Jangan bilang Aisyah akan lupa dengan hukuman yang dia dapatkan dari Habib. Walaupun rencananya sempat terhenti bukan berarti ia tidak akan menjalankan misi itu lagi. Justru di sinilah awal penderitaan yang akan dirasakan Habib. Setidaknya Aisyah mendapatkan informasi lebih dari cukup mengenai kelemahan Habib

            Satu hal lagi, semua hal itu tidak diketahui oleh Bintang sedikitpun. Jika itu sempat terjadi maka rencana Aisyah bisa jadi akan gagal total karena ia sangat tahu kalau Bintang tidak akan membiarkan hal itu terjadi bagaimanapun caranya. Ini pertama kalinya Aisyah merahasiakan sesuatu hal dari Bintang.

            Rencana pertama, dari informasi yang ia dapat Habib sangat tidak bisa makan makanan yang rasanya pedas. Pas sekali dengan kesepakatan yang dibuat oleh Habib, ia memiliki banyak peluang untuk menjalankan rencana tersebut.

            “Bib, gue sama Bintang pesen makanannya dulu ya. Lo jagain tempat kita jangan sampe ada yang ngambil. Lo tanggung jawab sama tempat kita,” ucap Aisyah.

            “Beres,” ucap Habib tersenyum lebar sembari mengacungkan kedua jempolnya.

            Lo bisa senyum lebar sekarang, tapi gue pastiin entar lo bakal susah. Jangan kan buat senyum,buat ngomong aja gue bikin susah lo, Bib. Aisyah tersenyum tipis membayangkan bagaimana reaksi Habib nanti ketika ia memakan bakso dengan sepuluh sendok cabai rawit.

            “Lo ambil teh botol gih, biar gue yang pesen baksonya,” ucap Bintang.

            Aisyah mengangguk dan pergi ke lemari es untuk mengambil minuman. Setibanya Aisyah dengan membawa dua botol minuman dingin. “Lah? Kok Cuma dua?” ucap Bintang heran.

            “Iyalah, satu buat lo satu buat gue.”

            “Duh, terus buat Habib mana? Enggak mungkin kan dia minum pake kuah bakso.”

            “Walah, gue lupa,” ucap Aisyah menepuk keningnya.

            “Ya udah, lo tunggu di sini biar gue ambil sisanya.”

            Setelah kepergian Bintang sudah dirasa aman Aisyah mendekati Kang Wisnu, penjual bakso di kantin itu. “Kang, yang satu mangkok langsung pake cabe, ya.”

            “Berapa sendok, Neng?” tanya penjual bakso itu.

            “Enggak usah banyak-banyak, Kang, sepuluh sendok aja.”

            “Walah, entar enggak sakit perutnya, Neng?”

            “Bukan buat saya, Kang, tapi buat temen.”

            “Cewek yang tadi?”

            “Bukan. Buat temen saya yang lagi duduk sendirian di bangku pojokan sana, Kang.”

            “Oh, cowok. Sip lah,” ucap Kang Wisnu setelah melihat Habib yang tengah duduk menunggu pesanan.

            Setelah pembicaraan itu selesai Bintang datang dengan membawa dua botol teh dingin. “Kok lama?” tanya Aisyah. Mereka berbicara sambil berjalan ke tempat Habib di pojokan sana.

            “Gue bingung Habib suka teh rasa jasmine atau less sugar, makanya lama.”

            “Jadi, lo ambil dua-duanya?” tanya Aisyah lagi yang kemudian dibalas dengan sebuah anggukan antusias dari Bintang.

            “Terus kalo dia pilih salah satu dari itu, yang bayar satunya lagi siapa?”

            “Habib.”

            “Yang minum?”

            “Kalo dia enggak mau ya mau enggak mau buat gue, daripada mubazir, kan?”

            “Mubazir apa ngiler?” goda Aisyah.

            “Dua-duanya,” balas Bintang dengan wajah sok polos. Hal itu benar-benar membuat Aisyah gemas dan hampir saja ia menjatuhkan mangkok berisi bakso itu karena ingin mencubit pipi chubby Bintang.

            “Kok lama?” Habib menanyakan hal yang sama seperti Aisyah tadi ketika keduanya sudah duduk dan mendapatkan semangkok bakso masing-masing.

            “Ini nih, Bintang enggak tahu lo sukanya rasa teh botol yang mana jadi dia beli dua-duanya.”

            “Oh, gue biasanya yang less sugar,” ucap Habib sambil mengambil teh botol yang sudah berada ditengah-tengah meja. “Gue minum duluan, ya. Haus, nih.”

            “Bib, lo langsung makan gitu aja, enggak dicampur sama cabe?” Saat melihat Habib yang langsung menyuapi baksonya itu Bintang langsung berkomentar sehingga suapan pertamanay tertunda.

            “Itu..” Habib menjeda perkataannya lama sekali.

            “Enggak kuat kali. Pas lo enggak ikut makan bareng kita, gue sempat lihat Habib langsung makan baksonya tanpa dicampur cabe sedikitpun,”  ucap Aisyah yang mencoba memanas-manasi Habib.

            “Beneran?”

             “Iya. Secuil pun enggak. Makannya lama pula padahal gue yang makan pake cabe dua sendok aja lebih cepet dibanding dia.”

            “Oh gitu, ya. Ya udah, lo terusin aja deh makannya, Bib, maafin gue ganggu lo terus.” Bintang tampak menyesal karena sempat mengomentari kebiasaan makan Habib.

            “Ah, enggak papa. Lagi pula waktu itu gue lagi sariawan makanya gue enggak tambahin cabe. Waktu itu baksonya juga agak hambar karena enggak pake cabe, emang ya kalo udah suka enggak bakal lengkap kalo makan enggak cabe.” Habib menambahkan dua sendok cabai pada baksonya.

            Yes, berhasil! Dalam hati Aisyah sangat berterima kasih kepada Bintang yang tanpa sadar membangkitkan sisi rasa tidak mau kalah Habib.

Ya, dari informasi yang ia dapat Habib termasuk orang yang tidak mau kalah dengan orang lain. Walaupun dia sosok idaman di sekolah, ia juga memiliki sifat yang agak keras kepala. Ya, salah satu contohnya ini.

“Ohok!” Tiba-tiba Habib tersedak pada suapan pertamanya. Wajah putihnya perlahan-lahan memerah dan batuknya terus berbunyi tanpa henti. Hal iu sempat membuat Bintang dan Aisyah terkejut. Spontan dengan cekatan Bintang memberikan Habib minuman dingin yang mereka ambil tadi dan memukul-mukul punggung Habib.

Terlihat jelas dari wajahnya, ia tampak tersiksa sampai-sampai Aisyah tidak enak hati melihatnya. Namun, Aisyah kembali mengeraskan hatinya dan berkata pada dirinya sendiri bahwa itulah akibatnya jika berani-berani menantang dirinya.

“Kenapa? Baksonya kepedesan?” tanya Bintang setelah ia kembali ke tempat duduknya.

“Lah? Cuma dua sendok doang udah kepedesan gue biasa-biasa aja tuh,” ucap Aisyah menyepelekan Habib.

“Enggak. Gue cuma mendadak kaget aja makanya keselek,” ucap Habib berusaha memberikan alasan yang logis. Ia tidak mau jika nantinya ia membeberkan kalau dia tidak bisa makan cabai maka ia di anggap  lemah dan Aisyah akan menyepelekannya.

Teman-teman setim basketnya mungkin sudah biasa menggoda dirinya dengan mengatas namakan kelemahannya dan itu hanya diangggap sebagai lelucon antar teman, tapi jangan sampai Aisyah juga membuat kelemahannya sebagai lelucon.

“Lah? Muka lo kenapa? Merah banget.” Lagi-lagi Bintang heran dengan gerak-gerik gelisah Habib.

“Hah? Oh, gue kegerahan. Makin lama makin panas aja, ya.” Habib lagi-lagi berusaha mencari alasan yang masuk akal.

“Perasaan biasa-biasa aja deh cuacanya.” Namun, lagi-lagi Aisyah membuatnya tampak aneh.

Dengan perjuangan yang cukup besar, Habib menghabiskan bakso dengan dua belas sendok cabai rawit itu. Namun, bagaimanapun caranya ia tetap tidak bisa menyembunyikan penderitaanya, ia senantiasa gelisah.

“Lo beneran enggak papa?” tanya Aisyah berusaha pura-pura khawatir agar tidak ada yang merasa aneh dengan dirinya yang sejak tadi enjoy saja disaat Habib sedang resah. Sepanjang di koridor Aisyah dan Bintang tidak pernah melepaaskan pandangannya pada Habib.

“Iya, gue baik-baik aja, kok.” Aisyah hampir tertawa melihat ekspresi Habib yang menahan penderitaanya itu.

PREETT! Tanpa disangka-sangka Habib mengeluarkan gas beracun dari bagian belakang tubuhnya. Perut Aisyah seakan-akan semakin menggelitik tanpa berusaha ia tahan selama mungkin. Raut wajah Habib berubah semakin abstrak dengan kedua tangannya yang terus memegang perutnya.

“Lo berdua duluan aja, hhh, gue ke belakang dulu,” ucap Habib kepada Aisyah dan Bintang kemudian berlari tunggang langgang menuju toilet. Ia tampak konyol berlari dengan memegangi perut dan bokongnya. Suasana di koridor yang ramai sangat pas dengan rencana Aisyah. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Rencana pertama bukan hanya sekedar sukses tapi sangat sukses.

“Pfft, haha..” Aisyah yang tidak dapat menahan tawanya akhirnya meledak. Kejadian itu adalah kejadian terlucu yang pernah ia lihat seelama ini bahkan kejadian itu lebih lucu daripada pertunjukan komedi manapun.

“Ih, lo kok malah ngetawain sih?” Bintang tampak kesal dengan sikap Aisyah yang terlihat senang diatas penderitaan temannya.

“Habis... gue baru pertama kali lihat dia bisa kelepasan kayak gitu. Duh, kocak banget tu anak.” Aisyah tidak henti-hentinya tertawa terbahak-bahak hingga sampai di kelas pun ia masih tetap tertawa.

Saat tawanya hendak berhenti, Habib datang memasuki kelas dengan wajah yang pucat sembari memegangi perutnya sehingga membuat Aisyah kembali tertawa terbahak-bahak. Bintang yang merasa kesal langsung menyumpal mulut Aisyah dengan tangannya.

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Riyuni
2019-04-06 16:16:02

Hahaha.. Oh Aisyah.
ceritanya bagus khas nuansa remaja.
Untuk prolog itu terlalu panjang kak.
Semangat ya kak. Kalau sempat singgah ya ke tulisan saya.

Mention


Page 1 of 1 (1 Comment)

Recommended Stories

Anne

Anne's Tansy

By murphy

845 534 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

576 450 14
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

456 351 4
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

584 452 8
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 756 13
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 832 8