Aisyah tersentak dengan suara angin bercampur dengan suara semak-semak yang saling bergesekan. Aisyah bergegas berlari ke arah jendela saat mendengar suara pagar yang bergeser, ia melihat satpam tengah menutup gerbang sekolah. Aisyah berusaha memukul jendela itu dengan sekuat tenaga sembari berharap penjaga sekolah mendengarnya, namun hasilnya nihil. Ia kembali untuk mencari kunci jendela di rak meja, ah, iya kunci itu ada bersama kunci perpustakaan yang hilang.

Aisyah lagi-lagi mencari benda yang mungkin bisa membantunya mengirim sinyal pada penjaga sekolah. Senter, gue butuh senter, please. Tidak ada, sama sekali tidak ada, apapun itu tidak ada lagi yang bisa Aisyah lakukan. Aisyah hanya bisa berharap seseorang melihatnya dengan terus-menerus memukul jendela perpustakaan.

Tangan yang sudah memerah hampi lecet, kaki yang gemetar kedinginan dan lelah, bibir yang pucat, mata yang sembab, dan pipi yang basah. Ya, sejak setengah jam yang lalu Aisyah terus menangis tanpa berhenti menggedor jendela. Ia sudah mulai putus asa terhadap semua kesialan yang menimpanya---ia ambruk di lantai yang dingin.

Malam yang gelap hanya di temani dengan terangnya bulan menembus kaca perpustakaan. Aisyah sempat berpikir untuk keluar dari jendela tapi ia kembali mengurungkan niatnya karena bukan hal mudah untuk keluar dari perpustakaan melalui jendela secara perpustakaan berada di tingkat ketiga.

Wajah Aisyah semakin memucat karena hembusan angin yang datang dari luar jendela, tubuhnya pun terlihat begitu menggigil. Ia hanya dapat berharap agar tidak mati kedinginan di sana, karena dia sudah merasa tidak kuat lagi dengan dinginnya malam.

                                                            ***

            Aisyah, gue mohon lo harus bertahan.

Habib dan Bintang terlihat begitu cemas di depan ruang UGD. Pagi tadi mereka mendapat kabar dari penjaga perpustakaan kalau Aisyah di temukan pingsan dengan keadaan tubuh yang sangat dingin karena terkunci di dalam perpustakaan. Kabar itu sempat membuat semua warga sekolah heboh karena baru kali ini terjadi insiden seperti itu di sekolah.

Penyebab kenapa Aisyah bisa terkunci dari luar pun belum diketahui, hal itu membuat para siswa cemas terutama bagi Ibu Rita. Walaupun hal itu bukan sepenuhnya kesalahan dirinya, ia merasa begitu menyesal karena akar permasalahan itu berasal dari dirinya yang memerintahkan Aisyah merapikan buku di perpustakaan tanpa diawasi oleh siapapun.

Pihak sekolah berusaha merahasiakan kecelakaan itu dari kedua orangtua Aisyah yang kini tengah menjalani bisnis di luar kota. Pihak sekolah akan bertanggung jawab atas segala kekeliruan itu. Permasalahan itu sampai membuat pemilik yayasan turun tangan, kejadian itu merupakan permasalahan yang cukup serius karena hampir melibatkan nyawa seorang siswi.

Bintang yang berada di rumah sakit terus menangis, rasa cemas membuatnya kalah. Ia terus menyalahkan dirinya dan berandai jikalau dia tidak meninggalkan Aisyah sendirian di sana, hal itu tidak akan pernah terjadi. Bintang sangat tahu walaupun Aisyah terlihat kuat dari luar, Aisyah memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

Hal itu sudah ada sejak ia berada di dalam kandungan Mamanya. Bintang pernah dengar bahwa saat itu kandungan Mama Aisyah cukup lemah sampai-sampai kandungan itu sempat diperkirakan tidak dapat di pertahankan karena keadaan bayi yang cukup lemah, namun karena tekad kedua orangtuanya Aisyah dapat lahir dengan sehat walaupun dengan daya tahan tubuh yang lemah.

Selain itu Habib juga begitu khawatir dengan Aisyah. Meskipun jika dilihat dari wajahnya tidak begitu jelas, hal itu dapat di ketahui karena ketika Habib khawatir tanpa sadar dia akan menggoreskan kuku ibu jarinya pada kulit jari telunjuknya. Jika rasa khawatirnya itu cukup besar, jarinya bisa jadi lecet karena terlalu lama dan terlalu keras menggores. Contohnya seperti sekarang ini, jari telunjuknya sudah berdarah karena kulit yang terkelupas.

Gerakan jari Habib terhenti ketika mendengar deritan pintu ruang UGD terbuka. Ia dan Bintang akhirnya bisa menghembuskan napas lega setelah mendengar kabar baik dari dokter. Namun, meskipun begitu Aisyah tetap harus dirawat secara intensif selama tiga hari di rumah sakit.

                                                            ***

            Tiga hari tanpa Aisyah membuat Bintang dan Habib merasa bosan di sekolah, walaupun teman-teman yang lain terlihat ceria seperti biasanya. Ya, tiga hari telah berlalu dan suasana di sekolah kembali seperti biasanya. Hal itu memiliki dua sebab, pada satu sisi pihak sekolah berhasil menenangkan siswa dan pada sisi yang lain ada juga siswa yang tidak begitu peduli dengan kejadian itu dan justru menganggapnya angin lalu.

            “Assalamu ‘alaikum,” ucap seseorang dari luar kelas. Suasana kelas sempat hening karena suara familier itu namun mereka kembali sibuk dengan urusannya masing-masing kecuali untuk Bintang dan Habib. Wajah keduanya tampak berseri setelah melihat sosok perempuan berhijab yang memasuki kelas itu.

            Bintang berlari menyambut perempuan itu dan memberikan pelukan hangat. “Welcome back, Aisyah-ku. Gue kangen banget sama sifat nyebelin lo tau,” ucapnya.

            “Huek, panggilan apaan tuh? Aisyah-ku Aisyah-ku, udah ah, merinding gue dengernya.”

            “Yah, padahal gue udah berusaha buat bikin lo fun pas lo comeback ke sekolah.”

            “Lo kira gue boyband girlband apa pake comeback-an segala. Sorry, ya, gue enggak ngerilis album.” Aisyah beralih melanjutkan langkahnya menuju kursi, sebelum duduk ia sempat mengangkat tangannya menyapa Habib dengan gaya yang sok cool.

Sadar, Ai, lo itu cewek bukan cowok, jangan gaya-gayaan sok cool gitu, ah. Apalagi sama cowok, entar yang ada malah kerenan lo-nya dibanding cowoknya.

            “BTW, ngomongin soal comeback, BTS udah comeback lho, gue udah beli abumnya.”

            “Beneran?” alih-alih Aisyah berniat untuk terlihat cool pagi itu kembali mengurungkan niatnya, matanya langsung membulat ketika mendengar kata BTS.

            “Iya. Bias lo Taehyung, kan? Besok hari minggu, gue bakal mampir ke rumah lo terus kita nonton sama-sama.”

            “Beneran, ya, jangan sampe ngaret lho.”

            Seketika Habib balik badan ketika ia melihat kedua perempuan itu tengah asyik membincangkan boyband Korea, BTS, Tae Tae dan segala macam hal yang Habib tidak ketahui namanya. Jika kedua perempuan itu sudah membicarakan seputar hal tersebut Habib tidak akan mengerti dan angkat tangan saja, deh.

            Di samping itu Habib sangat senang melihat Aisyah kembali ke sekolah dan tersenyum lebar. Rasanya kelas yang terasa hambar kembali memiliki rasa yang unik seperti red velvet.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

699 519 8
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

723 534 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

720 541 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

875 557 9
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

598 459 8