Aisyah heran dengan suasana kelas di pagi itu. Semuanya terlihat kacau, hampir dari seluruh teman-teman sekelasnya panik hilir mudik ke sana kemari. Aisyah melihat Bintang yang tenang duduk di kursinya sembari memainkan ponselnya berbeda dengan orang lain yang begitu kacau. Aisyah mendekati Bintang dengan raut wajah yang polos, ia tidak bisa menyadari permasalahan apa sebenarnya itu sampai-sampai suasana kelas itu begitu riuh.

            “Bintang, kenapa semuanya pada begini? Emang ada masalah apa?” tanya Aisyah yang ikut duduk tenang di kursinya tepatnya di depan Bintang.

Bintang meletakkan ponselnya di atas meja daan mengalihkan pandangannya ke arah Aisyah. “Lo enggak tahu?”

“Ya Allah. Bintang kalau gue tahu enggak mungkin gue pake nanya ke lo segala.”

“Coba lo fokus ngelihatin mereka,” Bintang menunjuk teman-teman sekelasnya yang tengah ricuh itu, “sebutin apa yang lo lihat!”

“Lah? Bukannya jawab yang bener malah nyuruh-nyuruh gue.”

“Udah, lo lihat aja dulu.” Bintang menggerakkan kepala Aisyah memindahkan pandangannya kepada apa yang ia suruh tadi. Aisyah sempat berdecik kesal kemudian melakukan apa yang diperintahkan padanya. Hokus fokus trulalala. Aisyah membaca mantra sebelum fokus dengan objeknya.

“Gue lihat mereka lagi pegang buku.” Aisyah mulai mengucapkan apa yang ia lihat dari kekacauan itu.

“Apa lagi?”

“Mereka juga lagi pegang pena.”

“Terus?”

“Bahkan ada yang mengumpat.”

“Lo bisa denger mereka bilang apa?”

“Buku gue mana?”

“Bukan itu, dengerin orang yang lo bilang mengumpat tadi.”

“Woi, balikin buku gue... pelit banget lo, nyet. Kasih lihat gue la ya, lo tahu sendiri ‘kan gue enggak paham sama materi ini… makanya, kalo guru lagi nerangin di dengerin… asem lo, nyet. Lo mau gue di hukum sama Ibu Rita… bilang aja lo enggak suka belajar matematika… asem. Lo tahu aja gue enggak demen.” Aisyah berusaha mencerna kata-kata yang ia tangkap.

Loading…

BRAK! Sekarang giliran Aisyah pula yang panik dan wajahnya seketika memucat. “Alamak! Iya, ada tugas matematika. Duh, gue harus gimana lagi nih? Gue lupa ngerjain, mana tugasnya banyak lagi.”

“Walah. Ya udah, nih, cepet salin punya gue.” Bintang mengambil buku matematika dari tasnya kemudian memberikannya pada Aisyah.

“Makasih, ya. Lo emang malaikat penyelamat gue.”

TAK TAK TAK!

“Udah udah, semuanya cepat duduk. Bukannya duduk tenang sambil lihat pelajaran kemarin malah ribut-ribut enggak jelas.”

Baru saja Aisyah menggoreskan pena di buku tugas matematikanya, Ibu Rita mendadak datang ke kelas sembari membawa tongkat yang biasa ia bawa. Beliau suka sekali memakai tongkat itu, baik untuk menenangkan siswa maupun menjelaskan pelajaran.

“Sebelum pelajarannya dimulai, kumpulkan tugas kalian ke depan!”

Aisyah berbalik ke arah Bintang, “Gue tarik kembali kata-kata gue yang tadi. Gue bakal abis di tangan guru killer,” ucapnya dengan raut wajah yang kesal dan pasrah.

Setelah semuanya kembali ke tempatnya masing-masing, Aisyah maju seorang diri. Ibu Rita dan teman-teman sekelasnya menjadi heran dengan tingkah laku Aisyah.

“Kamu kenapa berdiri di depan? kembali ke tempat duduk kamu!” perintah Ibu Rita dengan suaranya yang tegas.

“Saya enggak ngerjain tugas, Bu.”

Ibu Rita sempat terdiam sedangkan yang lainnya menjadi heboh karena baru kali ini mereka melihat Aisyah tidak mengerjakan tugas apapun itu apalagi tugas matematika dengan guru killer pula, seperti Ibu Rita.

“Semuanya diam, siapa yang suruh kalian ribut di jam saya?”

Semuanya kembali diam membeku setelah mendengar suara melengking dari Ibu Rita.

“Tumben kamu enggak ngerjain tugas yang Ibu berikan… kenapa kamu sampai enggak ngerjain tugas dari saya? Apa alasannya?”

“Saya lupa, Bu.”

“Lupa? Lupa kamu bilang?” Ibu Rita kembali mengeraskan suaranya dan memukulkan tongkat yang ia pegang ke meja guru sehingga membuat suasana kelas semakin terasa tegang.

 “Kenapa kamu bisa lupa?” tanyanya lagi.

“Saya juga enggak tahu, Bu.”

“Apa?” Mungkin, jika dibandingkan sebelumnya, suara Ibu Rita terdengar lebih keras dan lebih melengking kali ini.

“Maaf, Bu,” ucap Aisyah lirih. Ia merasa tidak enak pada Ibu Rita karena sebelumnya beliau sangat membangga-banggakan dirinya sebagai siswa teladan di sekolah itu.

“Hhh, kembali ke tempat duduk kamu!”

“Ya, Bu?”

“Saya bilang duduk!”

“Iya, Bu.”

Beberapa dari siswa di kelas itu ada yang heboh karena heran dengan sikap Ibu Rita yang seperti pilih kasih.

“Kenapa ribut lagi? Kalian mau saya tambah tugasnya jadi sepuluh kali lipat?”

“Jangan, Bu.” Serentak mereka meneriakkan kata itu.

“Aisyah, sebagai gantinya kamu harus merapikan buku-buku bagian rak- rak buku A di perpustakaan setelah pulang sekolah nanti. Untuk tugas, saya tunggu besok di kantor. Mengerti?”

“Mengerti, Bu,” ucap Aisyah lirih.

Bayangkan saja perpustakaan di sekolah itu terbilang cukup besar, untung saja hanya bagian A jika seluruhnya dalam jangka waktu sehari pun tidak akan selesai. Rak buku A terbilang cukup besar, Ya, kira-kira memiliki tinggi dua meter dan lebar empat meter. Rak itu tertempel pada dinding perpustakaan, jadi wajar saja jika rak itu memiliki ukuran yang cukup besar.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

598 459 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

875 557 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

720 541 8
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

699 519 8