Mobil sewaan itu berhenti di depan rumah sederhana, rendah, dengan sebuah teras landai bergaya Victoria yang dicat hijau pucat. Seorang pria bertubuh kekar, berwajah jantan dan gagah, dengan rambut keperakan yang seperti anak panah, menyambut mereka. Walau usianya tidak lagi muda, tapi pria itu agaknya memiliki pesona gaib yang membuatnya tampak begitu karismatik. Dia tersenyum hangat, lalu mempersilakan para tamunya masuk tanpa banyak bertanya.

 

            Ruangan tempat mereka dipersilakan duduk, adalah perpaduan dari sebuah perpustakaan dan ruang bersantai yang nyaman. Selain beberapa rak buku, ada sebuah meja panjang, beberapa lemari, dan kursi-kursi kuno dari kayu ek yang berat. Di dinding dekat perapian, berjajar lukisan-lukisan keagamaan dengan cat minyak berwarna cerah.

            “Mr. McHarnough telah menceritakan kesulitan-kesulitan Anda, Mesdemoiselles,” ujar empunya rumah dengan ramah-tamah yang berlebihan, setelah mempersilakan tamu-tamunya duduk. “Perkenalkan, nama saya Musthafa Mond. Saya rekan bisnis Mr. Mac, dan sahabat baik Countess Elizabeth Demiroff Paddock. Ibu dari Count Jeoply Paddock.” Ketika menyebutkan nama bangsawan itu, Sir Musthafa menoleh dan tersenyum kepada Count Jeoply.

            Count Jeoply tersenyum bangga. “Ah, ya. Ibu sering sekali bercerita tentang Anda. Ibu sekarang tinggal di Aoste. Dia harus banyak beristirahat. Ibu sakit paru-paru. Terlalu banyak merokok dan minum, kata dokter.”

            “Kasihan sekali Demiroff. Padahal dia masih cukup muda dan segar.” Sir Musthafa menoleh kepada Puggy. “Miss Puggy, menurut pemberitaan di media, Anda tengah menjadi buronan internasional untuk kasus pembunuhan seorang agen DCPJ. Apakah saya boleh tahu yang sebenarnya terjadi?”

            “Hidup ini penuh dengan keputusan sulit,” Puggy menanggapi secara filosofik, “dan para pemenang adalah mereka yang membuat keputusan sulit itu.”

            Sir Musthafa menyela dengan kibaskan tangan. “Tetapi saya adalah orang yang mempercayai kebenaran. Tidak peduli betapa menyakitkannya kebenaran itu.” Ada nada yang mendesak dalam suara lembut itu.

            Puggy bersandar di kursinya, sambil menatap langit-langit dengan pandangan kosong. “Tentu saja. Betapa bodohnya. Orang tidak perlu mengidap kanker untuk memahami gejala yang dimiliki oleh penyakit itu,” ujar Puggy. “Dan terkadang … kita harus memindahkan gunung untuk dapat menemukan suatu kebenaran.” Suara Puggy yang berkerit tanpa ekspresi membius semua orang dalam ruangan itu.

            Senyap sejenak.

            “Sir Musthafa,” Puggy berkata, lama kemudian, “bagaimana klarifikasi DCPJ terkait tujuan mereka mengirim agennya ke Puri Faucille? Sudahkah mereka memberi penjelasan pada media?”

            “Untuk sebuah kasus pencurian mikrofilm yang tak dapat mereka jelaskan lebih lanjut--sebuah omong kosong yang tolol sekali, bukan?”

            “Saya memang mencuri mikrofilm itu,” sahut Puggy. Walaupun pernyataan yang baru saja diucapkannya luar biasa, namun ekspresi wajahnya tetap sedatar kolam dangkal. Pernyataan yang tidak dramatis.

            Keempat orang yang mendengarnya serentak bertukar pandangan.

            Tapi sebagai orang yang sensitif terhadap getaran atmosfir, Puggy dapat menangkap ketegangan dalam ruangan itu. “Saya mengambil kotak mikrofilm itu di perapian ruang makan. Ketika Sir David menceritakan kisah Sir Georges, dan menyebut-nyebut soal mikrofilm, saya menyadari kesamaan kasus pembunuhan ini. Motif. Lalu saya menempatkan diri saya di posisi Sir Leon. Dan saya mereka-reka di mana dia menyembunyikan benda itu. Dan saat saya berada di ruang makan, saya melihat keganjilan pada debu besi penutup perapian. Yaitu salah satu sisinya berdebu tebal, dan sisi satunya sedikit bersih. Artinya penutup debu itu baru-baru ini dibuka." Puggy menegakan duduk. "Sebenarnya, bukan hanya mikrofilm. Tetapi ada sebuah dokumen rahasia lain lagi.”

            “Dokumen rahasia?” ulang Count Jeoply. Suaranya terdengar bergetar penuh kengerian.

            Puggy mengangguk. "Dokumen yang berisi rincian bukti-bukti mengenai keterlibatan orang kiri dalam propaganda, dan data statistik mengenai darimana sumber keungan mereka. Dokumen itu sepertinya Sir Leon siapkan untuk kepentingannya pribadi. Karena tak mungkin dokumen rahasia seperti itu diberikan kepada sembarang anggota."

            Kembali hening.

            “Tapi … bagaimana mungkin? Kapan dan di mana kau mengambil benda-benda itu? Aku hampir pasti tak ada sesuatu hal pun yang kulewatkan dengan mataku.” Flora akhirnya angkat bicara.

            Senyum tipis dan kejam muncul di bibir Puggy. Dia menggoyang-goyangkan telunjuknya kuat-kuat ke arah Flora. “Non, non. Kau sebenarnya tahu, Mon ami. Tetapi tidak mau tahu. Kau orang praktis--yang tak akan mempedulikan hal sepele sekalipun itu terjadi di bawah hidungmu.”

            “Dan sekarang aku ingin tahu,” sahut Flora.

            Puggy tampak seperti burung merak--membusungkan dadanya, dengan ekspresi pura-pura rendah hati. Meskipun hal itu tak bisa membuat siapa pun terkecoh. “Aku mencuri mikrofilm di ruang makan Puri Laurel. Yang disembunyikan di ceruk dinding perapian. Sementara dokumen-dokumen itu, aku mengambilnya persis di bawah hidungmu."

            "Kapan kau melakukan itu?"

            “Wah, wah! Luar biasa, Mon ami. Kau buta seperti kelelawar. Aku mengambilnya dari buku Panah Hitam. Bersamaan dengan surat rahasia dari Sang Pengawas. Hanya seperkian detik saat kau dan Inspektur Deyrill lengah."

             "Ah! Bakat pencopet."

             Puggy menoleh kepada Sir Musthafa. “Dan sekarang,” ujarnya tegas, “saya tidak akan bicara apa-apa lagi.”

            Sir Musthafa berdehem, keberatan. “Miss Puggy,” katanya, “ada hal serius yang ingin saya bicarakan dengan Anda.”

            Puggy mengangguk acuh tak acuh.

            Sir Musthafa menarik napas dalam-dalam. Tidak terlalu yakin dapat membuka mulut yang bungkam seperti tiram. “Pertama sekali, saya ingin tahu apakah Anda telah melihat isi mikrofilm itu?”

            “Adakah itu artinya untuk Anda?”

            “Anda akan mengetahuinya, segera setelah menjawab pertanyaan saya.”

            “Ya, saya telah melihatnya.”

            Sir Musthafa mengatupkan rahang, berusaha sekeras mungkin untuk tidak bereaksi. “Nah, Miss, sekarang dengar ini. Mari kita bernegosiasi. Saya akan memberi Anda informasi yang Anda cari. Dan sebagai gantinya, Anda harus menyerahkan mikrofilm dan dokumen itu pada kami.” Nada Sir Musthafa mengandung sesuatu yang seperti mengancam.

            Sontak Count Jeoply bangkit sampai-sampai kursinya terguling. “Apa-apan ini!?” serunya dengan suara tinggi yang hampir-hampir melengking. Mata birunya menyorotkan ketakutan seekor binatang buas yang tengah terpojok.

            “Tenangkan diri Anda, Sir.” Mac menepuk-nepuk bahu Count Jeoply. “Semua yang tampak, sama sekali tidak seperti yang Anda pikirkan.”

            “Jelaskan padaku, Mac!"

            "Anda akan mengetahui sema, Sir. Saya berjanji."

             Count Jeoply kembali duduk.

            Puggy menggerakkan tangannya dengan bergairah. Kemudian berbicara kepada Sir Musthafa. “Dengan sangat menyesal saya tidak dapat menerima tawaran Anda, Sir. Kedua benda itu tak ada pada saya--terlalu beresiko. Puri Faucille akan menjadi tempat teraman untuk menyimpannya.”

            “Apa?! Anda meninggalkan mikrofilm dan dokumen itu di rumah Anda?” Sir Musthafa bagai tersambar kilat.

            “Para roh halus akan menjaganya. Marie dan Einstein akan memastikannya.”

            Sir Musthafa merasakan tubuhnya berkeringat. “Saya akan mengirim seorang yang dapat Anda percaya untuk mengambilnya.”

            “Dengan satu syarat,” sahut Puggy, “Anda juga harus menceritakan kebenaran tentang Sir Georges Panington.” Bola mata Puggy mengecil. Wajahnya terlihat waspada seperti seekor serangga yang sedang menunggu mangsanya.

            Sir Musthafa terpaku, seakan baru saja berhadapan dengan iblis berkepala tiga.“Apa gerangan yang Anda bicarakan? Saya sama sekali tidak mengerti maksud Anda,” ujarnya. Namun tangannya yang gemetar menunjukan dia berbohong.

            Puggy tidak tertarik. “Ya atau tidak?”

            “Sudah saya katakan, saya--”

            “Toleransi saya terhadap omong kosong sangat rendah, Sir,” Puggy memotong. “Katakan, ya atau tidak?” Puggy memiringkan sedikit kepalanya lalu menatap lurus-lurus lawan bicaranya. Suaranya yang parau itu terdengar aneh. Cukup lembut tapi berbahaya.

            Ketegangan tiba-tiba membayang di wajah Sir Musthafa. “Untuk ketiga kalinya saya katakan, saya sama sekali tidak mengerti maksud Anda.” Sir Musthafa defensif.

            “Sungguh? Bagaimana jika saya katakan Anda adalah pemimpin organisasi tombak lima, Sir Pongo?”

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 1 0 0 1
 
Save story

Ivaumu
2019-09-11 08:17:40

Kakak Susan, baru pertama kali aku baca novel dengan gendre seperti ini. Masih bingung aku. Tp akan kucoba pahami. 😊
Mention


Ardhio_Prantoko
2019-08-22 21:35:32

@SusanSwansh asli San, 😁
Mention


SusanSwansh
2019-08-22 19:27:02

@Ardhio_Prantoko ini nggak peres kan Kak Ardy? Wkwkwk.
Mention


Ardhio_Prantoko
2019-08-18 12:05:56

Cocok banget buat bacaanku, dibaca berulang enggak bosen. Novel hits yang sebenarnya harusnya kayak gini. Quality sebanding dengan views, layak masuk top hits selling memang karena kualitas, bukan jumlah readers dan views seperti kebanyakan yang lain-lain itu.
Mention


SusanSwansh
2019-04-25 04:16:13

@Celestilla heeehee makasih makasih. Btw ikutin juga yang blody marynya ya. Semoga suka. Heeehee like and reviewnya juga ditunggu. Hiihii
Mention


Celestilla
2019-04-23 13:21:17

Sampai jugaaaaaaa

Aku baca ulang inn nih, San sebelum mulai ngikutin yang Bloody Mary. Dua kata aja deh wqwqwq KETERLALUAN CADAS!!!!! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Mention


SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Page 1 of 19 (183 Comments)

Recommended Stories

Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

5K+ 1K+ 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

671 500 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

440 341 4
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

419 311 6
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Anne

Anne's Tansy

By murphy

800 517 9