Kendaraan pemancar telah menunggu di ujung jalan ketika Evans Lyns tiba di Puri Faucille. Kendaraan tersebut berupa van berukuran raksasa dengan antena besar di atap dan peralatan elektronik yang canggih di dalamnya. Lyns turun dan menyapa Andrew Wrighet, yang bertugas menata suara, dan Vernon Millys, juru kamera yang menggantikan Cintya.

            “Di mana kita melakukan wawancara?” tanya Millys.

            “Di dalam rumah saja. Aku akan memanggil kalian kalau kami sudah siap.”

            “Oke.”

            Lyns menuju ke pintu depan dan mengetuk. Seorang perempuan tua yang jangkung dan berambut pirang membuka pintu. “Ya?”

            “Saya--”

            "Ya Tuhan ... Saya tahu siapa Anda. Saya pernah melihat Anda di televisi."

            “Ya,” ujar Lyns. “Apakah Anda Mrs. Marie Shaturland?”

            “Nama saya Ms. Ursula Borne. Ehm, baiklah. Mari masuk. Akan saya panggilkan Mrs. Marie.”

 

            Lyns mengikuti pelayan itu ke ruang tamu. Ms. Ursula mempersilakan Lyns duduk dan dia sendiri menghilang ke belakang. Tak lama berselang seorang perempuan tua lain keluar. Dia mengenakan celemek berenda-renda yang bersih sekali.

            “Ursula mengatakan Anda ingin bertemu saya,” katanya setelah duduk, “saya Mrs. Marie Shaturland.”

            Walaupun ini kali pertama Lyns bertemu dengan Mrs. Marie, tetapi dia dapat menangkap sinar kecerdasan di mata perempuan tua itu. “Saya minta maaf telah mengganggu waktu Anda. Saya--"

            “Ini tentang Miss Puggy, kan? Saya baru mendapat kabar bahwa Miss Puggy tewas.”

            “Siapa yang membunuhnya?”

            Mrs. Marie memalingkan wajah. “Miss Puggy tidak dibunuh. Polisi Kent menembaknya saat dia berusaha melarikan diri.”

            “Apakah Anda keberatan kalau kita melakukan wawancara singkat untuk disiarkan di televisi? Beberapa patah kata saja, tentang penangkapan Miss Puggy yang beerujung tragis itu. Dan tentang perasaan Anda mengenai maraknya pembunuhan belakangan ini .”

            Mrs. Marie mengangguk. “Boleh saja.”

            “Terima kasih.”

            Evans Lyns kembali ke pintu depan yang terbuka dan melambaikan tangan kepada Vernon Millys. Si juru kamera mengambil peralatannya dan berjalan ke arah rumah. Andrew Wrighet mengikutinya.

            “Saya rasa, Ursula harus ikut diwawancarai. Dia ingin sekali masuk televisi.”

            “Anda boleh memanggilnya.”

            Millys memasuki ruang tamu sambil membawa kamera. “Di mana aku harus pasang kamera?”

            “Di sini saja, di ruang tamu.” Lyns mengangguk ke sudut ruangan. “Kamera bisa dipasang di sebelah sana.”

            Mrs. Marie kembali bersama Ursula.

            “Saya belum pernah diwawancarai,” ujar Ms. Ursula.

            “Anda tak perlu gugup. Ini hanya makan waktu beberapa menit saja.” Lyns berjanji.

            Millys yang telah selesai menyiapkan kamera, menghampiri Lyns. Dia menyematkan mikrofon mini ke bajunya dan ke bajua kedua perempuan tua itu. “Oke, semuanya sudah siap.”

            Mrs. Marie tiba-tiba berseru, “Jangan! Tunggu dulu! Saya minta maaf, tapi saya ... saya tak bisa.”

            “Kenapa?” tanya Lyns.

            “Ini … apakah kita bisa bicara bertiga saja?”

            “Tentu saja.” Lyns menatap Millys dan Wrighet. “Kamera tinggal saja. Nanti kalian kupanggil lagi.”

            Wrighet mengangguk. “Kami tunggu di van.”

            Lyns berpaling kepada Mrs. Marie. “Ada apa Mrs. Marie? Kenapa Anda tak berani muncul di televisi?”

            Mrs. Marie menjawab lirih, “Saya tak mau mereka sampai melihat saya.”

            “Siapa?”

            Mrs. Marie menelan ludah. “Komplotan komunis itu. Miss Puggy mempercayakan kepada saya sebuah kotak kayu kecil sepulang dari Puri Laurel--yang harus saya jaga bahkan dengan nyawa saya. Tidak lama kemudian datang agen DCPJ yang diperintahkan untuk mengambil kotak itu. Dan demi melindungi kotak itu, Miss Puggy membunuhnya tanpa pikir panjang. Sekarang, setelah Miss Puggy tiada, maka sayalah yang harus melindungi kotak itu. Orang-orang komunis yang menginginkannya pasti akan mencoba membunuh saya, begitu melihat saya di TV."

            “Apa Anda tahu isi kotak itu?”

            “Saya sama sekali tidak tahu. Miss Puggy hanya mengatakan isi kotak itu sama pentingnya dengan kemerdekaan di negara Eropa. Jika sampai berada ditangan yang salah, akan menimbulkan kekacauan yang berpotensi perang.”

            Lyns terperanjat. “Ya Tuhan … apakah Anda bersungguh-sungguh?”

            Mrs. Marie mengangguk. “Saya bersumpah atas nama Bunda Theresa.”

            “Lalu apa yang akan Anda lakukan Mrs. Marie?” tanya Ursula, “Anda harus mengambil tindakan.”

            “Instruksi terakhir Miss Puggy, saya harus menyerahkan kotak itu kepada bibi dan kemenakan Miss Puggy. Mereka akan ke Jenewa untuk sebuah pentas sandiwara dan akan singgah ke Puri Faucille.”

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 1 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-25 04:16:13

@Celestilla heeehee makasih makasih. Btw ikutin juga yang blody marynya ya. Semoga suka. Heeehee like and reviewnya juga ditunggu. Hiihii
Mention


Celestilla
2019-04-23 13:21:17

Sampai jugaaaaaaa

Aku baca ulang inn nih, San sebelum mulai ngikutin yang Bloody Mary. Dua kata aja deh wqwqwq KETERLALUAN CADAS!!!!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Mention


SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


Page 1 of 18 (179 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

402 310 4
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

648 496 7
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

506 395 8
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

628 466 7
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

231 184 3
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

388 291 6