Mobil sedan hitam itu membelah malam dengan kecepatan normal. Sesekali disalip mobil lain dan sesekali menyalip mobil yang lainnya lagi. Ketika beberapa blok dari kantor berita nasional Reuters, Puggy melirik kaca spion. Sebuah mobil sedan abu-abu tampak mengikutinya. “Sialan!” secara reflesk Puggy menekan pedal gas lebih dalam, menaikkan jarum speedometer hingga lebih dari seratus kilometer per jam, dan memacu mobilnya seperti jet tempur. Sedan di belakang pun melakukan hal yang sama.

 

            Aksi kejar-kejaran berlangsung selama lima belas menit. Ketika mereka mendekati Teater Lyceum yang berlalu lintas sedikit padat, sedan abu-abu di belakang berhasil menyalip, dan menggiring mobil Puggy ke trotoar jalan.Tiga orang lelaki berseragam polisi Kent melompat turun, mendekati jendela dengan senjata teracung. Salah satu dari mereka berputar ke pintu penumpang. Kedua pintu dibuka serentak.

            “Tangan di kepala, Nona-nona!” teriak salah satu dari mereka.

            Dengan refleks, Puggy dan teman-temannya mengangkat tangan mereka.

            “Turun, cepat!” perintah yang lain.

            Mereka menurut. Salah seorang agen menggeladah mobil. Yang satunya menggeledah tubuh buronan mereka, di bawah ancaman senjata yang lainnya lagi. Agen yang menggeladah tubuh Puggy menemukan Berreta di pinggangnya, dan mengambilnya dengan paksa.

            “Aku tidak bersenjata!” Flora berseru marah saat tas pribadinya digeledah.

            “Jangan bicara apa pun,” kata Count Jeoply, ketika mereka hendak diborgol, dan dibacakan hak-haknya layaknya komplotan penjahat subversif.

            “Count Jeoply sama sekali tidak ada kaitannya dengan kasus ini. Lepaskan dia!” Puggy menentang.

            “Miss Puggy, kami hanya--”

            “Saya akan mengadukan perlakuan buruk ini,” ancam Puggy. “Saya akan menelepon pengacara saya.” Puggy memutar badan, dan dia baru beberapa langkah, saat suara letupan senjata menggema. Puggy mundur dengan sempoyongan, lalu jatuh ke trotoar sambil mencengkeram dada. Mantel bulu angsanya yang berwarna putih segera dibasahi darah.

 

            Sesaat, Count Jeoply merasa seakan waktu berhenti. Puggy berbaring tidak bergerak, darah menyembur deras dari dadanya. Semua terjadi hanya dalam beberapa detik. Tubuh Puggy diangkat dan dimasukan ke dalam mobil. Diplesternya mulut Flora, dan diikatnya dia seperti kalkun--tangan serta kaki ditelikung ke belakang lalu diikat dengan pita perekat. Dan hal terakhir yang diingat Count Jeoply adalah bau yang menyengat lalu kegelapan total.

 

            2

 

            Di sebuah apartemen kecil tidak jauh dari Teater Lyceum, seorang penata rias yang cekatan dengan lihai merias pelanggan pribadinya. Di hadapannya, duduk di sebuah kursi rendah tanpa sandaran, perempuan berwajah mengenaskan pemain sandiwara. Lima menit kemudian si penata rias berdiri menjauh dan mengangguk senang.

             Dia berkata, “Nah, kelihatannya sudah cukup baik. Bagaimana, Nyonya?”

            “Bagus sekali,” jawab wanita yang baru masuk. “Anda tampak mengesankan Nyonya Ambssdor.”

            “Kau pun tampak mengesankan, Lady Ellien. Aku suka warna rambutmu,” sahut Nyonya Ambssdor. Suaranya yang parau berkerit dalam dan kosong.

 

            Ny. Ambssdor mengulurkan tangannya mengambil kaca yang dipegang si penata rias. Dia memperhatikan wajahnya dan tak bisa menahan jeritan heran. Alisnya diubah, sehingga memberi penampilan yang lain. Beberapa plester kecil yang tersembunyi di balik rambutnya dan ditarik sampai ke telinga, untuk mengencangkan kulit dan mengubah lekuk wajahnya. Dengan sedikit polesan di hidung membuat hidungnya yang melengkung hampir menyentuh dagu, menjadi tampak lain sama sekali. Dan beberapa garis berat di ujung bibir membuat Ny. Ambssdor tampak agak bodoh, dan lebih tua dari umurnya.

            “Anda harus hati-hati dengan rambut palsu itu,” kata wanita tua itu saat Ny. Ambssdor merapikan rambut palsunya. Dia kemudian mengeluarkan dua lapis karet tipis. “Apa Anda tahan memakai ini di pipi?”

            “Rasanya saya harus tahan,” kata Ny. Ambssdor, kurang gembira.

            Penata rias itu menyelipkan karet tersebut dalam mulut Ny. Ambssdor dan membentuk dagunya dengan hati-hati. “Anda tampak sempurna, Nyonya,” pujinya bangga.

            “Kau memang penuh keajaiban, Nyonya Emlly. Aku berterima kasih banyak padamu.” Kini Ny. Ambssdor telah mengubah suara dan aksen Prancisnya. Suaranya menjadai serak dan sengau seperti keluar dari hidung.

            “Semoga pentas Anda di Jenewa sukses, Nyonya. Allah menyertai Anda,” kata Ny. Emlly. Lalu dia menambahkan sambil tersenyum, “Sebaiknya Anda bergegas, atau Anda akan ketinggalan pesawat.”

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

SusanSwansh
2019-04-19 11:26:31

@PenaLara makasih. Hehe. Btw mampir di skuel duanya ya. Puggy humphry and bloody mary.
Mention


PenaLara
2019-04-16 11:02:52

Mom @SusanSwansh aku baca dari awal ... 😍 Sukaaakkk walaupun baca berulang 😍😍😍
Mention


SusZie
2019-04-07 06:02:28

Ceritanya mengalir banget. Keren.
Mention


NaniHamidah
2019-04-02 18:13:02

Gila. Keren banget. Ini sekuel pertamanya ya?
Mention


Rosy
2019-03-31 05:18:03

Keren bgt ceritanya
Mention


nurhidayahturohmah
2019-03-28 06:13:46

Nemu ini dilist review depan. Ternyata puggy ada serinya. Gila keren banget. Masuk list ini.
Mention


apriani48
2019-03-15 16:47:50

Keren, berasa baca novel terjemahan
Mention


Riyuni
2019-03-14 22:31:24

semoga segera di terbitkan kak susan
Mention


miradun
2019-03-08 07:49:34

Wah mantul nih ceritanya. Keren banget
Mention


SusanSwansh
2019-03-06 23:02:35

@chikandriyani makasih. Tapi in made in lokal lho. Hehe. Tunggu skuel 2 nya. Masih tahap revisi.
Mention


Page 1 of 18 (177 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

597 461 7
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

564 423 6
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

930 660 13
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 643 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

605 444 9
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 9