Kafetaria Kelsey Croon, merupakan tempat mungil biasa yang terletak di tepi pantai Bexhille. Kafetaria dengan meja-meja kecil bertaplak kotak-kotak jingga, dan kursi-kursi rotan yang tidak terlalu nyaman yang dilengkapi bantal-bantal di atasnya ini, merupakan kafetaria yang hanya melayani pengunjung untuk minum makan dan minum teh atau kopi, di pagi juga petang hari. 

            "Dengan Mrs. Marrion?"

            Perempuan kurus berumur empat puluh tahun itu mengangguk. "Itu nama saya," jawab Marry. Suaranya lembut dan feminim. "Anda ... Miss Puggy yang menelepon beberapa waktu lalu?"

            Puggy mengangguk. "Saya yang menelepon Anda beberapa waktu lalu." 

            "Mari, silakan duduk Miss Puggy, Miss Flora, dan  .... " Mrs. Marrion  

tercekat. Dia menatap Count Jeoply dengan terbelalak. "Demi Tuhan! Anda .... " suaranya menghilang.

            Count Jeoply sedikit membungkukkan badan dengan hormat. "Apa kabar Madame. Senang berjumpa Anda."

            "Anda mengenal Mrs. Marrion?" Puggy bertanya pada Count Jeoply dengan heran.

            Count Jeoply tertawa. "Tentu saja. Saya dan Sir Georges berteman cukup lama. Jauh sebelum si tua itu menikah lagi. Tapi nasib buruk siapa yang tahu. Maksud saya, padahal dia baru setahun menikah."

            "Dosa lama panjang bayangannya," kutip Puggy setelah mereka duduk, "sepanjang perjalanan hidup, kita tahu pribahasa itu benar. Dan Sir Georges telah mendapat balasan atas dosanya." Ketika mengatakan kalimat yang terakhir Puggy melirik sekilas pada Mrs. Marrion. 

            Dia mendesah berat. "Sungguh menyedihkan, tetapi saya tidak mau mengingat-ingat kesalahan yang telah lalu. Bagaimanapun kita menangis, kita tidak akan bisa mengembalikannya. Begitu, kan, yang biasa kita kutip dari sajak Nevermore." 

            Seorang pelayan menghampiri  meraka untuk menawarkan teh. 

            "Itulah yang dinamakan nasib--retropeksi terhadap pilihan yang memiliki konsekuensi dramatis," kata Puggy setelah urusan dengan pelayan selesai. "Dan inilah yang ingin saya tanyakan kepada Anda, Madame. Anda tentu paham maksud saya."

            Mrs. Marrion mengangguk sekilas. "Saya akan membantu sedapat saya. Meskipun saya tidak yakin apakah itu berguna."

            Si pelayan kembali, membawa nampan berisi tiga cangkir teh. Dengan salah satunya diberi hiasan irisan jeruk nipis. Mrs. Marrion membuat isyarat untuk pelayan itu cepat sedikit. 

            "Gadis zaman sekarang memang begitu. Tidak becus kerja dan pemalas," gerutu Mrs. Marrion setelah si pelayan pergi.

           "Madame," Puggy mulai, "Mrs. Panington--maksud saya Madame Elena, mengatakan Sir Georges itu seorang yang setuju dengan sayap kiri. Sebagai orang yang lama hidup dengan Sir Georges, Anda pasti tahu soal itu."

            Mrs. Marrion tidak langsung menjawab. Dia tampak menimbang-nimbang yang akan dikatakannya. "Itu memang benar," jawab Mrs. Marrion akhirnya. "Organisasi anti komunis itu omong kosong. Sebenarnya justru mereka sendirilah komunis itu."

            "Apa maksud Anda, Madame? Saya dan Georges satu organisasi." Count Jeoply menyahut dengan marah.

            Mrs. Marrion melambaikan tangan. Mengusir udara kosong. "Saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung Anda, Sir. Anda pun tahu itu. Maksud saya, Georges. Dia bergabung dalam organisasi anti komunis Eropa. Tetapi, yang sebenarnya, dialah komunis itu. Dia aktor yang andal. Karena itu Anda tidak menyadarinya "

            "Jadi itu benar?" potong Puggy. 

            Mrs. Marrion mengangguk. "Yang dikatakan Mrs. Panington adalah benar. Georges pecandu alkohol. Dia akan berbicara tidak menentu saat mabuk."

            "Apakah Anda tahu siapa-siapa orang yang sebenarnya pengkhianat, dalam kubu organisasi Sir Georges?"

            Mrs. Marrion menggeleng sedih. "Saya tidak pernah bertanya apa-apa pada Georges--pura-pura tidak pernah tahu apa pun dan tidak peduli."

            "Tetapi, pasti ada yang pernah Anda dengar. Sesuatu hal--beberapa kata atau kalimat, barangkali." Puggy terus menekan.

            Mrs. Marrion mengerutkan dahi, mengingat-ingat. "Sebenarnya saya tidak yakin. Georges sering sekali menceritakan kepada saya hal tolol soal dunia ideal dan, yah, hal-hal semacam itulah."

            "Seperti ... tatanan dunia baru?"

            "Itu yang dikatakannya. Tatanan dunia baru, ya. Dia memang idiot dungu."

            "Menurut Madame  Elena, Sir Georges kerap kali menyanyikan lagu penghantar tidur yang berjudul Little Boy Blue jika mabuk. Itu agak aneh, bukan?"

            "Sama sekali tidak," jawab Mrs. Marrion sambil terkekah. "Itu lagu penghantar tidur yang sering dinyanyikan Mrs. Elleryd. Mendiang ibu Georges."

              Puggy tampak belum puas. "Apakah Sir Georges pernah mengatakan sesuatu tentang lebah, atau menyebut-nyebut kata itu?"

            "Lebah?" Mrs. Marrion mentap dengan tidak percaya. "Lebah benar-benar lebah?"

             Puggy mengangguk. "Abeille--lebah." Mrs. Marrion balum sempat menyahut saat Puggy tiba-tiba bersorak kegirangan. "Aha!"

            Ketiga orang yang duduk di meja itu sama-sama terkejut.

            "Apakah ada sesuatu, Puggy?" tanya Flora. 

            Sambil tersenyum misterius Puggy menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mon ami. Aku baru mendapatkan ide."

            "Quelle ide?" sahut Count Jeoply," ide apa?"

            "Nanti Anda akan mengetahuinya. Tapi sebelum itu, sebaiknya kita makan lebih awal. Penyelidikan berikutnya akan sangat melelahkan."

            "Hors d'oeuvers, luar biasa!"

            Mrs. Marrion terkekeh. "Saya akan meminta juru masak menyiapkan syair terbaik untuk Anda bertiga." Mrs. Marrion bangkit dan menghilang ke belakang.

            Seorang lelaki yang tampak aristokratis yang duduk di meja sebelah, bangun dan menghampiri meja Puggy.

            "Maaf, boleh minta apinya, Madam?" tanyanya pada Puggy yang baru menyalakan Hookah. Suara lelaki itu lemah dan cukup lembut--suara sengau yang tak begitu terdengar.

            "Mac?!" Flora yang duduk di samping Puggy seketika berseru kaget. "Demi Tuhan, jangan katakan kau datang ke sini untuk mencari teman gadis yang mau kau ajak kencan."

            McHornough menoleh dengan terkejut. "Harusnya pertanyaan itu yang kuajukan untukmu, Elshlyn. Apa yang kau lakukan di Baxhille? Dan .... " dia menoleh ke arah Puggy, menegas-negas wajahnya, lalu kembali menatap Flora dan bertanya dengan tidak yakin. "Dia ... Miss Puggy yang buronan polisi Swiss dan DCPJ itu, kan?"

            "Ah, rupanya mereka sudah bertindak sejauh itu," geram Puggy, gemas. Lalu dia menambahkan, "saya ucapakan samat karena Anda mengenali saya."

            "Ini McHornough, the God of gambler Inggris." Flora memperkenalkan, "Mac ini Puggy, dan ini Count Jeoply Paddock."

            "Senang berkenalan dengan Anda." Mac menjulurkan tangan untuk berjabat satu per satu. "Ah, Count Jeoply. Suatu kehormatan dapat bertemu dan berjabat tangan dengan Anda."

            "Ah, Anda terlalu berlebihan, Sir." Count Jeoply benar-benar tersipu. "Anda nggota Whites Club yang baru, bukan? Saya pernah melihat Anda."

            Wajah Mac merona. "Saya baru beberapa bulan bergabung. Saya belum terlalu mengenal sesama anggota."

            "Jadi, apa yang membawamu ke sini, Mac?" Flora menyudahi percakapan tidak berujung-pangkal itu. "Setahuku kau di Monako kemarin."

            "Aku baru menemui seseorang. Kebetulan lewat dan mampir ke sini."

            "Urusan bisnis selalu saja dapat menarikmu kembali ke Inggris. Di mana pun kau tengah berada." Flora mengomentari dengan sarkastis.

            "Well, begitulah. Ada urusan bisnis yang tidak bisa diwakili. Jika sampai bisnis besar ini gagal .... " Mac menggeleng-geleng dengan sedih. "Dan kau sendiri, kau belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa kau di sini? Ini tempat umum. Kau tidak bisa sembunyi dari polisi di sini."

            "Kami tidak sedang sembunyi, Sir," sahut Puggy, "kami tengah mencari petunjuk untuk kasus pembunuhan Sir Leon."

            "Ah, tololnya saya. Jadi apakah Anda sudah mendapat petunjuk?"

            Puggy tersenyum. "Kasusnya sudah hampir selesai, Sir. Hanya perlu beberapa kepingan untuk melengkapinya."

            "Jika begitu, saya rasa saya tahu ke mana Anda harus pergi."

             "Antarkan kami ke sana."

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 1 0 0
 
Remember this story?

ratih211
2019-02-23 12:09:14

Berasa baca novel terjemahan. Keren
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:52

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


fitfitfit
2019-02-22 15:03:07

Ya ampun ini cerita kaya novel terjemahan aja. Baguuus
Mention


EqoDante
2019-02-21 08:09:09

Mantaapppp. Bab per bab bikin penasaran.
Mention


Rizalulhanan
2019-02-20 16:49:54

Gilee.. dpet rekomen cerita bgini dari kawan dan wow emang oke banget ceritanya
Mention


SusanSwansh
2019-02-20 15:11:53

Semuanya, makasih banyak. Maaf nggak bisa balas one by one. Panjang banget. Hehe. Sukses untuk kita semua.
Mention


sumarni285
2019-02-20 14:43:11

Wadaw, Baru prolog udah bikin aku jatuh cinta. Masukin list dlu deh. Hehe
Mention


YantiRY
2019-02-17 07:55:56

Mantullll. Mantap betul prolognya.
Mention


anny
2019-02-16 01:12:01

Kereeen
Mention


Vtiah
2019-02-15 04:41:44

Kereeeeeennnnnn....
Mention


Page 1 of 17 (165 Comments)

Recommended Stories

KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

175 141 2
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

4K+ 1K+ 7
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 751 12
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

329 251 5
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 580 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

565 415 8