“Aisyah, maafin gue, ya. Gue enggak bisa nemenin lo ke perpustakaan soalnya abang gue udah jemput.” Bintang begitu menyesal. Ia ingin sekali menemani Aisyah untuk melaksanakan hukumannya merapikan buku-buku di perpustakaan tapi di lain sisi saudara laki-lakinya juga mendesaknya agar segera pulang.

            “Iya, enggak papa. Lo pulang aja, gue bisa selesai in sendiri, kok.”

            “Apa perlu gue bilang ke Habib buat jagain lo? Lagian Habib juga pulangnya agak telat. Dia lagi latihan, kan? Gue bisa samperin dia ke ruang olahraga sekarang juga kalo lo mau.”

            “Gue bilangin enggak papa, ya, enggak papa. Gue enggak perlu di jagain siapa-siapa lagi pula satu jam dua jam bakal kelar ngerapiinnya. Udah sana, gih, pulang!” Aisyah mendorong tubuh Bintang ke arah gerbang sekolah, di sana sudah menunggu seseorang yang akan menjemputnya.

            “Beneran?” tanya Bintang lagi sebelum ia menaiki sepeda motor saudara laki-lakinya.

            “Iya…”, “Bang, udah nih,” ucap Aisyah kepada saudara laki-lakinya Bintang.

            “Duluan, ya, dek,” pamit pemuda itu pada Aisyah.

            “Iya, Bang. Kalo bisa Bintangnya dipegangin biar enggak kabur.”

            “Sip!” Setelah itu saudara laki-laki Bintang menyalakan sepeda motornya dan tidak lama kemudian sepeda motor itu telah melesat di jalanan yang cukup lengang.

            Setelah kedua kakak beradik itu tidak terlihat lagi, Aisyah berbalik badan dan berjalan dengan gontai. Hari ini ia akan terlambat pulang karena ia harus menjalankan hukumannya sebagai siswa yang bertanggung jawab, jangan sampai Ibu Rita kecewa lagi dengannya.

            “Yosh, lo pasti bisa!” Aisyah berseru menyemangati dirinya, ia menepis semua bayangannya kalau hukuman itu berat. Ia harus percaya diri agar dapat menyelesaikannya lebih cepat.

            Suasana di dalam perpustakaan begitu lengang, tidak ada seorang siswa pun yang masih stay di sana melainkan hanya petugas perpustakaan yang tengah menunggu kedatangannya.

            “Assalamu ‘alaikum,” sapa Aisyah ketika ia memasuki dan menghampiri penjaga perpustakaan itu.

            “Wa ‘alaikumsalam. Kamu yang namanya Aisyah?”

            “Iya, Bu.”

            “Kalo gitu saya titip kuncinya, ya. Setelah kamu menyelesaikan tugasnya, kamu langsung kunci aja perpustakaannya dan kuncinya kasih ke penjaga sekolah, ya.”

            “Iya, Bu.”

            “Ya, udah saya tinggal dulu.”

            Setelah penjaga perpustakaan itu pergi Aisyah berjalan menuju rak buku A. Aisyah menghela napasnya, buku-buku yang ada di sana benar-benar terlihat berantakan dan urutan penyusunannya pun terlihat acak-acakan.

            Dua jam telah berlalu. Dengan rentang waktu dua jam Aisyah dapat menyelesaikan tugas rapi-rapinya. Ia benar-benar lelah, ia istirahat sejenak dengan membasahi kerongkongannya yang kering. Setelah dirasa cukup beristirahat, Aisyah melihat jam tangannya yang tengah menunjukkan pukul empat sore. Ia harus segera pulang dan melaksanakan shalat asar. Ia terlalu asik rapi-rapi sehingga ia melupakan waktu, jangan sampai ia termasuk dari golongan orang-orang yang lalai dalam salatnya.

            Aisyah berjalan menuju meja tempat dimana biasanya penjaga perpustakaan berada. Namun Aisyah bingung ke mana perginya kunci perpustakaan yang dititipkan padanya tadi, ia mencari-carinya di sekitar tempat itu namun ia tetap tidak menemukannya. Ah, mungkin saja sudah ada di pintu perpustakaan.

Oh, tidak. Bukannya menemukan kunci Aisyah justru menemukan pintu perustakaan yang terkunci rapat. Ah, bagaimana bisa dia terkunci di dalam? Perasaan tidak ada seorang pun yang memasuki perpustakaan. Duh, bagaimana ini?

Sedangkan di luar Habib telah selesai latihan basket dan hendak menghampiri Aisyah ke perpustakaan. Di perjalanan ia bertemu dengan seorang perempuan, jika dilihat dari penampilannya perempuan itu merupakan salah satu dari adik kelas.

“Kak Habib, mau kemana?” tanya perempuan itu.

“Ke perpustakaan?”

“Oh, itu perpustakaannya udah tutup. Aku tadi ke sana mau minjam buku tapi pintu perpustakaannya udah terkunci.”

“Terus kamu lihat ada cewek yang habis dari sana enggak?”

“Enggak?”

“Oh, makasih, ya, dek.”

“Iya, kak.”

Setelah berjalan beberapa langkah Habib berbalik menghampiri Adik kelas itu, “Dek, dek, tunggu.”

“Ah, eh, iya, kak?”

“Kamu kok masih di sini?”

“Mmm, itu, aku habis ngikutin kegiatan ekstrakurikuler makanya pulangnya kesorean… aku juga lagi nunggu jemputan, kak.”

“Gitu, ya. Ya udah, kakak duluan, ya.”

“Iya, kak.” Dasar, percuma aja, kamu enggak peka sama sekali sama maksud aku.

Sudah tidak ada waktu lagi, Aisyah harus segera melaksanakan salat asar. Walaupun tidak ada air, ia masih bisa bertayamum. Tidak ada air bukan berarti menjadi alasan untuk tidak mengerjakan salat. Allah tidak pernah mempersulit hambanya melainkan senantiasa mempermudah hambanya.

            Setelah selesai mengerjakan salatnya Aisyah segera mengecek ponselnya. Pertama ia harus menelpon Mamanya untuk mengabarkan bahwa ia akan pulang telat, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada wanita paruh baya itu. Ia tidak ingin membuat Mamanya khawatir dan akhirnya jatuh sakit karena dirinya.

Kedua, ia akan menelepon Bintang dan memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia tidak bisa menelepon Habib karena besok ia ada pertandingan jadi ia perlu istirahat yang banyak. Jika ia memberitahukannya bukannya istirahat, ia malah akan membuat kekacauan.

Ayolah, angkat, Bintang.

“Assalamu ‘alaikum. Halo, Aisyah, ada apa?”

“Bintang, dengerin gue baik-baik, gue sekarang ke…”

Ah, kok malah sempet-sempetnya baterai ponsel gue habis, sih? Ya Allah, gue harus gimana lagi? Kok bisa kejadian kayak gini nimpa gue. Astaghfirullah, gue enggak boleh ngeluh gue harus berusaha. Aaa, tapi gimana? Sejak tadi gue gedor-gedor pintu enggak ada satupun yang nyahut dari luar.

Tidak ada lagi cara yang terlintas di pikiran Aisyah. Ia hanya bisa berserah diri kepada Allah azza wa jalla, agar membuat dirinya tenang dengan datangnya ujian tersebut.

Petang berganti malam dan malam pun semakin larut, tidak ada satu suara pun yang terdengar dari luar melainkan hanya suara angin malam yang begitu dingin hingga menusuk sampai ke tulang. Aisyah yang merasa kedinginan berpindah ke kursi yang biasa di duduki oleh penjaga perpustakaan.

SERRR SRUK SRET SYUUU KREEKK

Suara apa itu?

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8