selangkah dengan hati-hati.

              Seolah-olah menyadari posisinya, Mrs. Marie perlahan-lahan maju. Alih-alih membungkukkan badan untuk meletakan kotak kayunya di lantai, tiba-tiba dia melemparkannya kuat-kuat ke arah yang berlawanan. "Lari, Sir!"

              Dengan kesigapan seorang pemain baseball, Lyns melompat menangkap kotak kayu itu. Dan jatuh berdebum tepat ketika moncong senjata api Hammer meletus. 

             "Bangsat!"

              Lyns bergegas bangun dan melarikan diri ke ruang tamu. Adrenalinnya terpacu oleh ketakutan dan ketegangan yang meningkat. Dia melirik ke arah pesawat televisi. 

             "Miriam, aku berjanji tak akan pernah menduakan cintamu. Dengan seluruh jiwa ragaku aku mencintaimu .... "

             "Terkutuk! Berikan kotak itu." 

             "Dengarkan saya," ujar Lyns, "kita bisa bicarakan ini. Kita akan mengudara beberapa--"

             "Diam! Letakan kotak itu di meja.

             "Tetapi--"

             "Percuma, tak ada gunanya mengulur waktu!"

             Ketika Lyns bergerak ke arah meja, lampu merah pada kamera di sudut mendadak menyala. Gambar Miriam dan Pierre menghilang dari layar kaca, dan seorang penyiar berkata, "Kami selingi program ini dengan liputan aktual, mengenai suatu kejadian yang tengah berlangsung di Puri Faucille."

             Adegan opera sabun digantikan pemandangan ruang tamu yang spektakuler. Lyns berdiri di depan, Hammer berad di latar belakang. Dia tampak bingung ketika melihat dirinya di layar televisi. Terburu-buru dia menyelipkan pistolnya ke saku. Mrs. Marie, Ny. Ambssdor, Laddy Ellien, dan Mrs. Ursula bergabung dengan Lyns.

              Para teknisi di mobil pemancar menatap gambar yang muncul di layar dengan terbelalak. "Ya Tuhan," ujar Millys, "ini siaran langsung."

             Lyns melirik layar televisi. Kemudian dia menghadap kamera. "Ini Evans Lyns, langsung dari Puri Faucille. Saya akan mewawancarai seorang lelaki yang tertangkap basah hendak mencuri kotak dokumen Miss Puggy. Yang diduga kuat ada kaitannya dengan kasus pembunuhan Sir Leon Aruoet Sagrat, malam lalu." Lyns menoleh pada lelaki di sampingnya. "Anda dapat menjelaskan apa persisnya yang tengah Anda lakukan, Sir?"

             "Hei!" seru Hammer. Dia mendengar suaranya sendiri dari pesawat televisi, "Hei!" dan melihat gambarnya bergerak ketika dia berpaling pada Lyns. "Sedang apa Anda, tipuan macam apa ini?"

             "Ini bukan tipuan. Kita sedang mengudara, langsung. Ada lebih dari tiga juta orang yang menyaksikan siaran ini." 

             Hammer hanya mampu mengerjap-ngerjapkan mata. 

             "Oke," sambung Lyns, "dapatkah Anda menjelaskan apa motif organisasi Anda, mengirim Anda melakukan pencurian ini?"

             Hammer mengerang. "Saya tidak mengerti maksud Anda. Saya akan tuntut Anda semua untuk penghinaan ini."

             "Wah, Sir," sahut Ny. Ambssdor, "bagaimana jika Anda memulai penjelasan Anda seperti Richard ketiga? Dengan mengatakan 'saya siap membuktikan seorang penjahat!' "

             "Apa maksud Anda, Nyonya?!"

             "Maksud saya, Anda bisa memulai penjelasan seperti Shakespeare memulai drama Panah Hitamnya. Saya yakin anda paham maksud saya." Ny. Ambssdor mengedipkan sebelah matanya. "Gagasan yang bagus, bukan, Richard ketiga?"

            "Persetan! Anda semua akan saya tuntut untuk kekonyolan yang memalukan ini." 

             "Well," sahut Ny. Ambbssdor, "saya tidak yakin Anda punya kesempatan melaksanakan ancaman Anda." Ny. Ambssdor menggerak-gerakan jari telunjuknya yang panjang dan kurus. "Karena ... tang-ting-tung, si kucing peniru ada di sumur." Ketika menyelesaikan kalimatnya, jari telunjuk Ny. Ambssdor jatuh tepat di wajah Hammer. 

            Lyns berdehem. "Nyonya, dapatkah Anda menjelaskan sesuatu, mengenai dokumen penting dalam kotak yang menjadi target pencurian ini? Mungkin, mendiang Miss Puggy memberitahu sesuatu." Dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

             "Sama sekali tidak ada dokumen yang berarti--semua hanya sandiwara," sahut Ny. Ambssdor. "Tetapi .... " dia membungkuk dengan hormat ke arah kamera, "Mesdames et messieurs, saya perkenalkan, Yonathan dari Saul--David si pendosa--pelaku pembunuhan Sir Leon Aruoet Sagrat."

             Sunyi satu dua detik. 

             "Eh bien, ini terdengar gila memang. Tapi Count Jeoply Paddock adalah pelakunya. Sir Leon mengatakannya dengan jelas sekali." Ny. Ambssdor menegakan badan. Seketika, sosoknya yang bungkuk berubah menjadi tinggi luar biasa. "Yonatahan pernah melakukannya, David--maksudnya Yonthan yang berdosa seperti David yang melakukannya. Kita semua tentu tahu kisah David dengan Maria Batsyeba. Kira-kira, itulah yang terjadi antara Sir Leon, Countess Ardney, dan Count Jeoply beberapa tahun lalu." Ny. Ambssdor menarik lepas kedua karet tipis dipipinya, hingga wajahnya menjadi lain sama sekali. 

             "Miss Puggy!" teriak Lyns dan Hammer secara bersamaan. 

             Puggy meletakkan tangan di dada sambil membungkuk layaknya orang mendapat aplause. "Saya Puggy Humphry."

             Di hotel Darrington Cottage and Breakfest, Inspektur Deyrill terlompat dari kursinya menyaksikan berita itu. "Ya Tuhan ... apa-apaan ini?"

            " ... tapi bagaimana mungkin? Anda sudah mati! Saya melihatnya sendiri." Count Jeoply menukas, benar-benar tidak percaya.

             "Itulah yang Anda lihat," sahut Puggy, "tapi bukan itu yang terjadi." Mata kelabunya berkilau-kilau penuh kemenangan. 

             "Bangsat! Jadi ini suatu plot--persekongkolan?" 

             "Kalau Anda menyebutnya begitu, bien sûr." Puggy mengambil kotak hitam di meja dan membukanya. "Puggy Humphry, dengan cara apa pun harus mati--harus ditarik dari peredaran. Saya bersekongkol dengan polisi Kent untuk melakukan itu. Mudah sekali. Pistol polisi Kent yang menembak saya berisi peluru karet. Tembakannya memicu semacam kembang api yang dikendalikan dari jarak jauh, yang meledakan kantong darah di dada saya. Setelah ilusi kematian itu, saya rasa Anda tahu yang selanjutnya."

             "Hebat, hebat sekali Miss Puggy!" Lyns mengambil kesempatan. "Tetapi, yang ingin saya ketahui adalah penjelasan pesan kematian korban lebih rinci lagi."

             "Sederhana sekali," ujar Puggy, dengan sikap pura-pura rendah hati. "Saat pertama kali mendengar isi pesan kematian itu, saya menyadari satu hal. Kebiasaan. Setiap orang mempunyai kebiasan tersendiri dalam hal-hal tertentu. Marah salah satunya. Kata 'David' yang dilontarkan korban sebelum tewas, seketika saya sadari sebagai makian. Dari situ saya tahu bahwa pelakunya adalah Yonathan. Tapi siapa Yonathan ini, dan apa yang pernah dilakukannya? Jawabannya adalah David--orang yang pernah melalukan dosa seperti David. Kesulitan saya adalah menemukan orang yang pernah melakukan dosa seperti David, dan bukti persuasif."

            "Benar, bukti. Anda tidak punya bukti apa pun menuduh saya pelakunya!" sembur Count Jeoply. 

             Zola Keye sedang berada di kamar kerja pribadinya ketika pelayan masuk.

             "Nyonya, Anda harus lihat ini! Saluran empat. Mereka di rumah Miss Puggy--Evans Lyns."

             Zola memindahkan televisi ke saluran empat.

             "Awalnya memang tidak, tetapi cincin wanita dijari Sir Leon, membawa saya pada fakta yang tak terelakan," jawab Puggy dengan kepercayaan diri yang sama sekali tidak dapat diruntuhkan. "Darah di kelopak kiri mata korban, dan tiga jari yang diacungkan. Itu adalah kode untuk lelaki biru--lagu Little Boy Blue-- baris ketiga--the sheep's in the meadow, atau Tuan Meadow. Dan dalam bahasa Prancis meadow berarti Paddock." Puggy menoleh ke arah Count Jeoply. "Maksudnya adalah Count Jeoply Paddock." Suara Puggy jatuh berdenging dengan pas.

              Zola Keye benar-benar terloncat hingga kursinya terjengkang. "Astaga!" suara renyah beraksen aneh yang menghubunginya hampir dua puluh empat jam lalu, terngiang-ngiang kembali. "Ini tidak mungkin."

             "Anda tak punya bukti!" Count Jeoply menggeleng sedih. "Deduksi Anda tidak lebih dari isapan jempol. Saya punya alibi yang tak terbantahkan. Saya berada di Swiasôtel sepanjang malam kemarin. Anda dapat memastikannya sendiri." Count Jeoply tersenyum, senang melihat kesombongan yang naif dalam diri perempuan di hadapannya itu. 

             "Tapi alibi itu hanya akan berlaku jika Anda dapat menunjukan bisul di tengkuk Anda. Jika tidak .... " Puggy mengangkat bahu dan tidak melanjutkan kata-katanya. 

             "Bisul?" 

             "Oui, Sir. Count Jeoply yang menginap di Swissôtel mempunyai bisul yang baru tumbuh di tengkuk. Pagi tadi saya melihatnya saat dia duduk di halaman, dari balkon kamar teman saya. Tetapi, tengkuk Anda bersih sama sekali. Saya menjamin itu."

             "Aha!" seru Lady Ellien, "aku ingat. Kau menyangkal keras bahwa itu Count Jeoply."

              Count menoleh ke arah Lady Ellien. "Bukankah Anda baru datang dari London? Bagaimana Anda taahu"

            "Persis. Tapi saya tinggal di Jenewa. Dan semalam saya menginap di Swissôtel. Dengan nama Flora Elshlyn, tentu saja." 

             "Sudah kuduga," sahut Count Jeoply, sambil memandang Flora dengan kagum. Dia menoleh pada Puggy. "Tahukah Anda Miss Puggy, jika bukti bisul di tengkuk itu tidak dapat memastikan apa pun. Bahwa bisa saja bisul itu telah sembuh, dan itu sangat mudah dilakukan, bukan?"

             Puggy menjentikan jarinya. "Exactemnt droit, benar sekali. Tapi bukti yang saya miliki lain sama sekali. Pagi itu saya melihat Anda minum Fortified Wine di Swissôtel. Namun, Anda mengatakan, Anda menyukai Red Wine kepada saya." Puggy mengedipkan sebelah matanya. "Artinya adalah, yang menginap di Swissôtel sama sekali bukan Anda. Melainkan saudara kembar Anda. Count Joeply Paddock. Itulah alasan utama Anda mengecat rambut. Karena saudara kembar Anda baru mengecat pirang rambutnya. Dan sidik jari pada botol Fortified Wine membuktikannya. Ah, bukan hanya itu. Ciri-ciri fisik Anda pun sesuai dengan siluet yang dilihat Mrs. Satterhwait."

             Senator Sagrat menyaksikan siaran langsung itu dengan tercengang. Dia merasa sesak napas ketika kesadaran baru menerpa. Sederhana, murni, mengguncangkan. Ya Tuhan .... 

             Di Puri Saint Phillpe, Ms. Abriella membelalakan mata. Ini buruk! Pikir Ms. Abriella menyadari ketidakpastian masa depannya.

             Puggy sedang berkata, " ... selain itu, saya telah menerima hasil autopsi ulang dari tim forensik. Dan hasilnya adalah, pada tubuh korban ditemukan bekas suntikan baru. Tepatnya di bagian tengkuk. Juga ditemukan gelsemium--obat pelemah yang kuat sekali pada darah korban. Bien sûr, itu menjelaskan mengapa korban sama sekali tidak melakukan perlawanan."

             "Miss Puggy, dapatkah Anda menjelaskan bagaimana pelaku masuk? Sementara, para pelayan bersumpah telah mengunci semua pintu dan jendela." Lyns menyela.

 

             "Mudah sekali. Korban dan pelaku telah membuat janji sebelumnya. Mereka bertemu di Puri Laurel pada jam yang telah ditentukan. Kemudian, pelaku hanya perlu menyuntikan sedikit galsemium ke tubuh korban. Itu pun sangat mudah, karena mereka berteman baik. Selanjutnya, saya rasa kita semua dapat menerka yang terjadi."

             Sudah cukup yang dilihat Ms. Abriella. Dia bangkit dan menuju ke pintu. 

             "Fantastis," gumam Lyns, "satu pertanyaan terakhir dari saya. Di mana keberadaan Sir David?"

             Puggy membusungkan dada. "Dia ada di sini. Di antara kita."Puggy berdehem. "Nah, Sir, silakan Anda keluar."

             Evans Lyns, Flora Elshlyn, Count Jeoply, dan para pelayan, berseru kaget sewaktu menyadari seorang lelaki yang bagai muncul dari dinding, yang sekarang melangkah keluar dari keremangan sudut.

             "Sebenarnya," kata Puggy, "dalam satu tahun terakhir ini, diam-diam saya telah bekerjasama dengan pemerintah Swiss dan Prancis untuk mencari jejak komplotan komunis bawah tanah, dan kebenaran mengenai organisasi tombak lima. Kami bergerak dengan sangat hati-hati, karena kami tahu berapa lembaga resmi, dan orang dalam etase tinggi terlibat komplotan itu. Lalu, saya meminta salah satu agen Pugno saya untuk menyusup ke sana. Orang itu adalah ... Sir David Robbinson." 

             Lelaki itu melangkah ke arah mereka dengan anggunnya. 

            Lyns menatap David Robbinson dengan tercengang. "Anda seperti mainan Jack in a box yang tiba-tiba keluar dari lantai."

             "Bangsat!" teriak Count Jeoply ketika David mendekat. "Kau penghianat picik! Terkutuklah kau karena mengkhianati ideologimu sendiri."

             "Saya sama sekali tidak menyesalinya," ujar David. "Sebaliknya, justru saya bangga sekali."

             Di rumah peristirahatannya di Neuilly, Count Joeply Paddock bangkit dari kursinya. Aku tak sudi ditangkap! Dia berhenti di pintu. Di mana? Di mana aku harus sembunyi? Perlahan-lahan Count Joeply kembali ke kursinya dan duduk lagi. Persetan! Biar mereka enyah ke neraka. 

 

              Count Jeoply menatap lampu kamera. Namun kali ini ekspresinya lain sama sekali. Suatu wajah yang punya tujuan. Seorang yang tahu apa yang dikehendakinya dan bertekad mendapatkannya. "Semua hipotesis Anda memang benar Miss Puggy," ujar Count Jeoply. Ketegasan dalam nada bicaranya mengandung kebanggaan yang menakutkan. "Si tolol Leon itu tidak pernah mengira saya akan membunuhnya. Kasihan. Sampai ajal merenggut nyawanya, dia tak tahu jika saya menyuntikkan gelsemium. Dan mengenai Joeply saudara kembar saya, dia tidak lebih dari bidak. Dia tida tahu menahu semua ini. Otaknya yang kurang beres itu, mengira rencana saya menyuruh dia menyamar sebagai saya dan pergi ke Jenewa, tidak lebih dari lelucon."

             Lyns berdehem untuk menyela. "Satu pertanyaan untuk Anda, Sir," kata Lyns, "apa motif organisasi Anda untuk pencurian ini?"

             "Well, tanyakan saja itu pada Miss Puggy. Dia tahu semua."

             Puggy menjentikan jarinya. "Untuk dokumen yang saya ceritakan sebagai bukti  persuasif keberadaan organisasinya."

             "Terkutuklah Anda Miss Puggy!" geram Count jeoply.

             "Tapi, bagaimana Anda sampai hati membunuh Sir Leon, bukankah dia sahabat baik Anda?" tanya Flora.

             "Saya membenci Leon," sahut Count Jeoply. "Saya memang mendapatkan Ardney. Tapi tidak pernah hatinya. Saya tahu itu. Dan dia anak Senator Sagrat. Pidatonya tentang demokrasi itu sangat mengancam  organisasi kami. Upaya-upaya kami untuk bernegosiasi dengannya gagal semua. Karena itu, kami menghabisi Leon. Dan memanfaatkan mikrofilm mendiang Sir Georges untuk mendikte orang-orang antikomunis. Juga Miss Puggy. Sialnya, rencana kami menjadi berantakan gara-gara salah satu anggota kami yang tolol, membuat janji temu dengan Anda. Dan mikrofilmnya hilang dicuri Miss Puggy."

             "Apa pun alasannya," ujar Puggy, "membunuh itu tidak dapat dibenarkan. Dan orang yang berani melakukan pembunuhan di daratan Eropa ini, akan saya tenggelamkan ke dasar samudera!"

             Count Jeoply bersikap jijik seperti melihat tikus. "Saya rasa," ujarnya sambil merogoh saku celananya, "Anda pun tidak akan punya kesempatan menenggelamkan saya ke dasar samudera!" dia mengeluarkan pistol dan menempelkannya ke pelipis kiri. "Sampai bertemu di neraka, Miss Puggy." Dengan satu gerakan yang terlatih, jari telunjuk Count Jeoply menarik pelatuk pistolnya


2


             Kurang dari dua puluh menit setelah siaran itu mengudara, penangkapan terhadap komplotan komunis bawah tanah itu dilakukan secara beruntun, sesuai instruksi Puggy sebelumnya.

             Lord Keyns sedang berada dalam jamuan makan malam. Para tamu sedang melakukan toast ketika seorang pelayanan mendekatinya. "Maaf, Sir. Ada beberapa pria menanti Anda di luar. Ingin bicara dengan Anda."

             "Tuan Keyns, Anda kami tahan atas tuduhan penggelapan dan pengkhianatan negara."

 

            Charles Rame sedang bercinta dengan gundiknya di tempat tidur ketika pintu kamarnya tiba-tiba dibuka. Empat orang lelaki menerjang masuk.

            "Bangsat! Apa-apain ini?"

             Salah satu dari mereka mengeluarkan kartu identitasnya. "DCPJ. Permainan selesai, Sir. Anda ditahan."

             Charles terbelalak. "Kalian gila. Apa tuduhannya?"

             "Pengkhianatan, Red."

 

             Di London, Inspektur Deyrill tewas ditembak anak buahnya saat mencoba melarikan diri. Sementara Kapten Philp Barnes--Soldat Prancis dengan nama sandi, Five, diseret ke luar stasiun Paddington, dimasukan ke van, dan dikawal ketat anak buahnya untuk terbang ke Paris sebelum diadili.

 

             Di Belley, Mr. dan Mrs. Burnwell menyerahkan diri ke polisi. Dan Cintya de Bellford meminum hyoscine usai menonton siaran langsung itu. 

 

              Pembersihan sel-sel yang lainnya di seluruh Eropa berjalan terus. Di Roma, pejabat-pejabat tinggi negara dijebloskan ke penjara. Seorang anggota Bundestag Jerman Barat, seorang wakil ketua presidium partai komunis Uni Soviet, seorang deputi Chambre des Deputes de la Republique Francaise, seorang deputi Nationalart Austria, dan seorang pemimpin buruh di Rumania, ditangkap dengan tuduhan yang sama. Mengkhianati negara. 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

930 660 13
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

357 299 6
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

359 279 4
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

202 163 3
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

467 363 14